30 Days For Love

30 Days For Love
Sebuah keuntungan



"Jangan mendekat!" teriak Olivia saat melihat Lewis berjalan mendekatinya tapi Lewis tidak memperdulikannya dan terus mendekatinya.


"Aku tidak mendekatimu, kakiku yang bergerak sendiri kesana dan otakku mengatakan aku harus kesana." ujar Lewis asal dengan senyuman diwajahnya.


"Jangan asal bicara kau! Berhenti sekarang juga!" teriak Olivia lagi, dia mulai memundurkan langkahnya.


"Tubuhku ingin berhenti tapi kakiku tidak! Aku sangat ingin menghentikan diriku tapi hatiku berkata aku harus mendekati seorang gadis yang ada disana!" Lewis terus mendekati Olivia akan tetapi Olivia juga terus memundurkan langkahnya.


"Aku juga tidak mau kesana tapi hati dan pikiranku berkata aku harus mendekati seorang gadis yang telah membuatku seperti ini! Seorang gadis tidak peka yang telah mencuri hatiku beberapa hari ini."


"Aku sangat ingin menghentikan diriku tapi aku tidak bisa, hatiku berkata aku harus mendekatinya, aku harus memeluknya bahkan aku sangat ingin mendapatkannya."


Olivia menelan ludahnya dan terus melangkah mundur, dia juga mencerna satu persatu ucapan yang dilontarkan oleh Lewis.


"Aku sudah seperti orang gila beberapa hari belakangan ini, apa kau pikir aku suka dengan keadaanku seperti ini?" Lewis menatap Olivia dengan tajam tapi dia tidak juga menghentikan langkahnya.


"Diam kau dan berhenti mendekatiku! Kau itu ibarat kumbang besar dan aku benci denganmu!" teriak Olivia marah.


Senyum Lewis semakin mengembang diwajahnya, dia rindu dengan amarah Olivia, dia sungguh merindukan mereka seperti itu lagi.


Walaupun Olivia terus melangkah mundur sampai mereka seperti sedang memutari kolam tapi dia akan terus mendekati Olivia sampai terpojok, lantai sisi kolam licin jadi dia tidak mau membuat Olivia lari darinya dan terjatuh karena itu sangat berbahaya.


"Setelah kau mengambil hatiku sekarang kau mengatakan kau benci padaku, coba kau jelaskan padaku kenapa kau membenciku?"


"Untuk membenci seseorang tidak perlu alasan dan aku tidak mengambil hatimu karena aku belum membelah dadamu!"


"Cukup dan kemarilah, kita bicarakan masalah diantara kita baik-baik." pinta Lewis.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!"


Olivia memutar langkahnya, dia akan segera pergi dari sana. Persetan dengan barang-barangnya, dia sedikit menyesal, seharusnya dia tidak datang untuk mengambil barangnya.


Lebih baik dia pergi dari sana karena dia tidak mau berbicara dengan Lewis Simone lagi, sudah cukup dan setelah ini mereka akan kembali menjadi orang asing.


"Hei jangan lari!" teriak Lewis saat melihat Olivia mulai berlari.


Pasalnya lantai sisi kolam renang sangat licin, jangan sampai Olivia terjatuh karena itu bahaya.


"Olivia berhenti, jangan berlari bahaya!" teriak Lewis.


Olivia tidak perduli dan terus berlari, apalagi dia melihat Lewis mengejarnya hal itu membuatnya terus berlari dengan cepat karena dia tidak mau sampai Lewis menangkapnya. Lantai sisi kolam begitu licin sampai membuatnya kehilangan keseimbangan dan pada saat itu kaki kanannya terpeleset.


"Tidak!!" teriak Olivia saat dia merasakan tubuhnya mulai jatuh kebelakang, jangan sampai kepalanya terbentur sisi kolam karena itu sangat berbahaya.


Lewis berdecak kesal, benarkan apa yang dia khawatirkan! Dia berlari dengan cepat untuk menangkap tubuh Olivia tapi sepertinya tidak sempat, dia hanya bisa menahan kepala Olivia agar tidak terbentur lantai, itu juga sudah bagus.


"Auch!!!" Olivia berteriak saat tubuhnya terjatuh diatas lantai, dia memejamkan matanya dan merasakan sakit dipungung dan kakinya tapi dia tidak merasakan sakit dibagian kepalanya karena sebuah tangan menahan kepalanya.


"Kau! Sudah aku katakan jangan lari!" terdengar suara Lewis diatasnya.


