Trapped in the Past

Trapped in the Past
SEASON 2 [Episode 06]



...SELAMAT MEMBACA...


"Aku adalah pria yang kau selamatkan dua tahun lalu,"


Kata-kata yang keluar dari mulut Kaizer barusan membuat Athena merasakan degup jantungnya berdetak sangat cepat. Athena berusaha menormalkan kondisi jantungnya kemudian mendorong Kaizer menjauh. Kaizer sedikit terhuyung ke belakang sebelum kembali tegap dengan senyum samar.


"Tapi kenapa kau justru bersikap buruk padaku?"


"Aku baru mengetahuinya, saat kau beteriak di toko bunga kemarin," jawab Kaizer


Athena mengembungkan pipinya kemudian memalingkan wajahnya, "Kalau begitu, kau sadar akan perbuatanmu hingga aku terjebak di sini!"


"Tidak."


Athena langsung menatap sengit Kaizer, " Kembalikan aku sekarang ke duniaku! Kau harus bertanggung jawab, Kaizer!"


"Itu mustahil, aku tidak tahu di mana portal yang menghubungkan duniamu dengan duniaku. Kau bisa kembali jika pelindung di kota Redhel benar-benar sirna."


"Aku tidak peduli, pokoknya kau harus membantuku, seharunya kau tanggung jawab."


"Apa-apaan kau ini? Kau seperti meminta pertanggung jawaban atas kehamilan," kata Kaizer.


"Cih! Kau benar-benar memuakkan!" Athena berdecih kemudian memilih melangkah pergi walaupun Kaizer masih mengekorinya.


Kaizer tersenyum tipis lalu merogoh saku celanannya. Dia mengeluarkan sebuah undangan dengan sampul hitam dan menyerahkannya pada Athena.


"Hei, ambil ini," kata Kaizer


Athena memutar tubuhnya dan melihat undangan hitam telah berada di tangannya, dan juga dia telah berdiri di depan rumahnya.


"Apa ini?"


"Itu undangan. Besok kau harus datang," kata Kaizer kemudian pergi meninggalkan Athena yang masih termanggu menatap undangan di tangannya.


"Ah! Aku lupa memberitahunya, jika seseorang mengincarnya," gumam Athena.


...***...


Pagi telah tiba, para penghuni kerajaan telah disibukkan dengan pelaksanaan pesta nanti malam. Mereka mulai mendekorasi kerajaan dan masak secara besar-besaran. Di tengah ramainya kerajaan saat ini. Putri Charlotte, salah satu sepupu yang Kaizer percayai itu, justru mengendap-endap bertemu seseorang di kediamannya. Orang tersebut adalah suruhan dari pamannya.


Orang suruhan itu menyerahkan sebuah belati perak. Belati itu terlihat biasa saja namun, pada gagang belati terdapat sebuah permata bewarna merah yang terselubung. Permata merah itu seperti kekuatan penyegel yang mampu membekukkan seseorang dalam jangka waktu yang sangat lama.


"Dari mana paman mendapatkan permata ini?" tanya Charlotte.


"Dari bangsawan murni penyihir, Tuan Inide Gierlan."


Charlotte tersenyum miring, " Dia mau berkhianat juga rupannya."


"Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Anda hanya perlu menusukkan ini tepat di jantung Kaizer. Ini memang cukup berbahaya tapi kata Tuan, cara ini akan berhasil jika di lakukan oleh putri, sebab hanya anda anggota keluarga yang tersisa dan sangat di percaya oleh Kaizer, serangan tiba-tiba ini tidak akan disadari oleh Kaizer."


Charlotte tersenyum lebar, " Kau boleh pergi, katakan pada paman, tunggu kabar baikku saja."


"Baik Putri, saya undur diri."


