
**HAPPY READING**.
Occurrens Ad Regem telah usai dan saat ini semuanya baik-baik saja. Tidak ada hukuman untuk Selir Yuen. Hanya saja, ia dibuat malu karena kekecewaan baginda raja serta ibu suri. Sedangkan Athera telah mendapatkan posisinya sebagai permaisuri tanpa dipandang rendah. Kemampuannya menaklukkan hati para bangsawan dari berbagai klan. Dan saat ini Athera harus dibebani masalah kerajaan yang dialami oleh Regaz pula.
Seperti hari ini. Pagi begitu cerah dengan matahari yang memperluas cahayanya di segala penjuru. Namun semuanya terasa mendung bagi Athera. Wanita itu menekuk ekspresinya ketika ia harus berhadapan dengan Regaz di ruang kerja kerajaan pribadi pria itu.
Regaz tersenyum geli dari balik buku besar yang ia baca guna menutupi ekspresinya dari Athera yang memilih duduk di sofa, bertepatan dengan kursi kerjanya.
"Bisakah kau bicara intinya saja, jangan menyembunyikan wajahmu," ujar Athera akhirnya.
Regaz berdehem sembari menormalkan ekspresinya lalu meletakkan buku besar itu kembali pada meja kemudian ia berjalan menghampiri Athera di sofa.
Regaz duduk di samping Athera. Sambil menyilangkan kedua kakinya dengan kedua tangan di sedekapkan di dada.
"Kau akan ku bawa mengunjungi Desa Pelhium," tutur Regaz.
Athera langsung menghadap ke arah Regaz.
"Desa Pelhium?"
"Desa para rakyat jelata hidup. Di sana mereka hidup tanpa diurus oleh sebuah pemimpin hingga hidupnya seperti rakyat jelata. Aku akan mencoba mendirikan kekuasaanku di sana," jelas Regaz.
"Lalu kau mau aku ikut denganmu?" Athera bertanya sinis.
Regaz langsung ikut berhadapan dengan Athera kemudian menyudutkan wanita itu di sofa dengan raut wajah dinginnya.
"Lalu siapa kalau bukan kau, hm?" tanya Regaz balik.
"Cih!" Athera mendecih.
Regaz tersenyum samar mendengar decihan Athera kemudian beranjak setelah mengacak pelan puncak kepala Athera.
Athera tertegun sembari menyentuh kepalanya. "Terkadang ia terlihat tampan, dengan senyum liciknya."
Regaz menghela napas ketika melihat Athera justru terdiam seperti patung dengan kedua tangannya di atas kepala. "Bisakah kau bergerak dan ikuti aku?"
Athera terhenyak dari lamunannya kemudian berdiri tegap. "Ke-kemana?"
"Kita akan pergi ke Desa Pelhium."
"Sekarang?"
"Ya."
"Raja sialan!" maki Athera dalam hati.
Regaz dan Athera keluar dari ruangan ini kemudian berjalan keluar dari istana untuk mengunjungi kawanan mereka yang telah siap. Beberapa prajurit, tabib serta beberapa pelayan sudah ada di sana dengan satu kuda hitam yang nampak gagah tanpa adanya penunggang. Seluruh penghuni istana memandang Regaz serta Athera. Tidak seperti biasanya mereka berjalan beriringan apalagi Regaz terlihat memperlambat langkahnya agar menyamai langkah kecil Athera.
Athera terdiam ketika melihat hanya ada satu kuda di sana.
Regaz menyenggol kepala Athera dengan lembut menggunakan sikunya.
"Jangan berharap naik kuda bersamaku. Kau masuk ke tandu," jelas Regaz dengan senyuman sarkas.
Athera memalingkan wajahnya. Ia bersungut-sungut memasuki tandu, ia memasuki tandu yang lumayan besar itu. Cukup untuk dua orang tertidur di dalamnya. Tandu ini memiliki roda besar dengan kuda sebagai penariknya.
Mereka akan melalui hutan Udairel sebelum sampai di Desa Pelhium. Dan di kawasan sana beberapa orang telah bersiaga di sisinya. Mereka telah mengincar Regaz beserta kawanannya.
Regaz terus berada di samping tandu milik Athera. Perlahan tirai kecil dari tandu tersebut tertiup angin hingga ia bisa melihat Athera duduk di dalamnya dengan tenang. Wanita itu terlihat begitu cantik. Regaz akui bahwa Athera adalah wanita tercantik dari seluruh kerajaan yang pernah ia taklukkan atau pun belum.
Athera sendiri merasa bosan, ternyata menaiki tandu zaman dahulu tidaklah seru. Bahkan sekarang mata Athera mulai memberat hingga akhirnya ia langsung terbaring di dalam tandu. Rambutnya menutupi wajahnya. Dengkuran halus terdengar dari dalam sana. Begitu lembut.
Regaz yang fokus ke depan kembali menatap dari balik tirain tandu. Namun ia justru melihat Athera tertidur di dalam sana. Regaz hanya diam dengan tatapan sulit terbaca kemudian kembali fokus pada jalan kudanya. Hutan Udairel telah terlihat, Regaz yang memiliki sebuah pedang yang ia sangkutkan di samping pinggangnya, tampak di remas erat.
"Lindungi tandu serta para wanita," ujar Regaz pelan pada prajurit yang tidak jauh darinya. Mata Regaz yang setajam elang itu, terlihat mengerikan saat ini. Tatapannya terpaku pada Hutan Udariel.
