Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 37



...SELAMAT MEMBACA...


Anabela serta Azen selamat dari kecelakaan. Mereka mengalami luka yang cukup serius, tapi sudah pulih dalam beberapa hari. Sangat beruntung. Di lain sisi pengemudi mobil besar tersebut meninggal dunia.  Mereka berdua masih dirawat pada rumah sakit setelah empat hari kecelakaan itu. Anabela harus memakai kursi roda karena kakinya mengalami patah tulang sedangkan Azen hanya cidera di bagian kepala serta lengannya.


Athera yang mendengar kabar itu sedikit merasa bersalah tapi ia yakin itu adalah balasan dari perbuatan mereka. Tapi tetap saja ada rasa bersalah yang mengganjal di hatinya hingga akhirnya ia akan datang menjenguk Azen.


Mereka telah berada di dalam ruang inap milik Azen. Pria itu tengah tertidur di sana ditemani beberapa keluarganya. Regaz serta Athera disambut hangat oleh keluarga Azen. Cukup lama mereka berbincang kemudian mereka kembali namun, Regaz mengajak Athera untuk menjenguk Anabela yang tidak jauh dari ruang inap milik Azen. Namun, istrinya itu menolak dengan wajah malas.


"Kalau begitu, tunggu aku di dalam mobil, oke." Regaz mengelus punggung istrinya.


Regaz tidak boleh lupa bahwa Anabela adalah putri dari keluarga bangsawan dan ia adalah kepala keluarga dari bangsawan tertinggi dan ia telah mengunjungi Azen, tidak enaknya jika mereka iri akibat ia hanya melihat kondisi Azen saja.


Regaz telah berada di depan pintu Anabela yang memberi sedikit celah, di dalam sana ia bisa lihat ada kakak lelaki sulung Anabela. Ia baru ingin mendorong pintu dengan ucapan permisi namun, ia mengurungkan niatnya dan memilih berdiri dengan ekspresi murka disana.


"Athera melakukan hal ini! Kakak tolong aku! Lihatlah kedua kakiku!" Anabela berujar penuh penekanan sembari menunjuk kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan sama sekali.


Alex, kakak dari Anabela. Pria itu telah mendengar semua cerita adiknya. Lagi pula ia juga memiliki dendam dengan Athera akibat wanita itu menolak lamarannya. Wanita itu terlalu angkuh dengan kecantikan dan kekayaannya dan sekarang wanita itu merebut kekasih adiknya.


"Kakak.. Aku ingin kau membunuh Athera atau membuatnya cacat," pinta Anabela.


"Tentu saja, adikku. Wanita seperti dia itu tidak pantas hidup."


Di depan pintu, Regaz mengepalkan tangannya. Regaz tersenyum mengerikan kemudian kakinya mendorong pintu dengan perlahan hingga Anabela serta Alex terkejut melihat kehadirannya. Lalu Regaz menutup pintu setelah ia masuk ke dalam.


"Kalian mau membunuh istriku?" tanya Regaz dengan tawa yang mengejek. Anabela bisa lihat ekspresi penuh ancaman menggantung pada wajah tampan Regaz.


Alex terkejut bukan main, pria itu menggeleng kaku, kemudian tersenyum ramah. "Ternyata, Tuan Regaz datang berk-"


Perkataan Alex terhenti ketika tatapan Regaz menatapnya penuh intimidasi. "Aku telah terbiasa membunuh musuh, jika kalian mengusik ketenangan sekitarku. Maka bersiaplah mati. Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Jika kalian mengincar istriku maka keluarga kalian semua akan  mati disusul kalian juga."


Alex merasa tubuhnya gemetar begitu pun Anabela yang ketakutan bukan main. Saat ini, Regaz itu benar-benar seperti pembunuh yang mengancam korbannya . Jika tahu Regaz akan datang mungkin ia akan lebih berhati-hati. Regaz sendiri begitu ringan mengatakannya karena memang di zaman dulu, ia adalah seorang Raja yang tidak belas kasih ketika bertemu musuh. Ia membunuh ratusan ribu musuh ketika berkali-kali melakukan perang. Membunuh adalah kemampuan Regaz.


