
Hari itu hari libur jadi Olivia tidak perlu pergi bekerja dan dia hanya bersembunyi didalam kamar sambil memainkan ponselnya.
Malam ini dia ada janji dengan Jeremi untuk pergi makan malam jadi dia sedang saling berkirim pesan dengan Jeremi menentukan tempat mereka akan bertemu nanti.
Dia sih tidak perduli dengan tujuan Jeremi yang dia inginkan dia bisa makan burger dan kentang goreng karena dia bosan makanan yang disiapkan oleh pelayan Lewis, makanan khas Jepang.
Setelah mengirim pesan dan menentukan tempat untuk mereka bertemu nanti, Olivia membalikkan tubuhnya melihat kelangit-langit kamarnya.
Bosan juga didalam kamar terus tapi apa yang harus dia lakukan? Dia hanya berguling diatas ranjang kanan kiri tidak jelas.
Apa yang bisa dia lakukan dirumah Lewis? Bahkan Lewis juga sama, hanya mengurung diri didalam kamarnya.
"Huh, tidak ada hal yang menyenangkan dari pria itu!" gerutunya kesal.
Rasanya dia sudah tidak sabar cepat malam supaya dia bisa pergi dengan Jeremi.
Olivia membalikkan badannya kembali dan pada saat itu dia teringat sesuatu, dengan cepat dia bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya.
Dia berjalan dengan cepat menuju taman
belakang, disana ada sebuah gazebo dan kolam renang.
Oke lebih baik dia berenang dari pada bosan, Olivia membuka baju yang dipakainya dan melemparkannya begitu saja.
Dia tidak membawa bikini tapi dia memakai pakaian dalam, bukankah hampir sama dengan bikini? Lagi pula kolam renang itu ada didalam rumah jadi tidak ada yang melihat dan dia juga berharap Lewis Simone juga tidak melihat.
Setelah membuka pakaiannya Olivia langsung melompat kedalam kolam renang yang tampak begitu bersih.
"Byuurr!!"
Sedangkan didalam kamar Lewis mengernyitkan dahinya saat mendengar suara air dari kolam renang.
Apa ada kuda nil menceburkan diri kedalam kolam?
Lewis segera keluar dari kamarnya dan berjalan kearah kolam renang, dia segera mendekati kolam renang dan berdiri disisinya.
Didalam sana tampak Olivia sedang berenang menggunakan pakaian dalamnya dan terlihat sangat?
Lewis menelan ludahnya dengan kasar meliat tubuh Olivia yang hanya ditutupi pakaian dalamnya. Apa gadis itu tidak punya bikini yang tertutup?
"Lihat apa?" tanya Olivia saat menyadari Lewis melihatnya dari sisi kolam renang.
"Hm..tidak! Aku kira ada kuda nil sedang berenang dikolam renangku." jawabnya.
"Tolong ya, kau lihat bodyku ini?"
Olivia bergaya sedemikian rupa untuk memperlihatkan tubuhnya kepada Lewis.
Lewis kembali menelan ludahnya dengan kasar, walaupun Olivia berdiri didalam air tapi dia bisa melihat lekukan tubuh Olivia.
"Kenapa diam saja? Kagumkan dengan bodyku yang tidak kalah dengan gitar spanyol." ledek Olivia.
Lewis segera memutar langkahnya, dia juga mengusap wajahnya dengan kasar sambil memaki.
"Sialan! Aku ini laki-laki normal apa dia kira aku tidak akan tergoda saat melihatnya?"
"Ada apa denganmu?" Olivia mulai berenang ketepian.
Saat sudah sampai ditepian dia segera naik keatas dan duduk disisi kolam renang sambil memain-mainkan kakinya didalam air.
"Apa kau tidak punya bikini?"tanya Lewis padanya.
"Aku tidak bawa."
"Ck!" Lewis membuka bajunya dan melemparkannya begitu saja, setelah itu dia segera duduk disamping Olivia.
"Apa kau mau berenang dengan kuda nil?"
"Tidak apa-apa karena kuda nilnya seksi." jawabnya.
Olivia hanya tertawa tapi matanya melihat pohon bambu yang ada tidak jauh dari pinggir kolam, dia hanya diam saja sedangkan kakinya terus bermain didalam air.
Lewis melirik kearah Olivia dan melihat wajah cantiknya, oke wajah Olivia Smith memang cantik lalu?
