Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 39



...SELAMAT MEMBACA...


Beberapa bulan berlalu, Regaz telah sembuh total dari luka tembakan yang menyerang tubuhnya. Kini ia dan Athera telah kembali di kehidupan biasanya. Jauh lebih baik setelah para penganggu itu mati.


"Regaz, bekalmu!" 


Athera beteriak ketika Regaz baru saja menyelesaikan sarapannya kemudian keluar untuk berangkat kerja. Athera menenteng kotak bekal kemudian menyerahkannya pada Regaz yang telah memasuki mobil.


"Terima kasih, sayang." Regaz tersenyum hingga matanya menyipit.


"Aku akan datang membawakan bekal, siang nanti," kata Athera.


"Tidak usah. Perutmu sudah membesar, sebaiknya istirahat di rumah, jika ada sesuatu yang tidak enak pada dirimu, langsung telepon aku, ya, " kata Regaz kemudian Athera tersenyum sembari mengangguk.


Setelahnya Regaz melajukan mobilnya dan Athera segera masuk ke dalam rumah.


...***...


Regaz duduk di kursi kerjanya, ia membelakangi pintu kemudian memilih memandang perkotaan yang terlihat jelas dari tempatnya berada. Kaca besar di hadapannya, memperlihatkan jelas perkotaan yang padat dengan kendaraan. Regaz jadi merindukan zaman di mana dia berasal. Namun, Athera sepertinya tidak akan ingin kembali ke zaman dulu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Bos, saya izin masuk," sahut suara dari luar.


"Ya," jawab Regaz.


Regaz langsung memutar kursinya hingga ia berhadapan dengan seseorang yang tengah menghampirinya. Regaz melebarkan mata dengan mulut sedikit menganga. Seorang wanita dengan penampilan begitu modis telah berdiri di hadapannya dengan sebuah dokumen yang tengah ia dekap.


"Selamat pagi, Bos. Saya Grace, karyawan baru pengganti dari Ailen," ujarnya sopan.


"Gresha,"  batin Regaz.


Wanita di hadapannya benar-benar mirip Gresha, selir yang sangat ia sayangi sebelum kehadiran Athera.


"Ya, selamat pagi, " jawab Regaz berusaha bersikap acuh. Ia yakin bahwa di hadapannya bukanlah Gresha sebab orang-orang di zamannya seperti saling terikat dengan orang-orang di zaman modernya dan memiliki wajah yang sama, tapi berbeda karakter.


"Saya membawa dokumen yang perlu anda tanda tangani." Grace menyerahkan dokumen yang ia dekap di hadapan Regaz.


Dengan cekatan Regaz mengambil pena dan menanda tanganinya. Regaz mendongkak untuk menatap wajah Grace dengan seksama sedangkan yang ditatap hanya tersipu malu kemudian meraih dokumennya.


"Terima kasih, Bos," kata Grace kemudian izin undur diri.


Setelah kepergian Grace, pria itu mengacak rambutnya frustasi. Dia telah memandangi wanita dan memuji kecantikannya, dia telah berdosa pada istrinya.


"Sial!" maki Regaz.


Gresha sudah seperti adiknya dan ia justru bertemu Grace yang mirip dengan Gresha dengan wajah serta penampilan yang modern. Cantik, tapi tidak akan mengalahkan kecantikan Athera.


Sedangkan di luar, Grace mendekati salah satu karyawan yang merupakan seniornya dengan senyum yang sumringah.


"Kau kenapa?" tanya Yuin- Pegawai lama di perusahaan Regaz.


"Bos, terus saja memperhatikan wajahku," kata Grace malu-malu.


"Jangan salah paham. Mungkin bos mencoba menghafalkan wajah karyawan barunya," kata Yuin.


"Ah, Bos sangat tampan. Dia jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya," kata Grace penuh keyakinan, dia seakan tidak terima dengan jawaban milik Yuin.


Yuin mengembuskan napas kasar, kemudian menarik lengan Grace, hingga wanita itu duduk di samping Yuin. Ruang kerja ini disekat-sekat, mereka memiliki tempat masing-masing.


Yuin melirik sekitarnya setelah Grace duduk di sampingnya dengan alis terangkat. " Kenapa?" tanya Grace.


"Istri bos sangat galak, jangan sampai kau dipecat seperti Ailen," kata Yuin.


"Bos sudah menikah?" tanya Grace tidak percaya dan Yuin mengangguk.


"Istrinya sangat cantik dan bos hanya akan berlaku lemah lembut pada istrinya. Jadi jangan sampai kau mengalami hal yang buruk seperti Ailen," jelas Yuin.


"Sudahlah, lagi pula aku hanya mengaggumi bukan mau merebut," kata Grace.


Yuin tersenyum tipis sembari mengedikan bahunya, " Walaupun sudah menikah, Bos tetap jadi rebutan."


Mendengar perkataan Yuin, wanita itu melirik ke arah ruang kerja milik Regaz.


BRAK!


Grace tersentak ketika seorang senior yang terkenal galak, meletakkan tumpukan dokumen pada meja kerjanya yang bersebelahan dengan Yuin.


