30 Days For Love

30 Days For Love
Unta tua sialan



Setelah ditinggal pergi oleh Lewis beberapa hari, Olivia benar-benar bosan. Padahal dia ada dirumah saat ini tapi dia benar-benar merasa bosan.


Sebelum mengenal Lewis apa yang dia lakukan sebelumnya?


Dia sendiri bingung, hari-harinya berlalu begitu saja, jika dia bosan dia akan pergi jalan-jalan atau pergi ke Australia ketempat aunty Silvia.


Atau dia jalan-jalan kenegara lain untuk menghabiskan waktu tapi sekarang? Dia bingung entah mau melakukan apa.


Saat bersama dengan Lewis harinya terasa begitu menyenangkan, walaupun dia harus bekerja dikantor tapi dia merasa senang.


Terkadang Lewis mengiriminya pesan, yah paling bertanya apa yang dia lakukan tapi itu sudah membuatnya senang.


Dan lihatlah sekarang, walaupun dia sudah kembali kerumah tapi dia tidak melakukan apapun walaupun disana ada keluarganya.


Olivia hanya membolak balikkan tubuhnya diatas ranjang dan sesekali melihat ponselnya setelah itu melemparnya. Dia berharap Lewis menghubunginya jadi dia terus mengecek ponselnya sedari tadi.


Apa yang Lewis lakukan saat ini? Dia sangat ingin tahu dan jujur saja sebenarnya dia rindu loh.


Dari pada galau jadi dia meraih ponselnya kembali dan mengirimkan pesan untuk Lewis.


"Lewis, kapan kau kembali?"


Setelah menuliskan hal demikian Olivia segera mengirimkan pesan itu untuk Lewis, dia malu ingin menghubungi Lewis terlebih dahulu jadi dia menanyakan hal itu melalui sebuah pesan.


"Entahlah." Lewis membalas pesannya dengan singkat.


Olivia tampak heran, kenapa entahlah? Apa Lewis akan lama di New York?


"Apa maksudmu? Apa kau tidak mau kembali lagi?"


"Tentu saja aku sangat ingin kembali, asal kau tahu aku sudah sangat merindukanmu."


Saat membaca pesan dari Lewis,senyum Olivia langsung mengembang diwajahnya. Sambil menulis pesan dia juga bergumam:


"Aku juga."


Tapi dia tidak akan mengatakannya kepada Lewis mengenai ini kalau tidak mungkin Lewis akan menertawakannya.


"Apa terjadi sesuatu dengan pekerjaanmu?" tanyanya.


"Tidak, pekerjaanku sudah selesai."


"Lalu kenapa kau belum kembali?"


"Kenapa? Apa kau merindukanku?" goda Lewis.


"Tidak, jangan terlalu percaya diri!"


Beberapa menit berlalu Lewis tidak membalas pesannya, Olivia tampak menunggu tapi lama-lama dia jadi kesal, kenapa Lewis tidak menjawab pesannya?


Tanpa pikir panjang lagi dia segera menghubungi Lewis, biarlah apa yang mau dikatakan oleh Lewis dia tidak akan perduli,byang penting dia bisa mendengar suara Lewis.


"Kenapa tidak membalas pesanku?" tanyanya kesal saat Lewis sudah menjawab panggilan ponselnya.


"Sory aku sedang sibuk tadi." jawab Lewis.


"Sibuk apa? Bukankah kau bilang pekerjaanmu sudah selesai?"


Lewis melirik kearah seseorang yang sedang memilih sesuatu, ya sebenarnya dia sedang dengan seseorang saat itu.


"Yah, saat ini aku sedang?"


"Lewis, bagaimana dengan yang ini?" Terdengar suara seorang wanita disebrang sana yang menyela ucapan Lewis dan pada saat itu wajah Olivia langsung berubah, siapa wanita yang sedang bersama dengan Lewis di New York?


"Oh sory Olivia aku harus segera pergi."


"Tunggu!!" pinta Olivia tapi Lewis telah mematikan ponselnya dan hal itu membuat Olivia marah, siapa wanita yang sedang bersama dengan Lewis?


Olivia segera duduk diatas ranjang, dia benar-benar penasaran dengan wanita tadi dan entah kenapa dia merasa kesal.


Apa wanita tadi itu pacar Lewis? Atau jangan Lewis pergi ke New York bukan untuk menemui rekan bisnisnya melainkan menemui pacarnya disana.


