
...SELAMAT MEMBACA...
Regaz serta Athera tengah duduk bersama di sofa sembari menonton acara televisi tapi suaminya itu justru fokus pada handphonenya.
"Ada apa?" tanya Athera ketika melihat Regaz begitu serius dengan handphonenya.
"Anabela mengajakku bertemu di club bernama Owsen Night. Dia bilang ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting," jawab Regaz.
"Oh begitu." Athera mengangguk sembari meraih keripik kesukaannya di meja.
"Kau tidak marah?" Regaz bertanya dengan alis terpaut, Ia sedikit kesal melihat respon Athera.
Athera langsung memeluk suaminya itu dari sampin kemudian menatap perutnya yang masih rata. " Regaz, aku ingin menolaknya tapi sepertinya aku menginginkan sesuatu."
Ini bukan bulannya mengidam tapi Regaz mana tahu akan hal ini. Pria itu langsung merubah posisi duduknya seperti seekor anjing terlatih yang mendapat perintah dari majikannya.
"Apakah itu keinginan dari anakku?" tanya Regaz dengan tatapan berbinar.
Athera mengangguk lalu menyunggingkan senyum tipis. " Aku menginginkan kau menemui Anabela."
"Permintaanmu sungguh aneh," ujar Regaz.
Athera mengkerucutkan bibirnya. " Aku ingin kau membuatnya mabuk kemudian kau pergi meninggalkannya."
Napas Regaz tercekat kemudian mengelus perut rata istrinya itu. " Aku harap anak kita nanti tidak sekejam dirimu, sayang."
"Huh! Kau menyebalkan!" ketus Athera.
"Baiklah. Aku akan melakukannya. Malam ini pukul tujuh kami akan bertemu. Kau diamlah di rumah, oke," jawab Regaz.
"Tapi, jangan sampai terpancing oleh rayuannya, ya!"
"Ayolah, Sayang. Aku ini hanya aka luluh olehmu," jawab Regaz apa adanya dan Athera mengulas senyum bangga.
...***...
...Owsen Night, pukul 20.00 pm...
Regaz serta Anabela telah bertemu dan berada di ruang VIP. Di dalam ruangan itu ada sofa berukuran besar dengan meja kaca yang di atasnya ada tiga botol minuman beralkohol tinggi.
Regaz mengenakan kaos dan celana jeans hitam, malam ini untuk bertemu dengan Anabela. Anabela sendiri memakai jaket yang kebesaran menutupi tubuhnya. Namun, Regaz terkejut ketika mereka telah berada di dalam ruangan, Anabela melepaskan jaketnya dan wanita itu hanya mengenakan rok yang begitu pendek dengan kaos putih yang begitu ketat hingga Regaz bisa lihat pembungkus payudara wanita itu.
"Hal apa yang ingin kau katakan?" tanya Regaz langsung.
Anabela menuangkan minuman untuk Regaz kemudian berujar lembut, " Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu. Saat pesta itu, aku sungguh menyesali perbuatanku."
Regaz diam, pria itu memperhatikan Anabela meneguk minuman kemudian memaksanya untuk ikut minum.
"Lalu?"
"Aku ingin meminta maaf."
"Lupakan hal itu. Aku harus kembali jika hanya ini maksud dari pertemuan kita," ujar Regaz kemudian hendak bangkit tapi Anabela justru mendekati Regaz kemudian mendorong tubuh pria itu hingga terbaring di sofa dengan dirinya yang menindih tubuh Regaz. Padahal baru tiga gelas yang Anabela teguk tapi wanita itu telah mabuk berat.
Lalu di ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Anabela serta Regaz.
Azen mengajak Athera bertemu. Athera tidak terkejut karena sebelumnya ia telah mengetahui rencana dua orang ini. Athera duduk di hadapan Azen di dalam ruangan di club itu.
"Ada apa?" tanya Athera.
Athera langsung memasang wajah terkejut. " Tidak mungkin, Regaz adalah pria yang setia."
"Aku tidak sengaja mengikuti Regaz serta Anabela. Mereka berada di samping ruangan kita. Maka dari itu aku memanggilmu kemari," ujar Azen.
Athera bangkit dari duduknya kemudian pura-pura kecewa pada Azen. " Aku tahu kau mencintaiku, tapi kau tidak boleh menuduh Regaz sembarangan."
