
Setelah lamaran itu, tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk menyiapkan pernikahan mereka, mereka memutuskan akan menikah disebuah tempat bernama Shambhala Ranch.
Shambhala Ranch adalah tempat khusus bagi para keluarga dan kerabat yang ingin melakukan pertemuan penting, seperti acara pernikahan, ulang tahun dan pesta hiburan lainnya di sekitar pedesaan Mendocino yang terawat baik dan dekat dengan resort Orr Hot Springs, Ukiah, California.
The Ranch menawarkan beberapa kamar keluarga dan tamu supaya bisa tinggal lebih lama. Fasilitas yang mereka tawarkan lebih fokus pada konsep resepsi pernikahan yang terpencil dan jauh dari segala bentuk kesibukan.
Beberapa peralatan lengkap resepsi pernikahan, seperti meja,kursi, taplak meja, serbet, gelas anggur atau sampanye, hidangan katering, toko bunga dan toko roti tersedia di Shambhala.
Lewis dan Olivia memang sengaja memilih tempat itu karena Olivia memutuskan untuk tidak mengadakan pesta pernikahannya secara besar-besaran walaupun keluarganya meminta Olivia untuk melangsungkan pesta pernikahannya secara mewah tapi dia menolak.
Itu dia lakukan karena dia menghargai perasaan kakaknya yang masih ditinggal pergi oleh Alice.
Jika sahabat baiknya itu tidak pergi mungkin akan sangat menyenangkan bisa menikah bersama-sama dengannya.
Itulah sebabnya dia memutuskan untuk menikah di Shambhala Ranch, tempat yang nyaman dan jauh dari keramaian dan Lewis menyetujui keinginan Olivia.
Para tamu undanganpun tidak banyak, mereka hanya mengundang beberapa orang penting saja.
Selain keluarganya, keluarga Lewis juga hadir disana begitu juga dengan ibu dan adiknya Riko, mereka datang dari Jepang untuk menghadiri pernikahan Lewis dengan Olivia.
Didalam sebuah ruangan, Olivia tampak masih berdandan. Dia dibantu seorang makeup profisional untuk menghiasi wajahnya.
Gaun pengntin yang dipakainya terlihat sangat pas ditubuhnya dan mempercantik penampilannya dan dia sudah seperti seorang putri raja.
Memang tidak dipungkiri dia adalah ratu untuk hari ini karena ini adalah waktu berharga untuknya dan moment paling indah dalam hidupnya.
Selagi Olivia didandani, Samantha masuk kedalam ruangan itu dan tersenyum saat melihat putrinya yang sedang duduk didepan cermin.
Dia langsung menghampiri putrinya dan berdiri disampingnya.
"Olivia sayang, kau terlihat begitu cantik."
"Thanks mom, dimana daddy?"
"Daddymu sedang depresi diluar sana."
"Kenapa?"
"Karena dia tidak rela melepaskanmu."
Olivia langsung tertawa, ayahnya terlalu berlebihan.
"Mom, bagaimana dengan keadaan kak Jacob?"
"Aduh, dia jangan kau tanya!"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa sayang, tidak perlu kau pikirkan! Kami semua bahagia kau akan menikah jadi kau jangan memikirkan apapun."
"Baiklah mom."
"Olivia sayang." Samantha meraih tangan putrinya dan mengusapnya.
"Sebenarnya aku juga berat melepaskanmu hari ini." ujarnya sedangkan air matanya mulai menetes dari kedua matanya.
"Mom." Olivia bangkit berdiri dan memeluki ibunya.
"Sorry sayang, mommy hanya merasa kau masih putri kecil mommy tapi sekarang kau sudah besar dan akan segera dibawa pergi dariku."
"Mom, aku tetap putri mommy dan daddy. Walaupun aku sudah menikah tapi aku akan selalu pulang untuk menemui kalian berdua."
"Aku tahu sayang, maafkan mommy. Ini sindrom orang tua saat akan melepaskan putri mereka."
"Ck, mommy!"
Samantha tertawa dan menghapus air matanya, memang cepat atau lambat putrinya pasti akan menikah tapi rasanya ini terjadi begitu cepat.
Tapi walau begitu dia tetap bahagia putrinya telah menemukan pasangan hidup yang tepat.
"Hei apa kau belum selesai?"
