Trapped in the Past

Trapped in the Past
SEASON 2 [Episode 13]



 


SELAMAT MEMBACA


 


Athena menatap nanar tangan yang ia gunakan untuk menampar wajah Kaizer. Perasaan bersalah menyeruak memenuhi hatinya, ia menghela napas berat kemudian keluar dari kamarnya untuk memastikan apakah pria itu masih ada disana atau tidak.


Namun, ketika ia keluar, tidak ada Kaizer disana, hanya ada dapur yang bersih.


Pria itu membereskan kekacauan di dapur. Rasa bersalah Athena semakin besar, ia segera meraih mantelnya, ia akan pergi ke toko bunga setelah menjelaskannya pada Gavin lalu pergi menemui Kaizer.


"Tapi untuk apa aku melakukannya? Mereka memang siapa?" Athena menghentikan langkahnya, tangannya yang terulur pada kenop pintu, luruh begitu saja.


Ia menghela napas berat dan hendak kembali ke dalam kamarnya, namun ketuan pintu membuatnya mengurungkan niat untuk ke kamar.


Pintu rumahnya terbuka. Athena terkejut ketika melihat empat orang pria telah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kami memiliki kepentingan dengan anda," katanya.


"Kepentingan apa?"


"Yang Mulia, mengutus kami untuk membawa anda ke suatu tempat," ujar salah satu dari mereka.


"Ada keperluan apa?"


"Kami tidak tahu Nona. Tapi, Yang Mulia menyuruh kami menjemput anda segera."


Athena menatap ragu orang-orang itu.


"Apa kalian memiliki bukti bahwa kalian utusan dari Yang Mulia?" tanya Athena.


Salah satu pria merogoh saku celananya kemudian menjukkan sebuah papan yang melambangkan simbol kerajaan yang hanya dimiliki oleh orang-orang dalam kerajaan.


Athena mengangguk. " Baiklah."


****


Kaizer duduk dengan raut wajah masam, Irena yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya kemudian menyikut Dren yang beridiri di samping.


"Apa yang terjadi padanya?"


Dren menggeleng, ia tidak tahu sama sekali, sejak pria itu pergi lalu kembali ke kerajaan, raut wajahnya sudah seperti itu.


"Apakah kau tidak mau mengunjungi Athena?" tanya Irena namun yang ia dapati hanyalah pelototan dari Kaizer.


Melihat hal itu, Irena dengan manja memeluk kekasihnya.


"Dren, Yang Mulia menakutiku." ujarnya dengan manja.


Dren hanya tersenyum kaku.


"Apakah kalian akan terus berpelukkan? Jangan membuatku makin marah." cibir Kaizer.


Dren hanya tersenyum kaku lalu menyuruh Irena melepaskan pelukannya.


"Aku baru saja diusir olehnya." kata Kaizer.


Irena membulatkan mulutnya. Kaizer diusir oleh Athena? Ini sebuah berita besar.


"Wanita tidak akan mengusir anda jika tidak punya salah." kata Irena.


Kaizer mengangguk-anggukkan kepalanya. Apakah sebaiknya ia pergi dan meminta maaf? Ah, tidak! Kaizer tidak akan melakukannya, sebab wanita itu menamparnya bahkan berusaha menjelaskan hubungan mereka dengan Gavin. Memang seberapa pentingnya Gavin dimata Athena? Kaizer tidak paham.


"Ck! Jikapun aku salah, aku tidak akan meminta maaf padanya." kata Kaizer kemudian pergi meninggalkan Irena serta Dren.


"Memangnya siapa Athena?" tanya Dren.


Irena menghela napas gusar, ia lupa menceritakan tentang kekasih Kaizer pada Dren.


"Lebih baik kita mengunjungi rumah Athena. Membujuknya agar Kaizer menjadi sedikit bersahabat, biasanya pria itu akan memarahi siapapun jika suasana hatinya buruk." kata Irena sembari bergelayut manja pada Dren.


Dren tersenyum kemudian mengacak pelan rambut kekasihnya. " Ayo kesana."


***


BRAK!


DUAK


Athena meringis, sudut bibirnya robek ketika satu tamparan mendarat pada wajahnya. Seorang wanita telah berdiri dihadapannya dengan tatapan penuh kebencian. Kalau tidak salah dia adalah Violetta Vilan- salah satu putri bangsawan yang tergila-gila oleh Kaizer serta di samping berdiri seorang pria paruh baya yang tidak dikenali oleh Athena.


"Jadi, Yang Mulia sering keluar karena wanita jelek ini?" katanya.


Kedua tangan Athena dirantai sedangkan kakinya diikat dengan tali yang sangat kuat.


"Apa masalahmu hingga menghajarku?" tanya Athena geram.


"Apa? Ah! tentu saja aku iri sedangkan ayah dia in-"


"Hentikan putriku. Lebih baik siksa saja dia, dengan begitu kau tidak akan memiliki penghalang." ujar pria paruh baya itu.


Athena menggeram marah, ia pikir orang-orang tadi benar-benar suruhan Kaizer, tapu ternyata orang itu adalah suruhan orang lain, Athena berusaha kabur tapi mereka memiliki kekuatan sihir yang cukup hebat, sedangkan dia hanyalah manusia yang mengandalkan kekuatan fisik dan kecerdasannya. Sejak terlibat dengan Kaizer, banyak sekali marabahaya yang mendekatinya dan sekarang penggemar gilanya Kaizer menguntitnya kemudian berniat membunuhnya dengan alasan yang aneh.


