
SELAMAT MEMBACA
Athena telah pulih sepenuhnya, ia memutuskan untuk mengunjungi toko bunga, pasti Ersya banyak mengalami kesulitan saat di toko bunga, namun yang Athena pikirkan saat menuju toko adalah, Gavin serta Ersya yang tidak datang mengunjunginya sebab tidak datang ke toko beberapa hari.
Saat sampai di depan toko Athena segera masuk. Athena mendapati Gavin berdiri di dalam toko bersama Ersya, pria itu membantu Ersya. Tatapan mereka bertemu, cukup lama mata mereka saling mengunci.
"Ak-"
Perkataan Athena terputus sebab Gavin langsung menariknya dalam dekapannya yang begitu hangat. Gavin memeluknya sangat erat dan Athena terdiam merasakan wangi tubuh Gavin yang memabukkan.
Gavin melepaskan pelukannya pada Athena kemudian menangkup wajah gadis itu dengan agak erat, bibir Athena menjadi sedikit manyun karena Gavin menangkup pipinya.
"Setiap hari aku merindukan, Lady Athena," kata Gavin dan tentu saha wajah Athena merona mendengar perkataan Gavin barusan.
Gavin tersadar apa yang tengah ia lakukan, pria itu melepaskan tangkupannya kemudian menunduk dengan dua langkah mundur. Telinga Gavin memerah, pria itu jadi malu.
Athena menutup mulutnya dengan punggung tangan melihat tingkah Gavin.
"Madam! Anda akhirnya datang, aku sangat khawatir pada Madam," kata Ersya mencairkan suasana.
Athena lupa jika ada Ersya di sana. Athena menghampiri Ersya kemudian tersenyum.
"Kalau begitu kenapa tidak menjengukku?"
Gavin mendekati Athena sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ada raut wajah kecemburuan yang menggantung pada wajah pria itu.
"Yang Mulia melarang kami masuk kala menjenguk, aku tidak tau ada hubungan apa antara kalian," kata Gavin.
"Kaizer Sialan!" maki Athena dalam hati.
"Aku tidak tahu kalau dia melarang kalian. Aku tidak ada hubungan apapun, dan tidak akan!" kata Athena.
Gavin tersenyum lebar mendengarnya.
"Kalau begitu, bisakah besok anda ikut dengan saya ke suatu tempat, ada yang ingin saya tunjukkan pada anda," kata Gavin.
Athena mengangguk, "Tentu saja, Pangeran."
****
K
aizer duduk menyandar pada kasurnya, kamarnya begitu gelap tanpa penerangan, hanya ada cahaya kecil yang menembus dari celah-celah kamarnya. Ia tidak membuka gordennya dan memilih dikegelapan tanpa niat melihat sinar matahari menyapannya. Padahal sudah siang tapi pria itu masih setia di kamarnya, membuat Dren khawatir
Kaizer meremas kuat rambutnya, netra yang selalu terlihat kejam itu, perlahan meneteskan air mata. Kedua tangannya kemudian bergerak meremas kemeja yang ia kenakanan pada bagian dada. Rasanya kesepian, sakit hati, sedih, kecewa yang membuatnya sulit untuk menahannya seorang diri. Selama ini, ia terus bertahan tanpa penyanggah.
"Apakah aku tidak pantas dicintai?" tanya Kaizer pada dirinya sendiri.
Charlotte, keluarga satu-satunya yang ia percaya justru berniat membunuhnya pula, orang-orang di sekitarnya begitu baik padanya sebab ia adalah seorang raja. Sejenak perasaan Kaizer membaik tatkala wajah Athena terlintas di benaknya. Setidaknya ia bisa mengharapkan cinta pada Athena. Ia ingin dicintai dengan tulus.
Kaizer mengusap wajahnya kasar kemudian meninggalkan kasur, pria itu membuka seluruh pakaiannya, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia melarang seluruh pelayan masuk ke kamarnya. Kaizer tidak suka sembarang pelayan yang adalah wanita menyentuh tubuhnya.
Tidak butuh waktu lama, Kaizer telah selesai dan mengenakan pakaiannya. Ia menatap matanya pada cermin, sedikit sembab, sangat jelas bahwa ia habis menangis, Kaizer mendesah pelan kemudian keluar dari kamarnya dengan raut wajah datar. Banyak yang akan memperhatikkannya, jadi Kaizer memilih menghilang dari sana dan menuju rumah Athena.
Kaizer telah duduk du sofa ruang tamu milik Athena. Pria itu menatap langit-langit kamar Athena.
"Sangat nyaman, berbeda dengan sofa kerajaan," kata Kaizer.
Semalaman ia tidak tertidur, sejak Athena pulih, ia tidak bisa kesini tanpa alasan. Jadi ia akan datang kesini sesuka hatinya walaupun Athena akan marah padanya.
