
Pagi-pagi sekali Lewis sudah terlihat sibuk didalam dapurnya, dia berada disana untuk membuat sarapan.
Tentu sarapan itu untuknya dan untuk Olivia, mulai sekarang dia akan melakukan hal itu setiap hari untuk membuat Olivia senang, lagi pula dia juga senang melakukannnya.
Sebelum Olivia bangun dari tidurnya dia ingin sarapan sudah siap diatas meja, dia juga ingin melihat wajah gembira Olivia dan ingin Olivia memujinya.
Selama dia sibuk didalam dapur sebenarnya Olivia sudah bangun dari tidurnya, dia mulai terbiasa bangun pagi kalau tidak dia akan kena penalty dari Lewis.
Hutangnya tidak boleh bertambah lagi kalau tidak dia akan benar-benar terjebak dengan Lewis untuk jangka waktu yang lama dikantornya.
Setelah melihat penampilannya sudah cukup rapi didepan cermin Olivia segera keluar dari kamarnya, pada saat itu juga aroma makanan menggugah selera tercium oleh indra penciumannya.
Wah apa yang sedang dibuat oleh pelayan Lewis? Perutnya jadi lapar.
Olivia langsung masuk kedalam dapur dan pada saat itu, senyum langsung mengembang diwajahnya saat melihat Lewis sedang sibuk disana.
Tanpa ragu Olivia mendekati Lewis dan memelukinya dari belakang, tentu hal itu membuat Lewis kaget.
Sepertinya pagi ini suasana diantara mereka mulai berubah dan dia berharap mereka akan selalu seperti itu.
"Good morning my bos." sapa Olivia.
Lewis mematikan api kompornya dan tersenyum, dia juga memegangi lengan Olivia yang melingkar diperutnya. inikah rasa sebuah kebahagiaan?
"Tumben karyawanku bisa bangun pagi?" godanya.
"Karyawanmu ini berusaha untuk menjadi karyawan teladan supaya tidak mendapat penalty dari bos yang perhitungan."
Lewis memutar tubuhnya dan tertawa pelan, senyum kembali menghiasi wajahnya saat melihat Olivia yang tampak semakin hari semakin cantik dimatanya.
"Aku perhatikan semakin hari kau terlihat semakin cantik." godanya.
"Oh ya? Penampilanku selalu seperti ini dan sepertinya ada yang aneh dengan matamu? Apa matamu terkena merica?"
"Tidak, mataku masih normal dan akan semakin bersinar terang saat melihat wanita cantik apalagi wanita cantik yang sedang berada dihadapanku ini."
"Ck, gombal!"
Lewis terkekeh dan tanpa Olivia duga Lewis mendaratkan bibirnya kepipinya, Lewis juga berbisik dengan lembut.
"Good morning."
"Good morning old ostrich."
Olivia mengalungkan kedua lengannya dileher Lewis, dia juga mencium pipi Lewis, hal itu semakin membuat Lewis senang.
Dia menarik Olivia dan mendekapnya dengan erat, merasakan kehangatan tubuh Olivia, dia benar-benar melupakan masakannya.
"Kenapa kau selalu memanggilku old ostrich?"
"Yah, aku rasa panggilan itu sangat cocok untukmu."
"Oh ya? Apa kau ingin aku patuk?"
"Oh my bos, jangan nanti kulitku lecet."
Lewis kembali terkekeh dan semakin mengencangkan pelukannya dan pada saat itu dia jadi ingin tahu bagaimana perasaan Olivia padanya?
Olivia tidak menolak ciuman darinya walaupun hanya pipi saja, bahkan Olivia mau memeluknya tanpa ragu.
Apa Olivia melakukan hal itu karena sudah memiliki perasaan untuknya atau hanya karena nyaman dengannya seperti dengan seorang teman.
Sepertinya dia harus menanyakan hal ini pada Olivia dan dia harap jawaban dari Olivia tidak mengecewakan.
"Olivia."
"Ada apa?"
Mereka masih berpelukan dan tidak ada salah satu dari mereka yang berinisiatif untuk melepaskan pelukan diantara mereka.
"Aku ingin tahu bagaimana menurutmu tentang aku?"
"Maksudmu?"
Olivia jadi sangat heran,apa maksud dari pertanyaan dari Lewis?
"Yah aku ingin tahu saja."
