Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 35



...SELAMAT MEMBACA...


Athera mengajak Regaz untuk makan malam di restaurant milik ayahnya. Sebuah hiburan malam dengan fasilitas lengkap yang mewah dan berkualitas.  Regaz berdecak kagum kala melihat kemudian memasuki gedung besar dan tinggi dengan nama HarLion ini.


"Indah bukan?" tanya Athera sembari menggandeng tangan Regaz.


"Tidak ada yang indah selain dirimu, " jawab Regaz kemudian meniup wajah Athera.


"Berhentilah bertingkah seperti ini Regaz. Sikap ini tidak cocok denganmu!" ketus Athera.


Regaz terkekeh kemudian mengusap lembut wajah istrinya. "Tempat ini luar biasa."


Athera tersenyum mendengar perkataan Regaz. Mereka menghampiri salah satu pegawai disana. Namun, Athera salah fokus, ia justru melihat Anabela. Tapi kenapa wanita itu berada di tempat ayahnya? Ah, apakah dia berkencan?


"Regaz, aku ke toilet dulu. Tunggu aku, oke," tutur Athera kemudian meninggalkan Regaz yang hanya mengangguk pelan.


Athera mengikuti Anabela. Wanita itu masuk ke dalam ruang VIP.


"A.. Azen?" Athera membungkam mulutnya ketika Azen terlihat setengah mabuk. Pria itu mengira Anabela adalah dirinya.


Azen kemudian menarik Anabela kemudian menindih wanita itu di sofa panjang di sana. Anabela tidak takut sama sekali, wanita itu justru membiarkan Azen yang bergerak di atas tubuhnya. Athera mengeluarkan handphonennya kemudian mengambil beberapa gambar melalui celah pintu yang cukup terbuka, Anabela tidak menutup rapat pintu ini.


"Azen, ini aku Anabela." Anabela mendorong tubuh Azen ketika pria itu hendak menciumnya.


Azen tersadar, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, "Maaf."


"Bagaimana? Apakah kau setuju dengan rencanaku?" tanya Anabela.


"Ya, selama aku bisa mendapatkan Athera maka rencanamu akan ku ikuti," jawab Azen kemudian kembali mengisi gelasnya dengan minuman Alkohol.


"Apa rencana mereka?" Athera membatin.


"Hanya perlu menjebak Regaz bukan? Kita buat Regaz mabuk berat ketika bertemu denganku di sebuah tempat hiburan kemudian aku akan membuatnya meniduriku. Lalu kau akan memfotonya dan memberinya pada Athera. Ini rencana yang sempurna," jelas Anabela kemudian Azen hanya mengangguk.


"Azen, kau mendengarku, kan?" tanya Anabela lagi.


Azen mengangguk asal. Ia telah pusing akibat alkohol belum lagi rencana Anabela yang begitu luar biasa licik. Athera tersenyum sinis kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu. Ah, lagi pula ia dan Regaz harus segera makan malam. Masalah sekecil ini bukalah masalah yang menyulitkan Athera.


"Kau lama," komentar Regaz ketika Athera telah datang ke arahnya dengan senyum manis.


"Maaf," jawab Athera.


Regaz kemudian berkacak pinggang agar Athera mengaitkan tangannya di sana. Mereka akan pergi makan malam sekarang. 


...***...


...Pada Zaman dahulu. Di mana Athera Krystalian dan Dave berada....


Athera serta Dave dipertemukan di zaman itu. Keduanya sempat kebingungan tapi yang lebih bingung adalah Dave karena pria itu berpindah waktu dan hidup kembali. Dan lebih mengejutkannya lagi ia telah menjadi seorang raja besar yang dikenal bengis padahal sosoknya sangat menyimpang dengan sebutan itu. Dave mulai menyesuaikan diri dengan kehidupannya begitu ia menyesuaikan hatinya pada Athera Krystalian. Pria itu menceraikan seluruh selirnya termasuk Gresha dan ini mengejutkan seluruh orang di zaman itu. Dave tidak ambil pusing karena ia tidak suka memiliki banyak wanita dan kemudian bersikap adil.


"Bagaimana, apakah kau sudah lebih baik?" tanya Athera Krystalian yang kini telah duduk di samping Dave.


Dave mengangguk. "Aku telah sembuh total, sangat hebat."


"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Athera Krystalian. Ia telah menceritakan segala sesuatu yang ia ketahui tentang perpindahan waktu yang terjadi pada Dave.


"Aku berencana kembali ke duniaku sekaligus mengajakmu, tapi cermin itu tidak bisa digunakan," jelas Dave.


"Tidak mungkin cermin itu rusak, kan?" tanya Athera Krystalian.


"Entahlah, tapi bukankah katamu, cermin itu bisa digunakan apabila salah satu yang akan bertukar nasib adalah orang yang menderita? Apakah aku harus menunggu orang tersebut menderita?" tanya Dave.


Athera Krystalian menggeleng. "Sebenarnya cermin ini juga merupakan pintu menuju masa depan. Dan bertukar nasib adalah salah satu yang menonjol dari kegunaan cermin ini. Cermin dari zaman ini serta cermin yang ada di masa depan saling terhubung."


...Kemudian di Zaman modern dimana Regaz serta Athera berada....


