
Selamat Membaca
"Athena, jadilah istriku."
Kaizer menggelengkan kepalanya berkali-kali, ketika sebesit perkataan itu terlintas dan hampir keluar dari mulutnya.
"Aku akan menginap disini," kata Kaizer pada Athena.
Athena melebarkan matanya kemudian mengamati Kaizer yang sedang menikmati makanannya.
"Tidak boleh!"
"Pelit sekali, padahal aku seorang Raja tapi seorang rakyat justru menolak permintaanku," kata Kaizer setelah menelan suapan terakhirnya.
Athena benar-benar tidak bisa berkata-kata ketika makanan Kaizer telah habis dengan begitu cepat bahkan piring sangat bersih. Tidak itu saja, pria itu sekarang menarik piringnya yang masih tersisah setengah isinya lalu menghabiskannya dengan lahap hingga habis.
Ia kini meneguk habis air dalam gelasnya lalu mengelapnya dengan punggung tangan.
"Aku akan tetap menginap!" tegas Kaizer.
"Aku bilang tidak boleh!" geram Athena sangking kesalnya.
"Cih! Menyebalkan!" ucap Kaizer dan Athena hanya mendengus.
Kaizer berdiri kemudian menatap Athena dengan intens, " Setiap tiga kali sehari aku akan datang kesini untuk makan, jadi sebelum kau pergi siapkan makanan untukku."
"Apa?!"
"Apa aku perlu mengulangnya?"
"Tidak! Untuk apa aku melakukannya, lagi pula pelayan kerajaan selalu menyiapkan makanan untukmu," jawab Athena.
"Masakan istri lebih enak ketimbang masakan pelayan keraj--"
"Siapa istrimu?! Pergi lah Kaizer!" raung Athena dengan wajah memerah, ia memalingkan wajahnya ketika Kaizer justru tersenyum melihat tingkahnya.
"Baiklah, aku akan kembali. Laksanakan permintaanku, setiap pagi aku akan menyuruh orang mengantarkan bahan-bahan makanan ke rumahmu." tutur Kaizer kemudian menghilang.
Sedangkan Athena mengembuskan napasnya dengan berat, ia menatap langit-langit ruang makan.
"Aku harus cepat mencari jalan keluar," kata Athena sembari memejamkan matanya.
****
Gavin mengembangkan senyumnya, pagi ini ia telah bersiap untuk menjemput Athena, sesuai janjinya kemari. Gavin telqh sampai pada toko bunga milik Athena, namun ia tidak mendapati wanita itu disana, akhirnya Gavin memutuskan pergi ke rumah Athena langsung.
Masih tertutup pimtunya tapi hidungGavin menangkap aroma makanan yang sangat enak dari dalam rumah Athena. Wanita itu sedang memasak.
Gavin mengetuk pintu Athena berulang kali lau wanita itu keluar dari dalam sana.
"Kau sudah datang? Cepat sekali." kata Athena kemudian membiarkan Gavin masuk.
Gavin bisa liat dapur Athena dipenuhi dengan sayur dan wanita itu masih sangat sibuk. Gavin duduk di ruang makan dan memilih diam mengamati Athena.
"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat dan kita akan pergi," kata Athena yang masih sibuk memasak.
Gavin menggeleng, "Perlu bantuan?"
"Kau bisa memasak?" tanya Athena dengan alis terangkat.
Gavin mengangguk kemudian menghampiri Athena, ia menggelung pakaian berlengan panjangnya hingga siku lalu mengambil pisau dan memotong beberapa sayuran yang baru saja dicuci oleh Athena.
Athena takjub melihat Gavin begitu cepat memotong sayuran tersebut.
Athena tersenyum kaku, " Ya."
"Kalau begitu kita akan pergi besok saja, hari ini kan kau sibuk." kata Gavin.
Athena bingung menjelaskannya.
"Memang kalian mau kemana?"
Seketika tubuh Athena menegang, suara yang barusan menyahut membuatnya membeku sedangkan Gavin terlonjak melihat kehadiran Kaizer yang telah duduk di kursi.
"Apa Yang Mulia, lakukan disini?" tanya Gavin dengan alis bertaut, ia benar-benar benci melihat kehadiran Kaizer di rumah Athena. Apalagi pria itu masuk dengan cara yang tidak wajar.
Kaizer terkekeh kemudian melempar atensinya pada Athena, " Sayang, jelaskan padanya... bahwa kau tengah memasakkan calon suamimu makanan."
Wajah Athena seketika merona. Ia tidak. habis pikir dengan Kaizer. Bagaimana bisa pria itu berbicara dengan entengnya.
"Apa maksudnya 'sayang'?" Gavin menoleh kearah Athena.
Athena menggeleng dengan kaku. " Aku tidak tahu!"
"Gavin sebaiknya kembalilah ke rumahmu, aku punya urusan dengan kekasihku," ujar Kaizer sembari melangkah mendekati Athena yang berdiri tepat di samping Gavin.
"Maaf, Yang Mulia tapi saya punya janji dengan Lady Athena."
"Janji? Tidak ada janji! Athena kekasihku dan dia tidak boleh pergi dengan lelaki lain!" tekan Kaizer dengan raut wajah marah, ada kecemburuan yang menggantung disana.
"Sejak kapan Lady Athena adalah kekasih Yang Mulia?" Gavin bertanya pada Kaizer .
"Kemarin!"
Athena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi yang ia tahu, diam adalah emas walaupun saat ini Kaizer membuat suatu kebohongan tentang status mereka. Raut wajah Kaizer benar-benar murka.
Gavin langsung menatap Athena dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia berusaha memastikan perkataan Kaizer.
"Lady Ath-"
"Pangeran, kembalilah. Besok aku akan menjelaskannya padamu," potong Athena dengan kepala tertunduk.
Gavin tidak bisa berkata apapun lagi, ia hanya mendesah kemudian pergi dari sana. Ia melirik Athena yang kini menatapnya penuh rasa bersalah.
"Aku menunggumu, Lady Athena." setelahnya Gavin pergi meninggalkan Athena bersama Kaizer yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi, apa masakanku sudah jad-"
PLAK!
Satu tamparan mendarat mulus pada pipi Kaizer. Pria itu tidak merasakan apapun dari tangan manusia seperti Athena. Namun, ia hatinya terasa sakit ketika melihat Athena menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau keterlaluan!" raung Athena kemudian meninggalkan dapur dalam keadaan kacau lalu berlari menuju kamarnya.
Kaizer terdiam cukup lama, lalu menatap kekacauan di dapur.
Kaizer baru sadar bahwa ia kesal melihat Athena bersama pria lain. Tanpa sadar berkata seperti ini bahkan sampai mengakui Athena sebagai kekasihnya tanpa peduli perasaan wanita itu.
Kaizer menatap lekat sayuran, pisau serta alat-alat dapur lainnya disana. Pria itu bergerak untuk membersihkannya.
"Padahal aku hanya ingin lebih dekat dengannya." tutur Kaizer dengan wajah sedih.
BERSAMBUNG...