
Setelah membuat makan siang dengan ibunya, Olivia memasukkan beberapa makanan kedalam tempat makan.
Dia ingin membawa makanan itu untuk suaminya nanti dan mengajaknya makan bersama.
Walaupun masakan itu buatan ibunya tapi tidak apa-apa, dari pada membawa makanan hasil buatannya dan meracuni suaminya lebih baik membawa makanan yang dibuat oleh ibunya.
Setelah selesai, Olivia mengambil sebuah paper bag dan memasukkan makanan yang sudah berada kotak makan didalam sana.
Olivia melihat jam dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 11.30, lebih baik dia segera pergi kekantor Lewis.
Dia segera menyambar paper bag yang ada diatas meja dan mendekati ibunya yang sedang menyiapkan piring diatas meja.
"Mom, aku mau pergi dulu ya."
"Mau kemana?"
"Kekantor Lewis, aku ingin mengajaknya makan siang bersama."
"Baiklah, hati-hati sayang."
"Bye mom."
Olivia menciumi pipi ibunya setelah itu dia keluar untuk mencari ayah dan kakaknya, diluar kedua pria itu masih serius bermain catur sedangkan Brem yang ada diatas meja sudah terlihat berkurang isinya.
"Hei siapa yang kalah?"
"Daddy." jawab kakaknya dengan cepat.
"Daddy, bagaimana? Enak tidak?" goda Olivia.
"Hei girl, lain kali jangan bawa makanan yang aneh pulang kerumah!" Jhon tampak kusut karena dia harus memakan Brem itu berkali-kali.
Olivia hanya tertawa, bagi mereka makanan itu memang aneh tapi bagi sebagian orang Indonesia makanan yang dia bawa adalah makanan enak.
"Kak Jacob, kau harus mengalah sekali-kali, kasian daddy."
"Tidak, pokoknya daddy harus menghabiskan makanan itu!"
"Wow, tega kau!"
"Ya sudah aku mau pergi ya."
"Mau kemana?" tanya ayah dan kakaknya secara bersama-sama.
"Kekantor Lewis."
Setelah menciumi pipi ayah dan kakaknya, Olivia segera pergi dari sana untuk menemui suaminya.
Sedangkan dikantor, Lewis masih sibuk dengan pekerjaannya yang tertunda. Saat itu pintu ruangan diketuk dari luar sana.
"Masuk saja." ujarnya
Pada saat itu Gwen langsung masuk kedalam ruangannya dan menghampirinya dengan cepat.
"Lewis, aku dengar kau sudah menikah?" tanya Gwen tanpa basa basi.
"Iya benar, kenapa?"
"Kenapa kau tidak mengundangku?"
Gwen langsung duduk didepan Lewis dan meletakkan tasnya di atas meja, dia baru kembali dari luar kota karena baru saja menyelesaikan syuting film yang dimainkannya.
Begitu kembali dia sangat kaget saat mendengar Lewis telah menikah dengan Olivia Smith. Kenapa mereka begitu cepat menikah?
Yang jadi masalahnya kenapa tidak mengundangnya?
Padahal itu adalah kesempatan bagus buatnya untuk mendekati seseorang dan lihatlah, kesempatan besarnya langsung hilang karena dia tidak diundang.
Jujur saja, dia tidak bisa mempertahankan posisinya sebagai artis papan atas terlalu lama karena banyak artis-artis muda pendatang baru yang lebih cantik dan lebih berbakat.
Dia perlu menemukan seseorang pria kaya untuk menjamin masa depannya nanti.
"Sory Gwen kami tdak mengundang banyak orang."
"Tapikan aku sahabatmu, kenapa kau tidak mengundang aku?"
"Gwen, istriku tidak mau mengundang banyak orang, mengerti tidak!" Lewis sudah tampak kesal.
"Cih baiklah! Tapi Lewis, bisakah kau mengenalkan aku pada kakak iparmu?"
"Tidak bisa!" tolak Lewis dengan tegas.
"Ayolah please."
"Gwen, kau keluar sana! Jangan mengganguku, aku sedang sibuk!"
"Lewis kenapa kau begitu padaku?"
"Aku bilang keluar!" bentak Lewis.
Dia benar-benar kesal sekarang, padahal dia ingin cepat mengerjakan pekerjaannya supaya cepat pulang.
Pada saat itu Olivia sudah tiba dan masuk kedalam ruangannya.
"Lewis aku dat?"
