
HAPPY READING
Beberapa orang membersihkan aula dari unjuk kemampuan panah tadi dan digantikan dengan unjuk kemampuan dalam bertarung menggunakan pedang. Athera masih bersikap tenang seraya menghampiri rak di mana pedang-pedang ditaruh di sana. Athera menyentuh salah satunya dengan senyum tipis. Ia akan menggunakan pedang sungguhan. Di dunianya, ia selalu menggunakan pedang yang terbuat dari kayu ketika belajar pedang bersama Azen.
"Apakah dia Azen yang sama?" Athera bergumam dengan ekspresi sendu. Ia masih teringat sosok pria yang sempat melambaikan tangan padanya.
"Athera," panggil Gresha.
Athera berkedip dua kali lalu menoleh ke arah Gresha. Selir ini selalu menemaninya bahkan membantunya.
"Saatnya kau memasuki arena," sambung Gresha.
Athera membeliakkan matanya kemudian menatap arena itu sejenak sebelum kembali menatap Gresha.
"Aku urutan pertama?" Athera bertanya dengan ragu.
Gresha mengangguk.
"Bagaimana bisa? Bukankah aku belum mengambil urutan?"
Gresha menaikkan sebelah alisnya bingung. Athera sungguh aneh. Padahal bulan lalu ia sangat memahami semua alur permainan walau pun dengan akhir yang menyedihkan.
"Kita tidaklah memilih urutan. Ini memang aturannya. Permaisuri harus melawan Selir tertua." jelas Gresha.
"Iya aku tahu," jawab Athera seadanya.
Gresha mencebik kesal, bahkan Gresha bisa menebak bahwa Athera bahkan tidak tahu aturan mainnya. Karena saat ini, Athera menampilkan ekspresi bingung ketika melihat lingkaran merah di tengah-tengah aula berumput itu.
"Kau harus mampu mengeluarkan lawannmu dari garis merah, bukan dengan mendorongnya tapi dengan pedangmu. Contohnya seperti kau mengarahkan pedang tepat di depan dadanya, hingga ia menyerah atau ia yang keluar garis karena tidak mampu mengimbangi perlawananmu. Kau akan didiskualifikasi jika membuat lawan terluka dan berdarah. Kalau tidak berdarah kau tidak akan di diskualifikasi," jelas Gresha panjang lebar.
Athera menyeringai kemudian mengambil pedang di rak sana kemudian membuang sarung pedangnya. "Terima kasih atas penjelasannya."
Gresha hanya mengangguk. Athera tersenyum angkuh ketika memasuki lingkaran merah dan selir tertua yang tidak lain adalah Selir Yuen itu sudah tersenyum sinis.
Mereka saling bersitatap cukup lama hingga suara terompet berbunyi dan Selir Yuen langsung bergerak ke arahnya. Athera tersentak ketika baru permulaan Selir Yuen terlihat mengincar pedangnya.
"Dia cukup hebat dalam bermain pedang. Ah sial! Aku baru pertama kali menggunakan yang asli!" batin Athera.
Selir Yuen tersenyum sinis melihat Athera tetap saja bodoh dalam menyentuh pedang.
"Kau ketakutan?" sinis Selir Yuen.
Athera berdecak ketika mereka sama-sama diam saat Selir Yuen menyerangnya duluan.
Athera membenarkan posisi tangannya dalam memegang pedang. "Tidak sama sekali."
Selir Yuen hanya menampilkan senyum sinisnya kemudian bergerak mendekati pedang Athera. Athera terkejut ketika Selir Yuen menahan tangannya yang menyentuh pedang.
Athera menahan sekuat tenaga tangannya ketika Selir Yuen berusaha menggerakkan pedang milik Athera agar menusuk perutnya.
"Jadi kau ingin melukai dirimu sendiri agar aku disebut pembunuh? Jangan terlalu menganggap remeh diriku. Dasar selir jelek!" desis Athera hingga Selir Yuen melotot marah. Athera tersenyum sinis kemudian Athera melepaskan pedangnya lalu sebelah tangannya yang bebas langsung menangkap pedangnya. Di waktu yang bersamaan Athera bergerak secara memutar kemudian ia memukul punggung Selir Yuen dengan pangkal pedang.
Selir Yuen langsung bersimpuh ketika pukulan pada punggungnya begitu kuat.
"Aku akan membuatmu menyesal karena telah merencanakan ide busuk ini," bisik Athera pada Selir Yuen kemudian menjauh dari selir Yuen. Memberi waktu pada selir itu untuk menyerangnya.
"Kau terlihat seperti budakku. tampak bersimpuh memohon ampunan." Athera berusaha memancing emosi Selir Yuen.
Dan tentu saja selir Yuen terpancing, karena saat ini selir Yuen langsung berdiri dan bergerak cepat. Ia mengayunkan pedangnya dengan membabi buta seakan lupa akan peraturan. Athera sendiri hanya menghindar. Sesekali Athera menangkis serangan Selir Yuen.
