30 Days For Love

30 Days For Love
Welcome to the world



Waktu terus berlalu dan perut Olivia semakin membesar, sahabat baiknyapun telah kembali dan kakaknyapun telah menikah.


Saat mereka mengadakan pernikahan masal diatas kapal pesiar mereka sekeluarga pergi berlayar dan mengelilingi dunia, banyak tempat yang mereka kunjungi saat itu dan tentu hal itu seperti bulan madu bagi mereka semua.


Mereka menikmati perjalan mereka walaupun Jacob dan Alice tidak berlayar bersama tapi mereka semua sangat menikmati perjalan mereka.


Begitu juga dengan kakaknya Edward dan istrinya, bagi mereka itu adalah bulan madu untuk mereka karena mereka tidak sempat melakukannya waktu itu.


Perjalanan mereka belum juga usai tapi mereka sekeluarga memilih untuk segera kembali karena mengingat kandungan Olivia yang sudah mencapai bulannya.


Keluarganya tidak mau jika sampai Olivia melahirkan dikapal jadi mereka memutuskan kembali dari perjalanan mereka.


Setelah beberapa minggu kembali dari berlayar, Olivia sedang berada didalam kamarnya pagi itu dan merapikan pakaian untuk bayinya nanti.


Lewis sudah berangkat kekantor karena ada hal penting yang ingin dia kerjakan, jujur saja dia enggan meninggalkan istrinya dirumah karena kandungan istrinya yang sudah mencapai waktunya.


Sebisa mungkin dia selalu berada dirumah untuk menemani istrinya dan selalu menjaganya tapi pagi ini dia benar-benar harus pergi kekantor untuk bertemu dengan seseorang.


Setelah kepergian suaminya Olivia hanya didalam kamar saja melihat baju-baju bayi yang terlihat lucu diatas ranjang.


Sambil melihat baju bayinya Olivia juga merapikannya, rasanya dia sudah sangat tidak sabar menanti bayinya lahir walaupun dalam hatinya ragu, jujur dia takut saat hendak melahirkan nanti dan dia merasa was-was.


Bagaimana rasanya? Apa dia bisa menahan rasa sakitnya nanti?


Tapi dia akan berusaha nanti untuk melahirkan bayinya secara normal, dia ingin seperti ibu dan kakak iparnya bisa melahirkan secara normal tanpa melakukan operasi.


Setelah selesai merapikan baju bayinya Olivia bangkit berdiri dan pada saat itu perutnya terasa sangat nyeri, Olivia memegangi perutnya, apa yang terjadi?


Sebenarnya rasa nyeri itu sudah dia rasakan sejak tengah malam tapi dia mengabaikannya karena dia tidak mau membuat suaminya khawatir.


Tapi tidak lama kemudian rasa nyeri diperutnya mulai hilang dan dia tidak memikirkannya lagi, dia merasa sudah terbiasa karena memang hal itu sudah dia rasakan berkali-kali, dia segera berjalan keluar dari kamarnya dan membawa baju untuk bayinya.


Olivia berjalan kearah kamar yang dulu dia tempati, kamar itu sekarang sudah mereka sulap menjadi kamar untuk bayi mereka nanti, tentu masih dengan ranjang yang dia tempati dulu.


Saat masuk kedalam kamar itu lagi-lagi Olivia merasakan nyeri diperutnya dan sekarang tidak nyeri saja, dia juga merasa mulas.


Karena itu dia masuk kedalam kamar mandi dan kaget saat mendapat sedikit bercak darah dicelananya.


Oh sepertinya ini tidak baik jadi dia segera keluar dari kamar itu dan masuk kembali kedalam kamarnya, dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.


Dengan tidak sabar Olivia membuka layar ponselnya karena rasa sakit itu datang lagi, dia benar-benar semakin merasa was-was.


Saat ponselnya berbunyi Lewis sedang berbicara hal serius dengan tamunya tapi dia melihat ponselnya juga, dia takut jika Olivia menghubunginya karena terjadi sesuatu dan benar saja saat melihat istrnya yang menghubungi dia langsung menjawab panggilan itu tanpa ragu.


"Lewis bisa kau cepat kembali?"


"Ada apa sayang?"


Lewis sangat heran saat mendengar suara Olivia yang sesekali terdengar sedang meringis kesakitan.


"Sepertinya aku ingin melahirkan."


"Apa?" Lewis langsung bengkit berdiri.


"Sayang tunggulah, aku akan segera kembali tapi jika kau tidak bisa menungguku lagi maka pergilah kerumah sakit sendiri." ujarnya dengan panik.