Olivia menghentikan ucapannya saat melihat Gwen disana, mau apa lagi si ratu drama mendatangi suaminya?
"Olivia sayang, kenapa tidak mengabari aku jika kau mau datang."
Lewis bangkit berdiri dan menghampiri istrinya, dia juga memeluki Olivia dan mengecup bibirnya.
"Tidak tahu abaikan saja dia!"
"Hai Olivia." sapa Gwen basa basi.
Bagaimanapun Olivia akan jadi calon adik iparnya nanti.
"Jangan basa basi, mau apa lagi kemari?"
"Jangan salah paham, aku tidak mengganggu Lewis. Aku datang untuk bertanya kenapa tidak mengundangku saat kalian menikah dan aku hanya ingin mengobrol dengan kalian."
"Oh, tapi kami sibuk. Lain kali saja kau datang lagi." jawab Olivia.
Olivia segera berjalan kearah sofa dan melewati Gwen begitu saja, dia merasa tidak ada yang perlu dia bicarakan dengan Gwen.
"Kau dengar itu Gwen, kami sibuk jadi pergilah." ucap Lewis.
"Cih baiklah, aku akan berusaha sendiri!"
Gwen mendengus kesal dan melangkah pergi sedangkan Lewis menghampiri Olivia yang sedang menunggunya.
"Olivia sayang, apa yang kau bawa?"
"Makanan, aku ingin makan siang denganmu!"
"Oh ya? Apa kau yang membuatnya?"
"Apa kau mau memakan makanan yang aku buat?"
"Tidak!"
Lewis duduk disampingnya dan pada saat bersamaan Olivia bangkit berdiri, dia langsug duduk diatas pengkuan suaminya tanpa ragu.
"Lewis, untuk apa Gwen kemari?"
"Dia memintaku mengenalkan kakakmu padanya."
"Ck artis gila, masih belum menyerah juga untuk mendekati kakakku padahal sudah aku peringatkan waktu itu."
"Maksudmu? Apa dia pernah memintamu untuk mengenalkan kakakmu padanya."
"Yah,itu sudah lama waktu kau pergi ke New York."
"Wow, sepertinya dia masih belum menyerah."
"Biarkan saja, aku ingin lihat apa dia bisa menggoda kakakku?"
"Sepertinya aku harus memperingatinya lagi."
"Tidak perlu Lewis, orang sepertinya tidak akan mendengar peringatan orang lain. Ini akan menjadi pertunjukkan yang menarik! Dan aku berharap kakakku bermurah hati padanya nanti!"
"Dasar kau!!"
"Ck sudahlah, kenapa harus membicarakan Gwen!"
"Kau benar sayang."
Lewis mengusap pipi istrinya dan menciumi bibir istrinya dengan lembut. Olivia membalas ciumannya dan tidak lama kemudian ciuman mereka menjadi liar.
Tangan Lewis sudah masuk kedalam rok yang dipakai oleh Olivia dan mengusap pahanya dengan lembut.
"Lewis, uhg!" Olivia mulai mengerang saat jari nakal Lewis mulai menyentuh sesuatu disana.
"Hei!" dia langsung menahan tangan suaminya.
"Kenapa? Kau tidak mau?"
"Bukan begitu, ini dikantor."
"Ck baiklah, tapi nanti malam kau harus siap-siap sayang."
"Aku tunggu patukanmu!"
"Oh my, tunggulah."
Mereka kembali berciuman dengan mesra tapi setelah itu Olivia turun dari pangkuan Lewis.
Dia segera mengambil paper bag yang dia letakkan tadi diatas meja dan mengeluarkan isinya.
"Siapa yang memasak?" Lewis mulai membantu istrinya mengeluarkan tempat makanan dari paper bag satu persatu.
"Mommy."
"Wah mommymu jago memasak tapi kenapa kau tidak?"
"Kenapa? Kau menyesal menikah denganku?"
"Bodoh! Aku tidak akan pernah menyesal menikah denganmu karena kau itu unik, menurutku."
"Kau kira aku barang antik!"
Lewis terkekeh dan merangkul pinggang Olivia, dia juga menarik tubuh istrinya hingga bersandar padanya.
"I love you my honey."
Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah Olivia, tidak ada pria yang mencintainya dengan tulus selain Lewis.
"I love you too my old ostrick."
Mereka kembali berciuman dengan mesra sedangkan kebahagian terpancar dari wajah mereka berdua.