
Setelah selesai mandi dan rapi, Olivia mengintip dari balik pintu sebelum dia keluar dari kamarnya. Dia sedang melihat apakah Lewis akan memarahinya?
Dengan pelan-pelan Olivia berjalan keluar dari kamarnya, lebih baik dia kabur pergi kekantor terlebih dahulu sebelum Lewis membuat perhitungan.
Saat Olivia berjalan melewati ruang tamu Lewis berdehem pelan menghentikan langkah Olivia, dia ada disana dan tidak akan membiarkan Olivia lepas karena dia ingin membuat perhitungan dengannya.
"Ehm..Mau kemana?"
Olivia segera melihat kearah Lewis sedangkan Lewis tampak sedang menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan matanya melotot kearahnya.
"Eh...Mau kekantor." Olivia tersenyum pada Lewis.
"Kantor? Tidak menungguku?" Lewis berjalan kearah Olivia dengan cepat sedangkan Olivia memundurkan langkahnya kebelakang.
"Aku kira kau telah pergi bekerja." jawab Olivia mengelak.
"Tidak karena permasalahan diantara kita belum selesai!"
"Ada permasalahan apa lagi sih?"
Olivia menatap Lewis dengan tajam, masalah apa lagi sih? Mentang-mentang dia yang pegang kendali selalu saja ada masalahnya.
Apa yang di inginkan Lewis Simone? Jika tidak suka dengannya abaikan saja! Kenapa harus repot mencari masalah dengannya.
Lewis menghembuskan nafasnya dengan berat, kenapa Olivia Smith selalu membawa masalah untuknya.
"Permasalahan apa kau bilang? Hei Olivia Smith, aku memintamu membuat sarapan hari ini dan kau?" Lewis hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa sih yang kau bisa?" tanyanya putus asa.
"Aku bisanya makan dan tidur!" jawab Olivia asal.
"Ya ampun, yang jadi suamimu sungguh sial!"
"Biarkan saja, yang jelas bukan dirimu. Lagi pula ya, tuan Lewis Simone yang terhormat aku sudah melakukan sesuai perjanjian, aku sudah membuat sarapan untukmu jadi seharusnya tidak ada masalah lagi bukan?"
Lewis kembali menghembuskan nafasnya dengan berat, baru kali ini dia mengenal seorang gadis yang tidak bisa apa-apa, ini benar-benar!
"Dengar ya, itu makanan iblis dan bukan makanan manusia, seharusnya aku tidak memintamu untuk memasak."
"Wow, jadi kau juga sependapat denganku? Sepertinya kita sedikit memiliki kecocokan." ujar Olivia dengan senyum diwajahnya.
Dia juga tidak tahu kenapa selama ini masakannya selalu gagal dan gagal, sepertinya dia harus pergi kursus memasak jika dia sudah kembali kerumahnya nanti
Sepertinya ini bukan ide buruk, siapa tahu dia bisa jadi koki terkenal nanti?
"Oh my God, kenapa kau begitu bangga?" ujar Lewis frustasi.
"Bukankah aku sudah melakukan sesuai permintaanmu? Lalu apa lagi permasalahannya?" tanya Olivia heran.
"Dengar, karena kau gagal membuat sarapan jadi aku akan membuat perhitungan denganmu."
"Apa? Apa lagi sih?" Olivia jadi kesal. Apa sih maunya untu tua ini?
"Karena hari ini kau menyiapkan sarapan iblis untukku jadi aku memutuskan kau harus bekerja selama tiga tahun denganku tanpa gaji." ujar Lewis sambil tersenyum.
"Hah?" mulut Olivia menganga. Tiga tahun? Tidak sudi.
"Duh, tolong deh ya Tuan Lewis Simone yang terhormat. Untuk apa kau memperkerjakan gadis yang tidak bisa apa-apa sepertiku ini selama tiga tahun?"
"Kita tidak saling menyukai bukan? Perjanjian kita cuma satu bulan tidak lebih. Aku menyetujui semua ini karena rasa tanggung jawabku yang telah membakar mobilmu dan aku menghargai permintaan kakekku."
"Bukankah kita sudah sepakat saat satu bulan kita tidak akan saling mengenal lagi? Tapi kenapa kau ingin mengikatku dan alasanmu sungguh konyol, hanya karena sarapan yang aku buat kau mau menjeratku sampai tiga tahun?" ujar Olivia panjang lebar.
