
**HAPPY READING**
Regaz mengacak rambutnya frustasi. Seharusnya ia senang jika Athera menghilang namun kini hatinya menjadi resah kala tidak mendapati Athera membagikan bubur pada para warga serta di dalam perumahan wanita itu pun tidak ada.
"Kalian melihat Athera?" tanya Regaz pada para prajurit yang ia temui.
Mereka mengangguk bersamaan lalu salah satu dari mereka memberitahu. "Permaisuri memacu kuda ke arah Hutan, Yang Mulia."
"Kalian tidak mencegahnya?"
Mereka menggeleng dengan lemah karena takut. Sedangkan Regaz menghela napas gusar kemudian mengambil kudanya dan pergi ke arah yang dimaksud prajuritnya.
Regaz memelankan kudanya. Perlahan ia memasuki hutan itu. Tidak menyangka bahwa sekarang Athera telah berani memasuki hutan sendirian. Regaz terus memasuki hutan hingga akhirnya ia melihat kuda yang talinya diikat pada badan pohon di sana. Kemudian Regaz juga melihat Athera kini telah berada dalam gendongan seorang pria yang memakai pakaian sama persis dengan pemberontak yang berusaha menghunuskan pedangnya. Regaz paham akan itu. Ia mengenali dari postur tubuh pria itu.
Sedangkan di sana Athera meminta dirinya diturunkan kemudian ia tersenyum manis ke arah Alexus.
"Oh, jadi namamu Alexus?" Athera mengamati pakaian pria itu lalu menyentuh dagunya.
"Kau tidak mengenalku?" tanya Alexus bingung. Setahunya Athera akan mendorongnya bahkan tidak akan sudi menatapnya lalu kenapa Athera berlagak seperti mereka hanyalah orang asing.
"Tentu saja aku mengenalmu. Bukankah kau seorang putra bangsawan, lalu kenapa memakai pakaian seperti ini? Bahkan pakaianmu sepertinya mirip dengan pemberontak yang waktu itu menyerang istana Regaz," sambung Athera.
"Apakah dia lupa ingatan? Pantas saja saat acara Occurrens Ad Regem ia melambai padaku," batin Alexus.
Alexus tersenyum kikuk. " Ah! Ini aku membelinya di sebuah toko. Terlihat keren jadi ku beli saja."
Athera mengangguk-angguk lalu berjinjit berusaha meneliti wajah Alexus dari dekat. Ia tidak percaya bahwa Alexus benar-benar mirip Azen. Seadainya Azen mampu tersenyum seperti ini di dunianya. Walau pun Athera tidak melihat jelas senyuman Alexus karena pria itu hanya menyisakan matanya karena masker yang menutupi hidung serta mulutnya.
Alexus gelagapan kala wajah Athera terlalu dekat dengannya. Pria itu memilih bergerak memungut buah-buahan Athera yang keluar dari kantung kain uang jatuh bersamaan dengan pemiliknya tadi.
"Ah, Maaf. Aku sampai lupa kalau sedang memetik buah." Athera mulai berjongkok sembari memungut buah yang ia petik tadi.
"Ini." Alexus memberikan kantung kain itu pada Athera. Athera menerima kantung itu.
"Kau sudah mau pergi?" Athera bertanya dengan ekspresi sedih.
Alexus tersenyum dari balik masker yang ia kenakan. Kemudian menepuk pelan puncak kepala Athera. "Sampai bertemu lagi," ujarnya kemudian melangkah pergi.
Setelah kepergian Alexus, Athera hanya bisa tersemyum tipis. Ia memutar tubuhnya kemudian berjalan mendekati kuda untuk membuka talinya kemudian kembali. Sepertinya segini saja buah yang ia petik. Ia tidak jamin akan selamat jika Alexus telah pergi menjauh.
"Sudah selelsai berkonspirasi, Athera?"
DEG..
Tubuh Athera menegang ketika tali kudanya telah ia genggam dan Regaz datang dengan menaiki kuda menghampirinya.
"Apa maksudmu?" tanya Athera bingung. Regaz datang tiba-tiba hingga mengejutkannya dan sekarang justru berkata ia baru saja selesai berkonspirasi.
"Bukankah itu pemberontak yang menyerang kita."
Athera memutar bola matanya. "Dia orang yang berbeda. Hanya pakaiannya saja yang sama. Dia itu ad-"
"Kita kembali ke kerajaan sekarang. Kau telah berani melawanku dari belakang kemudian berpura-pura melindungiku agar kau tidak menjadi tersangka."
Athera melebarkan matanya. Ia memegang kencang tali kuda kemudian menatap Regaz dengan murka.
"Apa-apaan itu! Kau harus mendengarkan dulu penjelasanku lalu ambilah langkah selanjutnya jangan langsung menuduhku!"
