Trapped in the Past

Trapped in the Past
EPISODE 20



...SELAMAT MEMBACA...


Alexus menggeram tertahan. Pria itu mendapat kabar dari mata-matanya bahwa kedua orang tua Athera terbunuh. Alexus telah mengirimkan seseorang untuk menyampaikan kabar ini pada kakak Athera yang masih mendiami daerah perbatasan yang kini tengah diserang.


"Bagaimana dengan kondisi, Athera?" gumam Alexus.


Pria itu tengah berada di kamarnya yang sangat gelap walaupun hari ini di luar begitu cerah, pria itu tidak membiarkan sinar matahari menembus masuk ke kamarnya.


Alexus yakin bahwa kini Athera sangat terpukul, ia tidak bisa ke sana untuk merengkuh Athera. Alexus muak dengan sikap Regaz. Apakah Athera membuat sedikit kesalahan Hingga Regaz membunuh kedua orang tua wanita yang ia cintai. Alexus kali ini akan bertindak cepat, ia tak akan membiarkan Athera tinggal di sana dengan waktu yang lama.


"Aku akan membawa Athera ke kerajaanku," ujar Alexus.


Lalu di waktu yang bersamaan, di sebuah tempat di kerajaan Regaz. Selir Gresha tengah terburu-buru untuk mengunjungi Athera, ia baru dengar bahwa kedua orang tua Athera meninggal. Ia ingin menjenguk Athera dan melihat kondisi wanita itu. Gresha sangat peduli pada Athera sebab bagi Gresha Athera-lah yang mampu membantu Regaz memimpin Virtucal Esse dan seluruh wilayah di sini. Gresha sendiri adalah sahabat baik Regaz. Ia dinikahkan Regaz karena pria itu ingin menyelamatkan Gresha ketika keluarganya jatuh miskin. Dan bagi Regaz; Gresha sudah seperti adiknya sendiri.


Gresha menghentikan langkahnya ketika seseorang menepuk pundaknya. Gresha berkedip lucu ketika menyadari orang itu. Dia adalah Gresia, saudari kembar Gresha.


"Kakak." Gresia tersenyum ke arah kakaknya.


Gresha langsung menarik adiknya itu menjauh dari sana, ia membawa Gresia menuju ke kediamannya.


"Kenapa kau ke sini? Kau tidak bisa masuk sembarangan, Gresia," ujar Gresha.


"Dan apa ini?" Gresha menyentuh rambut Gresia. Gadis ini mewarnai rambutnya yang coklat menjadi warna emas seperti miliknya.


Gresia yang awalnya tersenyum ramah kini menunjukan senyum sinisnya. Ia sangat iri melihat kakaknya bisa hidup di dalam kerajaan dengan penuh kemewahan.


"Kakak.. Bisakah kita bertukar beberapa hari, aku ingin menikmati duniamu dulu," pinta Gresia.


Gresha tau betul isi otak licik adiknya itu. Gresia menyukai Regaz serta gila harta, jika ia membiarkan Gresia, pasti adiknya ini akan membuat masalah besar.


"Pulanglah," usir Gresha.


Gresia tersenyum sinis kemudian ia mengeluarkan sapu tangan dan menyumpal hidung kakaknya. Gresha memberontak namun, aroma pada sapu tangan itu membuatnya mengantuk kemudian tak sadarkan diri.


"Aku benci penolakkan, Kakak. Eum.. Tuan muda Khung juga memerintahkanku untuk melakukan sesuatu dan imbalannya aku bisa menjadi orang dalam di kerajaan ini," ujar Gresia kemudian menyeret kakaknya pada sebuah ruang kecil yang berada di dalam kamar kakaknya. Ia mengikat Gresha kemudian membekap mulut Gresha. Gresia tersenyum puas kemudian mulai menjelajahi barang-barang milik Gresha dan memakainya.


...****...


Arthur baru saja mendapat pesan bahwa kedua orang tuanya meninggal karena terbunuh. Pria dengan tubuh kekar, memiliki tinggi tubuh lebih dari pada Regaz, kulit sawo matang dengan tatapan tajam itu langsung bergegas meninggalkan penjagaannya di perbatasan. Ia mengambil kudanya untuk segera kembali ke istana. Ia ingin melihat jasad orang tuanya serta kedua adik tercintanya. Arthur benar-benar akan memporak-porandakan kerajaan Regaz. Kemudian membawa adiknya pergi menjauh dari sana.


