Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 16



...HAPPY READING...


Sinar matahari memasuki kamar Athera melalui celah ruanhan. Athera beringsut menghindari cahaya dengan memeluk Regaz yang ia kira adalah bantal guling miliknya. Regaz sendiri telah terbangun hingga hanya mampu terkekeh dan mata pria itu terus memperhatikan gerak-gerik Athera yang terus menelusupkan kepala pada dada bidangnya.


"Nyaman," racau Athera kemudian kembali mendengkur.


Regaz yakin hanya Athera yang mampu mepermainkan emosinya. Awalnya Regaz membenci kemudian terhanyut menyukai kemudian sekarang ia justru sadar bahwa dirinya benar-benar terlena oleh Athera.


KRIEET


Pintu terbuka. Retha mematung ketika melihat Regaz dan Athera ada di dalam sana. Regaz hanya menoleh dengan ekspresi dingin hingga Retha kembali menutup pintu kamar Athera dengan pelan. Awalnya ia ingin membersihkan kamar kakaknya .


"Sejak kapan mereka kembali?" tanya Retha pada diri sendiri.


KRIEET


"Sejak Tier dan dirimu bermesraan semalam di sekitar paviliun Athera." Regaz menjawab pertanyaan Retha. Pria itu baru saja keluar setelah membenarkan posisi tidur Athera agar wanita itu tidak terbangun.


Retha membeku di posisinya. Ia langsung menundukkan kepala dengan wajah bersemu. Ia tidak menyangka bahwa Regaz melihatnya malam itu. Sedangkan Regaz hanya pergi begitu saja meninggalkan Athera beserta paviliun.


Regaz tidak kembali ke kediamannya, pria itu justru mengambil arah menuju kediaman Ruoxi. Ada hal yang harus ia pertanyakan pada tangan kanannya itu.


Ruoxi yang tengah berjalan-jalan melihat tanaman di sekitar kediamannya langsung tersenyum sumringah kala menyadari kehadiran Regaz.


Ruoxi berniat membungkuk hormat namun, Regaz mencegahnya. "Tidak perlu, lagi pula aku datang sebagai temanmu."


Ruoxi menyengir lebar kemudian mempersilakan Regaz memasuki kediamannya. Ruoxi mengajak Regaz untuk duduk di ruangan yang sama saat Athera menemuinya.


Ruoxi serta Regaz duduk di sebuah kursi kayu di sana setelah Ruoxi menyediakan teh hangat.


"Apa yang ingin anda tanyakan, Yang Mulia?" tanya Ruoxi.


Regaz mengangkat cangkirnya kemudian menggerak-gerakkannya.


"Rasanya aku telah menyukai Athera."


TAK!


Tanpa sengaja jemari Ruoxi menyenggol cangkir miliknya hingga terjatuh di meja. Mulut Ruoxi membulat sempurna.


"Wanita masa depan memang hebat," cicit Ruoxi


"Apa?" Regaz bertanya dengan ekspresi bingung.


"T-tidak apa-apa." Ruoxi menjawab dengan gugup sembari membersihkan tehnya.


Regaz ingat bahwa Athera pernah ke sini. Apakah Ruoxi menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku Ruoxi?" tanya Regaz dengan mata yang terus memperhatikan Ruoxi yang gelagapan kala membersihkan tehnya yang tumpah.


"Mana mungk-"


"Aku tau ketika kau berbohong, katakan!" titah Regaz.


Ruoxi menelan salivanya kasar. Jika Athera tahu bahwa ia membongkar identitasnya maka wanita itu pasti akan mengamuk namun, ia tidak mungkin menghindari pertanyaan Regaz.


Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Athera yang ini adalah seseorang yang berasal dari masa depan. Ruoxi memilih berdiri membelakangi Regaz dengan begini pria itu tidak akan tahu apabila dirinya tengah berbohong.


"Saya rasa tidak salah jika anda menyukai Permaisuri. Lagi pula Permaisuri adalah sosok yang baik dan tangguh. Wajar saja hati anda bisa luluh karenanya," jelas Ruoxi.


"Hamba menyembunyikan hal ini. Sebenarnya hamba sangat gembira karena anda akhirnya menyukai permaisuri." Ruoxi memutar tubuhnya menghadap Regaz. Rasanya ia ingin muntah setelah mengatakan hal ini. Athera harus berterima kasih padanya.


"Tapi, aku selalu mengingat balas dendamku, hingga akhirnya aku berusaha membuang perasaan ini."


Ruoxi terdiam cukup lama. Rasa cinta dan rasa benci memiliki posisi berbeda pada hati manusia. Mereka hanya terpisah oleh sekat yang tipis, kalau saja rasa cinta mampu menghancurkan sekat yang memisahkannya pada rasa benci, Ruoxi yakin bahwa Regaz akan melupakan rasa bencinya.


"Balas dendam anda sudah terpenuhi. Balas dendam hanya kepuasaan sesaat. Kita sudah berjaya Yang Mulia. Dan yang seharusnya kita pikirkan adalah bagaimana kondisi kerajaan ini untuk masa yang akan datang. Kita hanya perlu memikirkan masa depan kemudian lupakan masa lalu. Sebaiknya anda memikirkan bagaimana memberikan cucu untuk baginda raja serta ibu suri. Anda harus segera memiliki seorang penerus dan itu harus melalui Permaisuri," usul Ruoxi bahkan pria itu mengepalkan tangan di udara seakan telah membayangkan hal itu akan terjadi.


