
**HAPPY READING**.
Setelah melalui Hutan Udariel. Akhirnya Regaz serta Athera telah sampai di Desa Pelhium. Para warga di sana menyambut kedatangan Regaz dengan bahagia. Regaz terlihat sedikit ramah dari sikapnya yang terkesan masa bodo, kemudian di lain sisi beberapa tabib mulai membantu mengobati para prajurit yang terluka sedangkan Athera telah mengobati lengan Regaz di dalam tandu saat pria itu tertidur.
Regaz memilih menjauhkan diri dari Athera setelah sampai di sana. Athera sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Regaz yang sedikit bersahabat dengannya tadi. Pria itu terlihat acuh serta mengabaikannya.
"Selamat datang, Yang Mulia."
Regaz serta kawanannya disambut hangat oleh warga disana. Mereka bahkan memberikan sebuah rumah besar di tengah-tengah gubuk reot mereka untuk menyambut Regaz.
Regaz hanya diam kemudian memasuki rumah tersebut sembari menyuruh para orang miliknya membereskan barang mereka dan mengambil tempat untuk beristirahat.
"Kau mau kemana?"
Athera yang berniat melangkahkan kakinya untuk mencari tempat berisitirahat terpaksa berhenti ketika Regaz bertanya ke arahnya.
"Istirahat."
Regaz berdecak. " Kau harus menangani para warga disini. Mereka kelaparan dan bahan makanan yang kita miliki hanya sedikit akibat penyerangan di dalam hutan Udariel dan ini tugasmu sebagai Permaisuri."
Athera menatap Regaz dengan tajam. " Tidak bisakah kau sedikit baik padaku setelah semuanya tadi?"
"Apa? Karena ini?" Regaz menunjukkan lengannya yang terbalut perban ke arah Athera kemudian tersenyum sinis hingga Athera bingung melihat perubahan sikap Regaz.
"Kita impas. Aku selalu berbuat baik padamu karena merasa berhutang budi dan sekarang semuanya kembali ke awal. Aku tidak punya hutang padamu begitu pun dirimu," sambung Regaz.
Athera mengepalkan tangannya. Ia pikir selama ini Regaz hanya menjadikan sikap buruknya sebagai sampul dirinya tapi ternyata pikirannya salah. Selama ini Regaz berlagak perhatian bahkan baik padanya karena merasa terbebani. Apakah ciumannya itu termasuk? Apa dia pikir dengan memberikannya sebuah ciuman adalah perhatian agar ia diakui telah dicintai oleh pria yang selalu menyiksanya?
Brak!
Athera menjatuhkan bawaan kecil yang ia genggam dan pergi begitu saja meninggalkan Regaz. Ia kecewa akan semua ini. Entah karena sikap Regaz atau karena misinya yang terasa gagal.
Di lain sisi Regaz hanya diam melihat kepergian Athera. Pria itu memilih memasuki ruangan dalam rumah itu. Regaz berusaha membenarkan karakter yang seharusnya ia perlihatkan pada Athera. Selama ini Regaz mulai sadar bahwa dirinya mulai lengah akan sikapnya pada Athera.
"Selamanya aku akan membenci dia serta seluruh kaumnya." Regaz menegaskan itu dalam hati serta pikirannya. Karena semenjak kejadian Athera menamparnya hingga sampai kesini, ia mulai sadar bahwa dirinya mulai terbuai oleh Athera. Jika ini terus berlanjut, maka ia akan sulit membalaskan dendam pendahulunya pada bangsa gazianor.
Lalu di sisi lain kini Athera berjalan keluar dari rumah tersebut. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju desa sembari melihat kondisi di sana. Hatinya yang masih kesal akan sikap Regaz perlahan menghilang tergantikan rasa kasihan yang begitu mendalam. Ia tidak pernah melihat hal sekacau ini di dunia modernnya. Para rakyat kelaparan seperti orang yang sebentar lagi mati, pakaian mereka telah banyak yang terkoyak. Wanita yang memiliki bayi berusaha meminumkan asi pada anaknya di saat kondisi mereka memprihatinkan serta para orang tua yang pesakitan tampak berlalu lalang tanpa penanganan.
Athera merasa hina ketika pakaiannya tampak bagus serta rapih saat berada di sekitar mereka. Kenapa Regaz serta kerajaan lainnya tidak bergerak lebih cepat menangani mereka. Athera benar-benar tidak habis pikir. Ia mulai berlari kembali ke perumahan untuk mengambil bahan makanan tersisa.
Hanya tersisa beberapa gandum, kentang, serta bahan makanan lainnya yang entah hanya akan dimakan berapa orang disana.
Athera membawa itu semua, para pelayan yang melihat kepergian Athera langsung menyusul untuk membantu wanita itu, begitu pun para tabib sedangkan para prajurit tengah berkeliling memeriksa keamanan di sana.
"Makanan! Ada makanan!"
