30 Days For Love

30 Days For Love
Permainan



Setelah makan malam, Olivia berada didalam kamar dan sedang merapikan pakaiannya. Dia sedang memasukkan baju-bajunya kedalam lemari dan menatanya supaya rapi.


Lewis sedang menghubungi seseorang diluar sana dan dia tidak mau mengganggu suaminya, sepertinya Lewis sedang berbicara dengan rekan bisnisnya.


Setelah merapikan pakaiannya, Olivia naik keatas ranjang dan duduk disana sambil memainkan ponselnya.


Dia sedang melihat-lihat foto yang berada diponselnya, foto saat sedang bulan madu di Bali.


Olivia tampak tersenyum, dia segera bersandar diujung ranjang sedangkan matanya masih sibuk melihat-lihat foto dari layar ponselnya.


Suatu saat dia ingin kembali lagi ketempat itu dan tentunya dengan keluarganya nanti, selagi dia sedang melihat foto dilayar ponselnya Lewis masuk kedalam kamarnya, dia segera naik keatas ranjang bahkan mulai memijat kaki istrinya.


"Sayang apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada." Olivia meletakkan ponselnya diatas ranjang dan memandangi suaminya dengan senyum diwajahnya.


"Apa kau lelah?" Lewis terus memijit kaki Olivia dengan lembut.


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Lain kali kau tidak perlu melakukan apapun, biarkan saja aku yang merapikan pakaian itu, okey?"


"Kau terlalu berlebihan Lewis, itu hanya pakaian saja."


"Aku tahu sayang, tapi aku tidak ingin kau melakukan apapun supaya kau tidak lelah."


"Ck, sudahlah!"


Lewis menyudahi pijitannya dan segera mendekati Olivia, dia juga merangkul pundak Olivia hingga istrinya itu bersandar padanya.


"Sayang."


"Hmm."


Lewis memasukkan tangannya kedalam baju Olivia dan mengusap perut istrinya degan lembut, rasanya dia sudah tidak sabar melihat perut Olivia membesar karena ulahnya.


Jujur saja dia sudah sangat ingin istrinya hamil dan dia akan berusaha utuk mewujudkan keinginannya itu.


"Apa kau tidak merasakan sesuatu akhir-akhir ini?" tanyanya.


"Apa? Merasakan apa?"Olivia jadi heran.


"Ya misalnya pusing atau mual, apa kau tidak merasakan hal semacam itu?"


Olivia kan orang yang tidak peka, dia yakin istrinya akan mengabaikan hal-hal seperti itu dan tidak mengetahui gejala-gejala kehamilan.


"Tidak kenapa?" Olivia semakin heran.


"Benarkah?"


"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu? Memangnya kau mengharapkan aku keracunan makanan?"


Astaga! Benarkan dugaannya, Olivia benar-benar tidak peka dan dia rasa Olivia tidak akan mengerti dengan gejala-gejala kehamilan nanti.


"Kau benar-benar! Aku tidak mengharapkan kau keracunan makanan, aku berharap kau cepat hamil sayang."


"Oh, aku kira apaan." Olivia tampak terseyum.


"Dasar kau!"


"Tapi Lewis."


"Hmm?"


"Kita belum lama menikah, kita baru menikah sebulan lebih dan aku rasa tidak akan secepat itu aku hamil."


"Aku tahu sayang, jadi bagaimana jika kita berusaha lebih keras lagi membuat sijunior."


"Sekarang?"


"Tentu saja!"


Lewis langsung membaringkan tubuh Olivia diatas ranjang, dia juga membuka bajunya bahkan membuangnya begitu saja.


Tangan Olivia mulai meraba otot-otot dadanya sedangkan Lewis mulai menciumi bibirnya dengan mesra.


"Sayang, malam ini aku ingin menabur bibit unggulku didalam sini." tangan Lewis kembali meraba perut istrinya, dia juga kembali berkata:


"Jadi malam ini bersiaplah karena aku tidak akan membiarkanmu tidur."


"Aku menantikan aksimu Lewis." Olivia mengalungkan tangannya dileher suaminya dan tersenyum dengan nakal.


"Oh sayang, bersiaplah!"


Tanpa menunggu lagi, Lewis kembali menciumi bibir istrinya dan me**matnya dengan kasar, ciuman mereka semakin panas sedangkan lidah mereka mulai membelit didalam sana.


Tangan Lewis tidak tinggal diam begitu juga dengan tangan Olivia, tangannya sudah masuk kedalam celana yang dipakai oleh Lewis dan mengusap patukan suaminya yang tadinya jinak kini bangkit berdiri karena sentuhannya dan menantang siap untuk mematuk mangsanya.


