
...SELAMAT MEMBACA...
Regaz menatap nyalang para tabib yang datang hanya sedikit, mereka menunduk takut kemudian bergerak cepat menangani Athera yang telah terbaring di kasur.
"Kenapa hanya segin?!!" bentak Regaz.
Para tabib menunduk kemudian salah satu dari mereka menjawab, " Dil uar sedang ada penyerangan dan beberapa tabib diserang saat kemari, Yang Mulia."
" Penyerangan?" beo Regaz.
"Tiba-tiba beberapa orang berpakaian hitam menyerang kami, mereka datang dalam jumlah yang banyak," jawab para tabib
Regaz mengacak rambutnya, ia menatap Athera yang telah berkeringat banyak dengan bibir hampir menghitam. Dari sekian banyak tabib kenapa bisa yang tidak hadir adalah yang pandai.
"Buat ramuannya!" titah Regaz.
" Kami tidak bisa membuat ramuan tanpa mengetahui jenis racun, Yang Mulia," jawab para tabib.
Regaz mendekati Athera kemudian ia menunduk mencoba mencium aroma yang menguar dari dalam mulut Athera. Regaz menjauhkan dirinya, ia menatap Athera nanar.
"Ideadril, racun ini sepertinya Ideadril namun, dicampurkan bahan lainnya hingga ia mampu membunuh lebih cepat. Kalian buat penawarnya," jelas Regaz.
Mereka terpaku, ia tak menyangka bahwa Regaz pandai tentang racun. Mereka tidak mengira bahwa itu adalah racun Ideadril karena baunya begitu samar dan berbeda.
Mereka semua mulai bergerak mengerjakan perintah Regaz sedangkan pria itu berniat pergi untuk melindungi orang di luar sana. Namun hatinya lebih memilih tetap di samping Athera.
Regaz panik, pria itu berkeringat banyak, jantungnya berdetak tak karuan kala melihat tubuh Athera bergetar hebat, wanita itu menggelengkan kepalanya ke kiri-kanan sembari merintih. Regaz mengenggam kuat kedua tangan Athera.
"Cepat!" Regaz berteriak.
Para tabib bekerjasama hingga menyelesaikan ramuan tersebut, mereka segera mendekati Regaz seraya menyerahkan ramuan yang mereka racik. Regaz dengan sigap meraih ramuan tersebut kemudian meminumkannya pada Athera.
Reaksi Athera yang masih sama membuat Regaz panik karena ramuan yang ia telah minumkan pada Athera belum bereaksi juga. Regaz memeluk erat tubuh Athera dengan memejamkan matanya erat. Para tabib membulatkan matanya ketika melihat reaksi Regaz. Selama ini mereka hanya tahu bahwa Regaz membenci Athera sedangkan Athera sangat mencintai Regaz. Dulu Regaz yang disebut kejam terhadap musuh selalu menyiksa Athera berserta keluarga dan rakyatnya. Tapi.. Entah mengapa semuanya terlihat seperti rekayasa karena Regaz bahkan terlihat ketakutan saat akan kehilangan Athera.
Regaz terus bergumam agar Athera selamat. Tubuh Athera yang semula begetar kini mulai berhenti membuat Regaz langsung melepaskan pelukkannya. Semoga semua baik-baik saja.
" D.. dingin," lirih Athera terputus-putus tanpa niatan membuka matanya, bibirnya sudah bewarna pucat tidak kehitaman seperti awal.
Regaz menatap para tabib kemudian menyuruh mereka keluar dari sana dengan menutup pintu kembali. Setelahnya Regaz mendekati lemari pakaian Athera kemudian mengambil beberapa selimut dari dalam sana kemudian menyelimuti Athera. Regaz sudah dipenuhi keringat. Pria itu langsung menyandarkan tubuhnya pada punggung kasur Athera, ia berada di samping Athera sembari mengusap lembut wajah Athera. Wanita itu mulai tenang.
