
HAPPY READING.
Regaz membenci Athera, bahkan menyentuh Athera saja haram baginya. Lalu apa yang dipikirkam Regaz dengan mencium wanita yang telah disebut sebagai budaknya. Kini semuanya tengah diperbincangkan. Athera tidak ambil pusing akan ciuman ini. Tapi, ia tidak akan membiarkam Regaz melakukannya lagi. Athera sampai muak melihat tatapan marah ke empat selir angkuh itu kepadanya.
"Athera, ayo!"
Athera terkesiap ketika Gresha telah berdiri di hadapannya yang duduk bersebelahan dengan Regaz. Kini ia melirik ke kiri-kanan. Ternyata para selir milik Regaz telah meninggalkan tempat ini karena acara unjuk kemampuan disajikan sebagai tontonan awal acara ini. Terlalu cepat.
Athera segera bangkit kemudian mengekor di belakang Gresha. Ia masuki sebuah ruangan yang dipenuhi pakaian wanita khusus untuk bertarung. Cukup keren. Athera menyusuri pakaian-pakaian itu hingga akhirnya ia memilih warna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya. Gresha sendiri sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan.
"Apakah kau yakin ingin tetap ikut?" tanya Gresha ragu.
Athera mendekati Gresha yang telah mendapatkan bajunya juga.
"Aku belum pernah merasa seyakin ini," jawab Athera dengan senyum bangga.
Gresha tersenyum. "Kalau begitu kita harus cepat, mereka sudah berada di aula tempat pertandingan."
Athera segera bergegas, ia sudah tidak sabar ingin menunjukkan kemampuannya. Putri dari bangsawan kerajaan modern sudah sangat mahir tentang hal yang bersangkutan dengan senjata. Walaupun hidup di dunia modern, Athera sungguh sangat tertarik belajar hal semacam itu. Karena bagaimanapun seorang putri bisa kapan saja menghadapi bahaya.
Tidak butuh waktu lama Athera telah selesai dengan pakaiannya. Gresha terpukau kala melihat pakaian hitam tarung wanita itu melekat sempurna pada tubuh Athera. Wanita itu melangkah keluar dan Gresha segera menyusul. Athera saat ini sudah seperti sosok ibu suri ketika muda. Oh, sepertinya baginda raja serta ibu suri telah datang. Mereka adalah kedua orang tua Regaz.
Sorakan menggema ketika kini ada sekitar sepuluh selir Regaz telah berdiri di aula berumput dengan para bangsawan sebagai penonton di belakang dengan kursi.
"Apakah dia Athera, Regaz?" Glory bertanya pada putranya yang terus mengikuti pergerakan Athera yang baru memasuki aula dengan kepala mendongkak seakan tak ada yang mampu menandinginya.
Regaz mengalihkan pandangan ke arah Glory. "Benar ibunda."
Damian, ayah Regaz ikut bersuara ketika melihat sang menantu yang selalu disiksa Regaz itu bahkan langsung menatapnya dengan dingin walau pun itu hanya sekilas.
"Dia seperti orang yang berbeda," ujar Damian yang diangguki oleh istrinya. Mereka berharap bahwa Regaz sadar akan perbuatannya yang salah karena sampai saat ini mereka tidak pernah menginginkan Regaz membalaskan dendam pada bangsa gazianor karena dendam masa lalu tapi Regaz sangat keras kepala.
Berbeda dengan perbincangan baginda raja serta keluarganya itu, di barisan penonton bangsawan, banyak sekali yang membicarakan Athera saat ini.
"Dia sangat memukau," puji seorang selir dari kerajaan Quirly.
"Ya. dia sangat berbeda dengan sebelumnya. Biasanya ia akan menunduk ketika memasuki aula bahkan mempermalukan dirinya sendiri." Putri dari kerajaan Indrez pun ikut menyahut bahkan membandingkannya dengan acara bulan lalu.
"Sepertinya Permaisuri Athera memperkuat diri. Ia sudah lelah di jadikan olok-olokan para bangsa lain," sahut beberapa wanita yang berasal dari kerajaan kecil lainnya
Istri menetri Khung yang duduk di antara penonton itu berdecak sinis.
"Bagaimanapun Selir Yuen akan menang. Selir Yuen adalah wanita tangguh sama seperti Ibu suri ketika masih muda. Seharusnya yang menjadi permaisuri adalah Selir Yuen, bahkan kita tidak bisa meragukkan kemampuannya." wanita yang merupakan keponakan dari menteri Khung ikut bersuara di keramaian penonton itu.
Alexus berdecak kesal, ingin sekali ia robek mulut-mulut orang yang merendahkan Athera. Menyahuti omongan para wanita membuat dirinya dipermalukan nanti. Mereka semua berhenti berdebat dan memilih memperhatikan para wanita milik Regaz yang melakukan unjuk bakat menggunakan panah.
Athera duduk terlebih dahulu pada kursi yang disediakan di sana. Ia menyaksikan beberapa selir yang maju duluan. Gresha cukup hebat dalam memanah, pada bidikan pertama ia sudah mengenai sasaran dengan sempurna dan mendahului anak panah milik Selir Awen serta Selir Tang. Suara tepuk tangan kembali bergema. Masih butuh dua kali bidikan lagi baru gilirannya. Ia akan berdiri bersama Selir Yuen serta Selir Jian.
