Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 24



...SELAMAT MEMBACA...


Regaz menggunakan pakaian rakyat biasa serta menggunakan rambut palsu dan kumis palsu. Pria itu telah memasuki wilayah Garazelon sembari menuntun kudanya. Ia terus berjalan menuju kerajaan Garazelon. Regaz terlalu pintar dalam siasat. Ia datang menyamar sebagai pembawa pesan rahasia dari kerajaan Virtucal Esse. Hingga nanti ia bisa masuk kemudian bertemu langsung dengan Alexus.


"Maaf, anda dilarang masuk tanpa identitas yang jelas." Pengawal menyilangkan tombak mereka ketika Regaz telah mencapai pintu utama.


Regaz menyentuh kumisnya kemudian mengeluarkan sebuah giok bersimbol kerajaan. Pengawal di pintu utama itu menatap temannya kemudian mempersilakan Regaz masuk.


"Silahkan. Nanti teman kami akan mengantar anda menemui Tuan Besar," ujarnya


Regaz hanya mengangguk kemudian memasuki istana. Saat sampai di dalam ia kemudian dimawal oleh dua pengawal setelah memperlihatkan giok bersimbol kerajaan tersebut. Selama perjalanan Regaz lebih memilih memandang lurus ke depan, ia diajak melalui sebuah jalur yang di sisinya merupakan taman.


Pengawal itu berhenti lalu berujar, " Tuan besar, seorang utusan datang menemui anda."


Alexus yang tengah menemani Athera memberi makan pada ikan di kolam yang tidak terlalu besar, menoleh ketika pengawal datang bersama seseorang di sampingnya.


"Utusan dari mana?" Alexus mendekati orang tersebut, meninggalkan Athera yang tampak acuh dengan kehadiran orang tersebut.


"Silakan perkenalkan dirimu pada, Tuan Besar," bisik pengawal itu.


Orang tersebut mengangkat tangannya di atas kepala untuk membuka rambut serta kumis palsu yang ia pakai. Alexus membelalakkan matanya begitupun pengawal tersebut yang langsung menjauh karena terkejut menyadari siapa sosok yang ia antar.


"Regaz!" Alexus menggeram marah.


Mendengar nama Regaz. Athera langsung bangkit kemudian menatap lurus ke arah sosok yang kini justru menatapnya intens.


Athera yang masih menggenggam kantung cokelat berisi makanan ikan spontan menjatuhkannya karena masih tak percaya melihat Regaz datang ke sini.


Ini taman pribadi dan Alexus tidak pernah menaruh pengawal di sana kecuali pintu utama ketika memasuki taman. Sekarang hanya ada pengawal tadi serta mereka bertiga. Namun, Alexus memberi kode pada pengawal tersebut untuk meninggalkan mereka.


Alexus berusaha tenang kemudian ia menampilkan senyum sarkas pada Regaz yang bahkan tak menatapnya.


"Sungguh istimewa, kau tidak datang dengan pasukanmu?" sinis Alexus.


Regaz mengalihkan tatapannya ke arah Alexus dengan senyum tak kalah sarkas. "Aku takut seseorang membenciku." Setelahnya Regaz melempar atensi pada Athera.


Athera berusaha meninggalkan tempat itu dan Regaz hendak mengejar namun, Alexus justru menghalangi jalannya dan siap menghajar Regaz.


Regaz menatap nyalang Alexus begitupun sebaliknya. Di pikiran mereka masing-masing masih penuh tanda tanya. Seperti Alexus yang bingung bagaimana bisa Regaz tahu keberadaan Athera di sini kemudian tentang cara Regaz yang berbaik hati tidak datang memporak-porandakan wilayahnya setelah tahu bahwa dia yang menculik Athera. Hanya satu dugaan Alexus; Regaz telah mencintai Athera.


"Jika kau tak ikut bersamaku maka cermin penukar nasib itu akan kuhancurkan agar kau tak mampu kembali lagi ke duniamu," ujar Regaz.


