Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 40



...SELAMAT MEMBACA...


Dengan langkah gontai, Grace memasuki rumah kontrakannya. Hari ini, ia begitu lelah bekerja dengan tugas yang cukup banyak diberikan senior-seniornya. Tatapan Grace beredar mengamati rumah kontrakan kecilnya yang hanya memiliki sebuah sofa kecil, meja kecil, kamar mandi kemudian dapur serta satu ruang kamar.


Ia telah menyandarkan tubuh lelahnya pada sofa, pikirannya menari-nari mengingat perlakuan Regaz padanya. Ia jadi ingat Revlan-Kakaknya. Kakaknya itu pergi meninggalkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal hingga Grace harus hidup mandiri tanpa kakaknya yang selalu melindunginya. Kehidupan di luar begitu kejam, ia hampir diperkosa ketika salah menerima tawaran pekerjaan seorang wanita berpakaian begitu ketat dan terbuka. Dia pikir akan menjadi model namun ia justru masuk ke dalam dunia pelacur.


"Aku merindukan kak Revlan," gumam Grace.


Tok.. Tok..


Grace terlonjak dari pikirannya ketika suara ketukan terdengar. Wanita itu bergegas membuka pintu dan mendapati seorang kurir pengantar makanan berdiri di depan pintu dengan dua kotak berisi makanan cukup mahal.


"Dengan Nona Grace?" tanya kurir itu.


Grace mengangguk. " Ya, benar."


Pria itu memberikan dua kotak yang ia bawa pada Grace. Sedangkan Grace menatapnya dengan bingung.


"Seorang pria  memesan makanan untuk anda," kata kurir itu.


"Siapa?" tanya Grace ragu.


kurir itu mengedikkkan bahunya acuh. "Sebaiknya ambil ini Nona, saya harus kembali mengantar beberapa kotak lagi," katanya sambil mendelik ke arah motornya.


Grace gelagapan kemudian mengambil dua kotak itu dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya ia masuk setelah mengunci pintu. Dia menatap dua kotak yang berisi makanan laut dan ayam yang begitu nikmat.


"Siapapun yang mengirimnya, aku sangat berterima kasih," gumam Grace dengan mata berkaca-kaca.


...***...


Perut Athera semakin membesar. Regaz harus memperbanyak waktu bersama Athera ketimbang pekerjaanya. Lagi pula ia bisa datang kapan saja ke perusahaan sebab seorang pengusaha mengatur jam kerjanya sendiri. Kali ini Regaz mengendarai mobil bersama Athera yang sibuk memakan roti di sampingnya.


"Regaz, tisu," kata Athera sembari mengulurkan tangan kirinya pada Regaz yang mengemudi sedangkan sebelah tangannya memegang roti. Padahal tisu jelas-jelas berada di depannya, Regaz tidak marah, pria itu justru mengulum senyum geli melihat tingkah istrinya itu.


Regaz menepikan kendaraannya lalu berhenti sejenak. Tidak baik jika tidak fokus saat mengemudi.


Regaz mengambil tisu kemudian tangannya bergerak ke wajah Athera. Regaz mengelap mulut sudut bibir Athera yang dipenuhi cokelat yang berasal dari isian roti.


"Kau jadi manja, ya," kata Regaz diselingi kekehan kecil.


Athera tersenyum tipis. "Suamiku makin tampan kalau dilihat sedekat ini,"


"Kau mencoba menggodaku?" Regaz menaikkan sebelah alisnya, dengan senyum lebar.


Athera menggeleng. Regaz telah selesai membersihkan mulut Athera. Kemudian pria itu memajukan tubuhnya hingga wajahnya dengan Athera sangat dekat. Sebelah tangan Regaz langsung menarik tengkuk Athera kemudian mencium bibir istrinya sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.


Athera terkesiap dengan pipi merona sedangkan Regaz mulai melajukan mobilnya dengan sesekali melirik reaksi Athera yang menggemaskan.


Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai di rumah namun, Athera justru tertidur di dalam mobil. Dengan sangat hati-hati Regaz menggendong tubuh Athera dan membawanya keluar.


Setelahnya, cukup lama ia berdiam diri di samping Athera yang tertidur di kasur.


" Seandainya kau mau tinggal di zamanku, aku akan membuatkanmu patung  yang begitu besar dan menyatakan bahwa kau wanita kesayangan seorang Raja yang dikenal bengis ini." Regaz berbisik lembut di telinga Athera.


...***...


Regaz tengah berkutat dengan dapur, pria itu bangun lebih pagi untuk membuatkan sarapan untuk Athera yang masih terlelap di kasur. Dia akan membuat beberapa sandwich untuk istrinya.


Cukup lama Regaz berkutat dengan dapur, ah, dia semakin pandai memasak makanan yang lezat-lezat, sejak istrinya hamil. Regaz menyempatkan diri membaca berbagai resep makanan bahkan dia yang mengatur pola makan istrinya itu.


"Regaz..."


Merasa namanya dipanggil, Regaz menoleh dan mendapati Athera yang masih mengenakan piyama telah duduk di kursi pada ruang makan yang menyatu dengan dapur.


"Ada apa, sayang?" tanya Regaz seraya menghampiri Athera.


"Kau buat apa?" tanya Athera dengan wajah yang ia tompang dengan tangan kanannya.


"Sandwich."


"Hmm, begitu," kata Athera lemas, tidak ada ekspresi ceria seperti biasanya.


"Regaz menarik kursi di samping istrinya, kemudian mengusap lembut pipi Athera. "Ada hal lain yang kau inginkan?"


Athera mengangguk kemudian menegakkan kepalanya. Regaz benar-benar suami yang peka terhadap kemauan istrinya tanpa perlu menjelaskannya terlebih dahulu.


"Aku ingin tinggal dan hidup di zamanmu," jawab Athera yang sukses membuat Regaz tertegun.


Mengingat permintaannya ini, Athera langsung menundukkan kepalanya. Ini tidak mungkin bisa dipenuhi sebab cermin itu telah pecah.


"Bukankah kau tidak mau ke sana?" tanya Regaz sembari mengangkat dagu Athera agar menatapnya.


"Entahlah, tapi aku ingin sekali tinggal di sana, aku tidak mau tinggal di sini. Tapi... " Athera menggantungkan kalimatnya.


"Tapi kenapa?" tanya Regaz.


"Tapi bagaimana caranya kembali? Cermin penukar nasib telah hancur, lagi pula cermin itu tidak bisa di gunakan jika tidak ada yang menderita," kata Athera.


"Hancur? Kau tahu dari mana?" tanya Regaz.


"Cermin itu ada di ruangan milik ayah. Aku tidak tahu kenapa cermin itu ada di sana," kata Athera.


Regaz mengulum senyum, ini pasti permintaan calon bayinya. Sepertinya Athera mengidam.


"Walaupun cermin itu hancur hingga menjadi debu, kita bisa membuatnya kembali utuh jika tau mantra untuk memanggilnya. Selain itu, cermin itu bisa digunakan oleh pemiliknya tanpa perlu mengalami penderitaan. Dan pemiliknya adalah aku. Kita bisa kembali ke sana dan membuatnya menjadi seperti semula," jelas Regaz.


Athera menatap Regaz lekat kemudian tersenyum lebar. " Kalau begitu kita akan ke sana.


"Sesuai kemauanmu sayang," kata Regaz dengan senyum tipis.


...BERSAMBUNG......