
Olivia tampak sedang bersiap-siap didalam kamarnya, dia ingin pergi kerumah Lewis untuk mengambil barang-barangnya.
Sebenarnya tidak diambilpun tidak masalah tapi dia tidak mau meninggalkan apapun dirumah Lewis.
Begitu dia tiba di California hari sudah malam dan dia tidak mau mengambil barangnya saat itu juga karena dia tahu Lewis pasti ada dirumahnya.
Dia melakukan hal itu karena dia tidak mau bertemu dengan Lewis lagi, setelah mengambil barangnya dia akan pergi ke Australia. Liburan selama sebulan disana dan melupakan semua yang pernah dia lalui bersama dengan Lewis.
Walaupun terasa menyenangkan tapi dia akan melupakan semuanya dan menganggap apa yang dia lalui bersama dengan Lewis tidak pernah terjadi.
Lagi pula dia sudah tidak punya hutang lagi, penalty yang selama ini Lewis berikan padanya sudah dia ganti sewaktu di New York dan mobil yang dia bakar juga sudah diganti. Menurut kakaknya mobilnya sudah dikirimkan ketempat Lewis jadi semua hutangnya lunas.
"Olivia, kau mau pergi kemana?"
Samantha masuk kedalam kamar putrinya dan berjalan mendekatinya, dia juga mengambil sisir untuk menyisir rambut putrinya.
"Aku mau pergi mengambil barang-barangku mom."
"Olivia sayang, ayo duduk sini dengan mommy, kita bicara."
Samantha menarik tangan putrinya dan membawanya mendekati ranjang, mereka duduk disana saling berhadapan.
Samantha tersenyum pada putrinya dan merapikan anak rambut putrinya yang berantakan, bahkan dia mengusap wajah putrinya dengan lembut.
"Apa yang ingin mommy bicarakan?" tanya Olivia penasaran.
"Apa kau tahu sayang?" Samantha meraih tangan putrinya dan mengusapnya dengan lembut.
"Semalam Lewis datang kemari untuk mencarimu."
Olivia memutar bola matanya malas, untuk apa lagi sih Lewis datang dan mencarinya? Apa dia mau mengatakan jika dia mau menikah dengan wanita jepang itu dan menghinanya.
Dia tidak akan perduli dengan pria itu karena dia telah memutuskan untuk melupakan semua tentang Lewis Simone untuk selamanya.
"Biarkan saja mom, lain kali usir saja dia."
"Apa kau tidak ingin tahu kenapa dia datang kemari?" Samantha melihat putrinya dengan serius. Apa putrinya tidak ingin tahu kenapa Lewis datang mencarinya?
"Tidak! Untuk apa aku tahu! Aku tidak mau bertemu dengannya lagi bahkan aku tidak mau tahu lagi tentangnya sedikitpun!"
"Kau yakin sayang?"
Olivia mengangguk, tentu saja dia yakin dan dia tidak akan mau bertemu dengan Lewis Simone lagi sampai kapanpun juga.
Samantha menarik nafasnya dengan berat, dia sedikit iba dengan Lewis tapi dia akan berusaha membujuk putrinya sebisa mungkin.
"Baiklah jika kau tidak mau bertemu dengannya lagi tidak apa-apa, tapi setidaknya dengarkan ucapan mommy."
Samantha tersenyum dan kembali mengusap wajah putrinya dengan lembut.
"Lewis sudah dua kali datang kemari untuk mencarimu, bahkan daddymu sudah menanyakan permasalahan diantara kalian berdua. Dia bilang kalian hanya?"
"Mom." Olivia memotong ucapan ibunya karena dia tidak mau mendengar apapun lagi tentang Lewis.
Samantha menarik putrinya hingga masuk kedalam pelukannya, dia juga mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Mommy ingin tahu, apa kau sudah mendengar penjelasan dari Lewis?"
"Apa kau membaca pesan yang dia kirimkan? Apa kau menjawab panggilan ponselnya dan memberikan kesempatan untuknya menjelaskan semua yang telah terjadi?"
Lagi-lagi Olivia menjawab pertanyaan Ibunya dengan sebuah gelengan, dia memang memblokir nomor ponsel Lewis bahkan mengganti nomor ponsel lamanya.