Pagi hari telah tiba. Sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru saja ia selesai makan malam. Athera mengerang pelan ketika cahaya matahari mengusik penglihatannya namun, sesuatu menghalangi cahaya itu hingga Athera kembali terlelap nyaman dengan memeluk seseorang yang kini tidur berhadapan dengannya di kasur.


Regaz kini tengah menghalangi cahaya matahari yang mengusik istrinya menggunakan tangannya kemudian ia  mengamati wajah istrinya. Semalam Athera tertidur di dalam mobil setelah makan malam. Pria itu menggendong Athera hingga masuk dalam rumah. Perlahan pelukan Athera pada tubuhnya melonggar dan kesempatan itu digunakan Regaz turun dari kasur. Pria itu hanya mengenakan celana hitam selutut yang ketat dan membiarkan tubuh atasnya telanjang. Regaz membenarkan gorden agar sinar matahari tidak mengusik tidur Athera.


Regaz kembali mendekati Athera kemudian membenarkan selimut pada tubuh istrinya. Setelahnya Regaz segera memakai kaos hitam polos berlengan pendek kemudian keluar dari kamarnya. Ia ingin memasakkan sesuatu untuk Athera agar istrinya akan senang ketika bangun.


"Saatnya membuatkan makanan untuk istri tercinta!" seru Regaz bersemangat setelah berada di dapur, pria itu langsung mengenakan apronnya.


Entah apa yang akan dibuat pria itu. Ia mengambil tepung, daging, sayur-sayuran kemudian beberapa bahan untuk membuat kue. Sebenarnya ia bingung akan memasak apa tapi kali ini ia akan membuat menu yang banyak.


Setengah jam ia berkutat dengan dapur. Sedangkan Athera yang sudah terbangun dari tidur lelapnya langsung melotot kaget ketika mendengar suara berisik dari luar kamarnya.


Athera keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga dan menuju sumber suara yang bising.


DEG!


Athera tertegun ketika melihat dapur serta suaminya. Berantakan!


Perlengkapan serta bahan-bahan masakannya berserakan di dapur. Dan suaminya itu tampak begitu santai dengan adonan yang telah ia pijat-pijat di sana. Athera awalnya ingin marah namun, wanita itu justru memilih mengamati suaminya yang begitu serius di sana. Wajah tampan Regaz kini banyak bekas tepung. Pipi serta hidung Regaz terkena tepung lalu keringat dari dahi Regaz turun menyusuri wajah hingga lehernya. Regaz benar-benar tampan dan menggemaskan saat ini.


"Bau hangus?" Regaz mengembang kempiskan hidungnya kemudian berjengit kaget ketika ia lupa tengah menumis sayuran. Dengan cepat ia mematikan kompor dan bodohnya pria itu langsung menyentuh pinggir wajan.


Akh! Prang!


Regaz meringis diiringi jatuhnya tumisannya. Athera terkejut kemudian berlari mendekati suaminya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Athera kemudian meraih tangan suaminya.


Regaz terkejut dengan kehadiran Athera kemudian ia menunduk dengan rasa bersalah. "Kau terbangun? Maaf jika aku mengacaukan dapur."


Athera tersenyum kemudian menarik Regaz menjauh dari sana dan membiarkan Regaz duduk di kursi.


"Aku tidak marah. Aku hanya terkejut melihatmu tadi, " jawab Athera.


"Apakah kau lapar hingga masak sendiri?" tanya Athera.


"Aku ingin membuat sarapan untukmu, l" jawab Regaz kemudian mendongkak menatap Athera yang tampak mematung dengan pipi yang merona.


"Maaf," ucap Regaz lagi.


Athera tersenyum tipis kemudian mengecup bibir Regaz sekilas. " Tapi itu bukan tugasmu, biar aku yang membuatkan sarapan untukmu sekarang. Selain itu, obati jarimu dan duduklah di sini."


Regaz terdiam kemudian menahan tangan Athera yang hendak menuju dapur yang kacau karena ulahnya.


"Kita pesan makanan saja, biar aku yang membereskan dapur. Kau akan lelah," tungkas Regaz.


"Bukankah kau lebih suka masakanku. Jadi tidak usah pesan makanan."


Setelahnya Regaz membiarkan Athera melakukan pekerjaannya sedangkan dirinya menatap luka di jari-jarinya yang hanya memerah. Ia menatap punggung Athera. Istrinya tengah sibuk membereskan dapur.


"Ah! Tumisan yang jatuh tadi pasti membuat lantai licin!" batin Regaz.


Pria itu langsung beranjak dari duduknya dan segera pergi mengambil sesuatu. Lalu dengan cepat ia membawa sebuah pel dan menghampiri Athera.


"Kau akan jatuh, biarkan aku yang bersihkan ini. Kalau kau jatuh akan bahaya," ujar Regaz kemudian ia membersihkan lantai setelah membersihkan tumisan yang jatuh di lantai. Pria itu kemudian mengepel lantai dengan serius tanpa peduli wajahnya yang telah dinodai tepung.


"Benar-benar suami idaman." Athera terkekeh dalam hati menyadari sikap Regaz yang sebenarnya. Seharusnya ia tidak boleh menilai Regaz begitu cepat tanpa adanya pendekatan. Sesuatu yang terlihat buruk di depan nyatanya terlihat sangat baik di belakang.


...BERSAMBUNG.....