Regaz tersenyum sinis. "Dia pria yang sama. Aku tidak pernah salah mengenali orang. Kau penghianat."
"Kalau dia orang yang sama, belum tentu kami pernah bertemu karena masalah yang lalu. Aku tidak ada sangkut pautnya! Kami bertemu dengan tidak sengaja!" Balas Athera geram.
****
Sepanjang perjalanan kembali ke kerajaan. Athera memilih diam ketika Regaz justru membawanya kembali dengan menggunakan satu ekor kuda. Pria itu menunggangi kuda dengan Athera di depannya. Athera menghela napas berulang kali. Pria itu hanya ingin memulangkannya ke kerajaan atau sekaligus menghukumnya? Saat ini Athera tidak tau apa yang ada di pikiran Regaz.
"Aku tidak melakukkannya!" jelas Athera lagi.
"Tapi kau bertemu dengannya."
"Kami tidak sengaja bertemu, aku hampir digigit ular lalu dia entah dari mana muncul lalu menolongku," jelas Athera lagi.
Lalu sekelebat ingatan Regaz akan pria itu terlintas. Ia hampir lupa bahwa Pria itu sebenarnya mengincar Athera dan ingin menculik Athera kala malam itu. Namun Regaz berhasil membuat salah satu anak buah pria itu meninggal. Jadi saat mereka diserang juga pun karena pria itu mengincar Athera yang berada di dalam tandu. Regaz terdiam hingga Athera hanya bisa menghela napas, ia lelah menjelaskannya pada Regaz .
Regaz justru makin mempercepat kudanya. Mereka berangkat di malam hari hingga Athera bisa melihat langit dipenuhi bintang.
Deg..
Regaz tertegun kala Athera menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya, kemudian mendongkak memandang langit. Ia tidak pernah merasa sebebas ini. Ia tidak pernah keluar bersama pria mana pun dan untuk pertama kalinya. Ia berkuda dan berada pada sandaran pria yang ia benci karena kisah menyedihkan milik orang lain.
"Bisakah kau berhenti menyandar?" tanya Regaz. Ia merasa dadanya berdebar tidak karuan.
"Leherku pegal," jawab Athera.
"Kau bahkan masih bersikap tenang."
Athera menyunggingkan senyumnya. "Aku tenang karena merasa tidak memiliki kesalahan. Bukan sepertimu yang resah karena mencoba menciptakan masalah untukku."
"Aku lelah berdebat," jawab Regaz akhirnya dan Athera memilih memejamkan matanya. Sedangkan Regaz terus memacu kudanya.
Cukup lama perjalanan mereka hingga akhirnya Regaz memasuki pintu utama kerajaan. Ia juga melewati kediaman para selir dengan kudanya kemudian memasuki kediaman Athera disana.
Regaz menghentikan langkah kudanya ketika telah sampai di paviliun milik Athera.
"Cepat turun," ujar Regaz.
"..."
"Athera," panggil Regaz.
Pria itu memandang Athera. Ternyata wanita itu tertidur dengan nyamannya. Kepala Athera seakan menempel alami pada dada Regaz. Terlihat terlalu nyaman dengan posisinya.
Regaz mengangkat tubuh Athera perlahan kemudian turun dari kuda dengan melompat ringan. Regaz mulai melangkah memasuki paviliun Athera namun langkahnya terhenti ketika mendapati Tier dan Retha nampak berdiri bersama tidak jauh dari posisi Regaz saat ini.
Mereka berpelukan kemudian Tier mencium kening Retha. Regaz terdiam mengamati dua mahluk itu. Ketidak hadirannya digunakan Tier untuk berkencan dengan adik Athera.
"Aku akan menggodanya besok," batin Regaz dengan senyum tipis kemudian melangkah masuk.
Ketika masuk melewati lorong d isana. Para pelayan menunduk hormat. Mereka tidak tau apa yang terjadi hingga Regaz cepat sekali kembali dari Desa Pelhium. Padahal baru saja tadi pagi mereka pergi.
Regaz memasuki kamar Athera. Lalu meletakkan wanita itu di kasur.
"Ayah- Ibu, aku merindukan kalian." Athera menahan tangan Regaz sembari mengigau. pegangannya cukup kuat. Regaz awalnya ingin meninggalkan Athera namun sudut mata wanita itu mengularkan air mata hingga Regaz justru mendekati Athera kemudian mengambil posisi tidur di samping wanita itu.
"Menyusahkan. Apa kau mencoba membuatku agar kasihan padamu?" gumam Regaz.
Tatapan tajamnya itu menelisik wajah cantik Athera. Jemari besarnya mengusap air mata pada sudut mata Athera. Kemudian perlahan Regaz ikut memejamkan matanya. Karena ia pun sangat lelah memacu kuda hingga sampai ke kerajaan.
**Bersambung**...