
...SELAMAT MEMBACA...
Ianos Preana Esse adalah anak kedua dari Regaz serta Athera. Ia bocah lelaki yang cerdas dengan sikap yang dewasa, sangat tidak sesuai dengan umurnya yang berusia sepuluh tahun.
Saat ini, Ianos tengah duduk dengan kaki saling berpangku. Mata tajamnya itu tidak pernah lepas dari seorang bocah yang dibawa oleh kakaknya. Jelas-jelas Ianos bisa menyadari bahwa bocah itu terlihat sama sepertinya. Sikapnya sangat dewasa.
"Ianos, kakak harap kau bisa berbaur dengannya. Mulai sekarang dia adalah temanmu." Athena berujar dengan lembut pada Ianos.
"Aku tidak bermain dengan bocah ingusan sepertinya," kata Ianos.
"Kau juga bocah, kalau tidak lupa." Athena menepuk puncak kepala adiknya dengan kekehan kecil.
"Kenapa kakak membawa anak yang tidak diketahuu asal-usulnya ini? Bisa saja dia adalah suruhan musuh atau semacamnya," tuduh Ianos.
"Dia imut sepertimu. Jadi, akurlah. Kakak ingin menemui beberapa dewan kerajaan," jawab Athena kemudian mendekati Kaizer yang hanya diam memandang Ianos lekat.
"Katakan saja jika dia nakal, ya." Athena tersenyum manis pada Kaizer sembari mengacak rambut hitamnya.
Kaizer mengangguk dengan senyum merekah. Athena benar-benar manis pada anak kecil.
Setelahnya Athena benar-benar pergi. Kini, hanya mereka berdua di dalam ruangan yang merupakan milik Ianos.
"Kau keluar," kata Ianos datar pada Kaizer.
Kaizer memandang Ianos dengan tatapan sinis kemudian berbaring di sofa. " Tidak mau."
Ianos benar-benar terkejut. Bocah itu berani membantahnya bahkan bersikap kurang ajar. Bocah itu termasuk jahat dengan menyembunyikan watak sesungguhnya.
"Hei, bocah. Kau cukup pandai, apakah kau tertarik dengan sesuatu yang berbau sihir?" tanya Kaizer dengan tatapan tegas pada Ianos.
"B-bocah?!" Ianos melotot.
Kaizer merubah posisinya menjadi duduk. Tangan kecilnya itu bergerak naik dan di saat yang bersamaan, cangkir pada meja di antara mereka terangkat dan mengambang di udara.
Ianos memandang takjub pada Kaizer. Sedangkan Kaizer terkekeh, bagaimanapun Ianos pasti memiliki sisi anak-anaknya.
"K-kau siapa sebenarnya?" tanya Ianos was-was.
"Aku.. Kaizer. Seorang pemimpin dunia immortal."
Pftt...
Kaizer mengangkat sebelah alisnya ketika Ianos menahan tawanya.
"Kau mengejekku?"
Ianos kemudian memasang wajah datarnya . "Kau bercanda? Mana ada Raja kecil sepertimu."
"Aku menyusut sebab memaksakan diri menembus segel pelindung ke duniamu."
DEG!
Sontak raut wajah Ianos menjadi pucat.
"Lalu, kenapa kau ke sini?! Apa maksud kedatanganmu!"
"Tenanglah, aku tidak akan berbuat hal yang buruk di sini. Aku hanya merindukan kakakmu." Kaizer berujar jujur.
Ianos tampak berpikir keras. Ia tidak tahu seperti apa wujud Kaizer jika dewasa. Tapi, kakaknya sangat beruntung dicintai oleh penguasa dunia immortal yang dikenal kuat. Tapi, bisakah Ianos percaya begitu saja? Sebab ada juga penyihir biasa yang mampu melakukan hal mudah seperti tadi.
"Kau masih meragukanku, ya?" tanya Kaizer.
"Iya."
"Bagaimana kalau begini," Kaizer memejamkan matanya kemudian kukunya menjadi hitam dan panjang, matanya pun berubah menjadi merah akan tetapi, Ianos tidak takut melainkan gemas melihatnya, seperti iblis kecil yang lucu. Oke, ia percaya kali ini.
"Seharusnya kau tidak nekad, kalau kau ketahuan maka ayahku bisa membunuhmu." Ianos berujar setelah Kaizer menormalkan kembali fisiknya.
