30 Days For Love

30 Days For Love
Wahai gadis tidak peka



"Ha..ha..ha..ha..!" tiba-tiba saja Olivia tertawa terbahak-bahak.


Apa-apaan pernyataan cinta dari Lewis? Itu terdengar sangat lucu ditelinganya.


Jangan bilang Lewis sedang demam atau jangan-jangan otak Lewis juga eror, tapikan dia tidak terjatuh tadi.


Lewis terlihat seperti orang linglung saat melihat Olivia, apa ada yang lucu dari perkataannya?


"Hei kenapa kau tertawa?" tanyanya kesal.


"Kau tahu Lewis, kau sangat lucu! Ha...ha..ha..ha..ha...!" Olivia kembali tertawa sambil memegangi perutnya.


Ini benar-benar sangat lucu, mungkin Lewis hanya menggodanya dan dia tidak akan pernah percaya.


Lewis tampak frustasi, apakah pernyataan cintanya terdengar seperti sebuah lelucon?


Sialan! Dia sudah bersungguh-sungguh tapi kenapa Olivia malah menertawakan dirinya?


"Hei berhenti tertawa!" ujarnya kesal.


"Oke baiklah, aku akan berhenti tertawa tapi lain kali jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Aku sampai merinding mendengarnya!"


"What?" Lewis kehabisan kata-kata.


Oh betapa bodohnya dia jatuh cinta pada gadis tidak peka seperti Olivia Smith, dia tahu ini tidak akan mudah tapi kenapa Olivia malah menertawakan pernyataan cintanya? Kenapa Olivia tidak mempercayai ucapannya?


Lewis menarik nafasnya dengan berat dan duduk disamping Olivia, sepertinya dia harus mencari cara lain agar Olivia bisa mempercayai ucapannya.


"Sudahlah!" ujarnya pasrah.


"Ada apa denganmu? Apa kau sedang sakit?" Olivia menyentuh dahi Lewis dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya lagi menyentuh dahinya sendiri.


"Aku rasa kau tidak sakit, apa kau salah makan obat?"


Lewis langsung menangkap tangan Olivia dan menatap gadis itu dengan tajam, dia juga menciumi telapak tangan Olivia dengan lembut.


"Bagaimana caranya supaya kau bisa percaya dengan pernyataan cintaku? Bagaimana caranya supaya kau bisa menyadari perasaanku padamu?"


"Aku bersungguh-sungguh denganmu tapi kenapa kau malah menertawakan pernyataan cintaku dan kau mengangggap pernyataan cintaku seperti sebuah lelucon belaka?"


Lewis menarik tangan Olivia hingga Olivia masuk kedalam pelukannya, dengan lembut pula Lewis mengusap punggung Olivia.


"Aku bukan orang yang suka bermain-main, aku juga bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hatiku dengan mudah tapi aku bersungguh-sungguh denganmu."


"Le..Lewis." Olivia mulai gugup, sepertinya Lewis sedang serius sekarang.


"Dengarkan aku baik-baik wahai gadis tidak peka! Aku sedang serius sekarang dan jangan menertawakan ucapanku karena ini tidak lucu!"


"Mungkin aku pria paling bodoh yang jatuh cinta padamu walaupun mungkin diluar sana banyak pria yang ingin mendapatkanmu karena statusmu tapi aku tidak! Sekalipun kau bukan putri orang hebat, sekalipun kita bertemu dijalanan atau sekalipun kau sungguh-sungguh menjadi karyawanku aku akan tetap jatuh cinta padamu. Apa kau tahu kenapa?"


Olivia menggeleng didalam pelukan Lewis, memang selama ini Lewis tidak seperti para pria yang mendekatinya yang hanya ingin memanfaatkan dirinya saja.


"Karena aku suka kepribadianmu yang menyebalkan! Kau tidak pernah takut dengan apapun dan kau selalu terlihat ceria menghadapi apapun juga, ya walau memang kau gadis yang paling menyebalkan yang pernah aku kenal."


"Tapi kau tidak pantang menyerah dan bahkan kau mau menjadi karyawanku padahal karyawan kakakmu ada ratusan orang tapi kau tidak pernah menyombongkan diri dengan status keluargamu yang luar biasa."


