Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 19



...SELAMAT MEMBACA...


Athera mulai bergerak sendiri, ia tidak mengajak Retha untuk ikut menemukan siapa pelaku pembunuhan kedua orang tuanya. Ia tak akan rela jika Retha ikut dalam bahaya. Athera memulainya dari mengunjungi tabib kerajaan yang mengurus jasad kedua orang tuannya. Ia menemukan bahwa kedua orang tuanya ternyata diracuni. Kedua sudut bibir orang tuanya membiru, tidak ada lebam bahkan luka kekerasan fisik serta Tabib juga mengatakan adanya racun mematikan di dalam tubuh kedua orang tuanya. Athera mencoba menghirup aroma yang keluar dari mulut orang tuanya. Ia harus kuat. Ini hanyalah kebetulan jika orang tua Athera Krystalian mirip dengan orang tuanya. Semua ini ia akan urus belakangan yang terpenting saat ini adalah menemukan si pelaku.


Athera saat ini pergi ke kediaman Ruoxi. Wanita itu menemui Ruoxi kemudian menarik pria itu untuk mengikutinya. Ruoxi tak bisa menolak karena ia telah menjadi anak buah Athera karena sebuah ancaman.


Ruoxi mendongkak menatap tempatnya sekarang. Athera membawanya ke dalam ruang mayat.


"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Ruoxi sembari melepaskan tangannya dari cengkeraman Athera yang kelewat kuat.


"Kau tau ini ciri-ciri racun ini?" tanya Athera sembari mendekati kedua orang tuanya.


Ruoxi mengikuti Athera. Kemudian menatap lekat jasad kedua orang tua Athera.


"Tidak. Tapi ciri-ciri ini hampir mirip dengan racun Ideadril. " Ruoxi menyentuh dagunya dengan alis terpaut.


"Racun Ideadril?"


Ruoxi mengangguk. " Racun yang digunakan untuk membunuh seseorang dengan mencampurnya ke dalam minuman. Racun Ideadril terbuat dari tanaman racun yang berada di gunung Hergous."


Athera menggeleng, ia tak mengerti racun apa itu bahkan namanya pun sulit.


"Bantu aku untuk mencari toko racun di wilayah terdekat Virtucal Esse," pinta Athera.


Ruoxi mengangguk lemah. Ia juga diberi perintah yang sama oleh Regaz. Ia tak percaya pemikiran Athera sama dengan pemikiran Regaz.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Athera ketika Ruoxi masih tak bergeming pada posisinya.


Ruoxi tersentak kemudian segera mengekori Athera. "Manusia masa depan benar-benar menakutkan," batin Ruoxi.


Athera serta Ruoxi memilih menyamar, mereka berpenampilan seperti rakyat biasa sedangkan Athera dibuat berpenampilan sebagai seorang pria oleh Ruoxi. Namun, tetap saja Athera terlihat seperti wanita atau mungkin pria yang cantik.


Mereka menyusuri perkotaan, memasuki jalanan yang dipenuhi pedagang serta toko-toko di sana. Ada pembuat pedang, penjual obat-obatan herbal, makanan, tempat judi, rumah hiburan, dan banyak lainnya.


Selama perjalanan Athera hanya diam di samping Ruoxi sebab Ruoxi begitu fokus dengan langkahnya.


"Ruoxi," panggilnya.


Athera menggapai tangan kanan Ruoxi hingga pria itu tersentak kemudian mengalihkan tatapannya pada Athera yang tampak fokus pada sesuatu.


"Ada apa, Permaisuri?" tanya Ruoxi.


Athera baru saja melihat seseorang yang pernah ia temui di kerajaan. Seseorang yang menjabat sebagai menteri.


"Lihat itu." Athera menatap orang yang baru saja keluar dari toko tua di sana. Ruoxi langsung mengikuti arah pandang Athera kemudian menyipitkan mata berusaha memperjelas siapa orang yang dimaksud Athera.


"Dia menteri kerajaan. Apa yang dilakukannya di sana?" gumam Ruoxi.


"Perjelas," ujar Athera.


"Dia adalah putra pertama Tuan Khung. Kakak dari Selir Yuen," jelas Ruoxi.


Athera kemudian bergerak menarik Ruoxi untuk menuju ke toko tersebut. Senyuman Athera begitu penuh kepuasaan. Ruoxi tak tahu apa yang dilakukan Athera dengan mengunjungi toko yang baru saja dimasuki putra Tuan Khung itu. Namun, langkahnya terhenti sejenak ketika seorang pria bertudung memasuki tempat itu duluan kemudian baru Athera melepaskan tangan Ruoxi dan ikut masuk.