Jhon membuka pintu ruangan itu untuk melihat putri dan istrinya,tidak hanya dia saja, Edward dan Jacob juga ada.
Saat melihat kedatangan keluarganya Olivia melepaskan pelukannya dari ibunya, dia segera melangkah mendekati ayahnya dan memeluknya.
"Hei, putriku terlihat cantik hari ini."
"Tentu saja."
"Hei Olivia, setelah menikah kau tidak boleh nakal lagi." sela Edward.
"Kak Ed apa sih! Memangnya aku anak kecil."
"Bagi kami kau selalu adik kecil kami." ujar Jacob pula.
"kak Jacob."
Olivia melepaskan pelukannya dari ayahnya dan segera memeluki kedua kakaknya, baginya mereka adalah kakak terbaik yang dia punya.
Samantha berjalan menghampiri Jhon dan memeluknya, mereka berdua tampak begitu bahagia melihat putra dan putri mereka yang saling menyayangi.
Edward dan Jacob mengusap kepada adiknya secara bersamaan, Olivia tampak begitu bahagia dihari pernikahannya jadi mereka juga tampak senang.
"Sudahlah Lewis sudah menunggumu." ujar Ayahnya.
"Daddy, biarkan saja dia menunggu."
"Dasar kau! Jika tidak mau dimarahi oleh kakekmu jadi cepatlah bersiap-siap."
"Oke daddy,baku sudah selesai."
"Baiklah, ayo kita keluar."
"Dad." Edward dan Jacob memanggil ayahnya secara bersamaan.
"Ada apa?"
"Kami yang akan mengantar Olivia kealtar jadi daddy duduk diam saja jadi penonton."
"Tidak bisa, sekarang waktuku beraksi karena kesempatanku cuma satu kali jadi jangan mengambil kesempatanku!" tolak Jhon dengan cepat.
"Kesempatan kami juga satu kali dad, karena kami hanya punya satu adik perempuan saja."vjawab Edward pula.
"Wow, oke baiklah, tapi aku tidak mau!"
"Mom." Jacob dan Edward memanggil Ibunya secara bersamaan untuk mencari dukungan.
"Oke baiklah, yang tua yang mengalah." Samantha tertawa dan menarik tangan suaminya untuk keluar dari ruangan itu.
"Hei baby, kenapa kau tidak membela aku?"
"Sorry Jhon, aku sekutu anak-anak."
"Kalian menyebalkan!" gerutunya kesal!padahal dia sudah siap mengantar putrinya tapi malah perannya diambil alih oleh kedua putranya.
Setelah kepergian orang tuanya, Edward dan Jacob menggandeng tengan adik kesayangan mereka.
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan dimana acara pernikahan akan segera berlangsung.
Saat pintu ruangan itu terbuka, Olivia menarik nafasnya dan tersenyum. kedua kakaknya menggandeng tangannya dan mulai membawanya menuju altar dimana Lewis telah menunggu kedatangannya.
Keluarga mereka juga sudah hadir begitu juga dengan para tamu undangan, Olivia tampak begitu bahagia karena ada kedua Kakaknya disampingnya dan yang paling membuatnya bahagia adalah, sebentar lagi dia akan segera menjadi istri Lewis.
Begitu tiba dialtar, Edward dan Jacob melepaskan adik mereka dan segera melangkah pergi untuk bergabung dengan keluarga mereka.
Lewis mengulurkan tangannya kepada pengantinnya yang tampak begitu memukau sedangkan Olivia menyambut uluran tangan Lewis.
Mereka berdua berdiri didepan seorang pendeta untuk mengucapkan janji sumpah setia mereka.
Lewis mengucapkan sumpah setianya dengan begitu yakin begitu juga dengan Olivia, dia juga mengucapkan sumpah setia dengan yakin pula karena dia sangat yakin dengan pria pilihannya yaitu Lewis Simone.
Setelah mengucapkan janji mereka berdua saling bertukar cincin dan setelah itu Lewis menciumi istrinya dengan mesra.
Para tamu undangan bertepuk tangan untuk pengantin baru itu begitu juga dengan keluarga mereka, semua tampak begitu bahagia melihat mereka.
Ini adalah hari yang indah untuk Olivia dan Lewis, sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri dan mereka akan membangun rumah tangga mereka berdua yang pastinya, Lewis harus banyak bersahabar menghadapi istrinya.
Happy wedding Olivia dan Lewis.