
Setelah kembali dari bulan madu, Lewis tampak sibuk dikantornya karena banyak pekerjaannya yang tertunda.
Dokumen yang harus dia periksa menumpuk diatas meja sedangkan beberapa rapat pentingpun tertunda karena dia tidak ada.
Padahal dia hanya pergi beberapa minggu saja tapi lihatlah, pekerjaan menumpuk dan harus segera dia selesaikan.
Saat ini Olivia sedang pulang kerumahnya untuk memberikan oleh-oleh kepada keluarganya, begitu banyak barang yang mereka beli dan hampir semuanya adalah oleh-oleh.
Olivia menarik sebuah koper masuk kedalam rumah orang tuanya dan tampak begitu senang.
"Mom, dad aku pulang."
"Wah, kapan kau kembali dari bulan madu sayang? Mana suamimu?" Samantha menghampiri putrinya dan mengambil koper yang dibawanya.
"Aku baru kembali kemarin dan Lewis sedang dikantor."
Mereka berjalan keruang keluarga untuk menghampiri Jhon yang ada disana. Jhon tampak sedang berpikir karena dia sedang bermain catur dengan Jacob dan mereka terlihat begitu sengit karena tidak ada yang mau mengalah.
"Lalu kenapa kau bawa koper?" tanya ibunya dengan heran.
"Aku membawa oleh-oleh untuk kalian."
"Benarkah? Apa bulan madumu menyenangkan dipulau Bali sayang?"
"Tentu saja mom, pulau itu sangat indah. Bagaima jika kita berlibur kesana sekeluarga."
"Ide bagus, kita akan berlibur disana sekeluarga nanti tapi setelah kakakmu sudah menikah. Aku tidak mau membawa batu!"
"Ha...ha..ha..ha...!" Olivia langsung tertawa mendengar ucapan ibunya.
"Mom aku mendengarnya." ujar Jacob saat mendengar ucapan ibunya.
"Memangnya aku membicarakanmu?"
"Bukannya tadi mommy membicarakan aku?"
"Huh sadar diri juga! Aku memang membicarakanmu karena aku bosan melihat wajah kakumu setiap hari!"
"Mom." Jacob bangkit berdiri dan menghampiri ibunya dan memeluknya.
"Sudahlah aku hanya bercanda."
"Aku tahu."
"Kak, kau tidak pergi kekantor?"
"Tidak, aku sedang malas."
"Aku menang boy." ujar ayahnya tiba-tiba.
"Apa? Daddy jangan curang!"
"Aku tidak curang!"
"Jangan bohong, jelaskan padaku bagaimana daddy bisa menang padahal daddy sudah jelas-jelas kalah tadi!"
"Eh itu, pokoknya aku menang!" jawab Jhon dengan cepat.
"Dasar curang!"
"Sudah ayo kita main lagi, jika kau menang aku akan mengabulkan 1permintaanmu tapi jika kau kalah maka kau harus mendengarkan permintaanku."
"Memangnya daddy minta apa?"
"Jika aku menang maka kau harus segera cari pacar baru!"
"Baiklah kalau begitu, jika aku yang menang maka daddy harus menikah lagi."
"Wow."
"Jhon, Jacob! Kalian ingin aku bunuh hah!" Samantha tampak kesal.
"Sory mom, daddy yang mulai duluan."
"Jhon! Awas kau ya!"
"Just kidding baby."
"Mom, jangan marah. Ayo lihat oleh-oleh yang aku bawa."
Olivia membuka koper yang dia bawa dan mulai mengeluarkan isinya, Samantha mendekati putrinya sedangkan Jhon dan Jacob kembali bermain catur.
"Apa yang kau beli sayang?"
"Mommy lihat ini?"
Olivia mengeluarkan satu persatu makanan yang dia beli dari dalam koper sambil menyebutkan namanya.
"Ini semua jenis pie." Olivia mengeluarkan beberapa jenis pie dari dalam kopernya.
"Yang ini jenis kacang, ada yang namanya kacang disko."
"Hah? Disko?" tanya keluarganya serempak.
"Nah yang ini kopi kintamani,aku sudah mencobanya ini enak."
"Olivia sayang, apa ini?" Samantha mengeluarkan sebuah toples dan melihatnya.
"Kenapa anak ikan ini dibuat makanan?" tanyanya heran.
"Mom, itu Anchovy dan orang Indonesia menyebutnya ikan teri. Itu makanan dari sana dan nama makanan itu teri balado."
"Apa enak?"
"Entahlah."
"Dasar kau, kalau belum tahu rasanya kenapa kau membelinya."
"Akukan ingin memperlihatkannya pada kalian, lihat ini dan mommy harus mencobanya."
Dia segera mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya, setelah itu Olivia mematahkan makanan yang berbentuk putih itu dan memberikan makanan itu pada ibunya.