Orang tersebut telah pergi sedangkan Charlotte begitu bahagia melihat belati itu berada di tangannya. Sejak kejadian dua tahun lalu, Kaizer telah menghukum mati seluruh keluarga yang mengkhianatinya dan hanya Charlotte yang tersisa sebab wanita itu menyelamatkan dirinya sendiri hingga Kaizer tidak mengetahui seberapa liciknya otak Charlotte. Kejadian kelam yang dialami Kaizer dua tahun lalu telah merubah karakter baiknya.


"Kau pasti akan terlihat begitu menyedihkan, ketika keluarga yang kau percayai akan membunuhmu juga. Di mata kami, kau hanya penghalang, Kaizer," kata Charlotte.


Charlotte bangkit dari duduknya kemudian membuka lemari besarnya yang berisi gaun yang akan dikenakan nanti malam. Charlotte tersenyum lebar. Kaizer sulit dibunuh maka dari itu dia akan membekukan Kaizer, dengan begitu kerajaan ini akan berapa digenggaman pamannya dan dia akan membuat Gavindra Herwis menjadi miliknya.


"Aku menantikkan malam segera tiba," kata Charlotte. Tanpa disadari seseorang mendengar pembicaraanya dari awal.


Sedangkan di tempat lain. Di kastil milik Gavindra Herwis. Pria tampan yang terkenal sebagai salah satu pria tampan dari klan penyihir itu, terus saja tersenyum lebar, di duduk di balkon kamarnya dengan bunga yang dijemur agar terkena matahari. Bunga yang diberikan Athena tumbuh dengan begitu baik bahkan terlihat sangat indah.


"Cantik seperti Athena," puji Gavin.


Bagi Gavindra, bunga ini sangat berharga sebab diberikan oleh Athena. Dia menjaganya dengan sangat baik bahkan selalu menyempatkan diri hanya untuk sekedar memperhatikan bunga itu.


"Tuan."


Gavin menoleh dan mendapati kepala pelayannya telah tiba dengan sebuah kotak dengan pita cantik yang menghiasi di atasnya.


"Pesanan anda telah tiba."


Gavin mengangguk kemudian mengambil alih kado itu dari tangan kepala pelayannya, " Siapkan kuda untukku."


"Baik, Tuan."


Gavin tersenyum simpul, kemudian segera menyambar cardigan aklasik serta menggunakan celana hitam yang ketat, Pangeran Gavin sangat tampan walaupun hanya mengenakan pakaian biasa menuju perkotaan.


Gavin keluar dari kastilnya setelah melihat kuda putih miliknya berdiri di sana. Gavin langsung memacunya menuju perkotaan. Beberapa mata mengamati Pangeran Gavin.


Tidak butuh waktu lama Gavin sampai, dia turun dari kudanya kemudian memasuki toko bunga milik Athena. Namun, Gavin hanya menemukan Ersya disana bukan Athena.


"Dimana Lady Athena?" tanya Gavin pada Ersya.


"Sepertinya Madam masih di rumah karena kelelahan semalam membersihkan toko," kata Ersya.


Gavin mengangguk, kemudian pergi kembali menaiki kuda, dia akan ke rumah Athena.


Rumah Athena tidak terlalu besar namun, terlihat begitu asri karena tanaman bunga menjadi pagar depan rumahnya, Gavin mengikat tali kudanya pada tiang. Pria itu mengetuk pintu Athena berkali-kali tapi tidak ada jawaban.


Tangan Gavin terulur untuk memutar knop pintu, " Tidak dikunci? Lady Athena ternyata bisa sembrono ini," kata Gavin.


Begitu sunyi dan gelap sebab gorden masih menghalagi cahaya matahari masuk. Gavin bisa dibilang lancang sebab asal masuk, tapi dia khawatir sebab Athena belum juga menjawab kedatangannya.


Gavin menaiki tangga, dimana kamar Athena berada. Sudah dua kali Gavin berkunjung ke rumah Athena, jadi tidak terlalu bingung walau hanya sekedar mencari kamar Athena.


Krieet..


