Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 07



**HAPPY READING**


Athera menggosok tangannya dengan ekspresi kesal. Retha yang melihat hal itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa tubuhmu gatal-gatal, kak?"


Athera menoleh ke arah Retha sambil menghela napas kasar kemudian berujar kesal, "Aku harus menghilangkan bekas genggaman Regaz pada tanganku!"


"Hah?" Retha bengong. Seharusnya Athera senang bahwa untuk pertama kalinya Regaz menggenggam tangannya bahkan banyak dari kalangan wanita hanya menyentuh tangan Regaz saja sudah dianggap sebuah keberuntungan besar.


Akhirnya Retha memilih diam mengamati Athera yang terus menggosok tangannya dengan pakaiannya kemudian berjalan mendekati baskom kecil berisi air dan membilasnya. Setelah itu Athera nampak tersenyum puas melihat tangannya, walaupun nampak memerah dengan sangat jelas. Retha bahkan meringis melihat bekas gosokan itu, sebegitu bencikah Athera pada Regaz? Padahal Athera sangat menyukai Regaz walaupun selalu disakiti dulu.


"Sekarang kakak mau kemana?" tanya Retha ketika Athera mulai beranjak.


Athera tersenyum miring. "Aku dengar, Regaz memiliki orang kepercayaan yang mampu berbicara dengan dewa, bisakah Rethaku memberitahu keberadaannya agar kakakmu ini bisa bertemu?"


Retha memiringkan kepalanya, ia tidak menyangka kakaknya sangat pandai merayu. 


"Namanya Tuan muda Ruoxi Khilbi. Dia seorang arkeolog dan juga sosok agung yang pandai meramal. Kakak bisa bertemu dengannya di Kediaman Bunga malam. Tapi kenapa tiba-tiba ingin menemui Tuan Muda Ruoxi?"


Athera tersenyum simpul. "Kakak memiliki banyak pertanyaan untuknya."


"Apa itu?"


Athera menggerakam telunjuknya ke kiri-kanan. "Retha tidak boleh tahu."


Retha menghela napas kesal, "Huh, baiklah."


Athera tersenyum kemudiam mencubit pipi Retha. " Anak pintar."


"Kalau begitu segera antar kakak ke sana," sambung Athera.


"Hah? Sekarang?" tanya Retha dan Athera mengangguk pelan.


"Baiklah," pasrah Retha.


Athera melompat-lompat kecil sembari merangkul pundak Retha untuk mengantarnya kesana.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman pria bernama Ruoxi itu sangat sepi, hanya ada dua penjaga pada perkarangan depan sedangkan di kediaman begitu besar tidak ada satu pun penjagaan yang ketat dan Athera yakin Ruoxi memiliki kekuatan yang cukup hebat hingga tidak membutuhkan penjagaan yang ketat. Awalnya Athera sedikit sulit untuk masuk ke kediaman ini karena dua penjaga itu tidak mengenalinya. Hah, wajar saja karena selama ini Athera yang dulu selalu berdiam diri di kediamannya.


"Permaisuri Athera, datang berkunjung untuk menemui Tuan Muda Ruoxi," bisik Retha pada salah satu kepala pelayan milik Ruoxi. Pelayan itu segera pergi menyampaikam pesan.


Lebih dari itu, Athera lebih memilih mengamati kediaman Ruoxi yang begitu damai. Ada air mancur dengan patung berbentuk ikan dan air mancur itu keluar dari dalam mulut ikan, lalu ada tanaman bunga yang di kerumuni kupu-kupu.


"Sebuah fenomena anda datang berkunjung kesini, Permaisuri."


Athera terhenyak dari lamunannya hingga ia memutar tubuhnya dan berhadapan dengan pria yang ia yakini adalah Ruoxi. Pria dengan rambut panjang bewarna putih yang diikat secara pontail, kulit yang agak gelap kemudian tubuh yang hampir mirip dengan pengawal Regaz yang bernama Tier.


"Yah, maka dari itu kau harus mencatatnya di buku sejarahmu," ujar Athera sembari mengibaskan tangan kanannya.


Retha melotot kaget kemudian tersenyum kikuk melihat Ruoxi yang tercengang mendapati respon Athera.


"Kak, kau terlalu buruk dalam awal pertemuan," bisik Retha.


Athera hanya menampilkan ekspresi bodohnya kemudian mengedikkan bahu acuh sembari menatap Ruoxi.


"Aku perlu bicara berdua," ujar Arthera.


Ruoxi mengangguk kaku lalu mempersilakan Athera masuk ke dalam ruangannya dan Retha dilayani oleh kepala pelayan Ruoxi sampai Athera selesai dengan urusannya.


