Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 27



...SELAMAT MEMBACA...


Mobil mewah Yudis telah memasuki halaman rumah milik keluarga Esse, ia telah memarkir mobilnya di sana kemudian berjalan ditemani kepala pelayan yang menunjukkan arah di mana Angela sekarang berada.


Athera memandang takjub keindahan kediaman keluarga Esse. Bangsawan Esse masih sangat kental dengan gaya kerajaan zaman dulu. Athera terus melangkah di samping Yudis yang tampak begitu tenang memasuki tempat ini. Jujur, Athera baru pertama kali menginjakkan kaki di sini.


"Dimana Angela?" bisik Athera.


"Di dalam sana," jawab Yudis ketika mereka berbelok memasuki lorong kemudian di ujung terdapat sebuah pintu besar.


Mereka mendekati pintu, kepala pelayan dengan sopan membukakan pintu dan mempersilakan dua keluarga kebangsawaan itu memasuki pekarangan. Athera menatap takjub, bagaimana bisa pekarangan berada di dalam sebuah ruangan. Pekarangan dengan rumput hijau memenuhi tempat itu. Tempat bundar yang dikurung oleh bangunan kokoh, jadi siapapun bisa datang tanpa melalui pintu yang mereka masuki. Pekarangan ini juga memiliki atap kaca otomatis. Athera benar-benar terpukau, belum lagi banyak sekali jenis bunga di dalamnya. Tapi... Di mana Angela?


"Yudis.." Athera memanggil Yudis yang menyentuh salah satu bunga di sana.


"Ya?"


"Di mana Angela? Dia ingin dijemput, tapi kenapa kita dibuat menunggu dan berada di sini?"


Yudis mengedikkan bahunya. "Entahlah."


Athera memilih berkeliling melihat bunga-bunga di sana, ketimbang jengah menunggu Angela serta kakaknya itu. Athera sedikit menghela napas karena pikiran negatifnya ternyata tidak terjadi.


Sedangkan di tempat yang sama.


Regaz mendengus kesal melihat Angela terus menarik lengannya, adiknya itu mengajak dirinya untuk berjalan-jalan bersama temannya yang bernama Yudis.


Mereka sampai di pekarangan. Angela sampai lelah hanya mengajak Regaz dengan paksa untuk segera menemui mereka. Angela dan Regaz awalnya berada di sana. Namun, mereka harus kembali lagi karena ternyata kepala pelayan membawa mereka kesana. Angela tersenyum puas kemudian berjalan mendekati Yudis yang sibuk menikmati bunga disana. Sedangkan Regaz membeku di posisinya, dadanya bergemuruh ketika melihat wanita yang benar-benar mirip Athera tengah berada di sana. Tidak! Dia pasti Athera. Regaz berusaha mengontrol emosinya. Ia hampir saja berlari kemudian memeluk Athera.


"Athera membenciku sebelum berpindah ke sini," batin Regaz dengan mengepalkan tangannya, ia ragu untuk mendekat karena bisa saja Athera berlari darinya kemudian menyembunyikan diri dan Regaz tidak mampu menemukannya. Takdir membantunya.


Regaz tersenyum miring. "Aku akan menggunakan cara lain agar Athera benar-benar menjadi milikku. Dan aku harus bersabar kali ini."


Regaz berjalan mendekati Athera, wanita itu sibuk sendiri dengan acara melihat bunganya. Ia mengabaikan Angela dan Yudis. Regaz merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan handphonenya.


Klik.


Athera mendongkak ketika telinganya tak sengaja menangkap suara kecil seperti tangkapan kamera.


Klik.


Athera berjengit kaget ketika seorang pria berdiri di hadapannya dengan sebuah handphone yang terarah padanya. Pria itu kembali mengantungi handphonennya.


"Regaz!" Athera meninggikan suaranya. Kali ini detak jantung Athera membuat dirinya sendiri sesak. Pria di hadapannya benar-benar Regaz.


Angela masih kurang percaya diri berkenalan dengan Athera Liontina, jadi ia memilih bertanya pada Yudis. Namun, mereka beralih fokus ketika mendengar suara tinggi Athera. Mereka menghampiri kedua orang di sana.


"Kalian saling mengenal?" tanya Angela.


Regaz mengedikkan bahunya acuh. " Tidak. Aku baru saja melihatnya."


Athera menaikkan sebelah alisnya. "Kau berpura-pura?"


Regaz menautkan alisnya. "Apa maksudmu?"


Athera berkacak pinggang, sungguh tidak sopan berkacak pinggang di depan calon pewaris kepala keluarga bangsawan Esse.


"Jika kau tidak mengenalku, kenapa tiba-tiba mengambil fotoku," balas Athera.


Regaz tersenyum miring lalu berujar, "Aku sedang mengambil foto bunga yang begitu cantik tadi, Nona. Aku tidak mengambil gambarmu."


Athera jadi malu, tapi jelas-jelas kamera itu terarah padanya. Athera memilih mendekati Yudis.


Yudis menggaruk tengkuknya kemudian menatap Regaz dengan rasa bersalah.


"Maafkan dia. Oh ya, Dia adalah Athera Liontina." Yudis mencoba mencairkan suasana dengan memperkenalkan Athera.