Tapi kenapa dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Olivia bahkan sekarang pandangannya mulai turun kebawah dan jatuh kedada sekal milik Olivia.
Dada putih yang mulus yang masih ditutupi bra dan tampak begitu menggoda, sialan sekarang pikiran kotornya muncul.
Tapi itu sungguh menggoda dan itu adalah pemandangan yang sangat indah untuk para lelaki.
Mana ada lelaki yang mau melewatkan pemandangan indah itu? Dia lelaki normal dan dia tidak akan melewatkannya kalau tidak dia akan rugi.
Olivia sangat kesal karena Lewis melihat kearah dadanya tanpa berkedip, dasar pria murahan.
"Sudah puas melihatnya?!" Olivia mulai menekan kepalan tangannya didepan dada sampai berbunyi.
"Eh, tidak. Maaf aku tidak lihat apa-apa." elak Lewis.
"Oh begitu?" Olivia tampak tersenyum.
"Benar jadi jangan salah paham, sana kau kembali berenang aku mau tidur."
Lewis hendak bangkit berdiri tapi tiba-tiba saja?
"Bhukkk!!" Olivia melayangkan tinjunya kewajah Lewis, beraninya Lewis melihatnya seperti itu!!
"Oh my God!!" Lewis memegangi pangkal hidungnya dan tanpa dia duga, darah mulai mengalir dari lubang hidungnya karena pukulan Olivia.
"Olivia Smith, kau!!" Lewis memencet hidungnya dan melotot pada Olivia.
"Sekali lagi kau melihatku seperti itu akan aku keluarkan kedua bola matamu!" ancam Olivia.
"Coba saja jika kau bisa!!"
Lewis hendak menangkap pinggang Olivia tapi Olivia sudah menyeburkan dirinya didalam air, dia segera berenang menjauhi Lewis sedangkan Lewis, dia juga masuk kedalam air untuk mengejar Olivia.
"Jangan lari kau!"
"Kejar kalau bisa." tantang Olivia.
"Jika dapat awas kau, akan aku cium kau sampai puas."
"Kau pria murahan!"
Olivia terus berenang menjauhi Lewis sedangkan Lewis terus mengajarnya, mereka berenang memutari kolam sampai membuat mereka lelah.
Ternyata tidak mudah menangkap Olivia walaupun didalam air dan hal itu membuat Lewis kesal.
"Oke Lewis, stop mengejarku, kakiku sudah kram." pinta Olivia. Dia sedang memegangi pinggiram kolam dan tidak bisa berenang lagi karena kram dikakinya.
"Apa kau baik-baik saja?" Lewis mendekati Olivia.
"Tidak, kakiku kram dan aku tidak bisa berenang lagi jadi bisa kau bantu aku?" pinta Olivia.
"Sebaiknya jangan berpura-pura!" kata Lewis tidak percaya.
"Please, aku tidak pura-pura."
"Auch!" Olivia meringis karena kakinya memang kram.
"Oke baiklah, kau memang tidak bohong."
Lewis menggendong Olivia dan membawanya kepinggir kolam, dia meletakkan Olivia disisi kolam dan mulai memijat kaki Olivia yang kram.
Olivia diam saja, setidaknya kram dikakinya bisa hilang.
"Terima kasih." ujarnya sambil melihat kearah Lewis yang terus memijit kakinya dengan serius.
"Tidak masalah, jika terjadi sesuatu padamu bisa-bisa aku diamuk oleh keluargamu."
"Kau benar, jika kau berani melakukan sesuatu padaku maka lehermu melayang."
"Kau mengancamku?" Lewis menghentikan pijatannya dan menatap Olivia dengan tajam.
"Tidak, hanya memperingatkanmu saja." Olivia menjawab dengan cuek.
"Ck, kalian memang mengerikan!"
"Jadi tuan Lewis Simone, baik-baiklah denganku." Olivia tersenyum pada Lewis.
"Tentu calon tunanganku."
Lewis mendekati Olivia dan tanpa Olivia duga Lewis menciumi pipinya.
"Balasan tetap berlaku dan selanjutnya bibirmu." Lewis segera bangkit berdiri dan melangkah pergi.
"Kau, beraninya?!"
"Kenapa? Kau bisa maka aku juga bisa!" Lewis segera melangkah pergi sedangkan Olivia, melihat kepergian Lewis dengan kesal.