
...SELAMAT MEMBACA...
Regaz mengusap wajahnya kasar. Pria itu mengusap pipi Athera dengan lembut. Wanita itu terbaring di kamarnya. Regaz membawa Athera ke dalam kamarnya kemudian terus menatap wanita itu tanpa niat beranjak dari sana.
"Hamba datang, Yang Mulia." Ruoxi baru saja memasuki kamar Regaz kemudian menunduk hormat.
"Kau sudah dengar?" tanya Regaz.
Ruoxi mengangguk. " Berita in telah tersebar dalam istana."
"Selidiki penjara khusus budak kemudian temukan beberapa petunjuk di sana. Aku akan segera menyusul setelah menenangkan Athera dan menjelaskan semuanya. Ajak Tier untuk menemanimu lalu setelahnya aku akan mengadakan rapat tertutup. Jangan sampai berita ini terdengar oleh kakak Athera. Semuanya akan menjadi lebih runyam," jelas Regaz.
"Siap, Yang Mulia!" Ruoxi menunduk hormat kemudian segera keluar dari dalam sana untuk melaksanakan perintah Regaz.
Regaz tidak pernah berpikir ini akan terjadi. Pagi ini semuanya baik-baik saja sampai ia membawa Athera ke kamarnya walaupun berdebat kecil kemudian berita ini tiba-tiba datang dan Athera langsung menuduhnya dengan tatapan terluka begitu dalam dan itu mengganggu pikiran serta hati Regaz sedari tadi.
Regaz melemaskan tubuhnya pada kursi kecil yang ia pakai untuk duduk di sisi kasur dimana Athera tidur. Kemudian sayup-sayup ia mendengar erangan kecil dari Athera hingga Regaz dengan cepat menegakkan kembali tubuhnya.
"Athera... " Regaz berujar lembut.
Athera langsung terbangun ketika mendengar suara Regaz. Ia beringsut di atas kasur menghindari Regaz. Kepalanya sedikit pusing karena langsung bangkit dari tidur.
"Regaz!" Athera menyebutkan nama Regaz penuh penekanan.
"Kau salah paham," jelas Regaz sembari menaiki kasur berusaha mendekati Athera.
Athera tersenyum sinis. Air mata wanita itu kembali luruh dan Regaz tidak suka hal itu.
"Salah paham apa? Bukankah selama ini kau yang salah paham?!" Athera membentak
"Aku tidak membunuh mereka, percayalah."
"Percaya hanya untuk orang yang tidak berdaya!" jawab Athera penuh emosi. Athera berusaha menendang Regaz yang terus mendekatinya namun, Regaz langsung menarik kaki Athera kemudian melepaskannya kemudian dengan sigap kedua tangannya bergerak cepat untuk mencengkram kedua tangan Athera kemudian membuat wanita itu kembali berbaring di kasur dengan dirinya di atas tubuh Athera.
Athera menatap penuh kebencian pada Regaz.
"Pagi ini aku selalu bersamamu, mana mungkin aku membunuh kedua orang tuamu," jelas Regaz.
Athera berusaha melepaskan cekalan Regaz pada kedua tangannya namun, tenaga pria itu begitu besar.
"Kau memiliki banyak suruhan. Bisa saja kau menyuruh para su-"
"Athera! Bagaimana bisa aku membunuh keluargamu di saat aku justru menyukaimu!" Regaz memotong perkataan Athera dengan bentakan.
Athera bungkam. Hazel indahnya seakan dikunci oleh tatapan Regaz yang penuh ketegasan. Pria itu tidak berbohong.
Regaz menunduk dan menyatukan dahinya dengan dahi milik Athera kemudian memejamkan matanya.
"Aku jatuh cinta padamu. Dan aku tidak akan melukai hati serta fisik orang yang kucintai," lirih Regaz.
Athera terdiam. Regaz perlahan membuka matanya kemudian memandang hazel indah Athera dengan hangat tanpa tatapan mengintimidasi seperti biasanya.
"Ku mohon percaya padaku. Aku akan menyeret pelaku pembunuhan orang tuamu kemudian menghukum mati pelaku itu di hadapanmu. Aku berjanji," ujar Regaz penuh keyakinan.