Olivia masih merasa heran tapi ya sudahlah, dia akan mengeluarkan semua yang dia rasakan selama dia bersama dengan Lewis.
"Menurutku kau itu pria menyebalkan, pelit, penuh perhitungan dan terkadang kau berbuat sangat baik padaku sampai membuatku bingung tapi setelah itu kau menghitung setiap kebaikan yang kau berikan dan meneror aku dengan sebuah sebutan yaitu 'penalty' dan setiap aku pendengar itu aku jadi berpikir, apa kau ingin aku bekerja ditempatmu lebih lama tanpa dibayar? Apa kau melakukan hal itu supaya kau dapat karyawan gratis untuk beberapa waktu kedepan?"
"Hahahahahaha!!" Lewis langsung tertawa dan melepaskan pelukannya, dia melakukan hal itu untuk memegangi perutnya yang sakit.
Ternyata dimata Olivia dia hanya sebagai seorang pria pelit dan penuh perhitungan. Yah, sebenarnya dia tidak seperti itu, dia melakukan hal seperti itu hanya pada Olivia saja tapi dia tidak menyangka Olivia menganggap dia seperti itu.
"Kenapa kau tertawa?"
"Hmm...Maaf, aku memang pelit sejak dulu. Jadi apa ada yang lain lagi?" tanyanya disela-sela tawanya.
"Yah ada sih, biarpun kau pelit tapi kau selalu baik padaku."
"Oh ya, coba sebutkan?"
Lewis kembali merangkul pinggang Olivia dan memandangi wajahnya sedangkan senyumnya kembali mengembang diwajah tampannya.
"Walaupun kau selalu perhitungan tapi terkadang kau sangat baik, kau mau memijit kakiku,mau membuatkan makanan untukku dan kau juga mau mengendongku."
"Oh ya?" Lewis menempelkan dahinya kedahi Olivia sampai pandangan mereka berdua beradu, mereka berdua diam saja sambil memandang satu sama lain.
Olivia jadi gugup dengan situasi diantara mereka berdua, nafas Lewis terasa begitu hangat menerpa wajahnya begitu juga dengan Lewis, rasanya dia sangat ingin mencium bibir Olivia saat itu juga.
"Olivia." jari Lewis mulai mengusap bibir Olivia.
"Apa?"
"Apa kau sudah memikirkan pertanyaanku?"
"Hmm belum?"
"Bisa jawab sekarang?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Aku sedang lapar, lain kali akan aku jawab!" Olivia mencoba menghindar, mungkin jika Lewis langsung menciumnya dia tidak akan marah.
"Oke baiklah."
Lewis langsung mengangkat Olivia dan membawanya menuju meja makan sedangkan Olivia memeluk leher Lewis dengan erat bahkan menyembuntikan wajahnya dileher Lewis.
Dia tidak tahu kenapa Lewis ingin mencium bibirnya tapi dia rasa Lewis tidaklah buruk, walaupun mereka baru bersama beberapa hari tapi dia bisa melihat jika Lewis sangat berbeda dengan pria yang selalu mendekatinya selama ini.
Lewis menurunkan Olivia dari gendongannya dan menciumi pipinya kembali.
"Tungu disini, aku akan segera menyiapkan sarapan."
"Yes my bos." Olivia duduk dengan manis menunggu sarapan yang akan dibuat Lewis, dia hanya duduk diam memandangi punggung Lewis dan terkadang senyum menghiasi wajahnya.
Lewis adalah suami idaman menurutnya, pasti wanita yang akan menikah dengan Lewis akan sangat beruntung.
Tidak lama kemudian Lewis kembali dengan dua piring makanan ditangannya, dia berjalan kearah Olivia dengan senyum menawannya begitu juga dengan Olivia dia matanya tidak lepas dari Lewis sedari tadi.
"Ayo makan." Lewis meletakkan makanan diatas meja.
"Terima kasih." Olivia mengambil makanannya dengan wajah berseri.
"Hati-Hati panas."
"Aku tahu."
"Bagus, segera makan setelah itu kita berangkat kekantor dan mulai hari ini kau jadi sekertarisku."
"Apa?" Olivia tidak percaya mendengarnya, jadi sekertaris Lewis? Memangnya apa yang terjadi dengan Cherly?
Bukankah Lewis tidak memecat Cherly? Dia jadi penasaran apa yang telah terjadi setelah dia meninggalkan ruangannya.