Lewis diam saja, tidak menjawab Olivia. Tujuannya ingin membuat Olivia menyerah dan mengakui kekalahannya.
Seandainya Olivia mengaku kalah saat ini juga dan memohon padanya sambil menangis dia pasti akan melepaskan Olivia dan membicarakan masalah perjodohan mereka dengan kakeknya.
Tapi Olivia tidak mau menyerah dan sungguh membuatnya tertantang.
"Yah jika kau tidak mau tidak apa-apa, kau bisa pulang saat ini juga dan aku akan menganggap semua yang terjadi diantara kita selama beberapa hari ini tidak pernah terjadi."
"Apa kau serius?" tanya Olivia dengan penuh semangat.
"Tentu saja, tapi kau harus memohon padaku sambil menangis." Jawab Lewis sambil tersenyum.
"Cih, kau saja yang menangis!" jawab Olivia kesal.
"Tidak mau?"
"Tidak! Jangan berharap aku akan melakukannya!"
"Baiklah kalau begitu, aku beri kau pilihan lain."
"Katakan!"
"Jika kau tidak mau bekerja denganku selama tiga tahun tidak apa-apa, tapi kau harus mencium pipiku setiap hari selama kau tinggal disini."
Olivia memutar bola matanya malas, selalu mencari keuntungan dalam kesempitan. Itulah Lewis Simone, pria yang paling penuh perhitungan dan sialnya dia harus menghadapi pria aneh ini.
"Ada pilihan lain?" tanya Olivia dengan malas pula.
"Ada, jika tidak mau menciumku tidak apa-apa, kau bisa tidur denganku setiap malam." Lewis tampak tersenyum dengan lebar, pilihan yang manapun akan menguntungkan dirinya.
"Eh kau gila, apa lehermu mau aku potong?"
"Yah, pilihan ada ditanganmu. Jika kau ingin memotong leherku boleh saja, silahkan lakukan."
Olivia berjalan mendekati Lewis, dia sudah malas berdebat dan dia sedang mengantuk karena harus bangun pagi, tidak hanya itu, dia juga lelah harus memasak didapur dan dia juga lapar.
Dia segera mengalungkan tangannya dileher Lewis, bukankah hanya cium pipi saja? Jadi dia akan menganggap Lewis sebagai kakaknya walaupun dia tidak tahu usia Lewis berapa. Yang penting jangan sampai dia bekerja disana selama tiga tahun karena hal itu bisa membuatnya gila.
"Hanya cium pipi saja bukan?"
"Yes and don't forget to say good morning to me."
Lewis melingkarkan tangannya kepinggang Olivia, dia sangat ingin memeluknya sedangkan Olivia mulai menciumi pipinya dan berbisik pelan.
"Good morning old ostrich!"
"Apa-apaan itu?" walau begitu senyum menghiasi wajah Lewis.
Tanpa Olivia duga Lewis juga mencium wajahnya dengan lembut dan berbisik.
"Good morning crazy girl."
Setelah berkata demikian Lewis kembali memeluk Olivia dengan erat sedangkan Olivia berkata dalam hatinya.
Apa-apaan ini? Kenapa mereka seperti sepasang kekasih yang saling mencintai saat ini?
Kenapa Lewis memeluknya seperti ini bahkan tangan Lewis sedang membelai rambutnya. Oke ini terdengar gila, Jangan katakan mereka berdua sedang terbawa suasa atau jangan-jangan?
Senyum Licik langsung mengembang diwajah Olivia, jangan katakan Lewis Simone sudah jatuh cinta dengannya, jika iya maka dia yang menang.
"Hmm Lewis, kau ingin memelukku sampai kapan?" godanya.
Lewis langsung tersadar dan melepaskan pelukanya, sialan dia terbawa suasana! Jangan sampai Olivia salah paham.
"Sudah ayo berangkat kekantor." dia segera melangkah pergi dan pura-pura merapikan rambutnya.
Olivia mengejarnya sambil tersenyum usil.
"Jika kau menyukaiku katakan saja, aku akan mempertimbangkannya." godanya lagi.
"Tidak, apa aku sudah gila? Aku tidak mungkin menyukai gadis tidak bisa apa-apa sepertimu."elaknya.
"Ayolah, mengaku saja."
"Diam ah!" Lewis memegangi kepala Olivia dan keluar dari rumahnya dengan cepat sedangkan Olivia masih menggodanya.