
Setelah mereka kembali Olivia langsung turun dari mobil dengan cepat, dia juga melangkah masuk kedalam rumah Lewis dengan terburu-buru bahkan mengabaikan panggilan dari Lewis.
Dia sedang malas berbicara dengan Lewis dan dia tidak mau berbicara dengannya. Dia masih marah karena Lewis telah berani menciumnya secara tiba-tiba tanpa bertanya dan tanpa persetujuannya.
Dia juga kecewa dengan dirinya sendiri yang begitu mudahnya terbawa suasana dan membalas ciuman dari Lewis, apa yang sebenarnya terjadi dengannya?
Saat masuk kedalam rumah Lewis, Olivia menghentakkan kakinya karena dia benar-benar kesal sedangkan Lewis hanya melihatnya dengan senyum mengembang diwajahnya.
Dia sudah berusaha membujuk Olivia sejak makan siang tadi tapi sepertinya Olivia semakin marah dengannya akibat dia telah menciuminya secara tiba-tiba.
Lewis tidak menyesal melakukan hal itu karena memang sudah sejak lama dia ingin melakukannya, lagi pula mereka berdua sangat menikmati ciuman mereka lalu kenapa Olivia harus marah?
Sepertinya dia harus membujuk Olivia lagi, dia tidak akan menyerah sampai suasana diantara mereka kembali seperti semula.
Olivia masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan dentuman keras, dalam hatinya masih kesal dan marah, rasanya dia ingin memukul sesuatu saat ini juga.
Jika ada samsak mungkin sudah dia lakukan apalagi jika Lewis yang jadi samsaknya, dia akan lebih senang lagi karena pria itulah yang telah membuatnya kesal.
Jika sampai itu terjadi maka akan dia pukul Lewis sampai babak belur, mungkin dengan begitu kekesalan dihatinya akan hilang dan dia akan merasa sangat puas.
"Sebal, sebal, sebal!!'" Olivia berteriak didalam kamarnya.
Dia menjatuhkan dirinya keatas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya sedangkan jarinya sudah menyentuh bibirnya.
Dia masih mengingat ciuman tadi dan rasanya?
"Dasar menyebalkan!!!" teriaknya lagi.
Olivia membalikkan tubuhnya dan memeluk bantal, dia juga memejamkan matanya. Lebih baik dia tidur untuk menenangkan hatinya yang masih dipenuhi kekesalan.
Tidur adalah hal terbaik yang harus dia lakukan saat ini setelah itu lihat saja nanti.
Saat dia sudah tertidur dia tidak tahu jika Lewis masuk kedalam kamarnya, senyum Lewis mengembang diwajahnya saat melihat Olivia sedang tidur.
"Dasar pemalas, baru pulang bukannya mandi tapi malah tidur!" tapi setidaknya dia mengerti sekarang ternyata jika suasana hati Olivia sedang kesal atau marah Olivia lebih memilih tidur untuk menenangkan hatinya.
Pantas saja kemarin saat Olivia kesal dengan Cherly dan Gwen dia lebih memilih pulang dan tidur, ini sedikit unik dan dia belum pernah melihat seseorang menenangkan kekesalan dihatinya dengan cara tidur.
Hal ini membuatnya semakin suka dengan Olivia dan dia akan mendapatkan Olivia bagaimanapun caranya.
Lewis merapikan rambut Olivia yang berada diwajahnya tapi pada saat itu Olivia menepis tangannya dan memutar tubuhnya sambil bergumam:
"Lewis Simone, tunggu saja, akan aku bunuh kau!"
Lewis terkekeh pelan saat mendengarnya, ternyata Olivia hanya mengigau saja.
Dia segera bangkit berdiri, lebih baik dia membuat makanan untuk mereka makan malam. Dia ingin saat Olivia bangun nanti makanan sudah tersedia, dia juga ingin membuat Olivia senang dan tidak marah lagi dengannya.
Sewaktu Olivia bangun dari tidurnya ternyata waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dia kira kekesalan dihatinya akan hilang setelah tidur ternyata tidak, setiap dia mengingat ciuman itu dia kembali kesal.
"Oh sialan! Kenapa aku masih mengingatnya!" gerutu Olivia kesal.
Dia berjalan kearah jendela dan membukanya, diluar sudah begitu gelap dan sekarang dia haus dan lapar.
