TOH Level Up

TOH Level Up
Perkara bosan



Saat Gombloh masih bingung akan keadaan yang tiba-tiba muncul danau darah. Bahkan seluruh divisi manusia yang tersisa telah menghilang.


Dalam gelapnya dasar danau ternyata ada satu tubuh yang tak hancur oleh dahsyatnya teknik pemusnah masal. Tubuh tersebut masih tetap utuh walau sama dalam keadaan tak sadar. Tubuh tersebut milik elang yang memang ternyata makhluk separuh manusia dan separuh dewa.


“Elang anakku bangun sayang, susul kakakmu King. Hentikan dia dan jangan sampai dia menghancurkan peradaban umat manusia,” tiba-tiba ada sosok dewi cantik yang bersimpuh sambil mengecup kening Elang.


Seketika tubuh Elang bergetar hebat bagai tersengat aliran listrik berdaya voltase tinggi. Ada sesuatu yang tergugah dari tidur panjangnya di dalam dasar kesadaran yang paling dalam di dalam tubuh Elang.


Matanya kembali terbuka tetapi bentuknya agak aneh. Matanya berubah seperti mata Elang, tetapi tetap berwujud mata manusia.


Seketika Elang berdiri di dalam danau darah sambil mendongak ke atas, “Ibu Dewi maaf lama aku tertidur di dalam raga ini. Aku terlalu lama menyadari dan ternyata Wahyu benar adanya.”


Lalu Elang melesat sekejap bagai lontaran meriam dari kejauhan. Bagai bintang yang berpindah tempat begitu cepat ke arah langit. Lalu menghilang di antara awan-awan merah yang berarak menaungi atas danau darah.


“Woi ketua cahaya apa barusan yang melintas ke atas dari tengah danau. Seakan ada cahaya putih melesat bagai kilat ke atas dari dalam danau,” teriak salah satu anggota dalam naungan divisi Gombloh.


“Mana, mana? Jangan mengada-ada kau. Jangan kau membuat aku bertambah sedih atas kehilangan semua orang. Seolah-olah kau menunjukkan padaku ada satu ruh yang diangkat ke langit,” cerocos Gombloh masih terus meratapi semua orang di tepi danau darah.


***


Tap, tap, tap,


Ada langkah berjalan santai di atas lantai-lantai merah yang terbuat dari awan. Sosok Elang kini berubah menjadi sosok kekar berambut panjang dan warnanya merah. Ada guratan atau kilatan-kilatan petir di sekitar tiap cabang rambutnya.


Sosok Elang yang seutuhnya menjelma menjadi Sang Dewa petir Elang. Telah sepenuhnya sadar dan mengingat kembali siapa dirinya. Lalu Dewa Elang duduk bersila di depan King Sang Dewa pengatur kehancuran.


“Apa yang kau inginkan dari memusnahkan bangsa manusia King?” ucap Dewa Elang memulai pembicaraan.


“Heh, dasar Ibu selalu saja menyayangimu sebagai anak paling kecil. Rupanya tanpa bantuan Ibu Bulan kau tak dapat bangkit kembali. Aku hanya ingin menyadarkan kalian untuk apa kalian di alam manusia yang hina dan fana penuh tipu daya dan fatamorgana?” oceh King menatap Elang tajam.


“Kenapa kau menidurkan Wahyu dan membawanya. Bahkan dia sudah lama tersadar dari manusianya dan menyadari akan kedewaannya. Apa yang kau inginkan dari Wahyu? Dari dahulu kau tak pernah berubah King,” ujar Elang terus bertanya.


“Lalu kenapa kau menghancurkan kami semua. Bukankah sudah bagus kami justru memberi keringanan tugas padamu. Kalau menghancurkan musnahkan saja para setan atau manusia buatan itu, atau memang kau yang membuat manusia buatan itu. Sebab setahuku dari kita bertiga semenjak kecil kau paling ahli dalam sihir manipulasi?” ucap Elang agak emosi dan berteriak dengan bada intonasi tinggi.