Dia juga tidak membaca puluhan pesan yang masuk kedalam ponselnya dan menghapusnya begitu saja.
"Olivia sayang, mungkin kau benci dan kecewa dengannya tapi dengarkan mommy, berilah kesempatan padanya untuk menjelaskan semuanya padamu. Setelah itu kau boleh memutuskan apapun yang ingin kau lakukan nanti."
"Kau mau percaya atau tidak dengan penjelasannya itu terserah dirimu tapi setidaknya berilah kesempatan satu kali saja untuknya dan dengarkanlah penjelasaannya."
"Kalian bertemu baik-baik maka berpisahlah dengan cara baik pula, jika kau tidak suka dengannya ya sudah, kau tidak perlu bertemu dengannya lagi tapi jangan membuat dia dalam kesulitan hanya karena kesalah pahaman diantara kalian."
"Dia punya hak untuk menjelaskan semua kesalah pahaman diantara kalian dan kau, jangan bersikap egois dengan tidak mau mendengarkan apapun darinya."
Olivia diam saja mendengarkan nasehat ibunya dan memeluk ibunya dengan erat. Apa dia sudah keterlaluan?
"Coba kau cari jawaban dari hatimu yang paling dalam, bagaimana perasaanmu pada Lewis Simone?" tanya ibunya lagi.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya mom." jawab Olivia dengan cepat.
"Jikalau begitu, lalu buat apa kau marah? Buat apa kau menghindarinya dan tidak mau mendengarkan penjelasan darinya?"
Olivia kembali diam, dia juga tidak tahu kenapa dia begitu kecewa dengan Lewis. Samantha kembali tersenyum karena putrinya tidak menjawab pertanyaannya.
"Jangan membohongi dirimu sendiri sayang, itu tidaklah baik."
"Maksud mommy?"
Olivia melepaskan pelukannya dan melihat ibunya yang tersenyum dengan lembut.
"Hanya kau yang tahu jawabannya sayang, jadi carilah jawaban itu dari dalam hatimu dan mommy harap kau tidak membohongi dirimu dan menyangkal perasaanmu."
Setelah berkata demikian Samantha bangkit berdiri, sebelum keluar dari kamar putrinya dia kembali mengusap kepala putrinya dengan lembut, dia berharap putrinya dapat mengerti dengan apa yang diucapkannya.
Olivia melihat kepergian ibunya dalam diam, dia sedang memikirkan perkataan ibunya barusan.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh ibunya, dia memang harus memberikan kesempatan kepada Lewis untuk menjelaskan semuanya sebelum mereka berpisah.
Mereka memang bertemu baik-baik jadi lebih baik mereka berpisah dengan baik-baik juga, lagi pula dia harus memikirkan kakeknya karena kakeknya adalah teman baik kakek Lewis.
Tidak baik membuat dua orang tua saling bermusuhan hanya karena hal sepele. Mungkin saat dia bertemu dengan Lewis nanti dia harus mendengarkan penjelasan dari Lewis setelah ltu dia akan pergi.
Melupakan Lewis adalah hal terbaik karena dia tidak mau mengganggu hubungan Lewis dengan wanita jepang yang bersama dengannya sewaktu di New York, dia tidak mau menjadi orang ketiga.
Olivia bangkit berdiri dan mengambil tasnya, dia harus segera pergi kerumah Lewis untuk mengambil barang-barangnya.
Dia keluar dari kamar dan meminta ijin pada kedua orang tuanya, dia pergi dari sana dengan supir pribadinya Stave.
Saat mobilnya keluar dan belum jauh, tidak lama kemudian mobil Lewis tiba.
Sesuai dengan perkataan ayah Olivia dia kembali lagi untuk menemui Olivia dan dia berharap Olivia ada dirumah dan mau mendengarkan penjelasannya, dia sungguh berharap Olivia mau percaya dengan ucapannya sehingga hubungan mereka kembali seperti semula.
Dia bahkan sudah membawa cincin yang dia beli sewaktu di New York, dia ingin menunjukkan kesungguhannya dengan melamar Olivia didepan kedua orang tuanya.
Tapi dia tidak tahu jika Olivia sedang menuju rumahnya saat ini.