Pintu kamar Athena terbuka, dan Gavin terkejut ketika melihat Athena terbaring di lantai dengan pakaian tidur yang pendek, Athena mengenakan baju tidur jenis Bathrobes hitam. Gavin yang panik segera menghampiri Athena. Dia terkejut ketika melihat Athena berkeringat dingin dengan tubuh gemetar, Gavin langsung menggendong tubuh Athena di kasur kemudian dengan telaten mengikat rambut Athena yang terurai agar tidak terlalu panas.


"Athena," panggil Gavin selembut mungkin.


Athena membuka matanya, dia terkejut melihat Gavin ada disini tapi dia tidak peduli sebab butuh pertolongan. Sejak pulang dari pemakanan bersama Kaizer. Athena merasa sesuatu menempel pada tengkuknya kemudian menjadi seperti ini, benar-benar menyakitkan.


"Ini menyakitkan," cicit Athena


Gavin menatap lekat wajah Athena yang pucat, " Apakah semalam kau habis ke pemakaman, Lady Athena?" tanya Gavin menyelidik.


Athena mengangguk lemah. Gavin menghela napas pelan kemudian mengusap lembut wajah Athena, " Kau diikuti oleh Piplo, makhluk kecil seperti lintah. Dia menempel di tengkukmu lalu masuk ke dalam mulutmu, dia mencoba menghisap tenagamu, makhluk ini hanya ada di pemakaman dan berkeliaran di tengah malam."


Athena tersentak, dia baru tahu ada makhluk seperti itu, padahal dia sering ke pemakaman tapi kenapa baru kali ini diikuti.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Athena.


Gavin berpikir cukup lama, lalu tangannya beralih mengusap keringat pada dahi Athena.


"Jika kau menginjinkannya, maka aku akan keluarkan Piplo dari dalam tubuhmu, Lady Athena," kata Gavin


Athena mengangguk lemah, sungguh ini menyakitkan, dia semakin lemah apalagi berbicara saja membuatnya begitu letih dan sesak.


"Aku benar-benar minta maaf," kata Gavin, kemudian pria itu meletakkan tangannya pada tengkuk Athena kemudian memijat dengan pelan, Gavin juga membaca sebuah mantra kemudian membisikkan pada telinga Athena dengan jarak yang sangat dekat.


Tidak lama setelahnya, tubuh Athena menegang dan mulutnya terbuka, makhluk bernama Piplo itu keluar dari mulut Athena dan terbang di udara lalu berniat kabur namun, tangan Gavin lebih cepat darinya, Gavin mencengkram kuat makhluk itu hingga hancur, sedangkan Athena tidak sadarkan diri.


"Dia begitu lelah, aku harus menjaganya dulu disini," kata Gavin.


Gavin tidak tahu bagaimana Athena bisa bertahan sampai pagi. Piplo sangat berbahaya jika hinggap pada manusia, mereka bisa mati jika dalam waktu tiga jam Piplo masih menghisap energinya. Ah, Gavin tidaklah bodoh, dia tahu bahwa Athena adalah seorang manusia. Gavin sangat kenal dengan Natalie Narquez. Sebelum meninggal, Natalie telah menceritakan tentang Athena dan Natalie sangat menyayangi Athena sebab manusia itu sudah dia anggap seperti adiknya sendiri dan Gavin justru jatuh cinta pada Athena.


"Eh?"


Gavin yang mengedarkan pandanganya di dalam kamar Athena justru melihat sebuah undangan bewarna hitam di meja kecil pada sisi kasur Athena. Gavin meraih undangan kecil itu.


"Ini undangan khusus bagi orang istimewa milik Yang Mulia, bagaimana bisa Athena memilikinya?" kata Gavin dengan alis terpaut.


"Kalau kondisinya seperti ini, apakah dia bisa pergi ke pesta?" gumam Gavin lagi.