Di dalam sana ternyata begitu bersih namun, pembelinya tidak ada. Kini hanya ada tiga orang di dalam toko inj Dirinya, Ruoxi serta pria yang baru saja memasuki tempat itu.


Athera dan Ruoxi saling pandang dengan perasaan waspada hingga akhirnya pemilik toko ini keluar menemui mereka, dia seseorang bertubuh gemuk dengan kepala pelontos tersenyum ke arah mereka.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" pemilik toko bertanya pada pria bertudung.


Pria bertudung yang memakai penutup mulut itu, melirik ke arah Athera dengan tajam tanpa sepengetahuan wanita itu kemudian ia menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Sedangkan Athera menunggu pria itu selesai kemudian ia dan Ruoxi akan bergerak.


Pria bertudung itu mendongkak membaca papan kayu bertuliskan " Aksesoris Wanita" kemudian ia menatap sang penjual.


"Aku utusan tuan muda Khung Goryu," ujar pria itu seraya berbisik.


"Mana buktinya?" pria itu berujar pelan sembari melirik Ruoxi dan Athera dengan waspada.


Pria itu mengeluarkan giok bersimbol kerajaan orang dalam Virtucal Esse kemudiam tersenyum tipis dan kembali mengantunginya lagi.


"Kita bisa berbicara di dalam." Lemilik toko mempersilakan pria bertudung memasuki ruangan yang ada di dalam toko.


Pemilik toko berujar sebelum memasuki ruangan tersebut pada Athera serta Ruoxi, "Anda silakan duduk dulu, saya akan segera kembali."


Ruoxi dan Athera mendengus kesal.


"Ya," jawab Ruoxi.


Mereka duduk cukup lama di luar sembari menunggu namun, Athera yang merasa bosan mulai bergerak mencari-cari sesuatu, Athera tak bisa bergerak lebih karena pemilik tokoh ternyata menyuruh beberapa anak buahnya berjaga di sekitar toko. Sungguh aneh, toko tua begini memiliki banyak anak buah.


Ruoxi mendekati Athera kemudian berbisik, "Kenapa anda justru kesini?"


Athera menoleh ke arah Ruoxi dan berujar, " Aku yakin toko ini bukan hanya sekedar menjual aksesoris."


Ruoxi hanya mengangguk kemudian membantu Athera mencari hal-hal yang sekiranya mencurigakan.


Sedangkan dari dalam, pria bertudung itu tengah duduk sembari menatap pemilik toko yang ternyata bernama Thurde, orang yang pandai meramu racun.


"Apakah Tuan muda meminta racun lagi? Tapi dia baru saja keluar."


"Dia memberikan ini untukmu." Pria itu mengeluarkan sebuah surat dari balik pakaiannya kemudian menyodorkannya pada Thurde.


Thurde dengan ragu menerimanya kemudian membukan surat itu perlahan, di dalam sana tertera bahwa tuannya ingin bertemu di suatu tempat yang telah ditentukan.


"Tapi kenapa dia tidak kembali lagi dan berbicara padaku?" tanya Thurde heran.


"Sangat berbahaya Tuan. Di luar kami tidak sengaja menyadari seseorang mengikuti kami, untung saja Tuan muda berhasil membunuhnya," jelas pria bertudung.


Thurde menghela napas lega.


"Baiklah, kalau begitu sampaikan pada Tuan muda, bahwa aku menyetujuinya," ujar Thurde.


"Baik, Tuan."


BRAK!


Thurde berjengit dari duduknya ketika terdengar suara barang jatuh dari luar. Sontak Thurde bangkit kemudian keluar. Betapa terkejutnya ia ketika dua pemuda yang ia suruh tunggu di luar tanpa sengaja menjatuhkan kotak kayu berisi racun-racun yang ia racik sendiri. Disana juga ada   surat perjanjiannya dengan Khung Goryu dan surat itu telah dibuka dan dibaca oleh salah satu pemuda tersebut.


"Tangkap dan bunuh mereka!" perintah Thurde pada para anak buahnya yang berjaga di luar.


Sedangkan kedua pemuda yang dimaksud Thurde adalah Athera dan Ruoxi itu langsung berlari mencoba menghindari serangan anak buah Thurde. Kalau saja Ruoxi pelan-pelan ketika membantunya maka mereka tak akan seperti ini.


Athera serta Ruoxi kewalahan hingga akhirnya mereka berpencar, Athera panik ketika Ruoxi terpisah darinya sedangkan para anak buah pemilik toko serta Thurde sendiri mengejar dirinya . Athera menerabas keramaian hingga akhirnya ia justru terjebak di tempat yang sepi.