Selir Yuen yang duduk tidak jauh dari Athera, tersenyum sarkas melihat betapa seriusnya Athera memperhatikan gerakan Gresha.
"Apa kau berniat belajar hanya dengan melihat Gresha?" tanya Selir Yuen yang diiringi kekehan mengejek para selir lainnya.
"Aku sedang menilai," jawab Athera angkuh hingga membuat kekehan para selir terhenti.
"Kau terlalu sombong. Apakah kau tidak ingat, kau sampai menangis karena gagal dan mempermalukan bangsamu, menjijikkan," ejek Selir Jian.
"Cih! Apakah Athera Krystalian selemah itu. Tidak ku sangka kelakuannya dulu membuatku diremehkan!" maki Athera dalam hatinya.
Athera berniat menyela perkataan Selir Jian tapi seorang pria berpakaian prajurit mendekatinya dengan memberikan alat panah padanya.
"Selanjutnya anda, Permaisuri."
Begitu pun yang terjadi pada Selir Yuen serta Selir jian. Athera segera bangkit menuju posisi di mana ia akan melakukan bidikan dengan papan sasaran yang hanya terdiri dari satu untuk tiga pemanah.
Athera mulai menyentuh alat panahnya. Athera memulainya dengan meluruskan mata panah dengan sasaran. Memfokuskan pandangan pada sasaran dengan sebelah matanya yang terbuka. Athera belum kunjung membidik. Posisi tangannya saat ini membuat para bangsawan kembali terkejut. Posisi yang sangat keren serta sempurna. Athera sengaja menunggu Selir Yuen dan Selir Jian membidik terlebih dahulu. Lalu setelah kedua selir itu melepaskan anak panahnya, Athera membidik dengan mata kiri kemudian melepaskannya dengan kuat.
Anak panah Athera langsung melesat dengan cepat hingga menyerang anak panah Selir Jian serta Selir Yuen hingga terbelah dan jatuh ke permukaan sedangkan anak panahnya masih mampu menembus papan sasaran secara sempurna.
PLASH... KRAK!
Hening.
Lalu mendadak semuanya menjadi riuh.
"BIDIKAN YANG LUAR BIASA!!" seru para pria bangsawan bahkan dari mereka ada yang berdiri sambil meninju udara.
"Ini menakjubkan! Kemampuan panah Permaisuri bahkan mampu menyandingi Yang Mulia!"
"Dia tidak layak dianggap rendah sekarang."
"Itu hanya kebetulan, mengingat bagaimana buruknya Athera saat membidik."
"Kau hanya iri. Bahkan kita bisa lihat bagaimana ia mengangkat busurnya untuk melakukan unjuk kemampuan panah."
"Haha.. Selir Yuen tampak terluka harga dirinya."
Begitulah suara-suara yang terdengar. Sampai-sampai menteri Khung beserta keluarganya jadi malu karena terlalu membanggakan Selir Yuen .
Damian serta istrinya menatap tidak percaya, kemudian mereka mengalihkan tatapan mereka pada Regaz yang tersenyum ke arah Athera di sana.
"Kau tersenyum?" tanya Glory pada putranya.
Regaz terkesiap lalu berdehem menghilangkan kegugupannya. "Tidak, anda berdua salah lihat," elak Regaz.
Sedangkan Alexus memandang Athera dengan tatapan terpesona. Atheranya sangat tangguh.
Athera mengedipkan mata pada Selir Yuen yang menatap kosong panahnya yang jatuh begitu pun Jian.
"Kau terluka? Padahal aku hanya menyakiti anak panahmu," tutur Athera sarkas.
Selir Yuen menoleh ke arah Athera. "Masih ada dua bidikan, sebaiknya kau berjaga-jaga."
Athera kembali mengangkat busurnya sembari menaikkan sebelah alisnya. "Aku akan berjaga agar anak panahmu mati di pertengahan."
"Sial!" maki Selir Yuen.
Ia mulai melakukan bidikan kedua serta ketiga tapi tetap saja kejadian tadi terulang lagi hingga banyak sekali yang memuji kemampuan Athera. Mereka bahkan tidak segan mengatai Selir lainnya, bahwa mereka tidak ada apa-apanya dengan Athera kecuali Selir Gresha yang memang mahir dalam memanah.
Athera meletakkan alat panahnya kemudian berjalan melewati Selir Yuen dengan menabrak sedikit bahu wanita itu sembari berbisik, "Lemah."
Kali ini Selir Yuen benar-benar di permalukan. Ia akan memberi pelajaran pada Athera setelah Occurrens Ad Regem ini berakhir.
Lagi pula, masih ada unjuk kemampuan yang lain. Ia tidak sabar ingin segera bertarung pedang kemudian menjebak Athera nanti. Selir Yuen belum benar-benar menunjukkan tindakannya yang pandai berakting.
Selir Yuen melihat Athera yang tampak puas bersama Gresha sambil bercerita di sana.
"Aku akan membuat kau disebut pembunuh nanti," gumam Selir Yuen dengan menyeringai, membuat wajahnya cukup jelek saat ini.
Athera yang melihat ekspresi Selir Yuen itu hanya tersenyum sinis.
"Bedak tebalmu akan retak jika kau tersenyum licik seperti itu, " ejek Athera hingga kali ini para Selir lain menertawakan Selir Yuen. Berbeda dengan Selir Awen, Selir Tang serta Selir Jian yang menunduk malu.
BERSAMBUNG..