Debaran kecil pada jantung Athera kian bertambah hingga rasanya ia begitu sesak. Hingga tanpa sadar Athera menyunggingkan senyum tipis di saat air mata masih mengalir dari sudut matanya.
"Jika kau bukan pelakunya. Aku akan mencoba mencintaimu. Tapi... Jika kau pelaku yang sebenarnya, aku benar-benar akan membunuhmu." Athera berujar parau.
"Kau masih tidak mempercayaiku rupanya."
"Kau melupakan masa lalu yang telah kau ciptakan. Kau tidak mempercayaiku dan aku ragu mempercayaimu. Aku tidak bisa menebak orang sepertimu, Regaz."
Regaz menghela napas kasar lalu perlahan pria itu merundukkan wajahnya kemudian mencium bibir Athera. Regaz hanya menempelkan bibirnya pada bibir Athera cukup lama tanpa pergerakan sedikit pun.
Regaz menjauhkan wajahnya kemudian menatap Athera yang hanya diam.
"Kalau begitu pahami segala tentangku agar kau mudah menebakku. Beri aku sedikit kepercayaanmu." Regaz menatap Athera dengan tatapan sulit terbaca
Athera memalingkan wajahnya. Regaz menghela napas frustasi kemudian melepaskan Athera lalu turun dari kasur.
"Istirahatlah dulu," ujar Regaz lalu pergi keluar.
Sedangkan Athera hanya diam. Ia mencoba mempercayai Regaz. Namun, pikiran serta perasaanya kacau akibat semua masalah ini.
"Aku akan benar-benar menjadi pembunuh di zaman ini." Athera berujar sinis. Kemudian wanita itu turun dari kasur dan berdiri tegap. Punggung tangannya mengusap kasar air mata pada wajahnya.
"Aku akan membunuh pelaku itu. Aku akan berusaha menemukannya. Jika bukti yang kutemukan merujuk pada Regaz sepenuhnya, maka akan kubunuh kedua orang tuanya pula," ujar Athera pada dirinya sendiri.
...***...
PRAK.. PRAKK.. PRAKK
Pria berambut coklat dengan mata sipit bertepuk tangan dengan senyum merekah. Ia amat bahagia hari ini.
"Racun ini begitu hebat!" Dia memegang dua botol kecil yang sudah kosong sembari mengangkatnya di udara.
Pria paruh baya yang berada di dalam sebuah toko tua hanya tersenyum kecil.
"Anda sangat puas, Tuan Muda," ucap pria paruh baya itu.
Pria yang dipanggil tuan muda itu kembali terkekeh kecil lalu meletakkan dua botol itu di atas meja kayu di mana pria paruh baya itu tengah duduk di kursi tuannya.
"Beri aku dua botol lagi," pintanya.
"Apakah anda mencoba membunuh satu keluarga?" tanya pria paruh baya itu diselingi tawa.
"Ya. Aku telah membunuh keluarga dari wanita lemah yang telah membuatku murka. Ia tidak akan mampu melawan karena sesuatu yang berkaitan dengan pembunuhan akan membuatnya ketakutan," jawabnya.
"Anda terlalu gegabah Tuan Muda. Apakah ayah anda tau?"
"Tentu saja. Ia bahkan ikut membantuku," jelasnya.
"Lalu untuk siapa lagi dua botol ini?"
"Tentu saja untuk Permaisuri Athera serta kakaknya yang bodoh itu. Akh! Aku melupakan adik pembantunya itu. Berikan aku tiga!" tuturnya lagi dengan bersemangat.
Pria paruh baya peramu racun sekaligus orang milik pria yang disebut tuan muda itu tersenyum puas. Sudah lama ia tidak diperintahkan untuk meramu racun dan sekarang ramuannya begitu banyak digunakan oleh tuan mudanya.
Pria itu mengambil tiga botol yang diserahkan pria paruh baya padanya.
"Sebentar lagi Athera akan menemui ajalnya. Ia akan ku pertemukan pada orang tuanya, hahaha!"
...BERSAMBUNG......