Langkah Athera terhenti ketika Regaz membuka suaranya serta menggertakknya, seketika Athera memutar tubuhnya. Hazel indah Athera mengunci tatapan tajam milik Regaz.


"Kau.. "


Regaz memotong perkataan Athera, "Kau berasal dari masa depan, kau mencari cermin itu untuk kembali, bukan?"


Athera berusaha berani, ia tidak akan pernah kembali pada Regaz. Dia tahu bahwa pria itu pasti membohonginya, ia pasti mengetahui ini dari Ruoxi kemudian mencoba mengancamnya.


"Kau hanya menakutiku," desis Athera.


Alexus tersenyum simpul menanggapi ketidakpercayaan Athera. " Cermin itu milikku. Itu adalah warisan leluhur . Dan aku bisa memanggil cermin itu langsung ke sini."


Athera mengepalkan tangannya kuat, ia berharap itu berhasil namun, ia takut jika Regaz menghancurkan cermin itu jika ia bisa memanggilnya. Alexus mulai geram dengan posisinya yang tak tahu apapun.


"Pergilah, kau sendiri yang melepaskan Athera," ujar Alexus.


"Aku tak pernah melepaskan Athera, kau-lah yang berusaha melepaskan ikatan kami." Regaz membantah.


"Tapi kau pernah berusaha melepaskan Athera."


Regaz tersenyum sinis." Bahkan ketika membencinya, aku tidak pernah sedikit pun untuk melepaskannya."


Alexus kehabisan kata-kata, sampai akhirnya Regaz mendorong tubuh Alexus begitu kuat hingga pria itu terpental dan tersungkur dalam jarak yang jauh. Kini Regaz mendekati Athera yang bergeming pada posisinya.


"Buktikan dulu perkataanmu, Regaz!" seru Athera.


Regaz tersenyum kemudian bibirnya bergerak mengucapkan sebuah kata-kata, Athera yakin pasti itu kata-kata dari aksara yang tak mampu ia artikan. Perlahan semuanya terasa aneh. Hari yang begitu cerah mendadak menjadi gelap, awan menghitam seakan ingin turun hujan. Athera lebih terkejut lagi ketika hanya daerah taman yang memiliki perubahan cuaca sedangkan di bagian lain cerah seperti tadi. Lalu Regaz menghentikan pergerakan bibirnya dan saat itu juga sesuatu seperti gumpalan layaknya asap hitam, kini muncul dan membentuk sebuah cermin dengan emas di bagian pinggirnya yang menyerupai bingkai.


Athera membungkam mulutnya, cermin itu sama persis dengan cermin di dalam ruangan ayahnya.


"Sekarang kau percaya?" Regaz bertanya.


Athera tak menjawab namun, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, ini bukan sebuah film fantasi dan Athera bisa melihat hal seperti ini.


"Regaz!"


Athera serta Regaz terkesiap kala Arthur memasuki taman dan berseru menyebut nama Regaz.


Regaz menatap Athera, mengabaikan kehadiran Arthur.


"Aku beri pertanyaan dan kau langsung jawab. Kembali padaku atau kuhancurkan cermin ini," ujar Regaz.


Athera menatap Arthur serta Alexus yang kini tengah berusaha menghampirinya. Athera ingin kembali dan menemui ibunya tapi ada perasaan yang mengganjal pada hatinya ketika harus meninggalkan dunia ini.


"Kau lamban Athera," ujar Regaz kemudian pria itu melayangkan tinjunya pada cermin itu, Athera terkejut kemudian berlari mencegah Regaz namun, Athera yang menahan tinju Regaz justru tersandung hingga menarik Regaz dan menabrak cermin namun, sebaliknya mereka masuk ditelan ke dalam cermin.


Arthur dan Alexus terdiam ketika melihat kejadian itu dan saat itu pula cermin tersebut menghilang dari hadapan mereka diikuti cuaca yang menjadi seperti semula.


"Mereka tertelan?" cicit Alexus sedangkan Arthur mematung dengan ekspersi bingung.


...BERSAMBUNG......