30 Days For Love

30 Days For Love
Permintaan lain



Setelah selesai rapat, mereka berdua kembali kedalam ruangan dan Lewis tampak begitu lega karena para rekan bisnisnya tidak ada yang menyadari jika dia berada disana.


Untunglah Olivia mau mewakilkannya kalau tidak dia akan malu setengah mati jika sampai rekan bisnisnya tahu bahwa dia sedang berdandan seperti seorang wanita dan dia akan dicap menjadi ba*ci.


Dia juga bernafas dengan lega ternyata Olivia bisa memimpin rapat, dia kira istrinya tidak bisa apa-apa tapi ternyata diluar dugaannya.


Lewis menjatuhkan dirinya diatas sofa dan menarik nafasnya dengan berat, selama mengikuti rapat dia benar-benar tegang, rapat yang hanya dua jam bagaikan neraka untuknya dan baru kali ini dia merasa takut.


Takut jika make up diwajahnya luntur, takut bulu mata yang menempel dimatanya terlepas hingga kedoknya ketahuan, jujur matanya terasa berat dan gatal, rasanya dia ingin segera mencuci wajahnya dan membuka rambut palsunya.


Ini benar-benar menyiksa, belum lagi rambut palsu dan dada palsu yang dipakainya, sebaiknya dia pulang mandi saja dan setelah ini dia harap dia tidak berpenampilan seperti itu lagi.


Olivia tampak begitu senang karena Lewis mengabulkan permintaannya tapi dia juga tidak tega melihat suaminya tersiksa begitu lama.


"Olivia sayang, bagaimana jika kita pulang." ajaknya.


"Kenapa begitu cepat?"


"Aku sudah tidak tahan berpenampilan seperti ini lagi, oke."


"Tapi aku ingin pergi makan es cream Lewis, aku ingin kita pergi ke mall, makan siang disana dan membeli kebutuhan untuk bayi kita."


Lewis menarik tangan istrinya hingga Olivia duduk diatas pangkuannya, dengan lembut Lewis mengusap wajah istrinya dan menciumi bibirnya.


"Kita pulang dulu dan setelah aku mandi kita pergi ke mall, bagaimana?"


"Kita tidak perlu pulang Lewis."


"Maksudmu sayang, tidak mungkin bukan kita pergi ke mall dengan penampilanku yang seperti ini?"


Olivia mengalungkan tangannya keleher suaminya, dia juga mendekatkan bibir mereka dan berkata:


"Tidak Lewis, aku bawa baju ganti untukmu jadi kau bisa mengganti bajumu dan aku akan menghapus make up yang berada diwajahmu."


"Apa kau serius sayang?"


"Tentu saja."


"Oh aku kira kau akan menyiksaku seharian dengan penampilanku ini."


"Tentu saja tidak."


Lewis segera menciumi bibir Olivia dan melu**tnya dengan lembut, Olivia membalas ciuman suaminya dan dalam sekejap mata saja mereka mulai berciuman dengan liar.


Lidah mereka berdua mulai membelit didalam sana sedangkan tangan Lewis mulai masuk kedalam rok yang dipakai oleh Olivia dan meremas pahanya dengan lembut.


"Uhh..Lewis ini dikantor." Olivia mencoba mendorong tubuh Lewis bahkan menahan tangan suaminya yang bermain didalam roknya.


"Kenapa?" Lewis menatapnya dengan lekat.


"Bagaimana jika ada yang masuk dan melihat kita?"


"Tidak akan sayang, tidak akan ada yang masuk kedalam ruanganku."


"Kau yakin?"


"Tentu saja, kau tidak perlu khawatir karena aku sudah mengunci pintunya."


"Baiklah, mari lanjutkan."


Mereka kembali berciuman dengan liar sedangkan tangan mereka sudah sibuk menyentuh sana sini, Olivia melepaskan rambut palsu yang dipakai oleh suaminya dan membuka baju yang dipakai oleh suaminya dengan tidak sabar, begitu juga dengan Lewis, tangannya juga sibuk menyentuh tubuh istrinya sampai membuat Olivia mengerang menikmati sentuhan tangan dan bibir suaminya.


"Lewis aku tidak mau disini." tolaknya.


"Lalu?"


"Kamar mandi."


