30 Days For Love

30 Days For Love
Boleh aku mencium bibirmu?



Setelah tiba dirumah Lewis, Olivia segera masuk kedalam kamar dan menjatuhkan dirinya diatas ranjang.


Moodnya benar-benar hilang karena Gwen dan Cherly, Lewis memang memintanya menunggu diruangannya tapi dia sedang malas berbicara dan berdebat dengan siapapun saat ini.


Dengan menaiki taksi Olivia pulang kerumah Lewis, lebih baik dia tidur untuk menenangkan hatinya dan untuk mengembalikan moodnya.


Sebelum tidur Olivia bangkit berdiri, dia ingin mengganti bajunya sebelum tidur siang. Rasa lapar diperutnyapun tidak dia perdulikan karena dia juga tidak berselera makan.


Setelah mengganti bajunya, Olivia mengambil ponselnya dan menjatuhkan diri diatas ranjang, dia jadi rindu dengan seseorang.


Olivia segera menghubungi kakaknya karena dia ingin tahu keadaan kakaknya saat ini, dia juga ingin tahu apakah kakaknya sudah menemukan Alice? Jujur saja dia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Olivia kenapa kau mencariku?" terdengar suara kakaknya dari sebrang sana.


"Kak Jacob, bagaimana dengan kabarmu?"


"Baik, kau sendiri bagaimana disana?"


"Aku juga baik."


"Baguslah, belajarlah baik-baik dan rubah sifat jelekmu itu."


"Baik, kak Jacob?" Olivia sedikit ragu ingin bertanya pada kakaknya, dia ingin bertanya apakah kakaknya sudah menemukan Alice?


"Ada apa?"


"Hmm..Itu, apa kakak sudah menemukan Alice??"


Jacob hanya diam saja dan terdengar sedang menarik nafasnya dengan berat. Olivia jadi merasa sedikit bersalah, mungkin tidak seharusnya dia menanyakan hal ini pada kakaknya.


"Belum!"


"Kak, kapan dia akan kembali? Aku sangat rindu dengannya, aku sangat merasa bersalah. Maaf karena kecerobohanku Alice jadi pergi dari kita."


"Hei sudahlah! Bukan kau saja yang merindukannya, aku juga sangat merindukannya jadi jangan dibahas lagi!"


"Maaf kak Jacob, maaf."


"Ck, kangan dipikirkan okey! Kau cari teman saja disana dan belajar yang benar."


"Baik kak, maaf telah menggangu waktumu."


Olivia mematikan ponselnya dan melemparnya diatas ranjang setelah itu dia merebahkan diri diatas ranjang. Dia menutup matanya dengan lengannya dan berusaha tidur.


Tidur adalah caranya untuk menenangkan hatinya, walaupun dia masih kesal dengan perbuatan Gwen tadi tapi ya sudahlah, dia juga sudah memberikan balasan setimpal pada Gwen dan Chelry dan dia harap nanti Lewis bisa tahu apa yang telah terjadi dan tidak mengecewakannya.


Olivia memeluk sebuah bantal dan tidur, saat Lewis pulang nanti mungkin dia akan kena penalty tapi ya sudahlah, dia tidak mau memikirkannya.


Saat dia sudah tertidur Lewis pulang kerumahnya, dia berharap Olivia tidak pergi kemana-mana dan langsung pulang, ya dia berharap begitu.


Tempat yang dia tuju pertama kali adalah kamar Olivia, dia membuka pintu kamar itu dengan pelan dan masuk kedalam sana.


Senyum langsung mengembang diwajah Lewis saat melihat Olivia tidur diatas ranjang, dia menghampiri Olivia dan duduk disisi ranjang.


Perasaannya sangat lega saat melihat Olivia disana, Lewis mengusap kepala Olivia dengan lembut. Jangan sampai membangunkannya tapi entah kenapa dia jadi ingin tidur juga. Jangan-jangan dia ketularan jadi pemalas seperti Olivia.


Lewis bangkit berdiri dan keluar dari kamar itu, dia ingin mengganti pakaiannya tapi tidak lama kemudian dia kembali lagi setelah mengganti pakaiannya.


Lewis naik keatas ranjang dan menarik Olivia masuk kedalam pelukannya, dia suka seperti ini, dia suka memeluk Olivia saat tidur.


