
Olivia terbangun dari tidurnya dan sangat kaget, kenapa dia malah tertidur? Seharusnya dia pulang kerumah tapi kenapa dia malah tertidur?
Ah inilah akibatnya jika sudah kebiasaan tidur siang!
Dia segera bangun dari tidurnya dan duduk disisi ranjang, sebaiknya dia segera meminta Lewis mengantarnya pulang. Tapi kemana Lewis?
"Lewis." Olivia mencoba memanggil Lewis tapi tidak ada jawaban.
Dia ingin kekamar mandi dan rasanya sudah tidak tahan, seharusnya dia meminta Lewis membelikan sebuah tongkat untuknya tadi supaya dia punya alat bantu untuk berjalan.
"Lewis!!" Olivia berteriak lebih kencang.
"Ya?"
Lewis keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk melilit dipinggangnya dalam kondisi masih basah, dia sedang mandi dan buru-buru keluar saat mendengar teriakan Olivia.
"Oh my God!"bOlivia langsung menutupi matanya saat melihat Lewis.
"Hei pakai baju sana!" teriaknya.
"Kau memanggilku ada apa?" Lewis tidak memperdulikan teriakan Olivia dan melangkah mendekatinya.
"Tidak ada jadi sana pakai baju!" usirnya.
"Ck, menyebalkan! Aku sedang mandi!" gerutu Lewis kesal.
Lewis memutar langkahnya hendak melanjutkan mandinya, dia belum selesai dengan mandinya jadi lebih baik dia lanjutkan. Dia sangka Olivia memanggilnya karena menginginkan sesuatu jadi dia keluar dengan cepat.
"Hei tunggu!" cegah Olivia.
"Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu?"
"Itu, aku?" Olivia sedikit ragu mengatakannya.
Lewis kembali mendekati Olivia sedangkan Olivia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat otot-otot tubuh Lewis yang basah.
Oh my God, Lewis terlihat begitu seksi dan menggoda. ingin rasanya dia menyentuh otot dada Lewis dan membelainya.
"Sialan! Pikiran bodoh!" maki Olivia dalam hati.
Olivia memegangi tangannya saat Lewis duduk disisinya, jangan sampai kelepasan.
"Olivia sayang, katakan padaku apa yang kau inginkan?" Lewis meraih tangan Olivia dan mengusapnya.
"Hm, jangan memanggilku sayang!" Olivia membuang pandangannya.
Lewis terkekeh dan menciumi punggung tangannya, dia juga berkata:
"Kau calon istriku sekarang, pacarku dan juga tunanganku, jadi aku akan memanggilmu sayang."
"Ck terserah kau saja tapi gendong aku kekamar mandi. Aku sudah tidak tahan."
"Oke baiklah, bagaimana jika kita mandi bersama setelah ini." ajak Lewis sambil tersenyum usil.
"Apa? Aku tidak mau!" tolak Olivia tapi Lewis sudah menggendongnya menuju kamar mandi.
"Lewis jangan macam-macam kau!" ancamnya saat mereka sudah berada didalam kamar mandi.
"Aku tidak macam-macam sayang, aku hanya ingin mandi denganmu."
"Aku tidak mau!"
"Ayolah, nanti setelah menikah kita akan melakukannya juga jadi jangan malu."
"Sialan kau!"
Lewis terkekeh dan menurunkan Olivia sedangkan Olivia melotot kearahnya.
"Jangan lihat!"
"Aku tidak akan melihat tapi aku hanya ingin mengintip." godanya.
"Ck, sana kau mandi lagi saja!"
Lewis memutar tubuhnya sambil tertawa, sebenarnya dia sangat ingin melihatnya tapi dia harus menahan dirinya.
"Baiklah, aku tinggal sebentar untuk mengisi air bathup." ujarnya.
Olivia mengangguk sedangkan Lewis berjalan kearah bathup untuk mengisi air hangat disana, dia ingin mengajak Olivia berendam berdua nanti dan semoga saja Olivia mau.
Setelah air bathup penuh dan diisi dengan sabun hingga berbusa Lewis kembali mendekati Olivia yang sudah menunggunya.
"Sudah selesai?"
Olivia mengangguk dan pada saat itu Lewis kembali menggendongnya dan membawanya menuju bathup.
"Hei aku tidak?"
"Stts..!"
Lewis sudah membungkan bibir Olivia dan mel**atnya dengan lembut, dia juga menurunkan Olivia dari gendongannya sedangkan tangannya sudah mengangkat baju yang dipakai oleh Olivia.