"Apa ini? Apa ini semacam coklat putih?" Samantha melihat makanan yang diberikan oleh putrinya bahkan menciumi aromanya. Bukan coklat.
"Mommy coba saja."
Dengan ragu Samantha memasukkan makanan yang berada ditangannya kedalam mulutnya dan pada saat lidahnya merasakan makanan itu dengan cepat pula dia memuntahkannya.
"Oh my, apa ini?" Samantha langsung menyeka mulutnya.
"Itu namanya Brem." jawab Olivia sambil tertawa.
"Ya ampun, jangan beli yang aneh-aneh!"
"Mom ini makanan langka, jadi aku ingin memperlihatkannya pada kalian."
Olivia kembali mengelurkan makanan dari kopernya sambil bergumam:
"Ini namanya keripik pisang, ini keripik singkong, ini keripik ubi dan ini keripik tempe. Ah, satu lagi, ini kerupuk tahu."
Samantha terlihat linglung, makanan yang disebutkan oleh putrinya benar-benar belum pernah dia dengar dan makanan Brem itu? Rasanya benar-benar aneh. Apalagi anak ikan yang disebut ikan teri oleh putrinya, apa enak untuk dimakan?
Jujur saja dia jadi ragu, sebanyak itu siapa yang akan makan nanti?
"Nah ini, ini kerupuk kulit. Ini ada dua macam." Olivia menunjukkan kerupuk kulit kepada ibunya.
"Dan ini, apa mommy tahu ini apa?" sambil menggoyangkan sehungkus makanan didepan ibunya.
Samantha hanya menggeleng, mana dia tahu makanan apa itu?
"Ini namanya kerupuk kaki ayam sedangkan yang ini terbuat dari usus ayam."
"Apa?" Tanya keluarganya serempak.
Makanan apa yang terbuat dari kaki ayam dan usus ayam? Memangnya ada yang mau memakan makanan seperti itu?
"Aduh sayang, kau membeli makanan serba aneh ini untuk siapa? Kau juga membeli begitu banyak lalu siapa yang mau memakan ini."
"Mom, jika kalian tidak mau berikan pada kak Edward. Tapi jangan katakan makanan ini padanya, bilang saja ini kerupuk."
"Ya ampun kau, jadi kakakmu yang jadi tumbalnya?"
"Biarkan saja, diakan tidak tahu." jawab Olivia sambil terkekeh.
"Tapi aku membeli oleh-oleh yang bagus untuk kalian semua."
"Apa itu?"
"Nih, pakaian ini namanya kebaya untuk perempuan tapi untuk laki-laki aku tidak tahu apa namanya."
Olivia mengeluarkan pakaian yang dia beli satu persatu dari kopernya, diatas plastik yang membungkusi pakaian itu sudah tertulis nama keluarganya. Itu dia lakukan supaya ukurannya tidak tertukar dan supaya mempermudah dirinya untuk memberikan pakaian itu kepada anggota keluarganya nanti.
"Kak Jacob."
"Apa?"
Olivia melemparkan sebuah baju kearah kakaknya, tentu Jacob langsung menangkap baju yang dilemparkan oleh adiknya.
"Itu buat Alice jika dia sudah kembali."
"Ck, saat dia kembali baju ini sudah usang!"
"Tidak akan, kakak simpan saja. Alice pasti cantik menggunakan kebaya itu."
"Baiklah aku akan menyimpannya." mudah-mudahan saja dia tidak lupa untuk memberikan baju itu pada Alice saat gadis bodoh itu telah kembali.
"Baiklah." Samantha bangkit berdiri dan mengambil Brem yang dia cicipi tadi, dia juga berjalan kearah suami dan putranya yang tampak sedang serius bermain catur.
"Guys, siapa yang kalah harus memakan ini sampai habis." Samantha meletakkan Brem itu diatas meja.
"Apa itu?" Jhon dan Jacob bertanya secara bersamaan.
"Coba saja."
Mereka mengambil makanan itu dan mencobanya tapi tidak lama kemudian mereka berdua langsung memuntahkannya.
"Oke dad, ini lebih menantang dari pada mencari pacar lagi karena aku bisa mendapatkannya dengan mudah jika aku mau."
"Kau benar boy, jadi mainlah dengan benar kalau tidak kau akan sakit perut saat menghabiskan makanan aneh itu."
"Daddy bersiaplah karena aku yang akan menang."
"Oke, kita lihat saja nanti."
Mereka kembali bermain dan tampak memikirkan setiap langkah yang harus mereka ambil karena tidak ada yang mau kalah diantara mereka dan tidak ada yang mau menghabiskan makanan aneh yang dibawa oleh Olivia.
Samantha segera menghampiri putrinya kembali dan mengajaknya kedapur untuk membuat makan siang bersama-sama.