Akhir-akhir ini dia suka bersama dengan Olivia, dia juga suka kebersamaan mereka. Jujur saja sebenarnya dia sedikit khawatir jika Olivia marah karena kejadian tadi, yang dia khawatirkan adalah, Olivia membencinya dan mengacuhkan dirinya.


Jika sampai itu terjadi maka dia akan sangat merasa bersalah karena dirinyalah yang telah membuat Olivia terlibat dengan Gwen dan Cherly.


Lewis hanya memperhatikan wajah Olivia yang sedang tertidur, sesekali dia merapikan anak rambut Olivia yang berantakan.


Ini memang sedikit gila, mereka baru beberapa hari bersama tapi rasanya mereka sudah sangat dekat dan rasanya kebersamaan mereka sudah begitu lama.


Lewis menciumi dahi Olivia dan pada saat itu Olivia memeluk Lewis dengan erat, dia juga menyembunyikan wajahnya dileher Lewis. Hal itu membuat jantung Lewis berdebar tidak karuan karena nafas Olivia yang hangat menerpa kulitnya.


Oh ini sunguh gila, rasanya dia ingin menciumi Olivia saat ini tapi dia harus menahan diri, jangan sampai Olivia membencinya karena dia tidak mau dibenci oleh gadis itu.


Lewis hanya bisa memeluk Olivia dengan erat dan terkadang mengusap punggung Olivia dengan lembut.


"Kenapa kau pulang?" tiba-tiba pertanyaan Olivia menyadarkannya.


"Oh kau sudah bangun rupanya." Lewis menciumi dahi Olivia kembali sedangkan Olivia semakin memeluk Lewis dengan erat.


"Aku memintamu menunggu diruanganku tapi kenapa kau pulang dan malah tidur?"


"Maaf, aku sedang tidak mood jadi aku butuh tidur. Nanti kau boleh memberiku penalty berapapun juga."


"Bukan seperti itu, aku sudah mendengar semuanya jadi maaf karena kebodohan mereka membuatmu terlibat dalam permasalahanku."


Olivia tersenyum dalam pelukan Lewis, ternyata Lewis tidak mengecewakannya sekalipun dia tidak menjelaskan apapun pada Lewis.


"Sudahlah."


"Jadi kau tidak marah lagi bukan?"


Olivia menjawab dengan sebuah anggukan sedangkan Lewis tersenyum saat itu, mereka diam saja sambil berpelukan diatas ranjang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Menikmati waktu seperti itu tidaklah salah dan mereka menikmati waktu mereka berdua dan terkadang Lewis menciumi dahi Olivia kembali, bahkan dia juga menciumi pipi Olivia.


Olivia hanya memejamkan matanya menikmati ciuman Lewis diwajahnya, bukankah itu hanya ciuman biasa yang mereka lakukan?


"Olivia?"


Olivia membuka matanya dan pada saat itu mata mereka bedua saling beradu, Lewis tampak tersenyum dengan menawan sedangkan tangannya terus mengusap wajah Olivia dengan lembut.


"Apa kau tidak pernah menyukai seseorang selama ini?"


"Tidak karena tidak ada yang benar-benar menyukaiku." jawab Olivia.


"Jadi jika ada yang benar-benar menyukaimu kau juga akan menyukainya, begitu?"


"Yah, aku lihat dulu orangnya, jika pria itu keren, baik dan mau melakukan apapun untukku maka akan aku pertimbangkan." jawab Olivia asal.


Lewis terkekeh dan menciumi wajah Olivia kembali sedangkan Olivia menatap Lewis dengan penuh tanda tanya, kenapa menanyakan hal seperti itu padanya?


Lewis kembali menatap Olivia sedangkan jarinya sedang mengusap bibir Olivia yang menggoda.


"Apa kau tidak suka dengan pria penuh perhitungan sepertiku?" tanyanya.


Jantung Olivia berdetak tidak karuan, ada apa dengan dirinya?


"Tidak suka!" dia berusaha untuk tenang.


"Jadi kau tidak menyukai pria sepertiku?" Lewis masih menatap mata Olivia dalam-dalam.


"Seharusnya kau sudah tahu!"


Lewis kembali terkekeh, entah kenapa jawaban Olivia terdengar seperti sebuah candaan yang sering Olivia lemparkan padanya.


"Jadi, boleh aku mencium bibirmu?"


"What!!"


Olivia sangat kaget mendengarnya sedangkan Lewis sedang menanti jawaban darinya.