Ketika Athera meneguk minuman itu, Regaz sempat menahan napasnya dan ia sempat gemetar kala Athera memuntahkan darah. Ia ketakutan. Sungguh, Regaz tak sempat mengenali bahwa ternyata Gresia yang menyamar menjadi Gresha. Ia terlalu terkejut kala melihat Athera begitu kejam menyiksa Gresia. Jadi ia tidak sempat mengenali bahwa itu Gresia. Tapi bagaimana bisa Gresia ikut dalam masalah ini. Regaz tak tahu bagaimana bisa Athera menghadapi semua ini dengan begitu sulit.
Regaz mendekatkan wajahnya dengan wajah Athera kemudian mendaratkan sebuah ciuman pada dahi wanita itu. " Maaf, jika aku mengingkari janji."
Sedangkan di tempat lain, di luar paviliun milik Athera. Seluruh selir ketakutan ketika para pria berbaju hitam menawan mereka secara bergerombolan, salah satu dari mereka menarik paksa Retha kemudian membawa gadis itu pergi seperti mengangkat karung beras. Prajurit sebisa mungkin mencegah namun, mereka kalah hingga akhirnya para prajurit terlatih milik Regaz muncul kemudian membantai para orang-orang milik Alexus itu sedangkan Alexus serta Lois bergerak mencari Athera.
Alexus tersenyum ketika melihat kamar yang ia yakini milik Athera, pria itu langsung menendang pintu kamar tersebut sampai terjatuh. Alexus mulai melangkah masuk namun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Regaz juga di dalam kamar itu dengan kondisi Athera yang tampak tidak baik-baik saja sedangkan Lois diam-diam bergerak mundur ke arah lain dimana ia bisa menggapai Athera ketika Alexus sibuk menghajar Regaz.
Regaz menatap tajam kehadiran Alexus. Ia kira Tier serta Ruoxi mampu menangani para orang ini. Namun sepertinya mereka membawa banyak pasukan.
" Apa maumu sebenarnya?" tanya Regaz. Pria itu berdiri mendekati Alexus. Ia tidak ingin jika Athera terluka lagi dalam kondisi seperti ini.
Alexus menelengkan kepalanya berusaha melihat Athera namun Regaz langsung menutupi arah pandang Alexus membuat pria itu berdecak kesal. Regaz tidak memiliki senjata apapun sedangkan Alexus membawa sebilah pedang. Walaupun begitu Alexus tidak akan menyerang lawan tanpa senjata apapun dengan pedangnya. Ia akan menghajar Regaz dengan tangan kosong.
" Apa yang terjadi padanya?" tanya Alexus dingin.
" Bukan urusanmu," jawab Regaz datar.
"Kau selalu membuatnya menderita," ucap Alexus kemudian memulai dengan menyerang Regaz namun, Regaz dengan mudahnya menghindar.
" Kau sangat mirip dengan Alexus dari kerajaan Garazelon. Apakah ini benar-benar kau, Alexus?" tanya Regaz dengan senyum sarkas.
Alexus mengedikkan bahunya. "Kau memuakkan!"
"Jangan lengah, Yang Mulia." Setelahnya Regaz merasakan pukulan kuat pada wajahnya. Namun, ia segera bangkit berniat menghajar orang yang berusaha membawa Athera pergi namun, Alexus justru menghalanginya. Regaz benar-benar marah kemudian meninju perut Alexus dengan kuat hingga pria itu terpental dan menghantam dinding. Regaz segera kembali untuk melihat Athera namun orang itu telah membawa Athera pergi. Regaz berusaha mengejar namun lagi-lagi Alexus mencegah Regaz.
DUAK! BUGH!
Regaz meringis ketika Alexus menendang kuat punggungnya. Regaz terhuyung namun, dengan sigap ia menegakkan tubuhnya kembali kemudian bergerak dengan cepat mendekati Alexus yang terengah-engah. Regaz mengangkat tubuh Alexus kemudian membantingnya kuat.
AKH!
