
...SELAMAT MEMBACA...
Kaizer mengeritkan giginya ketika banyaknya pasukan yang diyakini ribuan jumlahnya telah berhasil menembus segel pada kota Redhel. Kaizer mendekat dengan aura penguasa miliknya sehingga para pasukan tersebut bisa melihat Kaizer dari kejauhan.
"Apakah itu Yang Mulia?" tanya mereka.
"Ya, auranya begitu kuat."
"Jika itu benar Yang Mulia, maka mendekatlah dan katakan maksud kedatangan kita," kata salah satu dari mereka yang merupakan petinggi kerajaan.
"Aku akan ke sana." Dren langsung maju kemudian melesat untuk lebih dekat dengan rajanya.
Dren membungkuk dengan kepala tertunduk, raut wajah Kaizer benar-benar murka. Dren tahu pasti Kaizer akan sangat marah tetapi Dren tidak bisa mencegah mereka semua.
"Apa yang kau kerjakan sehingga hal begini saja terjadi, Dren?"
Dren menegapkan tubuhnya tapi masih dengan kepala tertunduk.
"Mereka mengira anda dalam bahaya sehingga memutuskan untuk menyerang dunia manusia kemudian menjemput anda kembali ke dunia immortal."
"Beraninya tanpa perintah dariku mereka mengambil keputusan ini!"
"Maaf, saya sudah mencoba mencegahnya akan tetapi saya kalah jumlah, Yang Mulia."
"Katakan pada mereka untuk segera kembali," titah Kaizer.
"Baik."
Tidak lama setelahnya Dren menyampaikan titah Dari Kaizer akan tetapi para makhluk dunia immortal tampak menolak karena merasakan aura manusia mendekat dan ketika mereka mendongkak Griffin milik Kaizer mendarat dengan seorang gadis manusia di atasnya.
Kaizer membulatkan matanya kemudian menghampiri Athena.
"Kenapa kau di sini?" tanya Kaizer.
"Aku akan membantumu," jawabnya setelah turun dari tubuh Iryu.
Seketika para makhluk dunia immortal kembali melangkah dengan serentak. Kaizer langsung memeluk Athena kemudian menaiki Grffin untuk mendekati para rakyatnya.
"Apakah ini alasan anda meninggalkan dunia immortal, Yang Mulia?" tanya mereka semua.
Kaizer mendarat kemudian membantu Athena turun dari tubuh Iryu.
"Aku akan menikahi Ratu dari dunia manusia."
Mereka semua saling berbisik kemudian melempar pandang pada Athena.
"Dunia kita saling bertentangan, Yang Mulia! Kami menolak hal ini!" kata mereka.
"Jika bertentangan mari berdamai!" Athena berteriak lantang sehingga para makhluk dunia immortal terkejut. Ketegasan dan keberanian terpancar kuat dari sosok wanita yang di gandeng Kaizer.
"Lebih baik mencari wanita dari dunia immortal untuk menjadi ratu kami, Yang Mulia. Pikirkan baik-baik!" sahut yang lainnya.
"Aku memilih calon istriku sendiri! Jika kalian menentangnya, maka hadapilah aku!" kata Kaizer dengan tatapan murka.
Sontak mereka semua terdiam dengan kepala tertunduk kemudian mereka saling berbisik dan salah satu dari mereka angkat suara demi mewakili pendapat lainnya.
"Jika memang anda begitu. Kami hanya ingin anda tetap di dunia immortal bersama calon ratu kami, kami akan memberontak jika anda memilih tetap di dunia manusia bersama sang ratu."
Kaizer melirik Athena.
"Aku akan mengikuti kemana pun Kaizer tinggal. Aku tidak akan memaksanya untuk tinggal di duniaku karena akupun tahu jika di dunia immortal hanya Kaizerlah yang memimpin," kata Athena dengan lantang.
Lalu tidak lama setelahnya sorakan menggema. Kaizer tersenyum ke arah Athena kemudian mengenggam sebelah tangan Athena yang bebas.
"Apa itu benar?"
"Kau bahkan menentang para rakyatmu demi aku," tutur Athena dengan senyum tipis.
"Lalu, bagaimana dengan acara pernikahannya? Apakah di dunia kami?"
Kaizer hendak menjawab namun sekali lagi, Athena menyelanya.
"Kami akan melaksanakannya di dunia immortal. Seorang Raja harus merayakan hari pernikahannya bersama seluruh rakyatnya," tutur Athena diakhiri senyuman.
Kaizer tertegun mendengar perkataan Athena. Lalu beberapa waktu kemudian dia tersadar dari lamunannya ketika Athena mengenggam erat tangannya.
"Benarkan Yang Mulia?" tanya Athena.
Kaizer mengangguk lalu meraih tubuh Athena dan mendekapnya dengan erat.
"Ya, kau benar."
*****
Regaz memeluk Athera dengan erat, padahal sudah tidak ada pergerakan yang membuat mereka terombang-ambing.
"Regaz, lepaskan."
