
SELAMAT MEMBACA
Irena mengamati wajah gadis yang bernama Athena Flous Narquez. Wajahnya mungil, memiklki bulu mata lentik, hidung bangir, bibir tipis yang ranum serta netra bewarna biru yang begitu indah. Irena sangat kagum, wajar saja Kaizer begitu menyukai Athena bahkan pagi ini sebelum meninggalkan rumah Athena, pria itu berpesan bahwa Athena tidak boleh banyak gerak jika telah siuman.
Irena masih setia mengamati wajah Athena hingga akhirnya ia terkesiap kala mendengar gumaman tidak jelas gadis itu.
"Ayah... Ibu... Paman... "
Irena panik, ia langsung mendekat sebelah tangan Athena. Mencoba menenangkan gadis itu, lambat laun bibirnya berhenti bergerak dan jembali mendengkur halus. Irena menghela napas lega.
"Dia mengigau ternyata," kata Irena.
Seharusnya ia istirahat hari ini, setelah kemarin malam membantu kekasihnya menyiksa Charlotte. Tapi Iryu justru menjemputnya sebab Kaizer memerintahkan dirinya untuk kembali memperhatikan kondisi Athena.
Irena terdiam sejenak, mungkin sebentar lagi Athena akan sadar. Ia segera berdiri dan pergi ke dapur untuk membuat bubur serta sup untuk Athena. Gadis itu pasti akan lapar.
Tidak lama setelah kepergian Irena. Perlahan kelopak mata Athena terbuka. Ia bangun walaupun perutnya terasa begitu sakit dan juga sebelah kakinya yang terasa berat dan cukup sakit walau hanya di gerakkan. Athena turun dari kasur dengan sebelah tangan yang memegang sisi kasur kemudian ia berjalan dengan tertatih-tatih.
"Perutku sakit sekali," keluh Athena sembari memegang kenop pintu kamar mandi, ia memutarnya kemudian mendorongnya.
Athena menutup pintu kamar mandi dan menguncinya kembali, ia menatap wajahnya dengan teliti pada cermin. Sangat pucat, ia jadi ingat bahwa Kaizer kembali menolongnya semalam sebab kini lukannya bersih dan terobati belum lagi pakaiannya telah diganti dengan piyama putih yang berbahan tipis.
"Diganti?!" Athena melotot namun ia meringis setelahnya. Ah, ia lupa bahwa kondisinya masih sangat lemah.
Tiba-tiba wajahnya yang pucat dihiasa rona merah, " Tidak mungkin, Kaizer yang menggantinnya' kan?" gumam Athena.
Sedangkan di dapur, Irena begitu bersemangat memasakkan Athena makanan. Ia tidak sabar melihat wajah imut Athena yang menatapnya. Irena adalah wanita berusia 25 tahun yang sangat menyukai gadis muda yang imut.
Tok!
Irena menaikkan sebelah alisnya kala suara ketukkan terdengar. Irena meninggalkan pekerjaannya kemudian segera belari membukkan pintu.
"Pangeran Gavindra?" Irena sedikit terkejut melihat Gavindra datang.
"Irena? Kenapa kau disini?" tanya Gavindra dengan alis terpaut.
"Oh, itu... " Irena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung mau menjawab apa.
"Aku yang menyuruhnya kesini untuk menemani Lady Athena,"
Gavindra sontak memutar tubuhnya dan mendapati Kaizer yang berdiri dengan tatapan mengintimidasi kearahnya. Jelas sekali bahwa Kaizer sangat membencinya. Gavin menunduk hormat kemudian mendongkak menatap Kaizer.
"Ada hubungan apa Yang Mulia dengan Lady Athena?"
"Itu bukan urusanmu Pangeran Gavindra. Sebaiknya pergilah karena aku harus menemui Lady Athena," kata Kaizer lalu melewati pintu begitu saja setelah menciptakkan pelindung transparan tepat di pintu masuk hingga Gavindra sedikit terhuyung kala melewati batasannya.
Gavindra mengepalkan tangannya ketika Irena dengan ekspresi merasa bersalah menutup pintu rumah Athena. "Apakah Yang Mulia mempunyai hubungan spesial dengan Lady Athena?"
Lalu Kaizer yang telah masuk kini melewati dapur yang memiliki aroma tidak sedap.
" Kau mau membuat rumah Athena terbakar, Irena?!" ketus Kaizer.
Irena menelan salivanya kasar, ia lupa kalau tengah membuat bubur. Alhasil, buburnya berbau gosong. " Aku tidak bermaksud, Yang Mulia."
Kaizer berdecak kemudian menuju kamar Athena.
Kriett.
"Eh, dimana dia?"