Regaz memutar tubuhnya hendak meninggalkan dua orang tersebut namun, langkahnya terhenti. "Urungkan niatmu. Sampai kau menyentuh sedikit ujung rambut istriku, maka bersiaplah mati di tanganku. Aku tidak akan menyisakan sedikit pun keluarga kalian."


BRAK!


Alex berjengit kaget ketika pintu tertutup rapat dan Regaz telah pergi. Pria itu berkeringat.


"Itu pasti hanya gertakan. Kau tahu kan bahwa Regaz adalah pria yang bahkan tidak bisa beladiri. Dia bahkan selalu membawa pengawal sebelum mengalami mati suri," tutur Alex berusaha menenangkan pikirannya.


Anabela ikut mengangguk. " Lagi pula, dia tidak akan berkutik jika Athera telah kita bunuh duluan sebelum ia melindungi istrinya itu."


"Benar. Aku dan kau akan tetap membunuh Athera. Tidak! Kita akan membunuh keduanya," tutur Alex. Mereka akan menyewa pembunuh bayaran. Di dunia modern ini, pembunuh bayaran yang begitu hebat.


...***...


Regaz memejamkan matanya. Pria itu khawatir jika Alex serta Anabela masih bersikukuh pada rencana itu. Ia akan selalu mengawasi Athera. Kemana pun istrinya itu berada ia akan mengawasinya. Seperti pagi ini, Regaz membawa Athera ke tempat kerjanya. Lagi pula, ia pun tidak bisa siaga jika dirinya bekerja dan Athera di rumah saat sedang hamil begini.


"Kenapa kau tiba-tiba tidak mau meninggalkanku di rumah?" Athera bertanya dengan alis terpaut untuk menuntut jawab Regaz.


Regaz yang duduk di kursi kerja dengan laptop di atas meja kerjanya, mengalihkan fokus pada istrinya yang duduk di sofa tidak jauh darinya. Regaz mendekati Athera kemudian ikut duduk di sofa.


"Aku khawatir kau kenapa-napa saat aku tidak ada di rumah, lagi pula kau bisa tiduran di dalam sana," tutur Regaz seraya menunjuk ruangan yang dipakai sebagai kamarnya jika pulang terlalu larut dan lelah untuk pulang.


"Aku bisa menelpon jika terjadi sesuatu," jawab Athera berusaha membuat Regaz tidak perlu terlalu ketat seperti ini padanya.


Regaz menggeleng pelan. " Kau memang bisa menelponku lebih cepat  Tapi kedatanganku pasti membutuhkan waktu, sayang."


"Tapi, aku bosan jika di sini terus." Athera mengkerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu setelah pekerjaanku selesai, kita akan pergi ke Flous Grand Company. Kudengar tempat itu sangat indah dan cocok dikunjungi bagi mereka yang memiliki pasangan," tutur Regaz sembari mengusap puncak kepala istrinya.


Athera mengangguk antusias dengan senyum lebar. Dan setelahnya ia duduk tenang sembari memperhatikan Regaz. Ternyata waktu terasa begitu lama jika ia perhatikan. Jadi, Athera memilih tidur di sofa. Regaz terkekeh melihat istrinya tidur di sofa. Pria itu menggendong Athera menuju kamar dan meletakannya secara perlahan di atas kasur kemudian melanjutkan pekerjaanya.


"Akhirnya selesai," tutur Regaz.


Pria itu lanjut membereskan barang-barangnya kemudian menghampiri Athera yang tertidur.


"Sayang, bangun." Regaz mencubit pelan pipi Athera. Namun, tidak ada pergerakan sama sekali bahkan istrinya itu mengubah posisi tidurnya.


"Kita jadi ke Flous Grand Company, kan?" tanya Regaz. Sontak Athera terduduk dengan mata masih terpejam, "Hmm, ya!"


"Mau digendong?" Regaz berdiri kemudian merentangkan kedua tangannya.


Athera mengangguk. "Ya, aku malas berjalan."


Regaz tersenyum tipis kemudian menggendong Athera. Istrinya itu menyembunyikan wajah pada dada bidangnya. Regaz tidak peduli ketika seluruh pasang mata karyawan mengarah padanya.