"Aku masih bisa menahannya Lewis jadi cepatlah kembali."


"Baiklah."


Setelah menjelaskan kepada tamunya jika situasi sedang genting karena istrinya akan melahirkan, Lewis segera kembali kerumahnya dengan perasaan was-was, kenapa disaat dia pergi istrinya malah ingin melahirkan?


Dia harap saat dia kembali nanti istrinya tidak apa-apa dan mereka masih sempat pergi kerumah sakit jadi Lewis meminta supirnya untuk memacu mobilnya dengan cepat.


Saat dia sudah tiba dirumah, dia segera berlari masuk kedalam kamarnya, Olivia tampak sedang berbaring diatas ranjang sambil memegangi perutnya dan tampak begitu gelisah.


"Olivia sayang, ayo kita kerumah sakit."


"Jangan dipikirkan sayang, aku akan mengambilnya nanti."


Lewis segera menggendong istrinya dan membawanya keluar dengan cepat, dia juga meminta supir pribadinya membawa mereka menuju sebuah rumah sakit yang ada dikota itu.


Saat mereka tiba dirumah sakit Sharp Mary Birch, Lewis kembali menggendong istrinya yang mulai tampak berkeringat dingin.


"Lewis, sakit! Aku sudah tidak tahan."bOlivia melingkarkan tangannya dileher Lewis dan menangis.


"Tahan sebentar lagi sayang, kita sudah sampai."


"Lewis, temani aku nanti." pinta Olivia dibalik tangisannya.


"Tentu saja sayang."


Saat sudah berada didalam sana, mereka langsung dibawa keruang khusus bersalin karena sudah waktunya bagi Olivia untuk melahirkan bayinya.


Seorang dokter ahli langsung menangani Olivia sedangkan Lewis berada disamping istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan bayi mereka.


Olivia menangis karena itu sangat sakit sekali bahkan dia berteriak memanggil suaminya, Lewis benar-benar tidak tega melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan bayi mereka.


Setelah berjuang begitu lama akhirnya seorang bayi mungil nan cantik lahir kedunia, bayi mereka berdua.


Olivia tampak mengatur nafasnya sedangkan Lewis mengusap air mata dan keringat istrinya dengan lembut.


"Terima kasih sayang, terima kasih atas perjuanganmu." tanpa terasa air mata Lewis mengalir dari kedua matanya, dia sangat terharu sekaligus bahagia.


Terharu karena perjuangan istrinya dan bahagia atas kelahiran bayi mungil nan cantik hasil buah cinta mareka.


Olivia mengusap air mata suaminya sambil tersenyum, dia juga sangat bahagia dengan perjuangannya yang tidak sia-sia.


"I love you." bisik Lewis ditelinganya.


"I love you too lewis."


Dengan mesra Lewis menciumi bibir Olivia dan dari wajah mereka terpancar kebahagian yang tidak bisa ditukar dengan apapun juga.


Saat bayi mereka telah dibersihkan, seorang perawat memberikan bayi itu pada Olivia untuk diberikan asi.


Lewis dan Olivia memandang bayi cantik yang ada didalam gendongan Olivia dengan senyum diwajah mereka.


"Apa kau sudah memilih nama untuk putri kita sayang?"


"Anatasya Simone." jawab Olivia dengan cepat.


"Hei kenapa harus Anatasya?"


"Aku suka dengan nama Anatasya, kenapa tidak boleh?"


"Bukan begitu sayang, itu nama yang bagus. Anatasya Simone, dia pasti akan sangat cantik seperti dirimu."


"Tentu saja."


Lewis menciumi pipi putrinya dan berkata:


"Welcome to the world Anatasya sayang."


Olivia tampak tersenyum memandangi suami dan putrinya, mereka berdua adalah harta berharga dalam hidupnya.


"Hei apa kau sudah memberi tahu daddy dan mommy?" tanya Olivia, soalnya dia belum menghubungi ayah dan ibunya untuk memberi kabar.


"Oh aku lupa, aku akan memberi tahu mereka sekarang." jawab Lewis.


Lewis segera mengambil ponselnya untuk menghubungi ayah mertuanya dan pada saat mendapat kabar jika Olivia telah melahirkan, Jhon dan Samantha begitu senang, tanpa menunggu lagi mereka segera menuju rumah sakit untuk melihat putri dan cucu mereka yang pastinya saat tiba disana,mereka akan mendapati bayi mungil dan cantik bernama Anatasya.


Welcome Anatasya.