Kaizer memasuki kamar Athena. Tapi, ia tidak menemukan wanita itu. Namun, ia mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi. Kaizer langsung bergegas membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Bagaimana bisa Athena memasuki kamar mandi dalam kondisi begitu parah, bisa-bisa ia terjatuh dan lukannya kembali terbuka.
"Kaizer! Keluar!" teriak Athena hingga Irena yang berada di dapur berjengit kaget. Ia ingin ke atas tapi buburnya akan gosong lagi nanti jadi ia memilih diam dengan rasa penasaran yang tinggi.
Kaizer menatap Athena dengan ekspresi datarnya kemudian ia justru mendekati Athena ada berjongkok di dekat bak pemandian Athena. Tentu saja Athena sangat marah dan malu sekarang.
"Kaizer kumohon kau keluar!" geram Athena.
Kaizer tidak menjawab, pria itu justru menarik kepala Athena dengan tangan kanannya kemudian mencium kening gadis itu.
"Kupikir kau akan sekarat. Syukurlah kau baik-baik saja," kata Kaizer dengan senyum tipis dan Athena melebarkan matanya melihat perlakuan Kaizer yang sangat berbanding terbalik dengan yang sebelum-belumnya. Ia melihat senyuman yang sama pada dua tahun lalu.
"Kaizer, sebenarnya kau membenciku atau menyukaiku?" tanya Athena.
Athena langsung menunduk dengan mengigit bibir bawahnya, ia baru menyadari pertanyaan bodohnya itu. Kaizer mengelus rambut putih Athena.
"Aku sangat menyukaimu sejak dua tahun lalu," kata Kaizer dengan senyum mengembang.
Athena kembali tertegun, ia semakin malu untuk mengangkat wajahnya.
"Baiklah, sekarang sudah selesai berendamnya, aku akan membantumu mengganti pakaian," kata Kaizer kemudian ia berdiri untuk mengangkat tubuh Athena dari dalam bak. Gadis itu hanya menggunakan kain putih saat berendam.
Athena menampik tangan Kaizer, dengan wajah menunduk, " Aku bisa sendiri. Jangan pikir hanya karena ungkapan perasaanmu tadi, kau bisa menyentuhku dalam kondisi seperti ini."
"Aku hanya menjawab pertanyaanmu tadi," jawab Kaizer.
Athena memberanikan diri menatap Kaizer kemudian dengan alis terpaut dan nada penuh penekanan ia berujar, " Keluar! Aku bisa mengurus diriku sendiri!"
"Kenapa? Kau malu? Aku bahkan telah melihat tubuhmu. Semalam aku yang mengganti pakaianmu. Jadi jangan banyak penolakkan Athena Flous Esse!" geram Kaizer kemudian dengan paksa ia mengangkat tubuh Athe adari dalam bak hingga gadis itu memekik tertahan.
"Pakaianmu basah, bodoh!" seru Athena.
"Aku empat tahun lebih tua darimu, jangan memanggilku bodoh," kata Kaizer kemudian ia meraih handuk kering yang tergantung di dalam kamsr mandi setelah membuat Athena terduduk di atas kursi kayu kecil yang ada di kamar mandi. Ah, ia baru tahu ada kursi dengan tinggi sepinggang orang dewasa di kamar mandi seperti ini. Mungkin Athena pernah membenarkan sesuatu yang. tinggi di dalam kamar mandi.
Kaizer menggosok rambut Athena yang basah sedangkan sang empu menatap Kaizer dengan cemberut karena di perlakukan layaknya anak kecil.
" Kalau aku tidak terluka, kau pasti telah kuhajar," kata Athena.
Kaizer mengedikkan bahu acuh, " Terserah, lagi pula kau tidak bisa mengalahkanku, Athena."
'Ck!'
Athena mencebik mendengar jawaban Kaizer. Di pikir-pikir, Kaizer dan ayahnya memiliki kepribadian yang sama.
"Kau mirip ayahku," kata Athena dan mengangkat wajahnya menatap Kaizer yang serius mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kalau begitu anggap aku seperti ayah," kata Kaizer.
"Umurmu terlalu muda untuk dianggap seperti itu," kata Athena dengan ekspresi sinis.
"Anggap aku menjadi Ayah dari anak-anakmu. Kurasa itu tidak terlalu aneh," kata Kaizer dengan sebelah alis terangkat.
"Cih, kau mencoba menggodaku, Kaizer?"
"Ya! Dan kau tergoda," kata Kaizer dengan senyum miring.
"Hentikan percakapan ini, dan cepat bawa aku kembali ke kasur!" ketus Athena.
BERSAMBUNG..
maafin typo :)