Trapped in the Past

Trapped in the Past
SEASON 2 [Episode 04]



...SELAMAT MEMBACA...


Suasana toko bunga terlihat begitu ramai hari ini. Kebanyakan dari mereka adalah putri dari kerajaan di berbagai klan. Sedangkan sang pemilik tokoh justru berada di ruangan lain dalam toko, sembari menyesap secangkir teh untuk merilekskan pikirannya. Setelah menuntaskan acara minumnya, Athena menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi lalu menatap langit-langit ruangan.


Wajah Kaizer terus terlintas dalam benaknya. Pria itu benar-benar mirip dengan pria yang pernah dia elamatkan dua tahun lalu. Tapi, pria yang dia temui waktu itu begitu lembut, mulai dari tindakannya dan juga suaranya. Dan pria itu juga yang membuat Athena jatuh cinta.


Athena memijat pelipisnya. " Wajah mereka benar-benar mirip."


Merasa sudah sangat bosan dalam ruangan tersebut, Athena akhirnya menyudahi pikirannya dengan memilih keluar dari ruangan, kemudian kembali membuka pintu yang langsung menuju toko bunganya. Ada beberapa pintu yang memiliki ruangan-ruang dalam toko besar Athena.


"Selamat pagi, Lady Athena," sapanya.


Athena terkesiap ketika seorang pria tengah berdiri di depan kaca toko bunga. Kemudian Athena melempar pandang pada Ersya yang menunduk, " Ersya, kemana seluruh pelanggan tadi?"


"Yang Mulia, menyuruh semua pelanggan meninggalkan toko, Madam," jawab Ersya.


Athena kemudian melempar atensi pada pria yang tak lain adalah Kaizer. Pria itu datang tanpa Griffin. Sebentar lagi dia akan jadi bahan perbincangan orang lain.


"Selamat pagi, Yang Mulia, ada masalah apa hingga anda sampai datang ke toko sederhana saya ini?" tanya Athena dengan menampilkan senyum terpaksa.


"Kerajaan sebentar lagi akan mengadakan pesta besar. Jadi saya datang sendiri untuk melihat bunga-bunga yang indah untuk menghiasi kerajaan," jawab Kaizer


"Kalau begitu, berkenankah anda masuk terlebih dahulu untuk menikmati segelas teh?" kata Athena


"Tentu."


"Ini suatu kehormatan, Yang Mulia." Setelahnya Athena kembali memasuki ruangan bersama Kazier. Ruangan dimana tempatnya minum teh.


Dan tidak lama kemudian di dalam ruangan. Athena langsung menyeduhkan teh untuk Kaizer yang telah duduk manis di kursi.


"Sebenarnya apa maksud kedatanganmu ini?" tanya Athena. Kali ini dia malas menyebut Kaizer dengan embel-embel Yang Mulia.


"Tentu saja membuatmu tidak tenang."


Athena menghela napasnya kemudian membawa secangkir teh di hadapan Kaizer. Athena menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Kaizer. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh meja bundar.


"Aku menyelamatkan Griffinmu dan kau menyelamatkanku. Kemudian kau mengancamku dengan kata kotor dan aku membalasnya dengan tamparan kemudian kau ingin memperkosaku, sebenarnya yang salah disini siapa?"


"Ini wilayahku, dan aku akan selalu benar walaupun aku salah."


"Kita sama-sama pewaris, bukankah seharusnya kita saling berbaik hati?"


"Tidak. Sebab posisimu tidak menguntungkanku sama sekali. Jika kau mati disini pun, rakyatmu tidak ada yang tahu bahkan mereka akan mengalami kesulitan sebab kematianmu membuat mereka harus menunggu adikmu menjadi Raja dalam waktu yang cukup lama," jelas Kaizer kemudian menyesap tehnya.


"Teh mu sangat nikmat," sambung Kaizer.


"Kau tidak bisa melakukannya, sebab Griffin menyukaiku," kata Athena dengan percaya dirinya.


Kaizer tersenyum miring, " Maka dari itu aku datang ke sini. Kedatanganku membuat kau dalam bahaya. Para wanita yang melihatku datang secara langsung kesini pasti akan curiga padamu. Kau tau, banyak wanita yang terobsesi padaku. Lebih dari itu beberapa orang mulai mencari tahu siapa dirimu sebenarnya, dengan begitu identitasmu akan terbongkar sendiri hingga aku tidak perlu turun tangan untuk membunuhmu."


