Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 38



...SELAMAT MEMBACA...


Athera terus mengeratkan genggamannya pada tangan Regaz. Pria itu tengah berada di dalam  ambulan dengan tubuh terbaring. Peluru itu mengenai punggung Regaz yang bertepatan di dada. Ini berbahaya. Ia harap ada keajaiban yang terjadi.


Tidak butuh waktu lama, Athera kini telah  sampai di Rumah Sakit besar. Wanita itu terduduk lesu, raut wajahnya sungguh kacau. Hareta serta Hares menyusul di belakanga dan telah sampai kemudian memeluk Athera yang menangis sesegukan.


Hareta memeluk putrinya. " Ibu yakin, Regaz pasti akan baik-baik saja."


Athera memeluk ibunya kuat. " Regaz melindungiku, Bu."


Hareta melepaskan pelukannya kemudian mengusap air mata putrinya pada sudut matanya . "Regaz pria kuat, dia tidak akan kenapa-napa."


Hareta menenangkan putrinya sedangkan Hares diam dengan raut datarnya. Regaz benar-benar menepati perkataannya. Pria itu melindungi putrinya bahkan tidak peduli jika nyawanya melayang.


Tap.. Tap.. Tap..


Keluarga Esse datang kesana ditemani keluarga Vensi. Ayah serta Ibu Regaz langsung mendekati kedua orang tua-nya sedangkan Angela serta Yudis mendekati dirinya.


"Untung kakak ipar baik-baik saja," ujar Angela walaupun saat ini ia tengah begitu khawatir dengan kondisi kakaknya sekarang di dalam sana.


Athera mulai berhenti menangis. Ia terus bergumam agar Regaz selamat sedangkan  pikirannya tidak sesuai dengan gumamanya. Ia justru teringat pada cermin penukar nasib. Ia ingin menanyakan ini, tapi, ibunya pasti akan curiga pada dirinya.


"Aku ingin pulang ke rumah sebentar." Athera langsung menyentuh pundak Angela.


"Kakak mau apa?" tanya Angela.


"Aku harus mengambil sesuatu." Athera langsung beranjak dari sana. Namun ia kembali melangkah dan mendekati Yudis.


"Aku pinjam mobilmu," tutur Athera kemudian mengambil kunci mobil Yudis.


"Mau kemana Athera?" tanya Hareta pada Angela.


Angela menatap Hareta dengan ekspresi linglung, "Ke rumah sebentar katanya."


...***...


Dengan langkah terburu-buru Athera yang telah memasuki rumah ayahnya langsung mencari di mana tempat cermin itu berada. Namun, Athera tidak menemukan cermin itu disana, hingga akhirnya ia menemukan peti kayu besar yang mana itu berisi cermin penukar nasib yang telah hancur. Kalau sudah begini, cermin ini tidak bisa digunakan lagi.


Athera terduduk kemudian menangis, ia menjadi kalut ketika orang yang ia cintai terluka. Seharusnya ia percaya bahwa Regaz mampu bertahan sebab pria itu sudah sering kali terluka. Regaz sudah banyak mengalami hal berbahaya seperti ini. Tapi, peluru berbeda dengan panah atau pedang sebab benda kecil itu menembus masuk ke dalam organ dan menghancurkan. Kesalahan sedikit maka mampu membunuh seseorang.


"Aku mohon selamatkan Suamiku. Tuhan."  Athera bersujud dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


Perlahan peti kayu tersebut mengeluarkan cahaya emas yang begitu menyilaukan. Athera tidak tahu cahaya apa tersebut. Ia sampai memejamkan matanya erat dan kemudian cahaya itu redup kembali.


DRTTT


Athera melangkah mendekati peti namun ia harus menghentikan langkahnya ketika ponselnya berdering. Itu dari Yudis.


"Ya?" tanya Athera parau.


"Operasinya berjalan lancar! Regaz dinyatakan baik-baik saja. Kau cepatlah kemari," ujar Yudis dari sebrang sana.


Athera terdiam kemudian menatap lekat peti kayu yang tak jauh darinya. Tuhan selalu di sampingnya serta selalu mendengar keluh kesah hambanya.


...****...