Mereka mulai berbisik satu sama lain kemudian mengganti posisi mereka. Prajurit bergerak lebih banyak di antara wanita hingga beberapa dari mereka jadi bingung serta waspada.
"Mereka menyadari keberadaan kita," gumam seseorang di dalam Hutan Udariel ketika kawanan Regaz telah memasuki Hutan. Ia memang tidak boleh menganggap remeh raja dari kerajaan virtucal esse ini.
"Ubah strategi. Kalian bergerak menyerang arah depan di mana Raja itu berada, hingga ia mengira bahwa kita mengincar dirinya. Lalu sisanya bergerak ke arah barang bawaan. Jadi ia akan mengira pula kita menginginkan harta serta nyawa raja hingga mereka tidak fokus pada satu titik incaran kita sebenarnya. Dan aku yang akan bergerak pada sasaran sebenarnya," jelas seseorang pada kawanan itu. Mereka ada dalam jumlah banyak.
Orang tersebut mengangkat tangannya ke udara kemudian terkepal sempurna. Ia memberi aba-aba agar segera menyerang sesuai rencana.
SRAK.. GRAK.
TAP.. TAP.. TAP..
Regaz langsung memacu kudanya dengan pedang yang ia lepas dari sarungnya. Regaz telah menebak bahwa ia akan diserang. Prajurit terus melawan melindungi para wanita tapi mereka mulai beralih melindungi barang bawaan yang telah banyak diserang oleh orang-orang yang berpakaian sama seperti pemberontak kerajaan saat itu. Lalu sebagian prajurit Regaz juga memilih bergerak di bagian depan karena mereka tidak mengincar tandu serta para wanita.
Regaz tidak pernah kenal belas kasih jika ia telah diserang duluan. Kepala musuh teronggok begitu saja dengan sekali tebasan miliknya.
Lalu seseorang menarik mayat dari prajurit yang telah berhasil dibunuh para kawanannya kemudian ia mengganti pakaiannya dengan pakaian prajurit Regaz. Setelahnya ia keluar dari persembunyiannya kemudian mendekati tandu. Tempat di mana Athera masih tertidur pulas tanpa sedikit terganggu dengan penyerangan di luar.
"Kita harus menyelamatkan Permaisuri terlebih dahulu," ujar seorang prajurit kepada para wanita yang berada di dekat tandu.
"Kita tidak boleh bergerak sedikit pun dari posisi ini. Lagi pula Permaisuri masih aman di dalam sana," Jawab salah satu maid di sana kemudian diangguki para wanita lainnya.
"Cih! Memuakkan!" Pria itu menarik pedangnya, siap menebas para wanita, namun tubuhnya langsung terpental dan terjebam pada permukaan tanah. Perutnya sangat sakit
"Wah.. Ini benar-benar berkah ketika bangun tidur," ujar Athera yang kini telah keluar dari tandu setelah menendang pria yang menyamar dengan pakaian khas prajurit kerajaanya.
Pria tadi bangkit kemudian bergerak ke arah Athera. Athera tidak memiliki pedang atau pun senjata lainnya hingga ia hanya mampu menghindar.
"Kau mempermalukanku. Setidaknya membuat anda terluka sedikit. Pasti tidak akan membuat pemimpinku sampai membunuhku. " orang itu menyeringai kemudian mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah Athera.
SRET..
BLASH! SRET!
Athera membelalakkan matanya ketika pedang itu tidak mengenainya. Melainkan mengenai lengan kekar milik Regaz. Orang tersebut berhasil melukai Regaz tapi ia harus kehilangan nyawa ketika pedang Regaz menebas kepalanya.
"Tidak terlukakan?" tanya Regaz pada Athera.
Athera tidak menjawab. Wanita itu justru menatap Regaz dengan cukup lama.
"Kau yang terluka," jawab Athera seraya melirik lengan Regaz yang dipenuhi darah serta wajah tampan itu dipenuhi darah milik lawannya. Athera ingin mual melihatnya.
"Kembali ke tandu. Mereka sudah tewas semua," jelas Regaz kemudian membantu para prajuritnya yang hanya terluka ringan. Hanya ada salah satu dari mereka yang tewas. Mayat yang di tarik untuk penyamaran orang yang ingin menculik Athera. Regaz menyuruh mereka menumui jasad itu, agar dilakukan pemakaman yang layak.
"Masuk ke tandu dan aku akan mengobatimu." Athera menghalangi jalan kuda Regaz.
Regaz memutar bola matanya malas. " Tabib yang akan melakukannya."
Athera mengiggit bibir bawahnya. Ia enggan mengatakan ini, tapi ia merasa punya hutang budi jika begini.
"Aku istrimu. Aku bertugas mengobatimu jika kau terluka," ujar Athera tegas hingga Regaz langsung turun dari kuda dengan cepat kemudian membawa Athera masuk kembali ke dalam tandu.
"Kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi kita sampai. Tahan sakit kalian. Oh ya, tuntun kuda ku sekalian," jelas Regaz dari dalam tandu kemudian semuanya berseru dengan semangat.
"BANGUN! Aku harus mengobatinya dulu," oceh Athera ketika Regaz justru berbaring seraya meletakkan kepalanya pada paha Athera.
"Bersihkan saja darah di wajahku. Mereka menjijikkan," jelas Regaz kemudian memejamkan matanya.
"Benar-benar keras kepala," batin Athera
**BERSAMBUNG**..