Lebih baik dia mencari sesuatu diluar sana untuk makan dan minum jadi dia keluar dari dalam kamarnya dan menuju kearah dapur, langkah Olivia terhenti saat melihat Lewis sedang menyiapkan makanan disana.
Dia berdecak kesal dan memutar langkahnya kembali, lebih baik dia tidak bertemu dengan Lewis saat ini.
Olivia berjalan kearah kolam renang dan duduk disisi kolam, angin malam yang menusuk kulitnya tidak dia perdulikan jadi dia diam saja disana untuk sesaat.
"Oh damn!! I hate this situation!" teriaknya marah.
Perasaannya benar-benar tidak menentu saat ini jadi dia melepaskan bajunya tanpa ragu, mungkin dengan berenang diair dingin dapat mendinginkan kepalanya.
"Lewis Simone, b*star!!" sambil meninju air.
"Pria jahat, pelit, pria penuh perhitungan! Tidak punya sopan santun, aku benci, benci, benci denganmu Lewis Simone!" teriaknya marah.
"Kenapa ada pria sepertimu didunia ini, aku harap kau tenggelam didalam kolam! Aku harap kau menikah dengan Gwen, aku harap??" Olivia menghentikan ucapannya dan dan gerakannya, dia bingung mau bicara apa lagi.
"Huh, aku harap tidak ada pria sepertimu lagi yang menciumi seorang gadis sembarangan tanpa permisi!!" dia tidak tahu ayah dan kakaknya lebih parah.
Olivia terus memaki dan meninju air kolam untuk melampiaskan kekesalan dihatinya, dia tidak tahu Lewis sudah berdiri didekat kolam untuk mendengar semua caci makinya.
Tapi Lewis hanya tersenyum mendengar semua amarah yang keluar dari bibir Olivia, setelah membuat makanan Lewis langsung mencari Olivia didalam kamar tapi ternyata Olivia tidak ada didalam kamarnya.
Dia berada disana saat mendengar suara makian Olivia dikolam renang,sepertinya Olivia masih marah.
"Lewis Simone, ba*tar!!" teriaknya lagi.
Olivia menghentikan gerakannya karena tangannya sudah mulai terasa kram, dia mengatur nafasnya dan memejamkan matanya untuk menenangkan emosinya, setidaknya ini sudah lebih baik.
Tidak ada samsak airpun jadi! Dia harap selanjutnya yang dia pukul adalah Lewis Simone.
Lewis berdiri disisi kolam renang dan berdehem pelan.
"Ehm, apa sudah puas nona?"
Saat mendengar suara Lewis, Olivia langsung berenang menjauh, lebih baik mereka berdua berjauhan.
"Ayo naik, nanti kau bisa sakit."
Olivia hanya cuek saja, dia berharap Lewis segera pergi dari sana dan tidak mengganggunya.
"Hei, jangan abaikan aku!"
Tapi lagi-lagi Olivia tidak menjawab dan hanya cuek saja, hal itu membuat Lewis sangat kesal.
"Oh Olivia Smith, kau benar-benar!" Lewis membuka bajunya dan melompat kedalam kolam renang.
Olivia sangat kaget saat melihat Lewis berenang mendekatinya, mau apa lagi sih Lewis Simone? Kenapa tidak meninggalkannya saja?
"Hei jangan mendekat!" pintanya.
Jujur saja tangannya masih kram dan dia sudah lelah untuk berenang menjauhi Lewis.
Lewis tidak perduli, dia mendekati Olivia dan meraih pinggangnya.
"Apa masih belum puas memakiku dan masih juga marah padaku?" tanyanya saat Olivia sudah berada didalam pelukannya.
"Hei lepaskan!" Olivia berusaha memberontak.
"Tidak akan, jadi dengarkan aku." Lewis mengusap pipi Olivia yang terasa dingin karena angin malam dan air kolam, dia juga menatap Olivia dengan senyum diwajahnya.
"Kau marah karena aku menciummu bukan?"
Olivia hanya melotot pada Lewis tanpa mau menjawabnya.
"Kalau begitu kau boleh membalasku, kau boleh menciumku sampai kau puas!"
"What?" Olivia tercengang saat mendengarnya.
"Ingat, mata dibayar mata, gigi dibayar gigi jadi ciuman dibayar dengan ciuman." ujar Lewis sambil tersenyum. Dia ingin lihat apa Olivia berani? Apa setelah ini Olivia masih marah lagi padanya?
Lewis menanti balasan dari Olivia sedangkan Olivia menatapnya dengan tajam. Balasan macam apa itu?