Entah kenapa memikirkannya membuat Regaz senang. Pria itu menyunggingkan senyum puas akan usul Ruoxi. Namun, Regaz yakin bahwa Athera tidak mungkin menyukainya karena wanita itu bahkan kesal jika melihat dirinya. Lalu apakah Regaz harus berjuang menaklukkan hati Athera?


Regaz berdiri dari duduknya kemudian mendekati Ruoxi sembari menepuk pundak pria itu.


"Kau memang penasihat yang paling hebat," puji Regaz kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ruoxi yang terdiam bagai patung.


...***...


Athera kini tengah duduk di atas kasurnya. Ia menunggu Regaz yang katanya ingin menghukumnya namun, tidak kunjung datang. Jadi, Athera memilih membaca buku tentang cermin penukar nasib itu. Ia sedikit lagi selesai membaca buku itu.


Cermin ini tersimpan di tempat tersembunyi. Kau bisa menemukannya namun bisa pula memanggilnya.


Athera mengkerenyitkan dahinya ketika membaca kalimat berikutnya adalah sebuah aksara yang ia tidak tau apa artinya. Athera yakin itu adalah mantra untuk memanggil cermin itu. Athera memijat pelipisnya berusaha mencari siapa yang bisa membantunya membaca aksara ini.


"Ah, Ruoxi!" Athera meninju udara ketika ia menemukan orang yang cocok untuk ia temui.


Athera segera beranjak dari kasurnya kemudian berlari. Sama sekali bukan contoh permaisuri yang anggun dan paham etika para bangsawan.


Selir Yuen bersama para selir lainnya melihat Athera berlari. Mereka menggeleng melihat tingkah Athera sekarang. Kediaman selir dan kediaman Permaisuri tidaklah terlalu jauh, mereka hanya dipisahkan oleh jembatan panjang yang di bawahnya terdapat kolam ikan yang tidak terlalu dalam.


Athera melewati jalan di mana ia bisa menuju kediaman Ruoxi namun, langkahnya terhenti ketika Regaz yang sepertinya telah dari kediaman Ruoxi berdiri tidak jauh dari posisinya dengan tatapan sulit terbaca. Athera seakan terpaku pada posisinya. Regaz terus berjalan mendekati Athera kemudian ia langsung menarik Athera entah kemana dan Athera tidak mampu menolak.


Sebuah kastil indah, dihuni oleh para pelayan dan prajurit yang berdiri pada posisinya berjaga. Semua yang ada di dalam sana membuat Athera terpukau. Lantai yang ia pijak memiliki ukiran kuno yang begitu memikat mata belum lagi genggaman tangan Regaz menciptakan debaran kecil pada jantungnya.


Pria itu tidak pernah menoleh ke arahnya namun, yang Athera yakin bahwa Regaz membawanya pada sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar milik Regaz. Pria itu mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar itu kemudian dengan cepat Regaz menutup pintu dan menyudutkan Athera pada punggung pintu yang telah tertutup.


Athera menelan salivanya kasar kala Regaz menghimpit tubuhnya.


"Apakah ia ingin menghukumku di sini?" Athera bertanya dalam hati dengan waspada.


"Regaz sepertinya habis bertemu Ruoxi, jangan-jangan Ruoxi membongkar identitasku? Jika itu benar, aku akan menyiksanya," batin Athera penuh dendam seraya mengingat wajah Ruoxi.


Regaz mendekatkan wajahnya di samping telinga Athera kemudian berbisik, "Athera, mari buat anak."


DUAGH


AKH!


"Apa?! Buat anak!" Athera berteriak dengan ekspresi terkejut.


Sedangkan Regaz mengaduh kesakitan kala pusaka miliknya ditendang oleh Athera dengan begitu kuat. Hingga ia memekik tertahan dengan tangan yang sekuat tenaga ia kepalkan di sisi tubuhnya. Ia berusaha kuat walau kini wajahnya memerah karena rasa sakit pada pusakanya.


"Kau menya- kitiku!" geram Regaz.


"Rasakan itu! Lebih baik aku dihukum mati ketimbang harus memiliki anak darimu sebagai hukumanku," jawab Athera dengan napas memburu karena kesal.


Regaz berusaha menegakkan tubuhnya kemudian kembali mendekati Athera.


"Hukuman? Jadi kau pikir memiliki anak bersamaku adalah sebuah hukuman untukmu?"


Athera mengangguk. "Kau bilang ingin menghukumku karena kau salah paham akan perselingkuhan yang tidak jelas."


Regaz menghela napas gusar kemudian ia kembali mengurung Athera di punggung pintu. Sebelah kaki Regaz digunakan untuk mengunci kedua kaki Athera agar tidak menendang pusakanya lagi.


"Bukan. Ini bukan sebuah hukuman tapi sebuah ajakan," jelas Regaz.


Wajah Athera langsung bersemu. Ia tidak menyangka bahwa Regaz mengatakan hal ini dengan begitu mudah tanpa emosi sama sekali.


"Berapa pun anak yang kau inginkan. Aku bersedia menemanimu membuatnya!" sambung Regaz lagi.


Athera melotot. Kemudian refleks tangannya bergerak untuk meninju wajah tampan Regaz hingga pria itu terhuyung.


"Dasar pria gila!!!" maki Athera.


...BERSAMBUNG......