30 Days For Love

30 Days For Love
Virus



Sebelum keluar dari kamarnya Lewis berdiri didepan jendela kamarnya melihat pohon bambu yang ada disamping kamarnya, entah kenapa selama Olivia tinggal dengannya suasana dirumah jadi berubah.


Biasanya dia hanya didalam kamar sepanjang hari untuk bekerja jika tidak pergi kekantor, yah kegiatannya memang kerja, kerja dan bekerja.


Tapi entah kenapa sejak Oliva tinggal dirumahnya suasana jadi berubah, harinya mulai terasa menyenangkan walaupun Olivia baru beberapa hari dirumahnya.


Lewis mengingat kebersamaan mereka semalam didekat kolam renang, mereka begitu akrab dan menurutnya Olivia Smith gadis yang menyenangkan.


Bahkan sebelum mereka kembali kekamar masing-masing untuk tidur, Olivia menciumi pipinya dan mengucapkan Selamat malam.


Ini bukan kali pertama dia dicium oleh seorang wanita tapi entah kenapa dia sangat suka Olivia menciumnya walaupun hanya dipipi saja.


Dia jadi berpikir jika Olivia pergi nanti akankah hari seperti yang biasa dia lalui sendiri akan terulang lagi?


Berkutat dengan pekerjaannya sepanjang waktu, mungkin benar kata Olivia, setelah mereka berpisah dia juga harus segera mencari pacar.


Lewis memutar langkahnya menuju lemari, dia mengambil jasnya disana dan memakainya, lebih baik dia segera pergi kekantor dari pada terlalu banyak berpikir.


Mereka hanya terbawa susana karena selama ini dia tidak pernah mengijinkan wanita manapun tinggal dirumahnya, dia mengijinkan Olivia tinggal disana karena dia ingin membuatnya kalah karena Olivia begitu berani menantangnya.


Jangan sampai dia lupa dengan tujuannya, sebelum satu bulan dia harus membuat Olivia menyerah dan pulang sambil menangis.


Lewis segera keluar dari Kamarnya,dia melirik kekamar Olivia sejenak, mungkin Olivia masih berada didalam kamarnya tapi dia segera berlalu pergi, lebih baik dia pergi kedapur untuk sarapan.


Mata Lewis terbelalak kaget saat melihat Olivia sudah duduk dimeja makan, meneguk segelas susu dan sedang memakan sepotong roti dengan penampilan yang sudah rapi.


Tumben? Biasanya selalu bangun terlambat tapi kenapa hari ini begitu pagi dan sudah rapi.


Dia segera berjalan mendekati Olivia dan pada saat menyadari kedatangan Lewis, Olivia segera bangkit berdiri.


"Morning." sapa Olivia.


"Hm.. Morning." sapa Lewis pula.


Olivia segera menghampiri Lewis, sesuai janji dia harus memberikan ciuman selamat pagi untuk Lewis. Setelah mencium pipi Lewis dia ingin kembali menyelesaikan sarapan yang disediakan oleh pelayan Lewis tapi tiba-tiba Lewis merangkul pinggangnya dan memeluknya dengan erat.


Lewis membenamkan wajahnya dileher Olivia dan menghirup aroma tubuh Olivia yang terasa manis, entah kenapa dia ingin seperti itu untuk sesaat.


"Tumben kau bangun pagi?" tanyanya.


"Yah, aku tidak ingin kena penalty lagi kau tahu."


"Oh ya? Apa kau begitu takut aku memberimu penalty?"


"Tentu saja, aku tidak mau hutangku semakin membengkak! Aku tidak mau terikat terlalu lama denganmu."


"Begitu?" Lewis merasa sedikit kesal saat mendengar perkataan Olivia.Entah kenapa dia seperti sedang ditolak mentah-mentah oleh Olivia tapi dia semakin mengencangkan pelukannya sedangkan Olivia diam saja, ada apa dengan Lewis Simone?


"Hmm Lewis, kau mau memelukku sampai kapan? Memangnya kita tidak mau pergi kekantor?"


"Tidak akan ada yang memarahi kita jika terlambat jadi biarkan aku seperti ini."


"Yah, tidak masalah, pelukanku tidak gratis." Olivia mengangkat tangannya untuk membelai rambut Lewis, saat merasakan belaian tangan Olivia senyum mengembang diwajah Lewis.