Regaz mengepalkan tangannya, siap meninju Alexus namun sebuah panah justru mendarat masuk melalui jendela yang terbuka dan hampir mengenai Regaz. Untung saja pria itu memiliki kepekaan tajam terhadap lingkungan sekitarnya. Dan kesempatan itu digunakan Alexus untuk kabur. Dia tidak mungkin menandingi Regaz. Yang terpenting saat ini, Athera dan Retha telah bersamannya. Ia harus kembali dan menyuruh Arthur pergi.
Sedangkan Arthur kini menatap nanar kedua jasad orang tuannya. Ia menangis kemudian memeluk jasad kedua orang tuannya yang telah diawetkan. Tier dan Ruoxi menunduk dalam. Mereka merasa bersalah pada Arthur.
"Sebenarnya apa mau Raja kalian?!" Arthur bertanya dengan tinggi sembari menatap benci ke arah Ruoxi serta Tier.
Tier serta Ruoxi masih tidak bisa menggerakkan tubuh mereka sekarang.
" Bukan Yang Mulia," jawab Ruoxi
"Lalu siapa?" Arthur bertanya sarkas.
"Kami masih menyelidikinya. Percayalah pada kami Arthur," ujar Tier.
" Ck! Aku saja tidak mempercayai Tuanmu, lalu untuk apa aku mempercayai orang kepercayaanya!" geram Arthur, pria itu mulai menggerakkan pedangnya ke arah Ruoxi serta Tier namun, ekor mata Ruoxi mendapati kawanan Alexus mulai bergerak melalui atap untuk pergi. Kemudian Arthur mendecih dan keluar dari ruangan di sana. Ia tidak bisa membawa jasad orang tuanya. Ia takut jasad orang tuannya rusak.
"Kita harus kembali, Athera serta Retha sudah ada di tangan Tuan kami," ujar seseorang yang menghampuri Arthur.
Arthur mengangguk kemudian pergi. Meninggalkan Tier serta Ruoxi yang mematung seperti orang bodoh.
...****...
...DI KERAJAAN GARAZELON...
Pagi menyingsing. Hari ini di kerajaan Garazelon begitu cerah. Kerajaan yang dikelilingi hutan ini begitu merdu ketika nyanyian burung terdengar begitu indah di sekitarnya.
Setelah melewati malam yang terasa begitu panjang. Pemilik kerajaan Garazelon yang tak lain adalah Alexus Stefanos meningkatkan keamanan kerajaannya. Ia telah berhasil membawa Athera beserta Retha.
" Bagaimana keadaan, Athera?" Alexus bertanya pada tabib yang pagi-pagi ini ia perintahkan untuk memeriksa kondisi Athera.
"Sudah jauh lebih baik. Kalau saja ia tidak ditangani sangat cepat maka beliau telah meninggal," jelas tabib.
Alexus menghela napas lega kemudian menatap Athera dengan sendu. Ia tak tahu ternyata Athera sedang terluka saat ia bawa pergi. Dan untung saja kini kondisi wanita itu baik-baik saja.
" Kalau begitu keluarlah, " tutur Alexus diikuti tabib itu yang menunduk hormat kemudian ijin undur diri.
Alexus terus menatap Athera kemudian meraih sebelah tangan Athera. Alexus mencium punggung tangan Athera.
"Aku sangat mencintaimu, Athera," tutur Alexus.
Alexus memejamkan matanya saat menyatakan cintanya pada Athera yang belum sadar. Perlahan Alexus merasakan pergerakan pada Athera. Wanita itu mengerang pelan.
Alexus bergerak untuk memanggil kembali tabib namun, ia yang sudah berdiri hendak meninggalkan, Athera justru menahan tangan Alexus yang masih bersentuhan dengan sebelah tangannya. Pegangan Athera masih begitu lemah.
Alexus kembali menghadap Athera. " At- "
"Regaz..." Athera bergumam dengan kondisi masih setengah sadar sembari memotong perkataan Alexus.
Alexus termangu pada posisinya. Ada rasa kecewa di lubuk hatinya kala Athera justru menyebutkan nama Regaz.
"Jangan sebut namanya, Athera." Sesaat kemudian Alexus langsung memeluk Athera. Ia berusaha melepaskan sesak di dadanya.
...BERSAMBUNG.....