Arthur adalah orang terkuat dari bangsa Gazianor. Ia terpaksa menjadi panglima besar dengan mengorbankan kekuatannya untuk Virtucal Esse. Arthur tahu bahwa ia hanya dijadikan pion oleh Regaz. Namun jika ia bertindak gegabah maka keluarga serta rakyatnya akan menderita. Posisi yang sama seperti Athera. Namun, Arthur sudah habis kesabaran ketika mendengar bahwa kedua orang tuanya meninggal. Ia mendapatkan kabar dari mata-mata Alexus. Arthur serta Alexus berteman baik.


Sedangkan Athera kini telah kembali ke kerajaan bersama Regaz, mereka menunggangi kuda kemudian memilih berjalan ketika memasuki kerajaan. Pria itu mengubah kembali penampilan mereka sesaat sebelum sampai ke kerajaan. Athera telah mengobati tangan Regaz pula.


" Kau ke manakan Ruoxi?" tanya Athera berusaha mengusik kesunyian.


Regaz terus menatap lurus ke depan. " Dia ku perintahkan untuk kembali."


" Kenapa?"


Regaz melirik Athera sekilas, kemudian menjawab dengan dingin, " Karena dia lalai melindungimu."


Athera memilih termenung setelah mendengar jawaban Regaz. Kini Regaz telah memasuki jalan menunju paviliun miliknya namun, terlebih dahulu mereka harus melewati jalan para kediaman selir, kini Athera menjauh dari Regaz kala para selir mengerubungi Regaz. Athera tak suka hal ini.


" Beri kami jalan, " titah Regaz setelah meraih kembali tangan Athera kemudian membawanya pergi menuju paviliun Athera. Athera bisa lihat selir Yuen memandang benci dirinya. Namun Athera lebih benci melihat Selir Yuen karena Selir Yuen serta kakaknya mungkin membunuh kedua orang tuanya.


"Athera, masuklah."


Athera terkesiap, ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar bahwa Regaz telah berdiri di depan pintu paviliun miliknya. Athera mengangguk kaku kemudian Regaz langsung pergi begitu saja.


Athera memandang punggung Regaz secara seksama kemudian ia menyentuh dadanya.


" Aku... tidak mungkin menyukai orang seperti Regaz, kan?" gumam Athera.


...***...


Regaz memijit pelipisnya, ia telah mengetahui bahwa kakak selir Yuen yang melakukan pembunuhan terhadap orang tua Athera. Regaz telah berencana untuk mempertemukan peramu racun serta kakak Selir Yuen di suatu tempat. Ia telah mengirimkan surat palsu untuk si peramu begitupun pada kakak Selir Yuen. Di sini Regaz tidak melibatkan Selir Yuen karena ternyata wanita itu tidak mengetahui tindakan kakaknya.


Tier sedari tadi telah berdiri di hadapan Regaz di temani Ruoxi juga. Mereka telah memiliki beberapa bukti tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjebak si pelaku.


" Apakah semua baik-baik saja?" tanya Regaz.


" Maksud anda, Permaisuri?" tanya Tier dengan nada sedikit menggoda.


Ruoxi menahan tawanya ketika melihat kedua daun telinga Regaz memerah, pertanda ia malu.


" Bukan. Maksudku, apakah Arthur tidak mengetahui hal ini?"


Tier dan Ruoxi langsung mengangguk. " Tidak."


" Baguslah, akan sangat berbahaya jika Arthur tahu."


" Sebenarnya apa yang anda takutkan dari Arthur, Yang Mulia?" tanya Ruoxi


" Tidak ada. Aku hanya khawatir jika Ia datang membuat masalah kemudian aku tanpa sadar membunuhnya. Aku takut seseorang kian membenciku," jawab Regaz.


Ruoxi dan Tier saling pandang. Mereka tahu siapa yang disebut seseorang itu oleh Regaz. Mereka berdua tersenyum licik kemudian mendekati Regaz. Tier memilih berdiri di sebelah kiri Regaz sedangkan Ruoxi berdiri di sebelah kanan Regaz. Sedangkan Regaz hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. Kedua orang ini tiba-tiba memijat bahunya masing-masing.


" Sepertinya, anda harus memantau Permaisuri, dia bisa saja kabur malam ini dan melukai dirinya," ujar Tier.


"Ya, kami tidak bisa menjaganya Yang Mulia. Permaisuri terlalu agresif kami kesulitan mengatasinya," sambung Ruoxi.