Angela ikut bersuara ketika Regaz begitu acuh, "Dia kakakku, namanya Regaz O'pray Esse. Kalian bisa memanggilnya Regaz."


Athera yang mendengar nama lengkap itu langsung kembali menatap Regaz. Apa benar pria itu bukan Regaz? Tapi kenapa namanya berubah seperti itu? Jika benar ini adalah Regaz, Athera yakin Regaz tak akan mampu menggunakan handphone karena di otak Regaz hanya ada taktik berperang.


"Sebaiknya kita berjalan-jalan di sini saja, sekalian memperkenalkan beberapa tempat di dalam kediaman kami," usul Angela lagi karena sepertinya Regaz jadi malas pergi jika kondisinya seperti ini.


"Angela kau bersama Yudis. Biar aku yang menemani Nona ini untuk berkeliling," jelas Regaz.


"Aku tidak mau," tolak Athera begitu saja.


Yudis melotot kemudian ia mendekati Athera seraya berbisik, " Athera, turuti kemauannya. Aku ingin berduaan dengan Angela."


"Kau mengorbankan temanmu hanya untuk asmaramu?" jawab Athera sangat pelan dan Yudis menatap harap pada  Athera.


"Jadi kalau begitu, biar aku yang bersama Athera," ujar Angela.


Athera menggeleng. "Aku akan bersama kakakmu."


Yudis tersenyum senang kemudian mendekati Angela dan mereka pergi meninggalkan tempat itu. Dan kini Regaz serta Athera saling padang.


Regaz mengulurkan tangannya pada Athera namun, gadis itu memalingkan wajahnya.


Regaz menahan senyum gelinya, "Kenapa kau terlihat begitu membenciku, Nona?"


Athera menatap Regaz, "Apa benar dia bukan Regaz?


"Kau mirip seseorang yang aku benci," jawab Athera.


Regaz menurunkan tangannya kemudian berusaha tersenyum, "Jangan membenciku dengan alasan seperti itu, Nona."


Athera memilih diam, ia malas menyahuti perkataan Regaz. Mereka mulai berjalan mengelilingi kediaman disana.


Athera lebih banyak diam sedangkan Regaz terus mencari topik pembicaraan. Agar Athera sedikit melunak. Mereka kini memasuki jalan berbatu yang begitu lebar dan di setiap pinggirannya terdapat kolam ikan. Kediaman Esse benar-benar sangat indah. Athera terus memperhatikan kolam ikan tanpa memperhatikan langkahnya, hingga akhirnya ia terjebam di bebatuan.


Duk.. krak..


Regaz terkejut bukan main ketika Athera yang masih di belakangnya tiba-tiba jatuh sambil meringis. Lutut gadis itu terluka karena ia menggunakan dress peach selutut.


Regaz langsung mendekati Athera dan berjongkok di hadapan wanita itu. "Kau kurang berhati-hati."


Athera hanya diam seraya menahan rasa sakitnya, pria itu hendak menggendong Athera namun, Athera menepis kedua tangan Regaz.


"Aku bisa sendiri." Athera mulai berdiri namun, ia kembali terjebam ketika kakinya begitu sakit.


"Kau terkilir. Jangan terlalu keras kepala," nasihat Regaz kemudian dengan paksa ia menggendong Athera dan meninggalkan tempat itu. Athera ingin memberontak tapi sekarang ia yang membutuhkan pertolongan.


Regaz mendudukkan Athera pada kursi kayu di balkon, tempat tinggi itu langsung menghadap ke arah taman lain di dalam kediaman Esse. Athera ditinggalkan Regaz. Kemudian pria itu kembali dan membawa kotak P3k. Regaz kembali berjongkok di hadapan Athera, pria itu menarik kaki Athera dan meletakkannya di atas pahanya setelah membuka alas kaki gadis itu.


Regaz mengobati lutut Athera.


"Perih," keluh Athera. Wanita itu tanpa sadar meremas kemeja hitam Regaz pada bagian bahu.


Regaz tampak masa bodo ketika remasan Athera pada bahunya begitu kuat apalagi kuku gadis itu panjang-panjang.


Regaz mendongkak kemudian menatap Athera lekat, "Masih sakit?"


Athera bersemu ketika wajah penuh perhatian Regaz mengarah padanya.


Regaz mengkerenyitkan dahinya, sepertinya masih sakit. Wajah Athera memerah seperti menahan rasa sakit. Regaz kemudian turun memijit pergelangan kaki kanan Athera yang terkilir. Regaz dari keluarga Esse ini ternyata pria penuh perhatian. itu pikir Athera.


Pelipis Regaz terlihat berkeringat dan itu justru membuatnya semakin tampan dan Athera justru memandangi wajah Regaz.


Klik.


Athera terbelalak ketika Regaz kembali mengeluarkan handphonenya setelah mengambil gambarnya secara tiba-tiba.


Regaz mengantungi handphonenya. "Tanpa sepengetahuanku, kau memandangi wajahku. Jadi agar adil, aku akan menyimpan fotomu agar kupandangi."


Athera mencebik, ia malu tertangkap basah oleh Regaz.


"Ck! Benar-benar menyebalkan seperti Regaz di zaman dulu!" maki Athera dalam hati.


...BERSAMBUNG......