"Ayah dan ibumuĀ budak. Pantas diinjak-injak oleh kakiku ini. Kau itu anjing pembantu bagi Regaz. Melihatmu bersikap angkuh, sungguh membuatku muak!" maki Selir Yuen dengan tajam hingga Athera menampilkan tatapan murkanya.
Athera langsung menangkis serangan Selir Yuen dengan kuat hingga tubuh Selir Yuen terjatuh dengan posisi terlentang dengan pedang yang masih ia genggam erat. Athera mendekati Selir Yuen kemudian berdiri di hadapan selir Yuen dengam mengacungkan pedang tepat di atas wajah Selir Yuen dan sekali lagi teriakan bergema menyoraki nama Athera.
Selir Yuen kali ini benar-benar malu. Tapi ia puas melihat kemarahan Athera setelah ia maki dengan kejam.
Athera mengulurkan tangannya pada Selir Yuen agar selir itu meraihnya untuk bangkit sedangkan pedangnya ia tancapkan begitu saja di tanah berumput di sampingnya
"Kau pikir aku hanya akan mempermalukanmu?" ujar Athera sinis. Selir Yuen tidaklah mengatai ayah serta ibunya. Tapi hatinya tetap saja merasa sakit hati bahkan dadanya seakan terbakar.
Athera menyeringai dengan tubuh sedikit menunduk lalu berujar pelan, "Aku akan mengoyak pakaianmu dengan pedangku ini. Aku akan mempermalukanmu. Apakah aku mengoyak bagian dada saja atau pura-pura tidak sengaja menebas rambutmu. Hingga kau menjadi gundul dan Regaz tidak akan menyukaimu lag- "
"Hentikan!"
SRET.. AKHH
Ancaman Athera terpotong ketika Selir Yuen langsung marah dengan ekspresi ketakutan dan secara refleks mengayunkan pedangnya hingga melukai lengan Athera. Dan kini Athera tersenyum kasihan ke arah Selir Yuen.
"Bodoh." ejek Athera, kemudian Athera langsung menyentuh lengannya dengan erat hingga darah memenuhi lengannya.
Selir Yuen menjatuhkan pedangnya dengan kedua tangan membungkam mulutnya. "Dia membalikkan ideku."
Tak butuh waktu lama suasana langsung menjadi heboh. Regaz sudah tidak ada di singgasanannya. Baginda raja serta ibu suri berdiri dari duduknya, begitupun para tamu.
"Jangan diremas jika sakit."
Athera terkesiap ketika suara Regaz terdengar. Athera menoleh dan mendapati Regaz menghampirinya. Pria itu menurunkan sebelah tangannya yang mencegkram kuat lengannya yang terluka kemudian mengangkat tubuhnya Athera.
"Urus masalah ini," tutur Regaz pada Ruoxi yang ternyata ikut datang setelah Regaz turun dari singgasanannya. Dan sekali lagi Athera bisa melihat sosok pria yang memiliki wajah kembar seperti Azen tampak khawatir melihatnya dibawa pergi oleh Regaz.
Setelah kepergian Regaz. Kali ini Ruoxi menghembuskan napasnya. Ia menatap Selir Yuen yang mulai dibantu berdiri oleh selir-selir lainnya kecuali selir bernama Gresha.
"Bagaimana bisa Selir Yuen bertindak seperti itu. Jelas-jelas Athera berusaha membantunya berdiri," ujar Glory pada damian.
Damian mengangguki perkataan istrinya kemudian menatap menteri Khung yang langsung menghampirinya dengan permintaan maaf atas kelakuan Selir Yuen.
"Sebaiknya kau ajari putrimu lagi," tutur Damian kemudian memilih mengosongkan tempatnya diikuti Glory.
****
"Lepaskan!" ketus Athera seraya menjauhi Regaz yang telah duduk di sisi ranjangnya. Dia tidak percaya bahwa Regaz sampai membawanya ke paviliun. Ia seharusnya berterima kasih tapi Athera sangatlah malas hanya sekedar berterima kasih.
"Apakah ini caramu berterima kasih?!"
Athera menghela napas lalu menatap Regaz dengan menundukkan kepalanya. "Terima kasih" ujarnya dengan nada malas.
ZRETT..
HEI!
Athera memekik ketika Regaz justru merobak pakain bagian lengannya. Pria itu langsung mengambil kotak kayu berisi peralatan medis. Athera baru tahu bahwa kotak kayu di dalam lemarinya adalah tempat menyimpan peralatan medis.
"Membenci tapi selalu mengkhawatiri," komentar Athera hingga Regaz yang telah fokus membersihkan luka di lengan wanita itu langsung memfokuskan pandangannya pada wajah Athera.
"Jangan sampai aku menciummu tiga kali," jawab Regaz lalu kembali fokus membersihkan luka Athera. Sedangkan Athera memilih diam ketimbang ia harus di cium ketiga kalinya.
Saat ini Regaz sangat tampan. Tapi tetap saja Regaz bukanlah pria yang bisa menaklukkan hatinya.
BERSAMBUNG...