30 Days For Love

30 Days For Love
Barbeque



Malam itu langit kota California tampak begitu indah, diatas sana tampak ribuan bintang berhamburan menghiasi langit yang gelap menjadi indah.


Dibawah langit yang indah itu, tampak seorang pria dan wanita sedang sibuk mempersiapkan sesuatu, mereka adalah Olivia Smith dan Lewis Simone.


Mereka sedang sibuk mempersiapkan sesuatu dibelakang rumah Lewis, mereka ingin menikmati malam yang indah dengan barbeque didekat kolam renang.


Saat di supermarket tadi mereka membeli banyak bahan untuk barbeque seperti daging sapi, udang, macam-macam sayuran, daging ayam dan sosis tentu tidak hanya itu mereka juga membeli sebuah alat untuk barbeque.


Tentu semua itu ide dari Olivia dan Lewis juga menyetujuinya, sekali-kali harus melakukan hal yang menyenangkan.


Setelah menyiapkan alat untuk membakar, Lewis masuk kedalam rumahnya untuk mengambil alat lainnya sebelum mereka memulai acara bakar membakar mereka.


Sedangkan Olivia tampak sedang mencuci sayuran yang ada dan memotongnya, saat melihat Olivia, Lewis tersenyum dan menghampirinya.


"Hei apa kau bisa?" tanyanya.


"Ck, jangan remehkan aku, hanya memotong sayuran saja." jawab Olivia kesal.


"Ya, hati-hati dengan pisaunya, jangan sampai jarimu yang terpotong."


"Iya, kau bersik!" Olivia melotot pada Lewis sedangkan Lewis hanya tertawa dan berlalu pergi untuk mengambil alat-alat yang mereka perlukan untuk barbeque nanti.


Lewis kembali keluar untuk membakar arang, dia sibuk disana sedangkan Olivia membawa sayuran yang dipotongnya keluar, tidak lupa dia juga membawa bahan-bahan lainnya yang telah dia cuci.


Olivia meletakkan bahan-bahan makanan diatas meja kecil yang sudah disediakan oleh Lewis,diatas meja sudah tersedia tusukan.


"Lewis, apa yang harus aku lakukan?" Olivia melihat bahan-bahan makanan itu dengan bingung, pasalnya dia belum pernah melakukan hal itu dan dia tidak tahu harus melakukan apa.


"Memangnya kau tidak tahu?" Lewis mendekati Olivia setelah dia membakar arang, dia hanya perlu menunggu arang yang dia bakar menjadi bara.


"Yah, sebenarnya aku tidak pernah melakukan hal ini."jawab Olivia dengan jujur.


"Oh my, kau! Lalu kenapa kau mengajakku melakukan hal ini?Aku heran apa sih yang kau bisa!"gerutu Lewis kesal.


"Aku bisa memberi ide dan makan." jawab Olivia lagi.


"Bagus, kau memberikan pekerjaan untukku!sepertinya kau tidak belajar dari pengalaman dan sepertinya kau ingin menambah hutangmu lagi."


"Oh my God please, bisa kita lewati malam ini tanpa menambah hutang-hutangku? Kau lihat langit diatas sana." Olivia mendongak dan menunjukkan jarinya keatas langit indah yang ditaburi ribuan bintang.


"Setidaknya suasana hatimu harus lebih indah dari pada bintang-bintang diatas sana." katanya lagi.


Lewis melihat keatas langit sejenak tapi kemudian dia melihat kearah Olivia yang tampak masih mengagumi para bintang diatas sana.


Bintang-bintang diatas sana memang indah tapi ada yang lebih cantik dari pada bintang dilangit, itu menurutnya.


"Baiklah, kau pintar merayu tapi menurutku ada yang lebih cantik dari pada bintang itu." Jawab Lewis.


"Oh ya? Apa itu?" Olivia menatap kearah Lewis, apa ada yang lebih cantik dari pada para bintang dilangit sana malam ini?


"Kau tidak perlu tahu!" Lewis mengambil daging yang ada diatas meja dan membawanya kealat pembakar yang sudah tampak panas.


"Jangan membuatku penasaran!"


"Jika aku katakan kau juga tidak akan tahu jadi tusuk sayuran itu dan bawa padaku jika sudah selesai." perintahnya.