Pria itu berpikir keras. Kalau Athena tidak hadir, ini sangat berbahaya sebab undangan seperti ini berarti harus wajib hadir, jika tidak hadir, besar kemungkinan Raja akan marah. Lagi pula, Gavin juga menginginkan Athena menjadi pendamping saat mengunjungi pesta itu.


Gavin menatap Athena kemudian meletakkan telapak tangannya pada kening Athena. Dia memejamkan matanya hingga sebersit cahaya muncul di sana lalu hilang.


Perlahan Athena membuka matanya, dan yang pertama kali dia lihat adalah Gavin yang menatapnya dengan senyum tipis.


Tuk!


Athena terdiam ketika Gavin justru jatuh menindih tubuhnya, pria itu begitu kelelahan. Sedangkan Athena tidak merasakan apapun yang menyakitkan pada tubuhnya.


"Dia menolongku," ucap Athena.


Athena bangun kemudian membenarkan posisi Gavin di atasnya, kali ini Gavin yang tidur di kasurnya.


"Kau lelaki pertama yang tidur di kasurku," kata Athena.


Dia benar-benar beterima kasih pada Gavin sebab pria itu menolongnya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi bila Gavin tidak kemari. Sedangkan Gavin hanya butuh istirahat sebentar karena memberikan energinya pada Athena.


...***...


Suara hiruk pikuk memenuhi kerajaan, lampu-lampu indah memanjakan mata, para bangsawan dengan gaun-gaun indah mereka berlalu lalang sembari berbincang. Musik mengalun indah dari piringan hitam yang berputar. Sedangkan sang penyelenggara pesta hanya berdiri pada tangga sembari mengamati suasana pesta, dia menunggu seseorang memasuki pestanya namun, tidak kunjung datang. Sedangkan Charlotte tampak berbincang dengan beberapa orang.


Hingga akhirnya mata Kaizer melebar ketika melihat orang yang ditunggu olehnya tiba namun, menggandeng pria lain. Sepasang mata kini berpaling menatap Gavindra Herwis bersama Athena Flous Narquez memasuki pesta. Pasangan yang bersinar kali ini, sepertinya jatuh pada mereka. Tanpa sadar Kaizer mencengkram kuat penyangga tangga, dia memalingkan wajahnya kala netra Athena terarah padannya.


Charlotte menatap Athena. Ternyata benar bahwa rumor mengenai pemilik toko bunga ternama memiliki wajah yang sangat cantik. Charlotte mengepalkan tangannya karena kesal melihat Gavindra begitu bahagia datang bersama bangsawan pemilik toko bunga itu.


"Selamat datang Pangeran Gavin," sapa Charlotte dengan senyum manis.


"Senang bertemu dengan Putri Charlotte," kata Gavin hingga Athena menatap Charlotte.


"Sepertinya kau membawa pasangan, siapa dia?" tanya Charlotte


"Dia adalah Athena Flous Narquez, dia adalah keponakan dari Natalie Narquez," jelas Gavin


"Perkenalkan saya Putri Charlotte, sepupu dari Yang Mulia," kata Charlotte dengan tatapan tak suka dan Athena menyadari hal itu.


Athena tersenyum, " Sebuah kehormatan bisa mengenal Putri."


Athena melepaskan tangannya pada Gavin kemudian menatap pria itu, " Saya harus bertemu seseorang."


Gavin mengangguk, " Perhatikan langkahmu, di sini sangat ramai, Lady Athena."


Athena mengangguk kemudian meninggalkan Gavin bersama Charlotte.


Athena mencari keberadaan Kaizer. Dia menaiki tangga, tempat dimana melihat Kaizer terakhir kali. Athena justru menemukan lorong dengan pilar-pilar kokoh, di sana tidak ada siapapun, sepertinya tempat ini tidak di isi untuk para tamu tapi dia justru kesini.


Eh!


Athena terkejut ketika seseorang menarik kemudian menyudutkannya pada tubuh pilar besar di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya orang yang kini menyudutkan Athena.