"Bos, memang suami idaman!" puji para pegawai wanita di sana ketika Regaz telah menghilang dari balik lift


Lalu di mana parkiran mobil berada. Mobil hitam dengan seseorang di dalamnya sudah hampir dua jam berdiam diri di sana. Pria itu langsung tersenyum ketika target yang ia tunggu-tunggu telah datang dan memasuki mobil.


"Tidak sia-sia, kita menunggu waktu lama bos," sahut anak buahnya yang ternyata menyembunyikan diri dalam mobilnya.


"Ikuti dia, kita akan membunuhnya," tutur pria berkaca mata hitam itu kemudian menyuruh anak buahnya mengendarai mobil.


...***...


"Regaz, kita melewati tempat yang kau maksud kan?" tanya Athera ketika Regaz tidak memberhentikan mobilnya saat tempat dengan tulisan besar  'Flous Grand Company' mereka lewati begitu saja.


Regaz melempar senyum ke arah istrinya. "Aku akan mengantarmu ke rumah ayah dulu."


"Kenapa?"


Regaz menyentuh pipi istrinya lembut dengan sebelah tangan yang sibuk memegang kemudi. " Nanti kujelaskan. Untuk sekarang kita akan sedikit cepat."


"Aku mencintaimu, masuklah ke dalam terlebih dahulu. Aku janji akan menjemputmu nanti malam," ucap Regaz setelah Athera telah keluar dari mobil dan suaminya kembali pergi melajukan kendaraannya. Sedangkan Athera meremas dadannya erat. Ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Sedangkan di tempat lain, pria bernama Keynad berdecak kesal ketika ia kehilangan jejak targetnya. Keynad adalah suruhan orang milik Alex serta Anabela dan kini ia telah memanggil kawanannya. Ada sekitar empat mobil hitam di sana. Mereka berada di perkotaan. Namun selang beberapa menit mereka kembali melajukan mobilnya ketika beberapa kawanannya mengkonfirmasi bahwa ia menemukan kembali keberadaan mobil yang di tumpangi targetnya. Alex membayar cukup mahal untuk pembunuh bayaran dari sebuah organisasi kejahatan besar bernama Exdanger-Company.


Mereka kembali memasuki mobil kemudian melajukan mobil mereka. Target mereka adalah Regaz serta Athera. Keynad tersenyum kemenangan ketika mobil tersebut sudah dalam pandangannya. Keynad telah hapal plat mobil Regaz. Regaz memarkir mobilnya di gedung tua dan kosong. Ah, benar-benar mengantarkan diri.


Sepasang mata berkilat penuh amarah dengan tubuh atletis yang sempurna. Pemilik mobil itu adalah Regaz. Keynad tidak menemukan wanita itu di sana. Apakah pria itu telah menyadari kehadirannya sejak awal hingga menyembunyikan istrinya lebih dulu kemudian mengantarkan diri.


Regaz bisa lihat ada Empat mobil terparkir di belakang mobilnya. Setiap mobil memiliki Enam orang di dalamnya dan total semuanya adalah 24 orang. Mereka memiliki senjata  berupa kapak. Seharusnya Regaz beruntung karena mereka tidak menggunakan pistol sebab pria ini bahkan belum tahu cara menggunakan pistol.


Keynad berdecak kagum ketika tidak ada sorot ketakutan pada mata Regaz.


"Bunuh dia!" perintah Keynad langsung pada kedua anak buahnya. Ia pikir dengan dua anak buah saja maka Regaz akan mati. Namun, betapa terkejut ia ketika Regaz dengan mudahnya membunuh kedua anak buahnya tanpa belas kasih seakan tengah berhadapan dengan hewan yang akan dikurbankan. Benar-benar mengerikan.


"Apakah Alex yang menyuruhmu?" tanya Regaz. Pria itu masih memakai setelan baju kantor. Ia melempar jas hitamnnya hingga menyisakan kemeja putih bersih yang tengah ia gulung hingga siku. Sedikit ternoda darah sebab ia baru saja membunuh anak buah Keynad.