Mereka semua berseru gembira ketika melihat Athera datang membawa sekumpulan bahan makanan dan berniat merampasnya. Namun Athera menatap mereka semua dengan dingin hingga mereka terdiam dengan ketakutan.
Tatapan Athera perlahan melembut melihat mereka semua jadi diam ke posisi masing-masing.
"Adakah kuali besar di sini? Aku membutuhkannya. Kita akan membuat bubur dari bahan makanan ini kemudian saling berbagi bersama," Jelas Athera.
Mereka semua menatap Athera.
"Apakah benar kita akan menikmati bubur?"
Athera mengangguk dengan senyum tulusnya. " Ya."
Athera tersentak ketika para pelayan serta tabib muncul di belakang sembari menawarkan bantuan. Setidaknya jika ia gagal meluluhkan hati Regaz, namun ia berhasil meluluhkan hati orang-orang di sekitar Regaz.
"Baiklah."
Athera mulai bergerak dengan cepat ketika beberapa warga membantunnya sedangkan para warga yang sakit mulai di tangani para tabib, berbeda dengan Regaz yang ternyata tengah mengamati Athera diam-diam kemudian ia beranjak dari sana. Ia telah berkeliling mengamati desa ini kemudian mengirimi pesan pada Tier untuk membawa para tukang atau pekerja bangunan datang kemari untuk melakukan pembangunan. Ia akan menjadikan Desa ini benar-benar hidup kembali.
"Selain Hutan Udariel, adakah Hutan lain yang memiliki banyak buah-buahan atau semacamnya untuk dimakan?" tanya Athera pada beberapa warga.
Mereka semua mengangguk lalu dari mereka ada yang bersuara. "Dari sini ada sebuah Hutan. Di sana banyak buah."
"Baiklah aku akan ke sana, di arah mana hutan itu?"
"Desa kami diapit oleh dua hutan. Dan hutan ini berada setelah desa kami. Kami tidak berani ke sana karena takut pada hewan buas," ujar mereka.
"Sebaiknya anda jangan ke sana, Permaisuri," cegah para pelayan serta tabib.
"Kami makan ini saja sudah cukup, Permaisuri," ujar para warga yang ternyata telah mengenali Athera ketika mereka membuat bubur bersama.
Athera tersenyum. " Baiklah. Aku tidak akan ke sana. Aku ingin pergi ke perumahan dulu. Jika sudah matang tolong bagikan untuk mereka," jelas Athera pada para pelayan dan mereka mengangguk.
Kemudian Athera pergi ke perumahan. Ia pergi mengambil kuda. Ia berniat pergi ke hutan itu sebelum hari kian gelap. Makanan yang ia buat tidaklah cukup. Setidaknya di sana ada bahan makanan lagi jadi Athera memacu kudanya menuju hutan di sana.
"Tidak terlalu buruk." Athera kian memacu kudanya. Ia melihat beberapa prajurit menanyakan kemana ia pergi namun Athera hanya tersenyum. Kuda itu terus bergerak hingga Athera melihat hutan itu. Athera memperlambat laju kudanya kemudian memasuki hutan dengan perlahan.
Hutan disini dipenuhi pohon-pohon yang begitu besar dengan daun lebat hingga sinar matahari susah mencapai cahayanya kemari. Hutan ini seperti saat malam hari. Setidaknya Athera masih bisa melihat pohon-pohon yang memiliki buah. Athera turun dari kudanya kemudian mengikatkan tali kuda pada badan pohon.
"Sudah lama tidak memanjat." Athera tersenyum puas. Ia mulai memanjat pohon yang memiliki buah apel yang terlihat begitu segar di sana. Ia tadi membawa kantung kain hingga setelah memetik ia taruh di sana. Athera harus hati-hati, jika tidak maka ia akan terjatuh dari atas pohon.
Sssstt...
Tangan Athera membeku ketika mendengar desisan di belakangnya.
"Apakah itu ular?"
Sttt..
Athera bergidik ngeri ketika desisan itu makin terdengar jelas. Kemudian ia merasakan sesuatu bergerak dari balik punggungnya kemudian bergerak melilit tangannya. Ular seukuran lengannya itu kini terpampang jelas di depan matanya. Athera menjerit dari atas pohon sambil mengibas-ngibaskan tangannya agar ular itu jatuh namun pergerakannya justru membuatnya limbung sedangkan ular itu terjatuh duluan di tanah.
"Ti.. tidak!" Athera memejamkan matanya ketika ia sadar akan jatuh.
TEP.
"Untung saja aku tepat waktu."
Athera terdiam ketika tubuhnya ditangkap terlebih dahulu oleh pria yang ia kenal. Pria itu tersenyum senang sambil menatap Athera.
Athera tidak mengedipkan matanya sama sekali.
"Azen," ujar Athera pelan.
Alexus. Pria itu diam-diam mengikuti Athera. Ia kehilangan jejak Athera kemudian ketika melewati hutan , ia tidak sengaja mendengar teriakan Athera.
"Aku Alexus bukan Azen," jawab Alexus dengan senyum yang masih sama.
**Bersambung**...