Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 10.



HAPPY READING


Suara hiruk-pikuk memenuhi istana saat ini. Seluruh kerajaan baik sekutu maupun rival datang menghadiri acara ini. Occurerns Ad Regem seperti hari kedamaian untuk para rival ketika berkumpul. Selain itu, pertemuan besar ini akan diisi dengan acara uji kemampuan para wanita milik Regaz selaku raja paling berkuasa itu. Acara ini dilakukan bukan hanya untuk unjuk kemampuan melainkan menegaskam bahwa Regaz memiliki para wanita kuat sebagai istri-istrinya.


Regaz tampak tersenyum samar dari jendela kamarnya melihat tamu terhormat telah berdatangan dengan pengawalan serta pasangannya.


"Anda tidak turun, Yang Mulia?" Tier yang sedari tadi berdiri di belakang Regaz berujar pelan.


"Setelah semua datang, aku akan turun." jawab Regaz.


Tier mengangguk kemudian ia berjalan mendekati kotak hitam yang berada di sisi ranjang milik Regaz.


Tier mengangkat kotak itu. "Apakah ini milik Permaisuri, Yang Mulia? Haruskah aku memberikannya?"


Sontak Regaz langsung menoleh kemudian memutar bola matanya malas. "Tidak usah, kau buang saja itu."


Tier menggeleng heran. "Anda membelinya untuk Permaisuri. Aku akan mengantarkannya."


Regaz belum sempat melarang Tier tapi pengawalnya itu sudah berlalu dengan cepat. Dia pergi memesan pakaian untuk Athera karena Regaz yakin bahwa wanita itu tidak memiliki pakaian yang layak untuk menghadiri acara ini. Regaz rasa tindakannya ini adalah salah. Ia salah berbuat baik pada Athera.


Dari pada memikirkan hal itu, Regaz justru lebih mengkhawatirkan unjuk kemampuan ini. Ia harap Athera tidak mempermalukannya seperti acara ini tempo lalu. Namun, menyadari Athera yang sekarang Regaz sedikit lega karena setidaknya Athera bisa bergerak dan tidak hanya diam menunggu serangan yang dilakukan para selir.


"Sudah waktunya." Regaz bergegas keluar, para tamu sepertinya telah hadir semua, kecuali Alexus. Pria itu sepertinya menolak undangan yang diberikan Regaz, karena tidak ingin menyaksikan Athera di permalukan lagi.


Lalu di lain sisi, di mana Athera sekarang berada.


Athera menolak seluruh para perias yang datang ke kamarnya, wanita ini hanya meminta alat berdandan saja. Ia tidak ingin dirias oleh orang-orang itu karena di zamannya cara merias wajah lebih baik. Ia akan memperlihatkan diriinya yang sangat cantik walau pun dengan polesan make-up yang tipis.


"Kakak, Tier datang membawa ini." Retha berlari memasuki kamar Athera dengan membawa kotak hitam ditangannya.


"Taruh saja di sana, kau kemarilah." Athera menunjuk kasurnya agar Retha menaruh kotak itu di sana setelahnya Athera menyuruh Retha duduk di kursi riasnya yang berhadapan dengan meja kecil dengan cermin.


"Kakak mau apa?" Retha bertanya ketika Athera melepas sanggulnya dan menyisirinya.


"Aku akan mendadaninmu."


Retha kini memilih diam di posisinya ketika Athera sibuk bermain di wajah serta rambutnya. Selang beberapa menit, rasa puas tepatri pada wajah Athera. Ia kemudian melarang Retha melihat cermin lalu menyuruh adiknya itu memakai pakaian yang telah ia buat selama dua hari ini sebelum menjelang acaranya.


"Pakai itu dan biarkan aku merias diri. Seharusnya kau memakai pakaian itu dulu, tapi alat rias ini bisa mengotorinya. " jelas Athera sedikit kecewa.


"Wah.. Apakah kau membelinya kak?" Retha tercengang ketika melebarkan pakaian yang diberikan Athera. Ini gaun terindah yang baru ia lihat selama ini.


"Tentu saja tidak. Kakak menjahitnya, banyak sekali pakaian lama yang kuno jadi kakak mendesainnya lagi," jawab Athera yang kini telah sibuk merias wajahnya.


"Acara akan segera di mulai, cepatlah pakai itu," titah Athera yang langsung disambut anggukan antusias oleh Retha.


****


Gaun merah dengan belahan dada rendah, rambut disanggul dengan tusuk konde emas berbentuk naga. Selir Yuen dengan percaya dirinya memasuki perayaan diikuti para selir yang memang seperti anak buahnya itu. Berbeda dengan Selir Gresha yang justru menunggu kehadiran Athera. Selir satu ini memang tidak pernah suka dengan sifat Selir Yuen, hingga ia lebih memilih Athera yang lemah lembut walau pun sering disakiti.


Mereka berada di sebuah tempat yang di penuhi para wanita bangsawan atau juga selir para raja yang datang kesana.


"Dia pasti takut datang," ujar Selir Yuen angkuh.


Selir Awen tergelak kemudian terus mengatai Athera dengan kata-kata menjijikkan. Gresha ingin sekali memaki namun ia urungkan niatnya tatkala melihat Athera datang dengan gaun yan sangat indah dan Gresha yakin belum pernah ada gaun seperti ini, belum lagi dandanan Athera begitu cantik. Kini seluruh pria mengamati Athera bahkan para wanita yang melihatnya berjalan. Sedangkan Retha kini dibawa pergi oleh Tier. Entah ada hubungan apa di antara dua orang itu.