Lewis mengerang pelan dibalik ciuman liar mereka, tangannya sudah masuk kedalam bra yang dipakai oleh Olivia dan mulai ma**mas bukit istrinya yang juga mulai menantang.


Lewis mengangkat tubuh istrinya dan mendukungkannya diatas pangkuannya, sambil menciumi leher istrinya tangan Lewis sudah mengangkat baju yang dipakai oleh Olivia dan membukanya.


Dia juga membuka penutup kedua bukit kembar kesukaannya dan membuangnya begitu saja.


Setelah itu kedua tangannya mulai mere**s kedua gunung kembar kesukaannya sedangkan jarinya sudah bermain dipuncak bukit istrinya yang sudah menantang.


"Nggh." Olivia menggigiti bibirnya saat merasakan sentuhan tangan suaminya dan bibirnya.


Lewis tampak tersenyum, dia segera merebahkan tubuh Olivia diatas ranjang, setelah itu dia turun dari ranjang untuk membuka celana yang dipakainya.


Setelah tanpa sehelai benangpun Lewis kembali naik keatas ranjang,bdia mulai menciumi bibir Olivia kembali sedangkan tangan nakalnya mulai menerobos masuk kedalam celana istrinya untuk menyelusuri lembah yang ada disana.


"Olivia sayang." bisiknya.


Olivia mengerang saat merasakan sentuhan jari suaminya dilembahnya yang sudah?


"Le...wis..Oh..No..Dont stop!" desahnya karena nikmat.


"Apa kau menyukainya sayang?"


"Ngh..No!"


Lewis terkekeh dan menciumi bibirnya kembali, setelah itu bibirnya mulai menyelusuri leher istrinya dan terus kebawah.


Disaat sudah mencapai pucat bukit istrinya Lewis meng**sap puncak bukit itu dengan kuat sampai membuat Olivia mengerang hebat dan mer"mas rambutnya.


Setelah menikmati puncak bukit kesukaannya,bbibir Lewis mulai menciumi perut istrinya sedangkan tangannya sudah menarik celana yang dipakai Olivia hingga terlepas.


Olivia terus mengerang saat merasakan lidah suaminya bermain disana sedangkan tangannya mer*mas-remas rambut saumi bahkan dia bergumam:


"Lewis, oh please. Oh i want!"


Lewis menyudahi aksinya dan tanpa menunggu lagi, dia langsung membalikkan tubuh Olivia.


Dengan cepat pula dia mulai mematuk istrinya dari belakang, dimana patukannya bisa menancap lebih dalam kedalam sana.


Dia mulai menggerakkan tubuhnya sedangkan Olivia kembali mengerang sambil mencengkram sprei dengan erat.


"Lewis, oh..Faster!" gumamnya.


"Seperti keinginanmu sayang."


Lewis memacu tubuhnya dengan cepat dan semakin cepat, erangan Olivia terus terdengar bahkan dia terus memanggil nama suaminya.


"Lewis, aku sudah?"


"Ya sayang, tunggu aku, okey?"


Gerakannya semakin cepat dan cepat sampai mereka berdua mengerang saat mencapai puncak kenikmatan.


Lewis tampak begitu puas begitu juga dengan Olivia,bmereka berdua tampak sedang mengatur nafas mereka yang masih memburu.


"Olivia sayang."


"Hmm?"


Lewis merebahkan dirinya disamping Olivia dan memeluknya.


"Apa kau puas dengan permainanku?"


"Ya, kenapa?"


"Jika kau tidak puas bagaimana jika bermain dengan cara lain."


"Seperti memakai es batu atau madu, nanti aku yang akan jadi semutnya."


Olivia tampak berpikir sejenak, es batu dan madu?


"Aku punya ide."


"Apa?"


"Bagaimana jika bermain tuan putri yang jahat dan budak yang patuh!"


"Wow! Permainan apa itu?"


"Aku jadi putrinya dan kau jadi budaknya, nanti aku akan menyiapkan lilin dan sebuah cambuk!"


"Apa yang ingin kau lakukan dengan cambuk dan lilin itu sayang?"


"Menyiksamu!"


"Oh coba saja jika kau bisa!"


Lewis menciumi bibir Olivia dengan lembut tapi setelah itu tangannya mulai menggelitiki pinggang istrinya sampai membuat Olivia tertawa terbahak-bahak.


#MAAF JIKA TERLALU HOT🙈🙈🙈🙈#