Athera berdecak kagum melihat ruangan Ruoxi yang begitu rapi walaupun dipenuhi rak-rak berisi buku-buku usang serta kertas yang tampak berserakan dengan tulisan yang begitu indah. Ada pula benda-benda antik di dalamnya, tapi Ruoxi membawanya ke tempat lain. Mereka memasuki sebuah ruangan dan di dalam sana hanya ada meja bundar di lengkapi lima kursi kayu yang indah serta minuman yang telah tersedia.


"Silakan duduk, Permaisuri."


"Terima kasih."


Kini mereka telah duduk berhadapan. Kemudian Athera meremas tangannya.


"Aku ingin bertanya, tapi akankah kau percaya?"


Ruoxi sebenarnya tidak menyukai Athera, namun ia menghormati Athera karena ia dengar dari Regaz bahwa wanita ini telah menyelamatkan tuannya dari serangan berbahaya.


Athera tersenyum puas lalu berbisik, "Apakah kau percaya bahwa sebuah cermin mampu menukar nasib seseorang?"


Ruoxi terperangah, ia langsung tidak tenang dengan duduknya hingga Athera yakin bahwa Ruoxi paham alur pembicaraannya.


"Ya, lalu?" tanya Ruoxi setenang mungkin.


"Kau tahu cara menggunakannya atau kau tauh di mana cermin itu berada?" tanya Athera.


Cermin itu tidak akan terhubung dengannya jika tak ada cermin lain di sini, Athera yakin itu.


Ruoxi bangkit dari duduknya dengan ekspresi tak bersahabat. " Maaf, saya tidak tahu kalau masalah menggunakan serta keberadaanya."


Athera tersenyum miring kemudian mendekati Ruoxi.


"Kau sepertinya membenciku Ruoxi?"


Ruoxi menggeleng kaku.


"Dia memang menyeramkan," batin Ruoxi


Athera makin mendekati Ruoxi hingga pria itu mundur beberapa langkah.


DUK!


Ruoxi gugup ketika tubuhnya menabrak dinding kemudian tangan Athera bergerak mengurung dirinya. Ruoxi tidak berani menggunakan kekuatan bela dirinya pada sang permaisuri yang baru saja menyelamatkan nyawa tuannya.


"Aku bukan Athera Krystalian. Aku adalah Athera Liontina yang bertukar nasib dengannya. Aku berasal dari masa depan, maka dari itu aku memohon bantuanmu untuk memberitahuku sejarah tentang cermin ini," jelas Athera.


Mata Ruoxi melebar. Ia masih mencerna perkataan Athera hingga beberapa menit kemudian pria itu langsung berseru seperti paham. Athera mulai menjauh dan kembali pada duduknya.


"Jadi, kau bukan permaisuri Athera?!" Ruoxi mendekati Athera dengan mata berbinar.


"Ya."


"Aku percaya itu karena permaisuri Athera tida berwatak sebrutal dirimu."


"Apa?!"


Ruoxi menggeleng kaku kemudian tersenyum kikuk. Ruoxi tidak mungkin langsung baik padanya hanya karena penjelasan pendek ini. Pasti orang ini memiliki niatan lain.


"Tunggu sini," ujar Ruoxi seraya berjalan keluar menghampiri rak-rak di sana kemudian kembali datang dengan buku tidak terlalu tebal dan menyodorkannya pada Athera.


"Apa ini?"


"Itu buku tentang cermin yang kau maksud. Penjelasannya sangat panjang."


Athera mengangguk namun ia memekik ketika Ruoxi langsung menggenggam tangannya.


"Bisakah kau membayarnya dengan pengetahuanmu di dunia masa depan itu?" Ruoxi berkedip lucu yang justru membuat Athera mual melihatnya.


Athera menarik tangannya kasar kemudian bersedekap dada.


"Baiklah, tapi... " Athera menggantung kalimatnya.


"Apa?"


"Kau harus jadi anak buahku."


"Kau memang ular," desis Ruoxi.


"Ular yang cantik," balas Athera.


Ruoxi mendengus. Pria itu diam-diam memandang lekat Athera.


Cermin itu berada di kamar Regaz tapi bagaimana bisa Athera Krystalian bisa sampai sana dan menggunakannya. Ruoxi percaya akan perkataan Athera karena ia adalah satu-satunya orang yang mempercayai hal yang tidak masuk akal sekalipun karena cermin itu memang bisa menukar nasib seseorang, tapi Ruoxi tidak menyangka bahwa cermin itu bisa sampai menukar nasib orang yang hidup di masa yang akan datang.


"Keajaiban! Aku rasa Athera Krystalian benar-benar menderita hingga mampu menggunakan cermin untuk menukar nasib dengan wanita bernama Athera Liontina ini, " batin Ruoxi sembari menatap Athera dengan serius.


**BERSAMBUNG**..