"Lewis, jangan!" Olivia menahan kedua tangan Lewis.
"Hanya mandi saja, aku tidak akan melakukan apapun, aku janji!"
Olivia mengangguk dan membiarkan Lewis membuka pakaiannya, terus terang saja jantungnya berdetak tidak karuan menghadapi situasi seperti itu.
Lewis tersenyum saat melihat wajah Olivia yang memerah, Olivia terlihat begitu manis dan tentu saja terlihat cantik.
Setelah semua pakaian Olivia terbuka Lewis kembali menggendong Olivia dan membawanya masuk kedalam bathup, dia juga melepaskan handuk yang dipakainya sedari tadi.
Olivia sangat malu dan menceburkan dirinya didalam bathup, untuk seumur hidupnya baru kali ini dia melakukan hal itu dengan seorang lelaki dan dia sangat malu dengan situasi saat ini.
Lewis tersenyum dan mengusap punggungnya, dia juga menciumi wajah Olivia dengan lembut.
"Olivia."
"Hmm?"
"I love you."
"Me too." jawab Olivia sambil tersipu malu.
"Oh my!" Lewis mengangkat dagu Olivia dan menciumi bibirnya, dia sangat senang Olivia membalas perasaannya.
"Jadi kau juga mencintaiku, eh?" tanyanya saat dia sudah melepaskan bibir Olivia.
"Yah, jika aku tidak mencintaimu maka aku tidak akan melakukan hal seperti ini denganmu."
"Jadi selama ini kau pura-pura tidak menyukaiku?" Lewis menarik hidung Olivia karena gemas.
"Tidak, aku hanya belum menyadari perasaanku."
"Astaga, kau benar-benar menyebalkan!"
Lewis kembali menciumi bibir Olivia begitu juga dengan Olivia, dia melingkarkan kedua tangannya dileher Lewis dan membalas ciuman Lewis.
Ciuman biasa saja itu tiba-tiba menjadi ciuman penuh gairah, lidah mereka sudah membelit satu sama lain didalam mulut mereka.
Olivia tidak bisa menahan tangannya lagi, dia mulai membelai otot dada Lewis dan mengusapnya begitu juga dengan tangan Lewis, semula tangannya hanya mengusap punggung Olivia tapi kini tangannya sudah berada diatas gunung Olivia dan bermain disana.
"Le..Lewis." gumam Olivia disela-sela ciuman mereka.
Lewis menyudahi ciuman mereka dan menciumi wajah Olivia yang memerah setelah itu dia menciumi leher Olivia dan meninggalkan tanda disana.
Bibirnya terus menyelusuri kulit Olivia sedangkan tangannya meremas dua gunung kembar yang masih belum terjamah oleh siapapun dan dialah orang pertama yang menakhlukkan dua gunung kembar itu.
Jari tangannya terus bermain dipuncak gunung Olivia sampai erangan sensual lolos dari bibir Olivia. Hal itu membuatnya jadi?
Olivia mendesah saat merasakan sentuhan tangan dan bibir Lewis, dia hanya menikmati sentuhan Lewis dan mencengkram bahu Lewis dengan kencang.
"Le..Ugh!" desahnya saat Lewis sedang me**hisapi puncak gunungnya yang masih asri.
Ini gila, seharusnya dia tidak menyetujui mandi bersama dan lihatlah, rasanya dia tidak ingin berhenti dan ingin merasakan lebih dari sentuhan Lewis.
Selama akal sehatnya masih ada sebaiknya mereka berhenti sebelum mereka melakukan hal lebih jauh lagi kalau tidak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Le..wis, please stop!" pintanya sambil berusaha mendorong bahu Lewis.
Lewis mengangkat kepalanya dan menatap mata Olivia dalam-dalam, apa Olivia tidak mau melakukannya?
"Kenapa?" tanyanya.
"Hmm aku rasa sebaiknya kita berhenti sebelum kita melakukannya lebih jauh."
"Kenapa? Apa kau tidak mau melakukan hal ini denganku?" Lewis mengusap pipi Olivia dengan lembut.
"Tidak,bbukan begitu."
"Jadi?"
"Oh sial!" maki Olivia dalam hati.
Dia diam saja tidak menjawab Lewis sedangkan Lewis menanti jawaban darinya, dia ingin tahu apa Olivia akan mengijinkannya?
"Bolehkah?" tanya Lewis lagi.
"Oh Lewis, sebaiknya kau jangan bermain-main denganku kalau tidak kau akan menyesal." jawab Olivia sedangkan senyum licik menghiasi wajahnya.