Lewis bangkit berdiri dengan Olivia berada didalam gendongnya, seperti keinginan istrinya mereka berjalan menuju kamar mandi dan tidak lama kemudian terdengar desahan dari dalam sana.


Tentu Lewis memperlakukan istrinya dengan lembut apalagi mengingat istrinya yang sedang hamil muda, dia akan selalu memperlakukan istrinya dengan kelembutan yang ada.


Tidak lama kemudian Olivia keluar dari dalam kamar mandi dan memunguti bajunya yang berserakan diatas lantai.


Dia memakai bajunya dengan cepat dan setelah itu dia mengambil paper bag yang dia bawa dari rumah.


Didalam sana terdapat baju suaminya yang dia bawa diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya.


Olivia melangkah masuk kedalam kamar mandi dan didalam sana Lewis sedang mencuci wajahnya dari sisa-sida makeup yang menempel diwajahnya.


Dia berharap dia tidak akan memakai make up dan bulu mata yang menyiksanya dan pakaian wanita lagi, dia berharap ini akan menjadi yang pertama dia berpenampilan seperti seorang wanita dan dia juga berharap ini juga akan menjadi yang terakhir.


Setelah membersihkan wajahnya, Lewis mengambil pakaian yang diberikan oleh istrinya dan segera memakainya sedangkan Olivia menunggu suaminya diluar sana sambil memainkan ponselnya, dia sedang melihat pakaian bayi yang lucu-lucu dari layar ponselnya.


Begitu keluar dari kamar mandi Lewis tersenyum melihat istrinya, dia segera menghampiri istrinya dan duduk disampingnya.


"Apa yang sedang kau lihat?"


"Oh, aku hanya melihat pakaian bayi Lewis." Jawab Olivia sambil menunjukkan ponselnya pada suaminya.


"Coba aku lihat." Lewis mengambil ponsel dari tangan istrinya dan melihatnya.


"Bajunya bagus, lucu, tapi kenapa kau melihat baju untuk bayi perempuan?"


"Aku ingin punya bayi perempuan Lewis, bayi kita pasti akan cantik dan lucu sepertiku."


"Bagaimana jika bayi pertama kita laki-laki?"


"Hei aku ingin bayi perempuan."


Lewis tersenyum dan memeluk pinggang istrinya sedangkan Olivia bersandar pada bahunya.


Dengan perlahan Lewis membelai rambut Olivia dan menciumi dahinya dengan lembut.


"Sayang, mau bayi laki-laki ataupun bayi perempuan, yang penting anak kita selalu sehat." ujarnya.


Olivia tersenyum dan memeluk pinggang Lewis dengan erat, dia sangat bahagia mendapat suami yang sangat perhatian dan sangat mencintainya, dia juga bahagia karena Lewis selalu bersabar dan mau mengabulkan permintaannya yang aneh.


"Aku tahu Lewis, aku hanya bercanda saja."


"Aku tahu sayang."


"I love you Lewis."


"Oh my honey." Lewis mengangkat dagu Olivia dan mengecup bibir istrinya dengan lembut.


"I love you too." bisiknya.


Olivia tersenyum dengan penuh kebahagiaan begitu juga dengan Lewis, mereka berciuman dengan mesra dan setelah itu Lewis memegangi wajah Olivia dan menciumi pipinya dengan lembut.


"Apa jadi makan es creamnya?"


"Tentu saja Lewis."


"Kalau begitu ayo kita segera pergi."


Olivia mengangguk dan bangkit berdiri, begitu juga dengan Lewis, dia menyambar tas istrinya dan merangkul pinggang istrinya.


Mereka berjalan keluar dari sana dengan mesra dan pada saat para karyawannya melihat Lewis, mereka sangat heran, kapan bosnya datang?


Mereka pergi menuju kesebuah mall dan membeli es cream sesuai keinginan Olivia, mereka bahkan mencari tempat untuk menikmati es cream yang mereka pesan. Terkadang Olivia menyuapi suaminya dengan beberapa sendok es cream dan Lewis juga melakukan hal yang sama, menyuapi es cream kedalam mulut istrinya.


Setelah mereka selesai menikmati es cream, mereka berjalan dengan mesra untuk mencari perlengkapan bayi yang sebentar lagi akan lahir dan mewarnai hidup mereka berdua.