Athena mengepalkan tangannya kuat, lalu berdiri dengan ekspresi kesal, " Aku juga tidak akan ada di sini, kalau saja saat itu tidak menyelamatkan seorang pria yang nyaris mati karena dikejar oleh orang-orang bertudung aneh. Aku menyelamatkan rakyat dari duniamu hingga terjebak disini, dan buruknya, wajah pria itu sama persis denganmu, sampai aku kira orang itu adalah dirimu! Kau tahu, aku dua tahun bertahan di dunia ini dengan ketakutan!"


DEG!


Kaizer terkesiap, mendengar penjelasan Athena. Wanita itu kini menatapnya penuh kebencian dengan mata berkaca-kaca. Athena berusaha keras agar air matanya tidak jatuh, dia sudah benar-benar kesal dengan raja dunia immortal ini. Kalau dia mati disini, maka tidak akan bisa mewujudkan impian ayah serta ibunya. Dia akan kembali kemudian memimpin kerajaannya. Dia belum pernah bertemu ayah serta ibunya selama 10 tahun. 


"Aku selesai minum, aku akan menyuruh orang kerajaan datang kemari mengambil bunga yang kuinginkan," kata Kaizer kemudian meninggalkan Athena.


Setelah kepergian Kaizer, Athena langsung bersimpuh dan menangis. Dia benar-benar terlihat lemah.


"Aku merindukan ayah dan ibu," ucapnya.


Sedangkan di luar sana, para orang perkotaan yang menyadari kedatangan Kaizer terdiam ketika melihat raja mereka keluar dari toko.


"Aku hanya memesan bunga di toko ini, untuk acara pesta besar. Kalian silakan lanjutkan memilih bunga," urai Kaizer kemudian menghampiri kudanya.


Beberapa orang di sana mengangguk paham dan menunduk sebagai penghormatan atas Kaizer yang baru saja meninggalkan toko bunga. Mereka pikir Kaizer dan Athena memiliki suatu hubungan aneh, ternyata hanya memesan bunga.


"Ersya, apakah Lady Athena ada?"


Ersya yang mulai melayani para pelanggan setelah kepergian Kaizer kembali berhadapan dengan Pangeran Gavin. Ah, tapi Gavin jauh lebih baik ketimbang aura Kaizer.


"Em, Madam ada di dalam ruang minum teh," kata Ersya.


" Terima kasih," kata Gavin.


Krieet.. 


Gavin memasuki ruangan itu kemudian menutupnya kembali, tapi betapa terkejutnya Gavin ketika menemui Athena tengah bersimpuh dan menangis.


"Apa yang terjadi?" tanya Gavin kemudian berjongkok di hadapan Athena.


Gavin sedikit kesulitan, sebab Athena menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Perlahan suara tangisnya hilang kemudian kedua tangan Athena terbuka. Kedua daun telinga Gavin memerah, ketika melihat raut wajah Athena yang begitu menggemaskan. Hidungnya memerah dengan mata sembap belum lagi bibir tipisnya sedikit membengkak. Matanya terlihat berkilau karena masih berkaca-kaca.


"Eh? Se-sejak kapan Pangeran di sini!" pekik Athena dan langsung berdiri tegap. Ini sangat memalukkan.


Gavin ikut berdiri kemudian menggaruk tengkukknya yang tidak gatal, " Baru saja, tapi kau terlalu sibuk menangis."


"Maaf, membuatmu melihat hal yang memalukkan," kata Athena sembari memalingkan wajahnya.


"Tidak! Kau justru telihat begitu menggemaskan!" ceplos Gavin.


Athena langsung menatap Gavin yang kini menunduk lalu langsung keluar dari ruangan itu.


"Ekspresi apa itu? Seharusnya aku yang malu, 'kan," gumam Athena.


Namun tidak lama setelahnya, dia tersenyum manis, " Pangeran Gavin tidak seburuk yang aku pikirkan,"


Sedangkan Kaizer masih dalam perjalanan menuju kerajaan ditemani Iryu yang tiba-tiba datang dan hinggap di tempat ternyamannya, pundak Kaizer.


"Iryu, mulai sekarang awasi toko bunga milik Athena, kau menyukainya, 'kan?"


KOAK!


Kaizer tersenyum tipis, " Seharusnya kemarin aku bersikap sopan kalau dia adalah orangnya."


...BERSAMBUNG......