JTAR!


Athena merintih ketika cambuk di pecutkan pada punggungnya, rasa perih sangat terasa.


Tentu saja wanita itu melotot dengan raut wajah murka, ia menjambak rambut Athena, agar menatap wajahnya tapi wajahnya justru diludahi oleh Athena.


Wanita itu menjerit, matanya menjadi perih kemudian ia segera berlari untuk mencuci wajahnya.


"Menjijikkan!" raungnya.


"Tunggu aku wanita sialan! Cambuk dia sampai tidak sadarkan diri!" teriak wanita itu sebelum pergi sedangkan Athena tersenyum puas walaupun kali ini beberapa cambukkan mendarat pada punggungnya. Kini ia berhadapan dengan pria paruh baya yang duduk di hadapannya dengan raut wajah tidak suka.


"Apa yang kau ketahui tentang Kaizer?" tanya pria paruh baya itu.


"Aku tidak tahu. Aku tidak dekat dengannya." jawab Athena.


Pria paruh baya itu memberi isyarat pada orang yang mencambuki Athena untuk berhenti.


"Lalu kenapa dia sering datang ke rumahmu?"


"Apakah anda menguntit Kaizer? Pengecut sekali." kata Athena dengan sinis.


Pria itu menggeram.


"Katakan padaku, atau cambuk itu akan terus menyakitimu!"


"Aku tidak akan memberitahukan apapun tentang Kaizer padamu!" desis Athena.


"Lanjutkan sampai dia tidak sadarkan diri," kata pria paruh baya itu kemudian meninggalkan ruangan.


Jtar! Jtar!


Athena menggerakkan kakinya yang diikat dengan tali, di dalam ruangan ini, ia hanya ditemani oleh orang yang mencambuknya. Merasa talinya telah sedikit longgar, Athena langsung pura-pura tidak sadarkan diri.


"Ck! Wanita yang keras kepala, ku kira kuat menahan sampe 50 cambukan!" kata si pencambuk kemudian melempar cambuknya ke sembarang tempat dan pergi keluar ruangan.


Sedangkan Athena tersenyum ketika ia telah sendirian, dengan kuat ia melepaskan tali pada kakinya. Rantai yang mengurung kedua tangannya ia lepas dengan paksa hingga kedua tangannya terluka, bahkan beberapa kulitnya terkelupas.


Athena mendongkak ketika melihat jendela ruangan yang terbuat dari kaca.


"Bodoh sekali." komentar Athena.


Bagaimana bisa ruang penyiksaan diberi jendela kaca, jika begini, sangat memudahkan tawanan kabur. Ternyata otak mereka benar-benar tidak bekerja.


Athena mengepalkan tangannya kemudian dalam satu kali hantam, jendela telah hancur, ia langsung melompat dari sana, sebelum suara itu membuat para penjaga masuk.


"Ah! Menyakitkan, seorang putri mahkota akan memiliki beberapa luka jelek yang memenuhi tubuhnya." kata Athena dengan senyum sinis.


Drap.. Drap.. Drap..


Athena mendongkak ketika mendengar suara derap kaki begitu banyak lalu ketika mendongkak, yang ia dapati adalah orang-orang yang tengah memandang keluar jendela yang ia pecahkan.


"Tawanan kabur! Cepat kejar!" kata mereka.


Athena segera berlari dari sana. Ia harus cari jalan keluar, lebih baik memasuki hutan atau terjun ke sungai untuk menghindari pengejaran.


Wush!


Athena melotot ketika anak panah melesat dan hampir mengenai kepalanya. Sebenarnya siapa orang-orang ini? Kenapa harus ia yang ditawan.


"Ah, tidak!"


Athena tersentak ketika ia berada di ujung jurang. Di bawah sana ada sungai dengan aliran yang cukup deras. Jika terjun ia tidak tahu akan mati atau tidak.


Wush!


Anak panah kembali melesat, mau tidak mau Athena terpaksa menjatuhkan tubuhnya ke sana, ia memejamkan matanya sebelum akhirnya tubuhnya jatuh menampar sungai.


Orang-orang tersebut melirik ke bawah jurang.


"Laporkan pada Tuan Korne bahwa tawanan sudah mati."


Sedangkan di tempat lain.


Irena telah mengetuk pintu rumah Athena berkali-kali, tapi tidak kunjung mendapat respon. Saat lewat depan toko bunga, ia juga tidak melihat ada Athena disana, lalu kemana wanita itu?.


"Kau yakin ini rumahnya?" tanya Dren.


Irena mengangguk. " Iya."


"Lalu kemana dia?" tanya Dren.


Koak!


Mereka melempar pandang pada Griffin yang baru saja mendarat pada bahu Dren.


"Lihat, bahkan Iryu menjaga sekitaran rumah Athena. Kaizer begitu perhatian bukan." kata Irena pada Dren.


Dren mengangguk. Namun ada yang aneh pada Iryu yang terus berkoak. Ia tidak paham apa yang dikatakan hewan ini.


"Ada apa dengannya?" tanya Dren.


"Lebih baik bawa dia ke Kaizer. Sepertinya sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada wanita yang kau maksud." jelas Dren.


 


BERSAMBUNG...