Trapped in the Past

Trapped in the Past
SEASON 2 [Episode 14]



SELAMAT MEMBACA


"Hei, Nona!"


"Apakah dia mati?"


"Sayang sekali, padahal dia bisa jadi istriku."


"Hentikan omong kosongmu."


Rey, Lisa serta Diaz kini tengah mengerubungi seorang wanita yang terbaring dikasur. Mereka telah menyelamatkan wanita itu dari arus sungai yang cukup deras. Kepalanya terluka, mungkin membentur bebatuan di sungai.


Rey menusuk-nusuk pipi wanita itu namun Diaz memukul tangan Rey.


"Hei, jangan sentuh-sentuh sembarangan." intrupsi Diaz.


Rey memberengut kesal, " Memang kau siapa? Ibunya?"


Lisa memijat pelipisnya kemudian menarik kedua telinga pria itu dan membawanya keluar kamar, sedari tadi mereka terus saja bertengkar membuat Lisa pusing.


"Lisa, apa yang kau lakukan?!" Diaz bertanya dengan emosi.


"Dia butuh ketenangan, kalian berisik! Sebaiknya pergi beli sayuran serta beberapa daging untuk makan malam!" titah Lisa.


Rey memutar bola matanya malas kemudian langsung meninggalkan tempat tersebut sedangkan Diaz menggerutu dulu sebelum pergi.


"Jangan sampai aku menikah wanita seperti Lisa. Kau setuju kan Rey?" tanya Diaz.


"Tidak!"


"Aku tidak akan bertanya padamu lagi!" desis Diaz sedangkan Rey hanya terkekeh.


Lisa menyisipkan anak rambut wanita itu pada daun telinga, sudah dua hari sejak ia menemukan wanita ini, tapi belum kunjung sadar. Hingga akhirnya sebuah lenguhan terdengar dari wanita itu, kelopak matanya bergerak-gerak kemudian terbuka. Sepasang netra yang begitu cantik menatap Lisa dengan lemah.


"Akhirnya kau sadar!" Lisa berseru senang kemudian segera berlari mengambil air minum.


"Bangunlah, dan minum dulu." kata Lisa sebab bibir wanita itu begitu kering.


Wanita itu membenarkan posisi duduknya, kepalanya terasa sakit, tubuhnya pun pegal-pegal.


Wanita meneguk airnya hingga tuntas kemudian menatap Lisa dengan tatapan bingung.


"Kau siapa? Dan aku dimana?" tanyanya.


"Namaku Lisa, sekarang kau berada di rumahku. Aku serta kawanan menemukanmu hanyut di sungai."


Ah, wanita itu mengangguk. Ia ingat apa yang terjadi padanya kemudian menunduk.


"Siapa namamu?"


"Athena."


"Nama yang indah. Kalau begitu berbaringlah lagi, aku akan membuatkanmu makanan." Lisa beranjak dari sana.


Athena terdiam, ia mengamati tempatnya berada, kepalanya masih terasa sakit, namun ia berusaha turun dari kasur seraya melangkah mendekati jendela untuk melihat lingkungan seperti apa yang ia tempati sekarang.


Mata Athena melebar melihat apa yang ada di luar. Ini adalah wilayah manusia serigala, di luar sana ada serigala yang kemudian langsung berubah menjadi seperti manusia, mereka begitu ramah ketika saling bertemu.


"Hey, kau sudah sadar?"


Athena hampir saja limbung ketika suara seorang pria mengaggetkannya, untung saja pria itu menahan tubuhnya. Pria itu adalah Rey, dia baru saja kembali dari pasar, dia hanya menemani Diaz sebab jika ia ketahuan belanja, maka para penduduknya akan menertawakannya. Ia langsung menggendong tubuh Athena kembali ke kasur kemudian ia duduk di kursi pada sisi kasur Athena.


"Aku Rey kepala suku manusia serigala, selamat datang di wilayahku." jelas Rey.


"Kau.. terima kasih atas bantuanmu."


Rey mengangguk, ternyata wanita ini cantik, rambutnya yang putih serta bola mata yang sebiru langit, ia terlihat seperti awan dan langit dimata Rey.


"Apa yang terjadi padamu hingga berakhir di sungai?"


Athena terdiam sejenak kemudian memejamkan matanya, pusing itu kembali menyerangnya, walaupun begitu dia tetap menjawab pertanyaan Rey.


"Seseorang menyerangku untuk mengorek informasi seseorang yang tidak ku kenali."


"Tinggalah disini. Kau akan aman." kata Rey.


