
...Pada season 2, lebih dominan pada cerita anak Athera. Jadi, maaf kalau kalian bakal jarang nemuim adegan Regaz serta Athera^^...
...SELAMAT MEMBACA...
Athena Flous Esse, adalah gadis manusia berusia dua puluh tahun yang terjebak di dunia immortal sebab menolong pria yang tidak dikenalinya dua tahun lalu. Ia mati-matian menyembunyikan diri di dunia immortal, sebab ada peraturan yang mengatakan bahwa manusia yang ada di dalam dunia immortal akan di penjara atau mungkin dihukum mati. Athena meninggalkan pamannya yang bernama Ruoxi di Kota Redhell, mungkin selama dua tahun terakhir ini pamannya itu mengalami kesulitan atau mungkin diberi hukuman oleh orang tuanya karena lalai melindungi dirinya.
Kota Redhell sendiri adalah sebuah perkotaan yang terletak di tengah-tengah dunia manusia dan dunia immortal. Di Kota Redhell kalian bisa melihat manusia dan makhluk dunia immortal berbaur tetapi mereka tidak akan mampu menembus dunia yang bukan milik mereka. Kota Redhell dikelilingi sebuah pelindung agar makhluk immortal tidak mampu ke dunia manusia begitupun sebaliknya, tapi mereka hanya mampu menembus pelindung mereka sendiri hanya untuk ke Kota Redhell.
"Madam, apa yang kau lamunkan?" tanya Ersya- salah satu pembantu Athena yang dipekerjakan di toko bunga
Athena yang sedari tadi melamun sembari menatap keluar jendela langsung terkesiap kemudian melempar senyum tipis, " Tidak ada."
Ersya yang mendengar jawaban Athena langsung mengangguk pelan kemudian ia kembali menyusun beberapa pot bunga di tempat semestinya. Athena Flous Esse telah mengganti namanya menjadi Athena Flous Narquez, ia menghilangkan nama belakangnya yang merupakan marga bangsawan, sangat berbahaya jika ia menyebutkan marganya itu.
Athena bersyukur sebab ia bertemu dengan pemilik toko ini - Natalie Narquez, wanita berumur enam puluh lima tahun yang menyelamatkannya ketika dirinya diburu oleh beberapa makhluk immortal dari klan vampir. Namun Natalie telah meninggal, ia seorang penyihir dan sebelum meninggal, Natalie memberikan sebuah kalung berliontin pada Athena yang berguna untuk menyamarkan aura manusianya. Sekarang Athena dikenal sebagai penyihir biasa di sana.
Cring.. Cring...
loceng kecil di depan toko berbunyi, sepertinya ada pelanggan, Athena langsung berjalan perlahan untuk melihat siapa pelanggan yang datang. Athena terdiam ketika melihat Gavindra Herwis, salah satu pangeran dari klan vampir. Pria ini selalu saja datang ke tokonya hanya untuk sekedar melihat-lihat bunga atau hal lainnya.
"Selamat pagi, Lady Athena." Gavin meraih tangan kanan Athena kemudian mengecup punggung tangannya, Athena langsung menarik tangannya kemudian memalingkan wajahnya.
" Jaga sikap anda Pangeran Gavin. Di luar sana beberapa orang memperhatikan kita," kata Athena kemudian menatap dinding kaca pada tokonya.
"Aku tidak peduli Lady Athena. Mereka hanya sedang memperhatikan kecantikanmu," kata Gavin kemudian mengekori Athena yang memilih menghampiri bunga-bunganya.
"Anda sangat suka membual. Silakan pilih bunga yang akan anda beli, saya sedang sibuk.)," ucap Athena.
Gavin menatap punggung Athena dengan senyum manis, rambut putih milik Athena begitu besinar di matanya. Ia benar-benar menyukai pemilik toko bunga ini.
"Kalau begitu aku mau bunga ini," kata Gavin hingga membuat Athena menoleh untuk melihat bunga apa yang diinginkan pria itu.
Ternyata Gavin cukup pandai memilih bunga, ia menunjuk bunga Bleeding Heart, bunga bewarna merah muda dengan bentuk hati ini memang cukup menarik dan diminati para pengunjung di toko bunga.
"Baiklah." Athena mulai bergerak untuk menyiapkannya namun, pergerakannya terhenti.
"Kalau begitu, tunggu sebentar," kata Athena. Ia menghampir pot bunga yang terdapat beberapa bunga-bunga yang masih begitu kecil kemudian menghampiri Gavin.
" Tidak usah membayarnya, aku harap Pangeran bisa membuatnya mekar seperti itu," kata Athena seraya melirik bunga Bleeding Heart yang begitu lebat di dalam tokonya.
"Hah, kau memang baik hati, Lady Athena." puji Gavin sedangkan Athena hanya diam.
...***...
Kairez Thanatos, Raja termuda dalam sejarah yang menduduki takhta pada era ini. Ia adalah raja yang memimpin dunia immortal. Mata amber milik Kaizer menghujam tajam para penasihat kerajaan yang telah duduk di setiap sisi meja yang terdapat kursi.
"Pelindung Kota Redhell kian melemah, beberapa dari kita telah mampu menembus langsung ke dunia manusia, ini kesempatan bagi kita, Yang Mulia," kata salah satu penasihat di sana.
Salah seorang menteri di sebelahnya angkat suara sebab pendapatnya berbeda, " Yang Mulia, jangan mencoba menguasai dunia manusia, kita telah hidup damai tanpa campur tangan para manusia begitupun manusia. Dari pada menguasai alangkah baiknya kita bersekutu dengan manusia."
Tuan Korne adalah salah satu menteri penasihat yang mengeluarkan argumen pertamannya tadi, kini mencebik, " Semuanya sesuai keputusan anda, Yang Mulia."
Kaizer terdiam cukup lama, sampai akhirnya semua argumen terus keluar dari mulut para penasihatnya. Kaizer memijit pelipisnya hingga para penasihat yang menyadari hal itu langsung terdiam dan menunduk dengan keringat yang membasahi pelipisnya.
"Aku meminta kalian memberikanku sebuah solusi dan aku akan menilainya, bukannya kalian saling berdebat seperti ini dengan satu sama lain," kata Kaizer.
"Maaf, Yang Mulia," kata mereka secara serempak.
Kaizer kemudian menatap seluruh menterinya, " Aku dengar, Raja manusia memiliki seorang putri, cari informasi tentang putri itu kemudian temui aku setelah mendapatkan informasi yang detail," kata Kaizer kemudian berdiri dan meninggalkan posisinya.
Semua menteri berdiri dan membungkuk hormat. Kaizer yang belum sepenuhnya keluar dari ruangan, menghentikkan langkahnya kemudian berujar tanpa memutar tubuhnya kembali ke belakang, " Kuberi waktu tiga hari untuk kalian."
"T-tiga hari?" ulang beberapa menteri.
Kaizer tersenyum sinis kemudian menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, " Sudah kuduga, itu waktu yang terlalu lama untuk kalian, kalau begitu besok batas terakhir kalian. Jika tidak ada yang datang menghadapku, maka bersiaplah dieksekusi." kata Kaizer kemudian benar-benar pergi meninggalkan ruangan rapat.
"Seharusnya kita diam saja, diam adalah emas," kata salah satu menteri dengan raut sedih.
...BERSAMBUNG...