Dia segera mengangkat kepalanya dan menciumi pipi Olivia dengan lembut.


"Oke sudah cukup, kita ini sudah seperti sepasang kekasih saja." Olivia sendorong tubuh Lewis.


"Kau benar, tapi jujur aku suka kita seperti ini?"


"Oh ya?" Olivia melihat Lewis dengan senyum licik mengembang diwajahnya.


"Hei jangan salah paham!" Lewis segera melangkah pergi dengan cepat.


Apa yang sudah dia katakan? Kenapa dia mengatakan jika dia suka dengan keadaan mereka saat ini. Ini sudah seperti sebuah pernyataan cinta saja.


"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak bilang menyukaimu tapi aku bilang aku suka dengan keadaan kita yang seperti ini." elaknya dengan cepat.


"Kau tahu, perkataanmu sudah seperti sebuah pernyataan cinta ditelingaku." goda Olivia lagi.


"Oh my, jangan terlalu percaya diri!" gerutu Lewis.


"Ya ampun aku begitu tersanjung kau sudah menyukaiku!"


"Jika kau masih saja menggodaku maka aku akan memberimu penalty 1000 dolar!" ancam Lewis.


"Oke baiklah, mulutku terkunci."


Lewis berjalan didepan Olivia sambil tersenyum sedangkan Olivia berjalan dibelakangnya sambil bernyanyi.


"If you love me please say you love me."


"Hei 1000 dolar!" ujar Lewis kesal.


"Aku hanya sedang bernyanyi." protes Olivia.


"Lagu siapa itu? Aku belum pernah mendengarnya!"


"Laguku, baru saja aku menciptakannya."


"Ck menyebalkan, kau tetap aku penalty 1000 dolar."


"Tidak apa-apa kau bisa memberiku penalty sesukamu karena aku tahu kau ingin mengikatku dengan hutang-hutangku supaya aku tidak bisa pergi darimu bukan?" tebak Olivia asal.


"Oh my God." Lewis menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.


Olivia menghentikan langkahnya dan berusaha tersenyum, apa yang ingin Lewis lakukan?


"Jika masih tidak diam maka akan aku cium bibirmu." ancamnya.


"Oh my bos, mulutku sudah terkunci rapat!" Jawab Olivia sambil melipat bibirnya kedalam.


"Bagus, ayo segera kekantor jika terlambat kau harus membayar penalty lagi."


Setelah berkata demikian Lewis segera meraih tangan Olivia dan menggenggamnya dengan erat, meraka keluar dari sana untuk berangkat kekantor.


Selama diperjalanan Olivia sangat ingin menggoda Lewis tapi dia takut Lewis menciuminya, dia tidak mau ciuman pertamanya melayang begitu saja.


Dia hanya melihat jalanan yang mereka lalui sedangkan Lewis terkadang mencuri-curi pandang kearah Olivia dan terkadang senyum menghiasi wajahnya saat melihat Olivia.


Ini benar-benar aneh, semoga dia tidak sedang gila. Dia akan menganggap dirinya sedang terkena virus yang dibawa oleh Olivia.


Virus? Apa nama virus yang menyerangnya saat ini? Ada yang tahu? Mungkin sebentar lagi dia harus pergi kedokter.


Setelah mereka tiba dikantor, Lewis segera turun dari mobilnya dengan cepat dan berkata:


"Cepat, jika kau tidak mengikutiku maka 1000 dolar masuk kedalam daftar hutang."


Olivia mengangguk dan mengikuti langkah Lewis yang begitu cepat sambil berlari kecil.


Sialan memangnya mereka sedang lomba lari? Jika tidak dia ikuti bisa-bisa hutangnya terus bertambah lagi, lagi dan lagi.


Bisa-bisa dia terikat dengan Lewis untuk seumur hidupnya tanpa bisa pergi, jika itu terjadi kapan perjanjian mereka bisa berakhir.


"Bisa jomblo seumur hidup jika terus seperti ini." gerutu Olivia dalam hati.


Dia terus mengikuti Lewis sampai mereka masuk kedalam lift pribadi Lewis, Saat didalam sana Olivia mengatur nafasnya sambil memegangi dadanya sedangkan Lewis melirik kearahnya sambil tersenyum.


Saat mereka keluar dari lift, Cherly melihat mereka berdua. Baiklah, sekarang saatnya untuk mengadu domba!