
Seorang pelayan Lewis mengetuk pintu kamar, Lewis bangkit berdiri dan berjalan pergi untuk membukakan pintu tapi tidak lama kemudian dia kembali dengan sebuah baskom ditangannya.
Ya itu es batu yang dia minta, tentu es itu untuk kaki Olivia yang terkilir dan sekarang sudah terlihat memerah dan membengkak.
Setelah mengisi air kedalam baskom dan mengambil handuk kecil Lewis kembali mendekati Olivia.
Dia segera berlutut dibawah kaki Olivia dan juga meletakkan baskom yang dia bawa diatas lantai, dengan pelan Lewis mulai mengompres kaki Olivia dengan handuk basah.
"Sakit!" ringis Olivia.
"Semua ini karena kebodohanmu! Aku sudah katakan jangan lari tapi tetap saja berlari seperti banteng dan lihatlah, kau mencelakai dirimu sendiri!"
Olivia diam saja melihat Lewis sedang mengompres kakinya dengan lembut, walaupun sakit tapi dia berusaha menahannya.
Mungkin memang dia yang salah karena dia tidak mau mendengar penjelasan dari Lewis bahkan dia menghindari masalah diantara mereka berdua.
Seharusnya dia mendengarkan penjelasan Lewis sewaktu di New York dan tidak melarikan diri, sebaiknya sekarang dia harus Mendengarkan penjelasan dari Lewis.
Siapapun wanita yang bersama dengan Lewis waktu di New York, dia akan mendengarnya dari mulut Lewis, dia akan menerimanya sekalipun wanita itu adalah pacar Lewis.
"Maaf."
Lewis mengangkat kepalanya, menatap Olivia tidak percaya, apa dia tidak salah dengar?
"Kau bilang apa?"bLewis pura-pura tidak mendengar.
"Maafkan aku, aku yang egois tidak mau mendengarkan penjelasanmu jadi maaf."
"Ya ampun."
Lewis segera bangkit berdiri dan duduk disamping Olivia, dia juga meraih tangan Olivia dan mengusapnya dengan lembut.
"Tidak perlu minta maaf karena memang akulah yang salah! Seharusnya aku mengejarmu malam itu dan menjelaskan semuanya padamu tapi aku malah menemani Riko, maaf. Aku pikir aku akan menjelaskan semuanya padamu saat aku kembali tapi kau malah salah paham dan marah padaku, kau juga pergi dariku begitu saja, maafkan aku."
"Riko? Jadi wanita jepang itu bernama Riko." batin Olivia.
"Dengarkan aku baik-baik, Riko adik tiriku, kami secara kebetulan bertemu karena kami menginap dihotel yang sama. Seharusnya aku sudah kembali kemari tapi aku kasihan padanya,bbahasanya kurang bagus jadi aku menemaninya."
Olivia diam saja tidak menjawab apapun, jadi wanita itu adik tiri Lewis? Rasanya sedikit lega tapi ya sudah, dia sudah tahu sekarang jadi kesalah pahaman diantara mereka berdua telah selesai.
Sekarang dia ingin pulang karena tidak ada alasan lagi untuknya berada disana, perjodohan diantara mereka sudah dibatalkan jadi untuk apa dia berada disana lagi?
Dia tidak mau lagi tinggal disana karena mereka tidak memiliki hubungan apapun juga.
"Jadi dia adikmu?" tanyanya.
"Yah, walaupun kami tidak memiliki hubungan darah tapi aku tetap menganggapnya sebagai adikku sejak dulu."
"Aku tahu, karena aku juga memiliki seorang kakak yang tidak memiliki hubungan darah denganku tapi dia seperti kakak kandungku."
"Itu bagus, jadi kesalah pahaman kita sudah selesai bukan?"
Lewis tersenyum dan mengusap wajah Olivia dengan lembut, dia sangat senang Olivia mau mendengarkan penjelasannya dan dia harap mulai sekarang hubungan diantara mereka berdua bisa kembali seperti semula.
"Yah, aku rasa. Karena kesalah pahaman diantara kita sudah selesai jadi aku ingin merapikan barang-barangku karena aku ingin pulang."
Lho? Knapa Olivia masih juga mau pulang?
"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun!"