"Aku tahu ini tidak akan mudah dan aku tahu aku bukan siapa-siapa dibandingkan dengan keluaragamu tapi jujur aku sangat senang dapat mengenal gadis sepertimu dan selama beberapa hari ini aku sungguh sudah seperti orang gila, oh tidak! Bahkan selama aku berada di New York aku sudah seperti orang gila."


"Selama disana aku sangat merindukanmu, aku sangat ingin kembali dan melewati hari-hari yang begitu menyenangkan bersamamu. Kau tahu kenapa?"


Olivia kembali menggeleng sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.


Lewis memegangi dagu Olivia dan menatap matanya dalam-dalam begitu juga dengan Olivia, mereka saling pandang dan senyuman Lewis mengembang diwajahnya.


"Itu semua karena aku sudah jatuh cinta padamu, karena kau telah mencuri hatiku bahkan kau sudah memenuhi isi hatiku dan aku tidak bisa lagi berjauhan darimu."


"Aku ingin memiliki dirimu, aku ingin kita berdua selalu bersama dan aku ingin kau menjadi istriku."


Mata Olivia terbelalak kaget, apa?


Olivia semakin kaget mendengarnya sedangkan Lewis bangkit berdiri dan mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, cincin yang dia bawa sedari tadi.


Dia berlutut dihadapan Olivia dan membuka kotak cincin itu, dia juga kembali berkata:


"Olivia Smith, will you marry me?"


Olivia diam saja belum menjawab permintaan Lewis.


Menikah? Dia belum siap dan dia sendiri belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Lewis Simone.


Memang Lewis menyukainya lalu bagaimana dengan perasaannya? Olivia tampak berpikir, berusaha mencari jawaban didalam hatinya. Apa dia menyukai Lewis Simone?


"Hei jawab aku!" pinta Lewis. Kenapa Olivia diam saja?


"No!" jawab Olivia.


"What?"


"I say, no!"


Lewis langsung tampak kecewa dan bangkit berdiri, Dia melemparkan cincin yang berada ditangannya dan mulai melangkah pergi.


Jadi Olivia tidak menyukainya? Mungkin dia terlalu banyak berharap, ternyata Olivia tidak menganggapnya spesial.


Olivia tersenyum dan mengambil cincin yang dilemparkan oleh Lewis, dia juga memakai cincin itu dijari manisnya dan melihatnya.


"Cincinnya jelek." ujarnya.


Lewis menghentikan langkahnya, dia juga berpaling kearah Olivia yang tampak memperlihatkan cincin yang dipakainya.


Bukankah Olivia tidak mau? Lalu kenapa Olivia memakai cincin itu dan apa maksudnya jelek?


"Kau tahu Lewis?" Olivia melihat cincin itu dengan teliti.


"Ini lamaran mendadak dan tidak romantis, aku tidak mau dilamar seperti ini dengan cincin jelek ini!"


"Aku ingin kau melamarku dengan romantis hingga membuatku berkesan, jadi lebih baik kau pikirkan lagi bagaimana kau harus melamarku kembali nanti."


Senyum Lewis langsung mengembang diwajahnya, jadi artinya?


Dia segera melangkah kembali mendekati Olivia sambil memaki dalam hati:


"Oh sialan, dia mempermainkan aku!"


"Jadi apa artinya kau menerima lamaranku?" tanyanya


"Tidak, tapi jika kau melamarku lagi dengan romantis maka akan aku pikirkan dan pastinya dengan cincin yang lebih baik dari pada ini." jawab Olivia sambil tersenyum.


"Olivia Smith, kau benar-benar! Aku telah bersusah payah mengeluarkan isi hatiku tapi kau menghancurkannya dengan satu jawaban, dan ternyata kau menolakku hanya karena cincin itu jelek dan tidak romantis?"


"Yes."


"Kalau begitu bersiaplah, aku akan melamarmu dengan benar!"


"Aku tunggu."


Lewis kembali duduk disisi Olivia, dia juga mengangkat dagu Olivia sambil berkata:


"Boleh aku menciummu?"


"Jika kau berani menciumku maka kau harus menjadi budakku seumur hidup!"


"Baiklah aku budakmu sekarang."


"Itu bagus!"


Olivia langsung mengalungkan lengannya dileher Lewis sedangkan Lewis mulai menciumi bibir Olivia dengan mesra.