Regaz segera melepaskan pelukannya kemudian berdiri dengan gagah seakan tidak ada yang terjadi.
"Untunglah kau selamat karena ada suamimu sebagai pelindung," kata Regaz dengan bangganya.
Athera tersenyum sinis kemudian menarik suaminya itu keluar dari istana.
"Kita harus mencari Athena dan Kaizer!"
"Kita akan ke perbatasan kalau begitu," jawab Regaz kemudian mengambil arah lain.
Namun, baru berapa langlah, Regaz dikejutkan dengan pukulan keras pada punggungnya dan pelakunya adalah sang istri sendiri.
"Ada apa, sayang?"
"Perbatasan sangat jauh, kau mau aku berjalan kaki?"
"Oh ya, aku lupa mengambil kuda. Ayo, kembali lagi," kata Regaz sambil berbalik arah.
Tetapi, sekali lagi permukaan yang mereka pijak bergetar. Seketika Regaz kembali memeluk Athera dengan erat.
"Regaz, apakah ini pertanda bahwa segel yang kau maksud telah hancur?" tanya Athera .
Regaz mengangguk ragu. " Sepertinya iya."
"Bagaimana jika para makhluk immortal menyerang kita di saat begini?" tanya Athera
"Tenang saja, kita bisa menyandera calon menantu kita," jawab Regaz sembari membayangkan Kaizer ia ikat dengan tali tambang dan Athena memegang sebuah pedang yang terarah pada leher Kaizer. Membayangkan hal itu, Regaz tertawa keras hingga Athera bergidik ngeri melihat reaksi suaminya yang tiba-tiba.
"Regaz! Kau membuatku merinding! Apakah kau kerasukan makhluk immortal?" tanya Athera.
Regaz menghentikan tawanya dan bersamaan itu, permukaan berhenti berguncang.
Regaz dan Athera saling menatap satu sama lain.
"Apakah kekuatanku mengendalikan kekacauan ini?" tanya Regaz tak percaya.
Athera mendengus. " Itu hanya kebetulan!"
Di lain sisi, Kaizer serta Athena hanya memandang kepergian para makhluk dunia immortal itu.
"Apakah kau telah membicarakan hal itu kepada orang tuamu?" tanya Kaizer.
Athena mengerutkan dahinya lalu menggeleng.
"Bagaimana jika mereka tidak menyetujuinya?" tanya Kaizer.
"Mereka akan menyetujuinya. Bagaimana kalau pernikahan dilaksanakan pada kota redhel, sehingga para manusia bisa ikut juga. merayakan sekaligus kita mengumumkan perdamaian," usul Athena.
"Apa yang membuatmu bersemangat? Kemarin kau terus saja kesal padaku," cicit Kaizer.
"Itu karena ketulusanmu. Wanita mana yang tidak luluh jika bertemu pria seperti," gumam Athena kemudian meninggalkan Kaizer.
Kaizer membeliak kemudian menyusul Athena.
"Bisa kau ulangi perkataanmu barusan?" pinta Kaizer.
"Kau menyebalkan."
Kaizer memanyunkan bibirnya.
"Sekali saja."
"Hentikan, kita harus menemui ayah dan ibu," kata Athena setelah berdiri menghadap Kaizer.
Kaizer mengangguk kemudian memanggil Iryu untuk lebih dekat dan Kaizer menyuruh Athena naik bersamannya di atas Iryu. Cukup jauh perjalanan untuk ke istana.
"Kaizer, lihat itu," kata Athena dengan telunjuk yang mengarah ke bawah.
Iryu terbang dengan rendah hingga mereka berdua bisa melihat dengan jelas di bawah sana.
"Bukankah itu orang tuamu?" tanya Kaizer.
"Apa yang sedang mereka ributkan?" tanya Athena.
"Iryu, mendarat," titah Kaizer.
Athera serta Regaz melotot ketika melihat burung yang sangat besar dan gagah mendarat di hadapan mereka, di atasnya terdapat dua orang yang turun dan mendekat ke arah mereka.
"Kalian, dari mana saja?! Ibu sangat mengkhawatirkanmu!" seru Athera sembari memeluk Athena.
Athena terkekeh lalu membalas pelukan ibunya. " Sesuatu terjadi di perbatasan dan kami telah menanganinya, jadi tidak perlu khawatir."
"Untunglah Kaizer bersamamu," gumam Athera.
Sedangkan Regaz mendekati Iryu lalu melirik Kaizer.
"Apakah ini milikmu?" tanya Regaz.
"Benar ayah," kata Kaizer.
Regaz berdehem lalu melirik Athera sekilas dan mendekati Kaizer lalu berbisik. " Menikahlah secepatnya dengan Athena dan biarkan aku pinjam burung ini untuk membawa istriku berkeliling."
Kaizer menahan tawanya, saat ini, calon ayah mertuannya tidak terlihat membencinya sama sekali justru seperti menyuapnya menggunakan Athena.
"Tentu saja, Ayah."
...BERSAMBUNG.......