Saat Elang mulai tampak emosi, terdengar gemuruh di berbagai tempat di muka bumi. Bahkan timbul badai petir di beberapa titik. Selain Dewa petir Elang jua bertugas mengatur cuaca di muka bumi.


Tetapi tiga dewa kuat yang dahulu akur. Pernah satu waktu bertengkar untuk merebut jabatan sang Ayah. Pada akhirnya Sang Pencipta Dewa memberi mereka hukuman.


Hukuman Wahyu dan Elang adalah terus berinkarnasi menjadi manusia. Tanpa bisa kembali ke alam dewa dan dewi sebelum reinkarnasi terakhirnya dinyatakan berhasil. Sedangkan King ditetapkan sebagai penjaga gerbang barat.


Karena di sana selalu ada pertumpahan darah antara klan jin serakah nan sakti dengan para dewa. Peperangan itu tidak pernah selesai sampai kini ribuan tahun berselang.


“Kalau aku dan Wahyu membantumu di gerbang barat. Kami melanggar hukuman dari Pencipta Dewa dan Dewi. Kami harus menjalani hukuman reinkarnasi kembali dari awal bila hal itu kami lakukan. Apa kau sudah tak mampu mengatasi para jin tersebut. Bukankah kau King perusak alam, apa yang kau lakukan selama ribuan tahun ini?” ujar Elang kali ini ia yang bertanya pada King.


“Selama ribuan tahun aku hanya bisa membunuh beberapa panglima mereka. Bahkan aku rasa kerajaan kita tidak akan mampu mengalahkan mereka apabila tidak ada gerbang barat yang didirikan satu kesatria legenda berasal dari kaum kalian manusia ribuan tahun lalu,” ujar King berdiri dari duduk bersilanya.


“Apa kau sadar yang kau katakan yang kau sebut kesatria legenda dari alam manusia adalah Ayah kita sendiri. Kenapa kau begitu membenci manusia King?” ucap Elang ikut berdiri berhadapan dengan King.


“Aku tak membenci ras manusia, aku membenci mereka karena kita menjadi separuh manusia dan separuh dewa. Kau bukannya tahu itu Elang, karena sebab itu kita tak mampu sampai ke level-level langit di atas kita,” sahut King menatap Elang seakan ia menantang Elang.


“Kau bosan dan manusia yang menjadi korban atas kebosananmu. Bercandamu sungguh keterlaluan King Sang Dewa perusak alam,” timpal Elang rambutnya mulai melayang-layang dengan guratan petir semakin banyak. Tanda kalau ia semakin marah akibat ulah King.


“Lalu mau kau apa adikku Elang? Kau enak masih bisa bertemu kembali dengan Dewi Sekar. Manusia yang berinkarnasi dari para leluhur putri raja-raja terdahulu. Sedangkan aku selalu sendiri dan terus berperang tanpa pendamping hidup,” ujar King ikut tersulut emosi.


“Apa kau lupa dahulu yang memulau perang tiga dewa, perang tiga saudara. Demi menggulingkan jabatan dan Tahta Ayah adalah kau King. Kau yang memaksa kami mengangkat senjata dan kau yang mempengaruhi kami untuk saling berperang di alam altar putih,” teriak Elang semakin marah.


“Lalu kalau sudah begini bagaimana. Kau inginkan apa sari kakakmu ini Elang. Apa kau ingin bertarung denganku lagi seperti waktu itu. Ayo kita bertarung kalau begitu?” teriak King yang jua mulai emosi dan menggila.


“Baiklah kalau aku menang bangunkan Wahyu dan kembalikan divisi manusia di danau darah. Apa kau setuju akan persaratanku?” ujar Elang.


“Boleh saja, tetapi kalau aku yang menang. Kalian ikut aku pulang dan akan aku biarkan danau darah menjadi legenda. Aku biarkan kisah TOH menjadi buah bibir dari Ibu yang menakuti anak-anaknya agar tak keluar rumah saat malam tiba,” jawab King mulai bersemangat.