Thurde tersenyum puas kemudian menyuruh anak buah mereka langsung menyerang Athera namun, pria bertuding tiba-tiba saja berdiri di depan Athera seperti sebuah perisai.


"Apa yang kau lakukan di sana?!" bentak Thurde.


"Biar aku yang mengurus tikus kecil ini. Kita tidak bisa membunuhnya. Biar aku dan Tuan muda yang mengurusnya, siapa tahu kita bisa tahu siapa yang menyuruh mereka memata-matai kita," jelas pria bertudung.


Thurde menghela napas, ia hampir saja mati jika pemuda ini lolos, tapi masih ada satu lagi.


"Dia masih punya teman, kita harus menemukannya!" ujar Thurde.


Pria bertudung tersenyum miring." Dia sudah kubunuh."


Pria bertudung memperlihatkan pedangnya yang berlumur darah, kemudian telapak tangan kanannya yang terluka. Dan Thurde langsung percaya dengan senyum bangga pada orang milik tuan muda yang begitu hebat. Sedangkan Athera langsung bersimpuh di tanah, tidak mungkin Ruoxi dibunuh oleh pria bertudung di hadapannya. Ruoxi pasti masih hidup, Athera mulai menangis.


Thurde tersenyum sarkas pada pemuda cantik yang menangis di balik tubuh pria bertudung. Thurde dan kawanannya pergi dari sana membiarkan anak buah tuan muda yang mengurusnya. Setelah mereka menjauh Athera langsung bergerak berniat menyerang pria bertudung namun, pria bertudung lebih dulu mengangkat tubuhnya di atas bahunya kemudian membawanya entah kemana dengan langkah yang begitu cepat.


Athera memberontak kemudian berseru, "Lepaskan aku!"


Pria itu hanya diam walaupun Athera terus bergerak kasar bahkan lutut wanita itu mengenai wajahnya bahkan Athera tak henti-hentinya berteriak, hingga akhirnya pria bertudung itu menurunkan Athera kemudian menyudutkan wanita itu di pohon besar. Mereka sudah sangat jauh di keramaian.


Pria itu langsung melepaskan tudung serta maskernya kemudian menatap Athera begitu tajam.


"R.. Regaz!" Athera membungkam mulutnya.


"Kau hampir menghancurkan segala rencanaku, Athera."


"Kau mengenalku?" Athera justru bertanya sembari memperlihatkan penampilannya yang seperti seorang pria ketika Regaz sedang marah.


BRAK!


Regaz meninju badan pohon yang menjadi sandaran Athera ketika ia pojokkan. Athera bisa lihat telapak tangan Regaz makin bertambah parah karena meninju pohon. Ia mengabaikan pertanyaan Athera.


"Kalau saja aku tidak datang, kau pasti sudah mati!"


Athera terdiam, Regaz memarahinya karena khawatir dan peduli?


"Tapi aku bisa melawan mereka sendirian," jawab Athera.


Regaz menghela napas gusar, pria itu menyandarkan kepalanya pada bahu Athera sejenak kemudian menatap Athera dengan tatapan mengintimidasinya hingga Athera sedikit takut melihatnya.


"Dengar Athera, aku paling tidak suka dibantah. Kau membahayakan dirimu sendiri. Aku tahu kau tidak bisa berdiam diri ketika melihat orang tuamu seperti ini. Tapi kau seharusnya menjaga dirimu sendiri. Jika kau dalam bahaya seperti tadi kemudian terluka. Bagaimana perasaan Retha. Jadi, kau harus kembali dan tidak akan kuizinkan keluar."


Athera menunduk,  tatapan Regaz seakan menekan keberaniannya ke bawah. Ia tak menyangka Regaz memiliki tatapan seperti itu.


"Lalu, bagaimana dengan Ruoxi?"


"Ck! Seharusnya kau menanyakan kondisi tanganku. Bukannya menanyakan keadaan pria lain," kata Regaz dengan menatap ke arah lain.


"Regaz.." panggil Athera.


"Hm?"


"Kau cemburu, ya?"


Regaz langsung menatap Athera dengan tatapan datar kemudian menjauhkan dirinya. " Kita harus pergi sebelum dicurigai."


Athera menahan tangan Regaz, " Terima kasih."


Regaz hanya diam kemudian meraih tangan Athera dan membawa wanita itu menjauh dari sana. Namun, setelahnya Regaz tersenyum.


"Sama-sama," jawab Regaz dalam hati


...BERSAMBUNG......