"Tolong ya Lewis Simone, kita tidak punya hubungan apapun lagi! Kita juga tidak melakukan kesepakatan apapun lagi! Aku juga sudah tidak punya alasan untuk berada disini karena kita sudah tidak dijodohkan lagi jadi aku harus pulang kerumahku sekarang."
Kenapa tidak pernah peka terhadap perasaannya? Dia sudah mengatakan isi hatinya dengan jelas tadi tapi kenapa Olivia tidak juga mengerti?
Bagaimana caranya agar Olivia bisa mengerti dengan perasaannya?
Lewis memutar otaknya, bagaimanapun caranya dia harus membuat Olivia tinggal dengannya lagi!
"Tidak bisa, aku sudah berjanji pada ayahmu untuk tidak menyakitimu dan lihatlah, kakimu terkilir karena aku mengejarmu jadi aku akan bertanggung jawab. Aku akan merawatmu sampai kakimu sembuh barulah kau boleh pulang."
Yah ini alasan yang bagus karena dia teringat dengan ancaman ayah Olivia " jangan sampai kau berani menyakitinya jika tidak mau berakhir ditanganku!"
Bukannya dia takut dengan ancaman ayah Olivia tapi dia akan menggunakan alasan ini supaya Olivia tetap mau tinggal dengannya.
"Tidak perlu, aku akan mengatakan pada daddy bahwa aku terjatuh sendiri jadi aku ingin pulang."
Lewis menghembuskan nafasnya kembali dengan berat, ya sudah jika memang ingin pulang, dia akan lihat apa Olivia bisa berjalan dengan kaki seperti itu?
"Ya sudah sana jika kau ingin pulang, aku tidak akan memaksamu."
Olivia mendengus kesal, dia memang mau pulang! Dia segera bangkit berdiri tapi kemudian terduduk kembali diatas ranjang sambil menjerit.
"Auw, kakiku!"
Senyum Lewis mengembang diwajahnya, dia yakin Olivia tidak akan bisa pergi kemana-mana dengan kaki seperti itu bahkan untuk keluar dari kamarnya saja dia yakin tidak akan bisa.
"Sana jika ingin pulang." Lewis pura-pura mengusir.
Olivia mengumpat dalam hati, sepertinya Lewis sengaja! Jujur saja kakinya benar-benar sakit karena denyutan dikakinya semakin terasa sakit.
"Lewis."
"Kenapa? Tidak jadi pulang?" tanya Lewis sambil tersenyum licik.
"Ck! Bukannya tidak mau tapi kakiku sakit, bisa kau ambilkan tasku digazebo? Aku ingin menghubungi pak Steve." pintanya.
"Tidak, kau ambil saja sendiri." Lewis bangkit berdiri dan pura-pura ingin pergi tapi Olivia langsung memegangi tangannya.
"Please." pintanya sambil memohon.
"Baiklah aku akan mengambilkan tasmu tapi dengarkan aku baik-baik, buka telingamu dan buang egomu itu! Aku ingin kau mencerna ucapanku ini baik-baik supaya kau mengerti."
Lewis memutar tubuhnya dan mendekati Olivia sedangkan Olivia memundurkan tubuhnya saat melihat Lewis terus mendekatinya, mau apa lagi?
"Hei mau apa sih kau?" tanya Olivia kesal.
"Olivia Smith!" Lewis meletakkan kedua tangannya disisi ranjang dan sedikit membungkuk hingga tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Olivia.
Wajahnya terlihat begitu serius sampai Olivia bingung dan salah tingkah, dia ingin membuang pandangannya tapi Lewis memegangi dagunya.
"Le...Lewis." Olivia mulai gugup. Dia gugup bukan karena malu tapi dia gugup karena dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh Lewis padanya.
"I love you."
Mata Olivia melotot tidak percaya saat mendengar perkataan Lewis? Apa dia tidak salah dengar?
Lewis tersenyum dengan menawan sedangkan jantung Olivia mulai berdebar-debar.
"Oh my God, apa dia serius?" batin Olivia.
Dia diam saja sedangkan Lewis menunggu jawaban darinya, dia harap Olivia mengerti dengan ucapannya yang singkat, padat dan jelas! Dia berharap Olivia mau menerima cintanya dan tidak menolaknya.