"Athera, sini." panggil Gresha dengan senyum simpul.


"Dia selir Gresha. Aku rasa dia berada di pihakku."


Athera tersenyum kemudian menghampiri Selir Gresha. Selir Yuen mencebik kesal melihat penampilan Athera.


"Masih berani menunjukkan wajah setelah membuat malu pada acara tempo lalu," sindir Awen hingga Selir Yuen tersenyum sarkas.


Athera mendecih lalu menatap tajam mata Awen hingga selir tersebut merasa terintimidasi dengan tatapannya.


"Apa kau ingin kuceburkan ke kolam lagi? Di belakangmu ada kolam kecil," sinis Athera sembari melirik kolam ikan kecil yang berada tidak jauh dari posisi Selir Awen.


Awen tersentak kemudian memalingkan wajahnya karena malu. Ia masih ingat betapa malunya ia ketika dibuat jatuh ke dalam kolam oleh Athera.


Selir Tang meringis hingga para wanita yang menyaksikan itu terkejut melihat perlawanan Athera.


Athera menatap bengis Tang lalu ke tiga selir yang membuatnya muak ini.


"Bagaimana bisa seorang selir menyerang seorang permaisuri. Kita kedatangan tamu, tapi kalian malah menciptakan keributan.  Seharusnya kalian lebih hormat dan menjaga sikap karena kita tengah ada di acara Occurrens Ad Regem," jelas Athera dengan sedikit senyum sarkas ke arah Selir Yuen yang kini telah diguncingkan karena sikapnya oleh para bamgsawan lain yang melihat itu. Kemudian Athera memilih pergi bersama Gresha.


"Kau berubah," ujar Gresha yang melangkah sejajar dengan Athera.


Athera tersenyum tipis menanggapi perkataan Gresha.


"Kau tidak memakai gaun yang ku berikan?"


"Y-yang Mulia!" Gresha terbata ketika menyadari sosok ini tiba-tiba muncul dan bertanya pada Athera.


Athera mendongkak melihat Regaz dengan penampilannya. Sial! Dia terlihat sangat tampan saat ini.


"Aku tidak membuka kotaknya. Lagi pula aku sudah menjahit pakaianku sendiri."


Regaz mencebik kesal lalu tangannya terulur untuk menggapai tangan Athera.


"Karena kau terlalu jelek, sebaiknya pegang tanganku agar kau tidak mempermalukanku saat kita duduk disana," ujar Regaz datar sembari menatap tempat seperti panggung yang di khusukan untuk para anggota keluarga kerajaan penting.


"Aku jelek? Aku rasa matamu rusak," maki Athera.


Regaz hanya diam, malas  menggubris.


Regaz menatap selir Gresha dengan senyum tipis kemudian berlalu bersama Athera.


"Cih, baru kali ini aku melihatnya tersenyum kepada seorang wanita dengan tulus," batin Athera.


Athera hanya diam saat berjalan beriringan dengan Regaz walau pun sepasang mata tengah menatapnya. Lalu Athera tiba-tiba berhenti ketika melihat seorang pria yang baru saja memasuki istana. Pria itu sangat mirip dengan Azen. Pria yang ia sukai di dunianya.


"A.. Azen?!" Athera melepaskan tangannya dari tangan Regaz. Hingga pria itu mengikuti arah pandang Athera.


"Alexus datang?"  Regaz tidak habis pikir dengan ini, lalu reaksi Athera yang seakan baru melihat kekasihnya datang.


"Berani sekali kau mengalihkan tatapanmu ke pria lain, Athera!" geram Regaz.


Athera tidak menggubris perkataan Regaz.


Regaz tertegun ketika melihat Athera tersenyum begitu manis tatkala Alexus melambai ke arahnya dan Regaz benci itu.


"Kau lambat," kesal Regaz, kemudian dengan cepat ia menggendong Athera dan melangkah cepat menaiki tangga dengan gaya bangsawannya. Mendadak suasana menjadi riuh. Mereka tidak menyangka bahwa kini hubungan antara Regaz dan Athera lumayan membaik. Berbeda dengan saat itu, ketika Regaz bahkan enggan menggenggam tangan Athera.


"Apa yang kau lakukan, Regaz?!" desis Athera penuh penekanan.


"..."


"Turunkan aku!"


"..."


"Reg-


CUP!


Tepat sampai di atas panggung yang memiliki beberapa tempat duduk, Regaz menurunkan Athera yang terus mengoceh dengan posisi berdiri kemudian langsung mencium wanita itu di depan banyak orang.


Regaz melepaskan ciumannya.


"Jangan membuatku murka, Athera," bisik Regaz penuh penekanan dengan tatapan penuh amarah. Entah apa yang membuat Regaz langsung seperti ini, padahal ia tidak membuat kesalahan sama sekali. Kini bibirnya yang ia simpan untuk suaminya di masa modern harus sirna karena bibir milik Regaz telah mengotori bibirnya.


Di tengah riuhnya sorakan itu, Alexus mengepalkan tangannya, hatinya terasa begitu sakit melihat Athera dicium oleh Regaz, namun Alexus cukup bahagia ketika pertama kalinya Athera membalas senyumannya.


"Aku benar-benar akan membuat Regaz mati!"


BERSAMBUNG..