Regaz mendekati dua kapak yang tergeletak di hadapannya kemudian mengacungkannya pada Keynad yang tidak menjawab pertanyaannya. " Jawab, atau salah satu dari mereka akan mati lagi."


Keynad menampilkan senyum sarkas kemudian menyedekapkan tangan di dada sembari bersandar pada tubuh mobilnya. " Kujawab atau tidak, kau tidak mungkin membunuh kami dari jarak segitu."


WUSH.. GRUP.. AKH!


Satu kapak melayang kemudian tepat mengenai kepala anak  buah Keynad. Semua orang itu terkejut melihat satu temannya lagi langsung mati.


Regaz tersenyum miring kemudian kembali bertanya, " Apa yang diperintahkan Alex?"


Keynad kini tidak bisa memandang remeh sosok di hadapannya. " Anabela menyuruh kami menggugurkan kandungan istrimu sedangkan Alex menyuruh kami membunuhmu."


"Menggugurkan? Ah, jadi kalian akan menjalani perintah ini?" tanya Regaz.


Keynad mengangguk, kemudian menjawab dengan ringan, " Lagi pula, hanya menggugurkan."


Regaz benar-benar murka. Regaz mencengkram kuat kapaknya yang tersisa satu di tangannya. Setelahnya ia berlari menyerang para orang yang mengincar istrinya.


Keynad berdiri seperti orang bodoh. Sikap angkuh dan tindakannya tidak sepadan. Keynad melotot ketika seluruh anak buahnya habis oleh satu orang. Sosok di hadapannya benar-benar mesin pembunuh. Lebih mengerikan dari pada Pemimpin organisasi yang Keynad tempati. Wajah tampan Regaz telah dipenuhi darah begitupun pakaiannya. Kapak yang masih ada di tangannya ia jatuhkan kemudian mendekati Keynad yang tidak berkutik sama sekali. Regaz mencegkram kuat dagu Keynad.


"Kau mau mati atau hidup?" tanya Regaz. Namun, Keynad membisu dengan tangan yang berusaha menahan cekalan Regaz pada lehernya.


Regaz tersenyum miring kemudian matanya melirik handphone yang sedikit menyembul keluar pada saku Keynad. Regaz mencekik Keynad kemudian mengambil handphone pria itu. Keynad berusaha meraihnya namun, Regaz mempersulitnya. Pria itu mengunci kedua kaki serta tangannya. Sangat ahli dalam betarung.


"Baiklah begini saja, kau bunuh seluruh keluarga Anabela dan Alex atau orang yang tengah memelukmu erat ini yang akan kuhabisi," ujar Regaz sembari memperlihatkan walpaper handphone milik Keynad. Keynad menggeleng kuat.


"Lakukan yang kuperintahkan, baru kukembalikan barangmu ini." Regaz membanting tubuh Keynad kemudian ia memungut kembali jas hitamnnya. Pria itu membuka kemeja putihnya kemudian memasuki mobil meninggalkan Keynad. Kekasihnya dalam bahaya. Ia harus melaksanakan perintah Regaz.


Ini sudah menjelang malam, Regaz dengan cepat ke rumahnya. Pria itu membakar pakaiannya kemudian membersihkan diri. Ia akan menjemput Athera. Tapi ia harus kembali direpotkan dengan lengannya yang terkena sabetan kapak. Ia harus memakai pakain hitam. Regaz memilih pakaian rajut bewarna hitam dengan lengan panjang dilengkapi celana  jeans bewarna hitam. Begitu suram namun Regaz telihat semakin tampan.


Regaz melirik handphone Keynad. Ia mengedikkan bahu acuh kemudian segera pergi untuk menjemput istri tercintannya.


...***...


Athera beserta Hares serta Hareta dikejutkan dengan kabar bahwa keluarga Anabela dibantai oleh pembunuh bayaran. Baru terjadi beberapa jam yang lalu. Seluruh keluarga Anabela mengalami luka berat hingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit besar. Namun beberapa anggota keluarga lainnya tidak terselamatkan termasuk Anabela. Hal ini langsung mendatangkan para keluarga bangsawan. Athera ikut ke sana bersama Hares serta Hareta untuk melihat kejadiannya.