"Jangan bergosip dan selesaikan tugasmu, anak baru," kata wanita itu.


Grace menautkan alisnya. " Saya tidak bergosip,"


Renata- Nama senior itu- Dia kini mendekati Grace yang berada di tempat milik Yuin. " Kalian membicarakan Bos, kan?"


"Lebih banyak gerakkan tangan dari pada mulutmu," kata Renata kemudian meninggalkan Grace yang mengkerucutkan bibirnya.


Tidak lama setelahnya, Grace berkutat dengan tumpukan berkas yang diberikan Renata. Wanita itu kembali meneriakinya untuk pergi memberikan dokumen pada Regaz untuk ditanda tangani kembali.


Grace memasuki ruangan Regaz, ia menemukan Regaz tengah duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Menyadari seseorang memasuki ruangannya, Regaz mendongkak dan mendapati Grace kembali datang dengan sebuah dokumen di dekapannya.


"Saya datang untuk minta tanda tangan anda," kata Grace.


Regaz mengangguk kemudian menyuruh Grace mendekatinya.


Grace berdiri setelah memberikan dokumennya pada Regaz.


"Kau tinggal di mana?" tanya Regaz.


"Tidak jauh dari perusahaan, Bos."


"Rumah sendiri?" tanya Regaz


"Kontrak," jawab Grace.


"Kau tinggal sendiri?" tanya Regaz


Grace langsung menunduk, mencoba menarik perhatian Regaz akan kondisi hidupnya. " Ya, kedua orang tua sudah meninggal, dan di sini tidak punya keluarga."


Regaz menatap cukup lama Grace, pria itu meletakkan laptopnya di meja kaca di hadapannya.


"Tidak di zaman dulu dan di zaman modern, kau selalu menderita, " kata Regaz sembari mengusap puncak kepala Grace


Grace menaikkan sebelah alisnya, dia tidak paham arah pembicaraan Regaz.


Krieet!


Kedua orang di dalam ruangan itu menoleh kearah pintu, di sana Grace melihat seorang wanita sangat cantik dengan perut membuncit datang menenteng sebuah kotak bekal.


"Gresha?" cicit Athera yang hanya mampu didengar olehnya.


Regaz langsung menarik tangannya pada puncak kepala Grace kemudian menghampiri isterinya itu. Dia pikir Athera tidak kesini karena sudah ia larang.


cup..


Regaz mencium puncak kepala Athera, sedangkan Grace langsung izin keluar ketika tatapan Athera mengarah padanya. Aura Athera begitu mengerikan. Tatapan istri Regaz itu seakan menenggelamkan keberaniannya.


"Saya undur diri, Bos," kata Grace kemudian keluar dari ruangan Regaz.


Sedangkan Athera langsung memberikan bekal yang ia bawa dengan kasar pada Regaz.


Regaz mengembuskan napas kasar kemudian menaruh bekal itu pada meja kaca dekat laptopnya kemudian memeluk Athera dari belakang. " Jangan salah paham."


"Dia mirip Gresha," kata Athera.


"Ya. Mereka sangat mirip dan kehidupannya tidak jauh beda dengan Gresha seperti dulu di zamanku," papar Regaz


"Makanlah, aku akan menemanimu," kata Athera sembari melepaskan tangan Regaz yang melingkar pada perutnya.


"Kau tidak marah, kan?" tanya Regaz


"Tidak, cuman sedikit kesal." Athera mengkerucutkan bibirnya, dia menyandarkan tubuhnya pada sofa sedangkan Regaz tengah sibuk membuka bekalnya.


Regaz terkekeh kemudian menyodorkan sesendok makanan pada Athera. " Maaf,"


Athera kesal, ia jadi kesal karena wajah-wajah kembar bermunculan. Athera tidak akan lupa saat acara Occurens Ad Regem, ia ingat betul cara tersenyum Regaz pada Gresha. Dan ia tidak ingin Regaz melakukannya kembali.


"Kau hanya boleh memperhatikanku, sekarang aku adalah titik yang menjadi pusat hidupmu, jangan mencoba menambah titik lain, jika itu terjadi, maka kau akan kehilangan titik yang awal," kata Athera dengan tegas. Regaz tahu bahwa istrinya tengah khawatir jika dirinya berdekatan dengan wanita lain.


"Kau meragukan kepercayaanku?" tanya Regaz.


"Aku hanya takut kehilangan, itu saja," jawab Athera.


Regaz menarik kembali tangannya yang menyentuh sendok yang terarah pada mulut Athera.


Regaz kemudian meletakkan sendok itu pada bekalnya, kemudian ia menangkup wajah Athera yang semakin tembam.


"Selama kita saling mempercayai, semua itu tidak akan terjadi," kata Regaz, sesaat setelahnya pria itu mencium dahi Athera.


Athera tersenyum, Regaz memang pria paling peka. Jika dia marah, pria itu tidak akan ikut marah justru pria itu menenangkannya.


"Maaf, makanmu jadi tertunda," ujar Athera.


"Karena tertunda aku justru bisa mencium istriku," kata Regaz di selingi tawa kecil.


...BARSAMBUNG......