"Sejak kapan kau menunjukkan kepedulianmu, Rey." Lisa datang dengan nampan berisi beberapa makanan untuk Athena.


"Dia kakakku, kalian sudah berkenalan?" tanya Lisa dan Athena mengangguk.


"Rey, mau sampai kapan kau duduk disitu? Apakah kau yang mau menyuapi Athena?" tanya Lisa.


Rey melotot kemudian pergi dari sana, sedangkan Lisa hanya terkekeh.


"Sudah ku tebak pasti dia tertarik pada wanita ini."


****


Kaizer benar-benar kacau.


Sudah dua hari ia mencari keberadaan Athena namun ia tidak menemukan apapun. Hingga akhirnya hari ini ia menemukan petunjuk dari Iryu. Hewan itu membawanya ke tempat terakhir Athena menghilang dan tempat itu tidak jauh dari kediamana keluarga menteri korne. Akhirnya Kaizer datang ke rumah tuan Korne yang langsung disambut oleh putrinya Korne.


"Yang Mulia, sungguh sebuah kejutan anda datang kesini." katanya.


Tuan Korne serta istrinya juga ada disana, tersenyum melihat kehadirannya sedangkan Kaizer hanya memikirkan bagaimana mendapatkan sesuatu yang berkaitan dengan Athena


"Putri, bisakah kita bicara berdua saja." Kaizer berbisik lembut pada putri Korne.


Wajah wanita itu langsung bersemu, ia melirik ayah serta ibunya.


"Ayah- ibu bolehkah saya berbicara nerdua saja dengan Yang Mulia disini?" tanyanya.


Tuan Korne tidak menyangka bahwa kedatangan Kaizer adalah untuk berbicara dengan putrinya.


"Bisakah dikamarmu? Maaf jika tidak sopan, tapi saya sungguh tertarik pada putrimu menteri Korne, dan saya ingin mengenalnya lebih dekat. Memang terburu-buru tapi saya sudah dengar bahwa putri anda sangat cantik dan itu benar adanya, sifatnya juga lemah lembut. Saya ingin berbicara ditempat yang siapapun tidak bisa mendengar kami." kata Kaizer dengan senyum tipis.


Tentu saja Tuan Korne serta istrinya langsung menyetujuinya, Kaizer kini di tuntun ke kamar.


Ketika sampai sana, Kaizer duduk di sisi kasur bersama wanita tersebut.


"Yang Mulia, saya sungguh bahagia mendengar penuturan anda."


Kaizer memutar bola matanya malas tapi ia tetap berusaha tersenyum, ia mencondongkan wajahnya pada wanita tersebut, menelusupkan sebelah tangannya ke belakang leher wanita tersebut.


"Putri bisakah anda menatap mata saya? Jangan menunduk, saya tidak bisa melihat bola matamu yang menggoda," Kaizer berujar dengan lembut dan berat.


"Y-yang Mulia, anda terlalu-"


"Tatap mataku, putri. Anda begitu menggoda jika terus menunduk." kata Kaizer, ia jadi ingin menghajar putri Korne karena terlalu lamban menatap matanya.


Putri Korne langsung menatap mata Kaizer. Ia terbuai tanpa sadar Kaizer tengah mencoba menguasai dirinya. Menghipnotis.


"Putri, apakah kau pernah melihat gadis berambut putih dengan mata biru yang indah?" tanya Kaizer pada wanita yang telah ia hipnotis dengan kekuatannya.


"Ya."


"Dimana?"


"Ayah dan aku menculiknya. Dan menaruhnya di ruang penyiksaan."


Kaizer menggeram.


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia kabur dan mati setelah menjatuhkan dirinya di jurang."


Kaizer menggeram, ia menghentikan hipnotisnya kemudian menatap putri Korne dengan tajam dan itu membuatnya takut.


"Yang Mulia, ada apa denganmu?" tanyanya.


Kaizer menggeleng kemudian menatap lekat wanita itu.


"Ikutlah saya ke istana, saya membutuhkanmu lebih dari ini." kata Kaizer dengan senyum yang ia paksakan.


"Baik Yang Mulia." jawabnya.


Sedangkan Kaizer akan membuat wanita ini menjadi bukti saat eksekusi keluarga Korne karena membuat wanitanya dalam bahaya. Kaizer yakin Athena baik-baik saja, sebab dia bukanlah wanita lemah.


"Athena aku akan segera menemukanmu dan tidak akan pernah ku lepaskan. Kau harus tetap aman disisiku." batin Kaizer.


**BERSAMBUNG**...