Disamping itu, Alex nampak begitu marah. Dadanya naik turun. Keynad justru menyerangnya balik apakah mereka gagal membunuh Regaz hingga menyerangnya balik. Ia  bisa lihat para polisi serta ambulan memenuhi kediamannya. Ia menatap Anabela dengan nanar. Kemudian ia mengalihkan tatapannya ketika keluarga Hares, Esse, serta Vensi tiba disana.


Athera membungkam mulutnya ketika melihat Anabela sudah terbaring tak bernyawa di sana. Ia bisa melihat Alex menatapnya penuh benci sedangkan polisi yang berada di samping Alex terus menenangkan pria itu.


Regaz  tidak menemukan Athera di  rumah mertuanya. Pelayan di sana memberitahukan bahwa Athera pergi ke kediaman Anabela sebab ada kejadian besar. Regaz tak menyangka bahwa Keynad bergerak sangat cepat hanya demi kekasihnya. Keynad begitu mencintai pasangannya tapi kenapa justru membunuh pasangan orang lain tanpa memikirkan jika dirinya di posisi itu. Regaz langsung menuju kesana.


"Kau puas melihat adikku mati, Athera?" tanya Alex.


Athera langsung menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu, Alex?"  tanya Athera.


"Kau senang melihat keluargaku mati? Ah, bagaimana jika kau juga ikut mati?" ujar Alex kemudian pria itu mendorong polisi di sampingnya setelah berhasil mencuri pistol yang berada di sarung ikat pinggang polisi tersebut. Pistol itu diarahkannya pada Athera yang berdiri sendiri di sana karena orang-orang sibuk dengan ponsel serta para polisi. Mereka semua sontak mengalihkan Atensi pada Athera.


"Apa yang kau lakukan, Alex!" teriak Hares.


"Aku akan membunuh putrimu!" seru Alex. Athera  benar-benar tidak tahu apa masalahnya di sini. Ia sangat takut sekarang sebab pistol Alex mengarah pada perutnya.


Hareta, Angela serta Yudis yang berada di sana, ingin mendekati Athera namun, mereka berhenti ketika ancaman Alex terdengar lantang.


"Jika kalian bergerak mendekati Athera. Pelatuknya akan kutarik!"


Polisi tidak bisa berkutik setelah mendengar hal ini. Sedangkan Regaz yang baru sampai sana terkejut bukan main ketika melihat istrinya sudah ketakutan dengan mata berkaca-kaca sembari kedua tangannya bertengger di depan perut ratanya. Dari kejauhan Regaz juga bisa lihat beberapa polisi mulai bergerak secara perlahan untuk menyelamatkan Athera dengan menembak Alex dari jarak jauh. Mereka juga mencoba mengalihkan perhatian Alex agar ketika tembakan melesat, Alex terkejut dan tidak mengenai Athera. Namun sialnya pergerakan polisi disadari oleh Alex hingga pria itu menggeram tertahan dan menarik pelatuknya.


DOR! DOR!


Semuanya memejamkan mata mereka diiringi teriakan ketakutan.


Alex langsung limbung ketika polisi menembaknya ketika ia telah menarik pelatuknya lebih dulu ke arah Athera.


"Syukurlah," tutur Regaz


Athera yang menutup matanya dengan air mata yang telah mengalir deras langsung membuka matanya ketika seseorang memeluknya dan suara Regaz yang penuh dengan kelegaan.


"Regaz! Akhirnya kau datang!" Athera langsung memeluk suaminya erat diikuti Regaz yang ikut membalas pelukan istrinya.


"Bukankah aku sudah berjanji akan menjemputmu malam ini," tutur Regaz parau. Suara pria itu bergetar seperti menahan tangis.


Athera sendiri membeku pada posisinya ketika tangannya menyentuh sesuatu yang basah pada balik punggung Regaz. Ia pikir keringat tapi ketika ia melihat telapak tangannya, Athera melebarkan matanya ketika darah memenuhi telapak tangannya dan saat itu pula tubuh Regaz limbung tepat di samping Athera dengan mata terpejam.


"R-Regaz.. "


...BERSAMBUNG......