"Kaizer, kau terlalu dekat, aku hanya ingin mencarimu," kata Athena.


Kaizer melepaskan Athena kemudian berdiri dengan menyedekapkan tangan di dada.


"Untuk apa?"


"Aku akan menjelaskannya, kau percaya atau tidak itu urusanmu," kata Athena


"Katakan."


"Berhati-hatilah pada Putri Charlotte, dia ingin membunuhmu di pesta ini," kata Athena.


"Tau dari mana kau?"


"Aku sempat mendengar dua orang berbincang di sudut perkotaan, mereka berencana membunuhmu melalui Putri Charlotte."


"Perkataanmu ini, bisa di katakan sebuah fitnah jika tidak ada bukti," kata Kaizer.


"Terserah dirimu, aku hanya mengatakan yang aku tahu. Aku harus pergi kembali pada Gavin," kata Athena.


"Tidak, kau harus di sini bersamaku," kata Kaizer.


"Aku tidak mau," kata Athena kemudian melangkah pergi.


"Kau mengatakan hal ini, apakah karena kau takut Charlotte memiliki Gavin sepenuhnya?" kata Kaizer.


Langkah Athena terhenti, "Apa maksudmu?"


"Semua orang pun tahu bahwa Charlotte menyukai Gavin. Dan Charlotte menginginkan Gavin menjadi tunangannya," kata Kaizer dengan nada sinis.


Athena menghadap Kaizer, kemudian menautkan alisnya sebab tidak suka dengan perkataan Kaizer.


"Anggap saja begitu, kau puas!" kata Athena kemudian pergi.


Kaizer benar-benar tidak percaya dengan perkataan orang lain kecuali ada bukti, Athena tidak peduli kemudian pergi dari sana.


Kaizer menggeram, dia benci melihat Athena bersama pria lain. Maka erbicara seperti itu. Dia membutuhkan seseorang berada di sisinya saat ini. Kaizer merogoh sakunya dan di tangannya terdapat belati dengan permata merah. Dia berhasil mengambilnya dari kamar Charlotte. Kaizer tidak sengaja mendengar pembicaraan Charlotte bersama seseorang tadi pagi.


"Ini pesta terakhirmu Charlotte," kata Kaizer. Dia bisa saja membunuh Charlotte saat itu, tapi ia membiarkan Charlotte untuk menikmati pesta terakhirnya, wanita itu bahkan belum sadar bahwa belatinya sudah ada di tangan Kaizer.


"Akh! Tidak seharusnya aku berkata seperti itu pada Athena, dia membuatku kesal karena bergandengan dengan pria lain."


Sedangkan, Athena pergi meninggalkan pesta tanpa Gavin. Dia memilih pulang sendiri padahal sangat jauh jika kembali tanpa menggunakan kuda. Athena telah berada jauh dari Istana.


"Siapapun yang berusaha melindungi Kaizer, akan mati."


Athena menghentikkan langkah ketika sosok pria bertubuh besar hadir. Dia adalah orang yang sama, pria paruh baya yang ingin membunuh Kaizer. Tuan Lois- paman Kaizer.


"Kau adalah orang yang menguping pembicaraan kami bukan? Sepertinya kau ingin ke pesta dan memberitahunya pada Kaizer."


"Hentikan omong kosongmu, aku baru saja dari sana dan sekarang ingin ke rumah," jawab Athena.


"Cyberus, habisi wanita itu," katanya.


Athena mengkerenyitkan dahi ketika melihat sosok itu menggerakkan tangannya seperti memanggil seseorang. Athena menelan salivanya kasar ketika melihat anjing besar berkepala dua tengah menatapnya lapar. Gigi besar anjing tersebut dipenuhi liur. Athena melompat ketika kaki anjing dengan cakar besar hampir merobek tubuhnya.


"Wah, kau cukup ahli menghindar, tapi coba saja kabur dari Cyberus! Hahah!" gelaknya.


...BERSAMBUNG....