Lambat laun mata Kaizer memberat dan pria itu limbung dan tertidur di sofa Athena yang panjang.
KRIEETT....
Athena kembali ke rumahnya, ia menutup toko di sore hari. Athena menutup pintu setelah mengucapkan terima kasih pada Gavin yang telah rela mengantarnya pulang.
"Eh?!" Athena memekik tertahan ketika mendapati pra tertidur di sofanya.
Athena mendekatinya kemudian berjongkok agar sejajar dengan wajah si pria.
"Kaizer? Dia tertidur begitu nyenyak, tapi kenapa di rumahku?" gumam Athena.
Athena menatap wajah tampan Kaizer, kemudian dahinya mengkerut ketika mendapati jejak air mata pada sudut mata pria itu.
Jemari Athena terulur menyingkap rambut Kaizer yang agak panjang, pria itu berkeringat, rumahnya memang panas. Namun, ia terkejut ketika Kaizer membuka sedikit matanya, Athena segera menarik tangannya kembali tapi Kaizer justru menarik tengkuk Athena kemudian mencium bibir gadis itu, Athena terkejut.
"K-kaizer!" Athena mendorong tubuh Kaizer.
Kaizer memejamkan matanya kembali terkekeh kemudian tersenyum sumringah, " Bibirmu manis," racaunya.
Pria itu membalikkan tubuhnya membelakangi Athena.
Athena yang masih kaget, hanya duduk di lantai dengan jantung yang berdetak tak karuan. Ia menatap Kaizer dengan kesal. Pria itu bermimpi!
"K-kau mimpi? Akh! Sial!" gumam Athena dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Gadis itu segera berlari naik tangga menuju kamarnya, sedangkan Kaizer menutup wajahnya dengan sebelah tangan, wajahnya memerah.
"Aku malu," batin Kaizer. Ia langsung bersikap seolah-olah tengah mengigau, ia takut menghadapi kemarahan Athena karena ia lancang.
Athena cukup lama tidak turun. Kaizer jadi khawatir sebab gadis itu belum juga keluar dari kamarnya, sedangkan ia telah duduk di sofa dengan rambut berantakan.
"K-kau sudah bangun?" tanya Athena yang baru saja menuruni tangga.
Kaizer menoleh dengan cepat kemudian tersenyum kaku, " Iya."
Athena memalingkan wajahnya ke arah lain, kemudian mendekati Kaizer dan duduk di hadapan Kaizer.
"Seharusnya kau jangan masuk ke rumah orang sembarangan!" kata Athena marah.
"Kenapa?" tanya Kaizer.
"Kau itu seoran raja. Dan lagi kenapa kau tertidur di rumahku?! Di kastilmu kan lebih nyaman, aku ini wanita, dan kau pria. Tidak boleh sembarangan. Lagi pula ini rumahku!" omel Athena.
Kaizer mendekati Athena kemudian mengurung Athena dengan kedua tangan berada pada sisi kepala Athena.
Sontak Athena menutup mulutnya, dan itu membuat Kaizer tertegun dan tertawa keras melihat ekspresi Athena.
"Apa yang kau tertawakan?!" bentak Athena kesal.
"Kenapa kau menutup mulutmu? Kau kira aku ingin menciummu?" tanya Kaizer
Athena mendorong Kaizer lalu berdiri dengan tangan bersedekap di dada.
"Huh! Percaya diri sekali kau?!" ketus Athena kemudian berjalan melewati Kaizer.
"Kau mau kemana?" tanya Kaizer.
"Aku lapar dan ingin masak!" ketus Athena.
"Aku ingin ikut,"
Athena memutar bola matanya malas kemudian menunjuk kursi serta meja yang ada di dekat dapur.
"Kau duduk disana saja, jangan mengangguku!"
"Aku juga lapar."
Athena mencebik kesal, seharusnya jika lapar, Kaizer lebih baik kembali dan meminta pelayan memasakkannya lagi pula masakan kerajaan lebih enak.
"Aku akan membuatkannya juga, jadi diamlah disana."
Kaizer mengangguk, ia duduk dengan menompang wajahnya dengan sebelah tangan. Ia memperhatikan Athena yang memasak, sejenak ia merasa bahagia. Berada di dekat Athena membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
"Jangan melamun dan makanlah," tutur Athena yang telah meletakkan makanan di hadapan Kaizer.
Pria itu berkedip lucu kemudian segera menatap makanan yang disajikan Athena.
"Kenapa? Tidak seindah hidangan kerajaan?" tanya Athena pada Kaizer yang tidak kunjung menyuap makanannya.
Kaizer mendongkak, ia melempar atensi pada Athena.
"Athena, jadilah istriku."
BERSAMBUNG..