Olivia membuka matanya dan melihat Lewis sedang berada diatas kepalanya sedangkan tangan Lewis sedang menahan kepalanya supaya tidak terbentur lantai.


Dengan cepat Olivia bangun dan duduk diatas lantai kolam yang dingin tapi dia langsung meringis kesakitan dan memegangi punggungnya.


"Auch, punggungku!" keluhnya.


"Hei apa kau baik-baik saja?" Lewis mendekatinya dan mengusap punggungnya.


"Jangan sentuh aku!" teriak Olivia kesal.


Jika saja Lewis tidak mengejarnya maka dia tidak akan terjatuh seperti ini! Jika saja Lewis tidak pulang mungkin dia sudah mengambil barang-barangnya dan pergi.


"Bukankah sudah aku katakan jangan lari? Lalu kenapa kau tidak mau mendengarkan perkataanku!"


Olivia menekuk kakinya dan melihatnya, pergelangan kaki kanannya benar-benar terasa berdenyut-denyut dan sakit luar biasa, jangan-jangan kakinya terkilir!


Jika sampai itu terjadi bagaimana dia bisa pulang kerumahnya? Tidak mungkin bukan dia keluar dari rumah Lewis sambil merangkak?


"Sial!" umpatnya Kesal.


"Itulah akibatnya jika kau keras kepala, tidak pernah mau mendengarkan perkataan orang lain!"


"Jangan menceramahiku!"


Lewis menghembuskan nafasnya dengan berat, dia segera melihat pergelengan kaki kanan Olivia.


"Hei sakit, pelan-pelan!" teriak Olivia kesal.


"Kakimu terkilir."


"Apa? Tidak mungkin!"


"Salahmu sendiri berlari seperti banteng!" ujar Lewis sambil terkekeh.


"Sialan! Kau yang banteng!" maki Olivia.


Lewis bangkit berdiri sambil terkekeh tapi setelah itu dia menunduk untuk menggendong tubuh Olivia.


Olivia diam saja didalam gendongan Lewis, lagi pula dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan kaki seperti itu.


Lewis membawa Olivia masuk kedalam, tapi tidak kedalam kamar yang ditempati oleh Olivia tapi dia membawa Olivia menuju kamarnya.


"Hei mau bawa aku kemana?turunkan aku, aku ingin pulang!" Olivia mulai memberontak didalam pelukan Lewis.


"Tidak akan sayang, aku tidak akan membiarkanmu pergi bahkan aku akan mengurungmu didalam kamarmu, jika perlu aku akan segera mengikatmu."


"Jangan memanggilku sayang karena kita tidak punya hubungan apa-apa, segera lepaskan aku! Aku mau pulang karena pak Steve sudah menungguku didepan!"


"Tidak akan pernah karena aku ingin menjelaskan semuanya padamu, aku ingin semua kesalah pahaman diantara kita selesai hari ini juga!"


Lewis meminta pelayannya untuk membuka pintu kamarnya dia juga memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan es batu, itu dia perlukan untuk meredakan bengkak dikaki Olivia yang terkilir.


"Aku tidak mau mendengar penjelasan darimu!"


Lewis tidak perduli dan membawa Olivia masuk kedalam kamarnya dan meletakkan Olivia disisi ranjang.


Olivia sangat heran, sejak kapan ranjang itu ada disana? Seingatnya tidak ada sewaktu dia masuk kedalam kamar Lewis terakhir kali tapi untuk apa dia perduli.


Oh sial! Dia ingin menghubungi Steve tapi tasnya tertinggal digazebo, bagaimana dia bisa pergi sekarang?


"Sekalipun kau tidak mau mendengarnya tapi aku akan mengatakannya padamu."


"Tidak!" Olivia memejamkan matanya bahkan dia menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.


Lewis berlulut dihadapannya dan mengusap wajahnya, dia juga tersenyum melihat tingkah Olivia, ini sebuah keuntungan untuknya karena dengan kaki seperti itu Olivia tidak akan bisa pergi kemana-mana.


"Hei lihat aku."


Olivia membuka matanya dan menyingkirkan kedua tangannya, senyum Lewis tampak menawan dan hal itu membuat jantungnya mulai berdebar.


Sialan! Apa yang terjadi dengannya? Bukankah seharusnya dia benci dengan Lewis tapi kenapa jantungnya malah berdebar seperti ini?


Jangan-jangan karena jatuh tadi kepalanya sedikit terbentur dan membuat otaknya menjadi eror!