"Hah, anak kecil sepertimu mana paham," tukas Kaizer.
"Kau akan melapor setelah kuberitahu?" tanya Kaizer.
Ianos menggeleng kemudian berkata pelan, " Tidak, asalkan kau mau mengajarkanku sebuah sihir."
"Kekuatan kami adalah bawaan sejak lahir. Tidak bisa diwariskan pada manusia biasa, kecuali manusia yang lahir pada bulan merah. Mereka termasuk spesial."
"Aku lahir di bulan merah," tutur Ianos.
"Kau berbohong?"
"Ya, ku rasa," kata Kaizer dengan sorot mata yang masih tidak percaya. Mungkin saja bocah ini tengah berbohong.
"Jadi, aku harus memanggilmu apa?"
"Kakak ipar," jawab Kaizer.
"Kau gila?"
"Tidak, karena sebentar lagi aku akan melamar kakakmu."
...*****...
Athena memandang ayah dan ibunya dengan skeptis.
"Ayah, jika peperangan terjadi apakah kita akan menang?" tanya Athena.
"Kau mulai ragu?" tanya Regaz.
"Berapa banyak yang akan mati? Aku memang sudah merancang strategi yang bagus. Tapi, setelah kupikirkan, apakah tidak ada cara lain agar peperangan tidak terjadi?"
"Ada."
"Apa itu?"
"Menikah dengan penguasanya. Kau bisa melakukannya? Kau bisa hidup dengan makhluk yang tidak memiliki rasa cinta? Ayah tidak ingin kau hidup menderita."
"Belum tentu juga bahwa penguasa itu akan tertarik dengan Athena," kata Athera pada Regaz.
Mendengar hal itu, Athena langsung mengatupkan bibirnya rapat, wajahnya bersemu ketika sekelebat wajah Kaizer yang penuh kecemburuan melintas begitu saja.
"Kau pernah bertemu dengannya, Sayang?" tanya Athera.
Athena menggeleng.
"Ayah tau kau sedang berbohong," celetuk Regaz.
"Ayah tau dari mana?" Athena mendengus.
"Tatapanmu tidak fokus, kau sama seperti ayahmu kalau lagi berbohong." Athera yang menjawab hingga Regaz menatap istrinya dengan tatapan sulit percaya.
"Memang kapan aku pernah berbohong?"
"Kapan ya? Waktu kau berpura-pura tidak mengenalku kemudian mengambil fotoku secara diam-diam."
"Sudah kukatakan, aku mengambil foto bunga, kau saja yang terlalu percaya diri."
"Apa?! Kau bahkan menjebakku dengan mengundang keluargaku ke pesta pencari jodohmu itu?! Benar-benar menyebalkan."
"Tapi, kalau tidak begitu, kau mana mau menikah denganku?!"
"Kau banyak selir begitu, siapa yang mau?!"
"Walaupun selir ku banyak, hanya kau tempatku memproduksi anak. Aku masih perawan walaupun banyak selir tahu! Kau itu wanita pertama yang kusentuh sampai punya anak."
Athena serta Athera terdiam dengan raut wajah datar. Perawan? Memangnya Regaz pikir dia itu wanita. Benar-benar konyol mendengar ayahnya berbicara seperti itu.
Athena pergi dari sana ketika raut wajah datar ibunya berubah menjadi raut wajah malu-malu. Benar-benar berasa dunia sendiri.
Athena memutuskan kembali mengunjungi kamar Ianos lagi. Setelah bertemu dewan kerajaan kemudian bertemu ayah dan ibunya, kali ini ia harus bertemu anak kecil imut itu.
"Di mana dia?" tanya Athena pada Ianos.
Ianos tampak gugup, tapi mencoba bersikap tenang.
"Dia mengantuk jadi aku mengantarnya ke kamarmu."
"Kalau begitu aku ke sana," jawab Athena.
Sedangkan di kamar Athena.
Kaizer terkejut bukan main ketika tubuhnya perlahan menjadi dewasa. Ia meninggalkan Ianos setelah mengajari beberapa mantra sihir pada bocah itu. Lalu, tiba-tiba tubuhnya perlahan membesar.
Saat ini, Kaizer tengah berada di dalam kamar mandi Athena dengan pakaian yang koyak di tangannya. Ia hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia bingung harus bagaimana selanjutnya.
"Aku kembali!" seru Athena ketika memasuki kamarnya.
...BERSAMBUNG......