"Dasar menyebalkan! Kau membuatku tidak bisa tidur karena penasaran!" gerutu Olivia


Dia mulai menusuk sayuran sesuai dengan perintah Lewis sedangkan Lewis mulai memanggang daging diatas alat yang sudah panas sambil tersenyum.


Apa dia sudah gila? Dia menganggap Olivia Smith lebih cantik dari pada para bintang yang bersinar diatas sana.


Mungkin setelah ini dia harus berendam untuk membersihkan otaknya karena dia merasa aneh akhir-akhir ini.


Setelah menusuk sayuran yang ada, Olivia mendekati Lewis dan memberikan sayuran itu pada Lewis. Dia ingin membantu Lewis membakar tapi Lewis menolak, cukup satu kali saja dia memakan makanan beracun dari Olivia dan dia tidak mau hal itu terjadi lagi.


Lewis meminta Olivia mengambil minuman dan mengambil gelas untuk mereka sedangkan dia terus membakar daging yang ada sampai selesai.


Setelah selesai Lewis membawa makanan itu menuju gazebo yang ada didekat kolam renang, disana tampak Olivia sudah menunggunya.


Dia segera meletakkan makanan yang dia buat diatas meja dan duduk disamping Olivia, tentu meja itu dia juga yang meletakkannya disana dengan beberapa piring, sumpit dan garpu karena memang rencananya mereka akan menikmati makanan yang telah jadi sambil melihat bintang yang bekerlap kerlip diatas sana.


Lewis mengambil beberapa potong daging, udang dan sayuran dan meletakkannya diatas sebuah piring kemudian dia memberikannya kepada Olivia.


"Nih makan sebelum dingin."


"Terima kasih, kau sangat perhatian." Olivia mengambil makanan yang diberikan oleh Lewis sambil tersenyum.


"Aku memang selalu perhatian!" jawabnya.


Dia mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri sedangkan Olivia tampak sedang memakan makanan yang diberikan Lewis untuknya.


"Lewis aku akui kau pandai memasak." puji Olivia.


"Yah, aku sering memasak sendiri selama aku tinggal dijepang."


"Oh ya? Apa kau lama tinggal disana?"


Olivia menatap Lewis dengan serius, dia jadi penasaran dengan masa lalu Lewis.


"Yah aku besar disana karena ayah dan ibuku membawaku ke Jepang waktu aku masih kecil, aku hidup disana sampai aku berusia 15 tahun."


"Lalu kenapa kau kembali ke Amerika?"


"Aku dijemput oleh kakekku karena ayahku sudah tiada sedangkan ibuku sudah menikah lagi dan meninggalkan aku sendiri disana."


"Oh my God, im sorry." ujar Olivia tidak enak hati.


"It's oke, aku tidak apa-apa."


Olivia meletakkan piringnya diatas meja tapi kemudian tanpa pikir panjang dia langsung memeluk Lewis, hal itu sungguh membuat Lewis sangat kaget, ada apa dengan Olivia Smith?


"Pasti berat untukmu bukan?" tanya Olivia.


"Tidak, jangan kau pikirkan."


"Aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga karena aku dibesarkan dengan penuh cinta oleh keluargaku, waktu itu kau pasti merasa kesepian ditinggal oleh ayah dan ibumu."


Lewis memeluk Olivia dan mengusap kepalanya dengan lembut, dia sih tidak pernah merasa sedih tapi ya sudahlah, dia merasa senang saja dipeluk seperti itu.


"Sudahlah, itu sudah lama berlalu jadi tidak perlu dipikirkan."


"Oh bagus deh!" Olivia melepaskan pelukkannya dan menyambar minuman yang ada diatas meja, dia juga meneguk minuman yang ada dengan cepat.


Oke, sepertinya malam ini membuat perasaannya sedikit aneh. Setelah meletakkan gelasnya diatas meja, tiba-tiba saja Lewis menarik Olivia hingga Olivia bersandar pada bahunya.


"Terima kasih." ujarnya.


Olivia hanya tersenyum sedangkan Lewis membelai rambut Olivia dengan jari jemarinya.


Malam itu mereka menikmati makanan yang ada sambil menikmati keindahan bintang yang ada dilangit sambil sesekali bercanda, bahkan terkadang Lewis menyuapi Olivia dan Olivia menyambut suapan Lewis tanpa ragu.


Mereka melakukan hal itu karena terbius dengan suasana malam yang indah dan ribuan bintang diatas langit sana menjadi saksi kebersamaan mereka.