Regaz tersenyum sarkas. " Sebenarnya kalian di bayar berapa oleh Athera?"


Tier dengan bangganya menjawab, " Kecantikan Permaisuri, membuat hati kami luluh."


DEG!


Tier langsung membungkam mulutnya, kini Regaz tersenyum lebar ke arahnya dengan tatapan bengis. " Coba kau ulangi, Tier."


Tier gelagapan, " Retha sangat cantik ketimbang Permaisuri, i-itu maksudku."


"Oh, jadi maksudmu istriku kalah cantik dari pada Retha?"


Tier menatap Ruoxi meminta pertolongan namun, Ruoxi hanya menunjukkan senyum mengejek.


"Kalian berdua pergi jaga keamanan, itu hukuman kalian," titah Regaz kemudian beranjak dari duduknya.


" Apa salah kami Yang Mulia?" tanya mereka bersamaan.


Regaz tidak menoleh menatap kedua anak buahnya, " Tier, kesalahanmu adalah membandingkan kecantikan Athera dan Ruoxi kesalahanmu adalah pergi berdua bersama Athera saat pagi tadi."


Setelahnya Regaz keluar. Membiarkan kedua pengawalnya itu saling pandang kemudian mengacak rambut frustasi.


...***...


Dan malam ini Gresia tengah bersiap-siap, ia mengulas senyum tipis sembari mengeluarkan dua botol berisi racun yang diberikan Tuan muda Khung Goryu. Ia membuat sebuah minuman di dalam teko berukiran kuno yang indah dengan dua gelas di atas nampan. Gresia memasukkan isi dua botol itu sembari bersenandung kecil.


"Kak, malam ini aku akan membunuh sainganmu, berterima kasihlah padaku," ujar Gresia sembari membuka ruangan tempat ia menyekap Gresha.


"Emmmm!" Gresha berusaha berbicara namun, mulutnya dibekap.


" Aku akan membunuh Athera dan adiknya! Dadah!"


BRAK!


Setelahnya Gresia menutup pintu dan meninggalkan tempat itu


Sedangkan di tempat lain, dimana Athera berada. Athera berniat mendatangi kediaman milik Selir Gresha. Ia tidak melihat Selir Gresha dari pagi, jadi ia memutuskan untuk mengunjungi Gresha lagi pula hanya selir itu yang sangat peduli padanya.


Kediaman Selir Gresha sangat sepi ternyata, biasanya jika ia memasuki perkarangan sudah banyak pelayan yang berlalu-lalalng. Athera berjalan memasuki kediaman itu. Sangat sepi, apakah Selir Gresha sedang pergi keluar hingga para pelayan menemaninya?


"Ini kamarnya?" Athera menatap pintu besar disana. Kemudian membuka pintu itu perlahan.


Yaampun! Berantakan sekali!


Banyak sekali pakaian yang keluar dari dalam lemari, belum lagi alat dandan berserakan.


"Bau ini?"


Athera mengendus-endus ketik mencium aroma yang sangat familiar, Athera bergerak kemudian mendekati meja kecil di dalam kamar Gresha. Ada dua botol kecil disana tergeletak tanpa isi kemudian Athera meraihnya dan mengendusnya.


" Racun ini! Tidak mungkin Gresha, kan?" Athera mengantungi dua botol itu kemudian berniat keluar namun, langkah terhenti ketika sayup-sayup ia mendengar teriakan samar.


"Emmmm!"


"Emmmm!"


Athera menatap pintu di hadapannya kemudian membukanya dengan cepat. Athera membungkam mulutnya dengan kedua tangan, matanya membulat sempurna.


"Gresha! Siapa yang melakukan ini?"


Athera langsung melepaskan ikatan pada kaki serta tangan Gresha, kemudian Athera dengan pelan membuka bekapan kain pada mulut Gresha.


Gresha menangis kemudian mencengkram kuat baju Athera. " Di mana Retha? Adikmu dalam bahaya!"


"A-apa maksudmu?"


"Kembaranku berniat membunuh Retha serta dirimu dengan racun! Cepat ke Retha, aku masih lemah."


Athera langsung berlari meninggalkan Gresha, Athera berlari begitu kencang, rasa takut sudah menguasainya. Ia berharap Retha baik-baik saja.


"Tuhan, kumohon, lindungi Retha," batin Athera selama berlari."


...BERSAMBUNG......