Azen menarik tangan Athera dan keluar.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Athera.
"Melihat Regaz serta Anabela!"
Azen membuka pintu ruangan yang bersebelahan dengannya. Athera tersenyum sinis sedangkan Azen melongo seperti orang bodoh. Di sana hanya ada Anabela yang hampir telanjang di sofa dengan dua botol minuman yang masih utuh.
Tentu saja Regaz telah pergi. Pria itu benar-benar menepati janjinya. Athera yang berada di belakang Azen langsung menggerakkan tangannya kemudian memukul tengkuk pria itu dengan kuat hingga tak sadarkan diri.
Athera langsung tersenyum mengerikan, ia akan memulai aksinya sekarang! Ah, ia akan lelah malam ini.
...***...
Regaz memainkan rambut Athera. Semalam istrinya itu justru pulang agak larut. Setelah sampai rumah, Athera langsung memeluk Regaz yang telah menunggunya di depan rumah kemudian meminta digendong ke kasur karena mengantuk. Regaz ingin bertanya tapi ia urungkan niatnya sebab yang terpenting Athera baik-baik saja.
"Athera, kalau kita kembali ke duniaku, apa kau akan setuju?" tanya Regaz sembari mengusap lembut wajah Athera.
Regaz begitu bosan tinggal di zaman ini. Walaupun semuanya begitu hebat karena kemunculan benda-benda canggih. Semua orang terlalu fokus pada benda-benda canggih hingga komunikasi bekurang. Cara menjatuhkan musuh begitu licik kemudian tingkat kematian manusia di zaman ini begitu tinggi. Kebanyakan dari mereka meninggal akibat benda ciptaan mereka sendiri. Sistem pemerintahan di dunia modern tidak teratur. Ia bukan presiden di sini jadi Regaz geram juga ketika melihat dunia modern.
"Regaz, di masa modern ini, kita bisa hidup bahagia tanpa memikirkan beban seberat itu." Athera menjawab, ia tidak benar-benar nyenyak karena suaminya itu memainkan rambutnya sedari tadi.
"Apakah ini kemauanmu?" tanya Regaz.
"Ya. Aku tidak ingin kembali. Aku hanya ingin seperti ini dan menghabiskan sisa hidup bersamamu," ujar Athera sembari memeluk erat Regaz.
"Bukankah sekarang duniamu adalah diriku?" tanya Athera, kali ini ia menatap Regaz.
Regaz tersenyum kemudian mencium kening istrinya sembari menurunkan tatapannya pada perut Athera. "Duniaku adalah kalian sekarang."
Lalu di Owsen Night.
Anabela serta Azen masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru kemudian melajukan mobilnya. Pagi ini mereka diserang oleh kumpulan wartawan di depan pintu utama club Owsen Night. Sebuah berita dengan kumpulan foto-foto mereka yang tidak senonoh beredar di internet. Dan semua ini di post semalam. Mereka terbangun subuh tapi mereka berada di ruangan berbeda. Tentu saja, semalam Athera membuat Azen tertidur di sofa dengan Anabela menindih tubuh pria itu. Kemudian Athera menyuruh salah satu wartawan memfoto hal itu. Ia juga tidak lupa memberikan foto sebelumnya ketika Anabela serta Azen bertemu di Harlion.
Azen mencurigai Athera tapi ia ragu sebab foto di Harlion itu, jelas-jelas hanya ada mereka berdua dan Athera tak mungkin memiliki fotonya. Kecuali seorang paparazi mengikuti mereka.
"Sial! Kita pasti akan dicoret dari daftar anggota keluarga bangsawan!" Anabela menjerit frustasi.
Sedangkan Azen hanya menghela napas. " Ini semua salahmu! Kalau saja aku tidak menurutimu mak--"
"Apa!" bentak Anabela tak terima.
"Ini semua salahmu!" jawab Azen.
"Ini juga salahmu!" sanggah Anabela lagi.
Mereka terus bertengkar di dalam mobil, awalnya hanya adu mulut, tapi lama kelamaan Anabela memukul Azen. Azen jadi tidak fokus mengendarai mobilnya hingga akhirnya tanpa sengaja mobilnya menghantam sebuah mobil besar yang membawa besi-besi untuk bangunan.
...BERSAMBUNG......