Pikirannya mulai berputar dikepalanya, jika wanita tadi itu pacar Lewis sangat masuk akal karena Lewis menolak perjodohan diantara mereka.


Mungkin Lewis sudah punya calon dan wanita tadilah calonnya, dia tahu Lewis mau menerima pertunangan diantara mereka semata-mata ingin menghormati kakeknya sama seperti dirinya.


Dia juga tidak lupa selama sebulan Lewis ingin membuatnya merangkak pulang dan menangis, Lewis ingin membuatnya mengaku kalah hingga perjodohan diantara mereka dialah yang membatalkannya bukan Lewis.


Jadi dengan demikin Lewis telah mengikuti permintaan kakeknya tapi Olivialah yang telah membatalkan tali pertunangan diantara mereka.


Semua ini masuk diakal, tapi kenapa Lewis menciumnya jika tidak punya perasaan dengannya?


Apa Lewis hanya ingin mempermainkannya? Apa kebaikan yang selama ini Lewis tunjukkan padanya hanya palsu belaka?


Olivia mengepalkan tangannya Marah! Jika memang hal demikian maka dia tidak akan segan-segan untuk menghabisi Lewis, beraninya mempermainkan dirinya!


"Lewis Simone, sialan!" teriaknya marah.


"Bastard!!" teriaknya lagi.


Pada saat itu Samantha masuk kedalam kamar putrinya. Dia sangat heran mendengar teriakan putrinya diluar sana.


"Olivia, ada apa denganmu sayang?"


"Mommy." mood manjanya langsung keluar.


"Ada apa? Aku dengar kau meneriakkan nama Lewis. Apa kau merindukannya?" goda ibunya.


Samantha tahu kenapa putrinya pulang kerumah.


"Mom, si unta tua sialan itu mempermain aku!"


"Oh ya, berani sekali! Coba katakan pada mommy apa yang telah terjadi?"


Samantha duduk disisi ranjang dan pada saat itu Olivia langsung memeluki ibunya.


"Mom, Lewis sedang bersama selingkuhannya di New York."


"Oh ya, lalu?"


"Kok lalu? Dia selingkuh dariku!!" ujar Olivia kesal.


"Wah, ternyata putri mommy sudah punya pacar."


"Tidak, Lewis bukan pacarku."


"Oh ya?"


"Benar, siapa yang mau dengan unta tua jelek, penuh perhitungan, pelit dan tukang selingkuh!" Olivia tampak begitu mengebu-ngebu saat mengatakannya.


Samantha tertawa dan mengusap rambut putrinya, sepertinya putrinya sedang jatuh cinta tapi tidak menyadarinya.


"Jika kau bukan pacarnya dan tidak menyukainya lalu kenapa kau marah saat dia sedang bersama dengan wanita lain."


Olivia diam saja, benar, jika dia tidak punya perasaan pada Lewis lalu kenapa dia harus marah dan cemburu saat Lewis dengan wanita lain.


"Coba mommy ingin tahu, apa yang kau rasakan saat kau tinggal dengan Lewis, bagaimana kau menjalani harimu selama dengannya?"


"Menyenangkan." jawabnya.


"Itu bagus, coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, apa kau menyukainya?"


"Tapi mom, kamikan baru..?"


"Eit, cinta itu datang tiba-tiba tanpa kau sadari sayang."


"Tapi mom?"


"Sudahlah, susul dia ke New York dan cari kebenarannya. Jika dia memang sudah punya pacar jadi kau tidak perlu tinggal dengannya lagi, kau tinggal mengatakan yang sebenarnya pada kakek. Ini juga supaya perasaanmu tidak semakin dalam padanya."


"Mommy benar, kalau begitu aku akan menyusulnya ke New York sekarang juga. Jika dia sudah punya pacar maka akan aku tendang dia sampai puas!"


Samantha terkekeh dan mengusap kepala putrinya kembali, dia berharap putrinya bisa menemukan pasangan yang baik.


"Pergilah, daddymu sedang pergi dengan kakakmu jadi nanti aku akan mengatakan pada mereka."


"Okey mom."


Olivia mencium ibunya kemudian dia segera bangkit berdiri, dia akan pergi ke New York untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa benar Lewis sedang bersama dengan pacarnya saat ini disana?


Jika iya maka akan dia hajar Lewis Simone tanpa ragu karena telah berani mempermainkannya.