Athera tertidur di kursi dengan kepala ia baringkan di sisi tempat tidur Regaz. Ini sudah dua hari dan suaminya belum juga terbangun dari tidurnya. Athera bersikeras agar hanya dirinya yang menjaga Regaz. Egois memang walaupun begitu Athera tetap membiarkan Angela menemaninya. Sebab ia tidak bisa membiarkan orang tua Regaz serta orang tuannya sibuk mengurus suaminya. Mereka juga memiliki kesibukan. Ia terbangun ketika mendengar ketukan dari luar, biasanya dokter akan mengunjungi Regaz di jam segini tapi ternyata itu Cleaning Service.


Cleaning Service itu telah selesai membersihkan ruangannnya. Kemudian Athera menyibak selimut suaminya. Tatapan Athera menjadi sendu ketika melihat perban yang melilit tubuh Regaz. Athera bisa melihatnya dari balik pakaian yang dikenakan Regaz.


"Maafkan aku." Athera menangis. Ia pikir Alex ingin menembakinya saat itu sebab dirinya yang menyebarkan foto Azen dengan Anabela waktu itu.


"Ini bukan salahmu, sayang."


DEG!


Athera langsung mendongkak dan mendapati Regaz tengah menatapnya dengan senyum tipis. Suaminya itu terlihat begitu pucat karena bibirnya kering.


"Regaz, kau sudah bangun!" Athera langsung mendekatkan wajahnya dengan Regaz.


Regaz mengangguk. "Aku sadar tengah malam kemarin, aku tidak ingin membangunkanmu. Kau begitu lelah semalam."


Athera menangis kemudian meraih punggung tangan Regaz dan menciumnya. " Aku benar-benar takut kehilanganmu. Aku takut kau pergi meninggalkanku sendiri bersama anak kita. Aku benar-benar bahagia sekarang."


Regaz tertegun, kemudian ia tersenyum. Pria itu menggerakan sebelah tangannya yang tidak diinfus kemudian menyentuh wajah istrinya.


"Aku sangat lega melihatmu baik-baik saja." Regaz berujar lembut kemudian tangannya berusaha mendekatkan wajah istrinya dengan wajahnya. Athera tahu bahwa Regaz ingin menciumnya jadi ia membiarkan suaminya itu.


Krieet..


"Permisi Ny. Athera. Saatnya pemeriksaan," ujar dokter yang baru saja membuka pintu. Sontak Athera langsung menjauh dan membenarkan duduknya di kursi. Sedangkan Regaz hanya terkekeh kecil melihat tingkah istrinya. Sang dokter hanya tersenyum kecil, ia tidak terkejut melihat Regaz sudah tersadar sebab ia sudah mempekirakannya.


"Syukurlah anda telah siuman Tn. Regaz. Istri anda tidak pernah melepaskan genggamannya pada tangan anda." Dokter Ilma- sedikit mengerling nakal ke arah Athera. Dokter Ilma sudah begitu dekat dengan keluarga Hareta serta Hares. Ia dokter berumur 38 tahun. Regaz tersenyum puas mendengar perkataan dokter Ilma.


Lalu di tempat lain. Di penjara.


Alex terus memaki di dalam sel tahanan. Ia berjalan dengan pincang kemudian mencegkram kuat jeruji sel.


"Seharusnya kalian menangkap Regaz! Dia yang membunuh seluruh keluargaku!" teriak Alex.


Para polisi di sana mengacuhkan Alex. jelas-jelas pelaku pembunuhan keluarganya adalah sekelompok organisasi kejahatan. Mereka telah menemukan informasinya.


"Bisakah kau diam, kami kesal mendengarmu berteriak terus!" keluh tahanan yang berada bersama dalam satu sel dengan Alex.


"Aku tidak peduli!" ketus Alex.


Pria itu menggeram kemudian menatap temannya yang lain. " Kita beri pelajaran saja. Dia kira kita takut karena dia dari keluarga bangsawan."


Kemudian Alex berjengit kaget ketika bajunya ditarik menjauhi jeruji dan orang di dalam sana memutarinya dan menghajarnya secara ramai-ramai.


"Hei kalian! Hentikan!" Penjaga lapas langsung berseru untuk menghentikan kejadian tersebut.


"Regaz sialan!" maki Alex yang kini meringkuk dengan tubuh yang begitu menyakitkan.


...BERSAMBUNG......